Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 31 Bertemu Penjahat


__ADS_3

Hujan turun sejak dini hari. Suasana di dalam hutan menjadi sangat gelap dan berkabut. Dengan wajah muram Ratu Gita duduk di kursinya sambil menatap ke luar jendela.


Wanita itu mendesah kecewa. Karena rencananya, hari ini dia akan ikut Arya untuk mencari jamur. Setidaknya kegiatan itu bisa membuatnya sedikit terhibur.


Tok...tok...tok...!


Ratu Gita bergegas membuka pintu begitu mendengar ketukan. Wanita itu tersenyum lebar menyambut tamunya.


"Apa kau sudah siap?" Di depan pintu seorang pemuda berhidung runcing berdiri dengan mencangklong tas kain.


"Aku sudah siap dari tadi! Tapi..." Wanita itu menatap kecewa ke arah hujan.


"Maaf, aku lupa kalau kau ini manusia!" Arya menepuk keningnya.


Arya pergi sebentar, lalu kembali dengan membawa daun keladi yang lebar. Arya memberikannya pada Ratu Gita sebagai payung.


Langkah mereka berkecipak, setiap kali menginjak genangan air di jalan setapak yang mereka lewati. Arya sengaja membuat cipratan-cipratan dengan kakinya. Peri itu terlihat sangat senang.


"Kenapa Sekar tidak ikut?" Ratu Gita bertanya sambil berjalan hati-hati agar tidak terpeleset.


"Adikku yang cerewet itu sedang ditugaskan untuk menjaga telur-telur burung merpati peliharaan Tiana."


"Siapa itu, Tiana?"


"Dia peri penjaga kebun jeruk. Sekar ingin membuat selai jeruk. Jadi dia akan meminta buah jeruk sebagai upah menjaga telur."


Ratu Gita menyentuh bunga-bunga Bluebell yang tumbuh di pinggir jalan. Kelopak bunga-bunga berbentuk lonceng itu basah terguyur hujan.


"Ayo, Gita! Setelah berbelok di tikungan itu kita akan sampai!"


Yang dimaksud Arya dengan tikungan adalah sebuah jalan setapak yang sudah tak terlihat karena ditumbuhi semak. Lebih mirip jalan buntu. Letaknya di belakang pohon Redwood tua yang hangus bekas tersambar petir. Ada tunas-tunas kecil yang mulai tumbuh di batangnya.


Ratu Gita agak kesulitan melewati jalan itu, karena banyak sekali akar berlumut yang licin dan menonjol. Sedangkan Arya terlihat lincah melompati akar-akar pohon.


"Lihatlah, Gita!" Arya berteriak di depan.


"Wow, apa itu?" Ratu Gita merasa takjub.


Di depan mereka tumbuh ribuan jamur berwarna hijau yang bersinar. Jamur-jamur itu tumbuh di tanah yang lembab dan ada juga yang menempel pada batang-batang pohon yang membusuk.


"Itu jamur Clorophe, rasanya sangat enak." Arya mulai memetik jamur-jamur itu dan memasukkannya ke dalam tas.


Ratu Gita juga ikut memetik jamur-jamur itu. Seumur hidupnya belum pernah melihat jamur seindah ini.


Tiba-tiba tubuh Arya tegak, dia mendengar sesuatu. Arya segera mengajak Ratu Gita untuk meninggalkan tempat itu. Namun belum terlalu jauh mereka pergi tampaklah sekelompok pemburu berjalan sambil menebas semak-semak. Mereka berjumlah lima orang.


Arya memberi kode dengan jarinya agar Ratu Gita bersembunyi di balik semak berry liar. Sedangkan Arya tiba-tiba menghilang, dia berkamuflase di batang pohon seperti bunglon.

__ADS_1


Ratu Gita menutup mata, tidak berani bergerak di tempat persembunyiannya. Dia berharap agar mereka cepat pergi.


Terdengar langkah kaki yang mendekat dan berhenti tepat di depannya. Ratu Gita menelan ludah saat melihat sepasang sepatu di depannya.


Dia mendongak ke atas dan menatap seorang pria yang juga sedang menatapnya. Pria itu tampak heran melihatnya.


"Siapa kau? Kenapa kau bersembunyi?" Pria itu berjongkok di depannya.


Ratu Gita hanya memandanginya dengan wajah ketakutan. Dia tidak tahu apakah pria ini orang baik atau jahat.


"Jangan takut, aku bukan orang jahat!" Pria itu tersenyum menunjukkan gigi-giginya yang hitam.


Pria itu mengulurkan tangan, namun Ratu Gita menggelengkan kepalanya. Wanita itu kemudian berdiri sambil mengibaskan gaunnya.


"Kau cantik sekali, apa kau seorang peri?"


"Aku bukan peri."


"Lalu, apa yang kau lakukan di tempat ini? Tahukah kau, kalau tempat ini adalah wilayah kerajaan peri?"


"Aku mencari jamur." Ratu Gita menunjukkan jamur-jamur yang tadi dipetiknya.


"Kau tinggal dimana? Ayo, aku akan mengantarmu pulang. Daerah ini sangat berbahaya karena peri-peri suka sekali menyesatkan!"


"Tidak, terima kasih. Aku akan pulang sendiri!" Ratu Gita menatap pria itu dengan curiga.


Teman-temannya memandangi Ratu Gita dengan liar. Mereka terlihat seperti binatang yang kelaparan.


Ratu Gita merasa terancam. Tanpa banyak bicara, dia langsung melarikan diri. Melihat wanita itu lari, gerombolan tadi segera mengejar.


Beberapa kali Ratu Gita terpeleset, namun dipaksanya untuk tetap lari. Napasnya tersengal-sengal. Jantungnya seakan mau meledak.


Di belakangnya, orang-orang itu semakin mendekat. Mereka memanggil-manggil Ratu Gita.


Rasanya seperti dejavu , dia harus kembali dikejar-kejar di dalam hutan. Dengan berusaha mengingat jalan yang tadi dia lewati, Ratu Gita terus berlari.


Namun naas, saat melompati akar pohon, wanita itu terjatuh. Lututnya tertusuk kerikil dan berdarah. Ratu Gita meringis menahan sakit. Dia lalu bangkit dan berusaha lari lagi meskipun lututnya terasa perih.


"Mau kemana, sayang?" Seorang pria menyentuh pundaknya sambil menyeringai.


"Lepaskan aku! Jangan berani-berani menyentuhku!" Ratu Gita berusaha menghindar.


"Wah, ternyata kau galak sekali! Aku suka wanita yang galak!" Pria itu tertawa mengejek.


Teman-temannya berdatangan. Mereka tertawa melihat wajah Ratu Gita yang ketakutan.


"Kemarilah sayang, aku berjanji akan memperlakukanmu dengan lembut!"

__ADS_1


"Tidak! Aku mohon pergilah!" Air mata membasahi pipi Ratu Gita. Tubuhnya gemetar. Dia berjalan mundur sampai membentur batang pohon.


Orang-orang itu mengepungnya. Menatapnya seperti binatang buas yang ingin menerkam mangsanya. Salah satu dari mereka mendekati Ratu Gita. Tangannya menyentuh rambutnya.


Ssiiiiing...Jleb!


"Aaakh!" Tiba-tiba pria itu berteriak.


Sebuah anak panah menancap di punggung tangannya, darah mengalir deras. Panah itu tembus, sehingga tangannya terpaku pada batang pohon.


Teman-temannya kaget dan berbalik, mencari orang yang sudah memanah teman mereka. Namun belum sempat menemukan pelakunya, tiba-tiba puluhan anak panah melesat kencang ke arah mereka.


Ssiiiiing... Ssiiiiing...!


Jleb...Jleb...Jleb...Jleb...!


Dengan susah payah mereka berusaha menghindar. Namun beberapa anak panah berhasil menancap di beberapa bagian tubuh mereka, membuat tubuh mereka tersungkur.


Mereka berteriak-teriak kesakitan. Mereka memohon agar nyawa mereka diampuni.


"Kalian sudah lancang memasuki kawasan hutan Lucshire dan berbuat keonaran!" Sebuah suara berseru dengan lantang.


"Ampuni kami, Peri!"


"Kenapa aku harus mengampuni kalian?" Suara itu terdengar lagi.


"Kami tidak akan berani memasuki wilayah hutan ini lagi!"


"Tapi kalian sudah menyakiti wanita itu. Kalian harus dihukum!" Suara itu terdengar marah.


"Jangan!" Jerit mereka.


Mereka kemudian bersujud di kaki Ratu Gita sambil menangis. Mereka meminta ampun karena sudah menyakitinya.


"Sudah! Pergilah kalian!" Ratu Gita berteriak antara takut dan marah.


"Kami akan pergi! Peri, ampuni kami!"


Mereka berlarian meninggalkan temannya yang terpaku di pohon.


"Kenapa kau tidak pergi?" Tiba-tiba seorang gadis cantik dengan rambut dikuncir berwarna coklat keemasan berada di belakangnya. Tangannya memegang busur.


Pria itu menatap gadis cantik itu dengan perasaan ngeri. Dengan takut-takut dia menunjukkan tangannya yang terpaku. Gadis itu segera mematahkan ujung anak panah itu. Sehingga tangan pria itu bisa bebas.


Dengan tangan yang masih tertancap anak panah yang sudah patah, pria itu mengucapkan terima kasih pada gadis itu. Kemudian dia segera lari terbirit-birit.


Setelah penjahat itu pergi, gadis cantik itu mendekati Ratu Gita yang terlihat masih ketakutan.

__ADS_1


"Nama saya Faye. Saya akan mengantar Yang Mulia kembali ke pondok!"


__ADS_2