Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 157 Hilangnya Sang Puteri


__ADS_3

Puteri Pertiwi tersentak saat merasa pundaknya disentuh oleh seseorang. Secara spontan gadis itu menoleh dan mendapati sepasang mata yang menatapnya dengan sorot dingin.


"K-kau?" Puteri Pertiwi terkejut bukan main melihat sosok pria itu. Dia beringsut menjauh, namun sentuhan di pundaknya berubah menjadi cekalan yang menahannya.


"Kau tak bisa lari dariku." Ucapan Pangeran Awang menimbulkan kengerian di hati Puteri Pertiwi.


"Aaaak!"


Puteri Pertiwi berteriak sekuat tenaga agar orang-orang datang menolongnya. Namun semua orang di sekitarnya seolah tidak ada yang mendengar. Dia tercengang. Antara takut dan heran menghadapi situasi aneh ini.


"Ada apa ini?" Gadis itu menoleh kesana-kemari.


Perasaannya dicekam ketakutan. Kini dia baru menyadari bahwa keadaan di sekitarnya seakan membeku. Neneknya yang duduk bersila di pojok dalam sikap meditasi, sepupunya yang sedang duduk berdua dengan Ningrum di salah satu anak tangga kuil, begitu juga para prajurit yang berjaga, semua membeku. Bahkan daun-daun yang jatuhpun hanya diam di udara.


"Apa ini mimpi?" Gumam gadis itu, tapi rasa sakit dipundaknya membuatnya sadar bahwa ini nyata.


"Ikut aku!" Perintah itu tidak menerima penolakan.


Tangan Puteri Pertiwi ditarik dan dia dibawa melintasi ruangan pemujaan melewati pintu yang atasnya melengkung menuju teras kuil. Dia tidak bisa menolak ataupun memberontak. Tubuhnya seakan tak lagi patuh pada pemiliknya. Kakinya berjalan dengan sendirinya menapaki satu persatu undakan yang terbuat dari batu itu meski otaknya melarang.


"Juwita, tolong." Ucapnya tanpa suara ketika melewati sepupunya itu.


Rasa putus asa mendera Puteri Pertiwi karena suara panggilannya tidak sampai. Namun sesaat sebelum dia berlalu, di ujung matanya dia melihat Puteri Juwita menatapnya.


Puteri Pertiwi yang tangannya masih dicekal oleh Pangeran Awang kembali menoleh ke belakang. Di atas undakan, dia melihat Puteri Juwita berdiri dalam gerak lambat sambail mengacungkan tangannya seolah ingin mencegahnya pergi.


Namun Puteri Pertiwi tidak lagi bisa melihat sepupunya itu karena Pangeran Awang dan lelaki aneh yang bersamanya sudah membawanya menembus lebatnya hutan dengan sangat cepat.


Mereka seolah ditarik oleh suatu kekuatan yang membuat mereka bisa melewati celah-celah pepohonan, menyeberangi arus sungai dan mendaki lereng yang terjal tanpa kesulitan dan dalam gerak cepat.


Dan dalam sekejap kini mereka sudah tiba di mulut sebuah gua. Lubang gua yang berdiameter kurang dari 3 meter itu menganga di tepi tebing yang curam. Di dalam gua udara terasa sangat sejuk. Bunyi tetesan air menggema di sepanjang dindingnya.


Mereka terus berjalan menembus perut gunung hingga sampai di sebuah ruangan yang luas. Di atas sana berbagai bentuk dan ukuran stalaktit menonjol di langit-langit. Ujung-ujung stalaktit itu meneteskan air yang jatuh di sebuah kolam alami yang terbentuk selama ribuan tahun.


Di tengah-tengah ruangan ada sebuah patung dewa berwajah menyeramkan berdiri menatap mereka dengan bengis. Mata patung itu berkilau karena terbuat dari dua buah batu ruby. Patung dewa itu mengenakan kalung tengkorak manusia yang dikorbankan.


Puteri Pertiwi bergidik ngeri. Ujung kedua pedang yang dipegang oleh patung itu di kanan kirinya masih menyisakan noda darah yang mengering. Dan di kakinya, tulang belulang manusia berserakan.


"Bersiaplah untuk mengikat perkawinan di hadapan Murr." Ucap Jadukari Daalal Nath.


Keadaan sudah kembali normal. Baik Pangeran Awang maupun Puteri Pertiwi sudah bisa menggerakkan tubuh mereka dengan bebas.


"Aku tidak mau. Lepaskan aku!" Teriak Puteri Pertiwi.


"Hahaha..." Dukun aneh itu tertawa terbahak-bahak seolah baru saja mendengar sebuah lelucon yang sangat menggelikan.


"Silakan saja kalau kau mau pergi. Asal kau tahu saja, tempat ini dikelilingi jurang yang curam. Binatang-binatang buas juga berkeliaran. Belum lagi hantu-hantu penasaran yang menunggu manusia-manusia yang tersesat di hutan." Suara Jadukari Daalal Nath seakan mengejek.

__ADS_1


Puteri Pertiwi merasa kalau dukun itu hanya mempermainkannya, jadi di segera berlari ke luar. Namun di lorong gua yang gelap itu dia bisa mendengar geraman halus yang membuat darahnya seakan tersirap. Dia tidak tahu itu binatang buas ataukah hantu yang sengaja menunggunya di kegelapan.


Langkah gadis itu berhenti. Hatinya menjadi ragu-ragu. Di depan sana ada sesuatu yang tak terlihat, sedang di belakangnya ada dua orang penjahat sadis. Manakah yang akan dia pilih? Maju ataukah mundur?


Di dalam kebimbangan mendadak Puteri Pertiwi mendengar langkah kaki mendekat. Langkah itu seolah terseret-seret sehingga menimbulkan suara bergesek yang mengerikan. Karena hatinya sudah dicekam ketakutan, tanpa pikir panjang dia berbalik dan berlari masuk kembali.


"Wah, kau cepat sekali sudah kembali Tuan Puteri." Sindir Pangeran Awang.


"Karena calon mempelai telah kembali, sebaiknya kita laksanakan saja upacara pernikahan kalian sekarang juga." Jadukari Daalal Nath terkekeh puas.


Dia mengambil untaian kalung bunga marygold dari baki tembikar dan segera menyampirkannya ke leher Pangeran Awang. Kemudian dia mengambil satu lagi dan mengalungkannya pada Puteri Pertiwi.


"Berlututlah di hadapan dewa paling berkuasa, Murr!" Suara dukun itu menggelegar.


Tiba-tiba tanpa sadar kedua kaki Puteri Pertiwi menekuk dan berlutut di bawah patung itu. Di sebelahnya, Pangeran Awang melakukan hal yang sama.


*****


Eldrige melihat Bagas keluar dari pintu istana dan segera mencegatnya.


"Kau mau ke mana?" Tanya Eldrige ketika melihat pemuda itu terburu-buru.


"Aku akan mencari Puteri Pertiwi. Pangeran Awang dan dukunnya sedang menuju tempat persembunyian Puteri Pertiwi berserta neneknya. Juwita dan Ningrum juga di sana."


"Apa kau tahu di mana letaknya?"


"Apa kau tahu letak hutan Tulsi?"


Bagas menggeleng. " Tidak."


"Aku ikut. Kita juga butuh pemandu untuk menemukan tempat itu." Kata Eldrige. Pria itu segera mendatangi prajurit-prajurit Dewanata yang sedang mengawasi prajurit-prajurit Pangeran Awang yang telah tertawan.


"Ada yang tahu hutan Tulsi?" Tanya Eldrige.


"Saya tahu, Tuan." Jawab salah seorang prajurit.


"Antar kami ke sana." Pinta Eldrige.


"Kau mau ke mana?" Raja Gaurav tiba-tiba datang mendekati Eldrige.


"Puteri Juwita dan keluarga Kerajaan Dewanata bersembunyi di sebuah kuil tua di hutan Tulsi. Aku akan menyusul ke sana karena Pangeran Awang juga sedang berangkat ke sana."


"Aku ikut juga." Kata Raja Gaurav.


"Jangan Yang Mulia. Sebaiknya salah satu dari kita ada yang berjaga di istana ini." Cegah Eldrige.


"Kau benar, Eldrige. Aku akan membantu Raja Badre mengamankan istana dan ibukota."

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu." Eldrige segera berlalu.


Bagas sudah bersiap-siap bersama prajurit tadi ketika Eldrige selesai bicara dengan Raja Gaurav.


"Kita pergi sekarang."


Prajurit tadi menyarankan untuk naik perahu dari sungai yang terletak di balik bukit belakang istana. Mereka bergegas ke sana.


Sesampai di tepi sungai, mereka menarik salah satu perahu dan menurunkannya ke air. Prajurit itu memandu mereka menuju hutan Tulsi.


Matahari sudah naik di atas kepala. Air sungai berkilau menyilaukan memantulkan cahaya matahari. Langit cerah berwarna biru dengan di hiasi awan-awan putih yang berarak.


"Masih jauh?" Tanya Bagas tidak sabar.


"Tidak jauh lagi, tinggal melewati beberapa kelokan di ujung sana." Tunjuk prajurit itu.


Perahu mereka kini terguncang-guncang mengarungi aliran sungai yang deras dan landai. Arus yang bergolak membuat perahu meluncur cepat diantara batu-batu yang kini terlihat bertonjolan dari dasar sungai. Gelembung-gelembung udara memenuhi permukaan air sehingga permukaannya tampak berwarna putih.


Perahu berbelok tajam, mereka berusaha mengendalikan laju perahu dengan dayung. Air menciprat ke segala arah karena menabrak bebatuan. Setelah beberapa puluh meter ke depan aliran sungai mulai tenang.


"Di depan sana!" Prajurit itu menunjuk pesisir sungai yang berpasir.


Perahu berhenti dan mereka melompat turun. Prajurit itu mengikat perahu ke sebuah tonggak kayu.


"Perahu mereka ke mana?" Tanya Bagas dengan heran.


"Mereka pasti menyembunyikannya." Eldrige memeriksa semak-semak di sekitar sana. Tak lama kemudian, dua buah perahu terlihat di bawah rimbunan ranting-ranting pohon.


"Itu perahu mereka." Kata Eldrige.


Ketiga orang itu mulai mencari jalan setapak menuju kuil tua. Setelah beberapa saat, jalan itu mereka temukan. Meski samar, mereka masih mampu mengikuti jejak rombongan kerajaan.


Tak lama setelah itu pucuk kuil mulai terlihat. Mereka mempercepat langkah agar cepat sampai. Ketika hampir sampai, mereka berpapasan dengan seorang prajurit.


"Siapa kalian?" Tanya prajurit itu curiga.


"Apa kau tak mengenali dia? Dialah pemenang sayembara kemarin. Dia calon suami Puteri Pertiwi." Kata Eldrige sambil menunjuk Bagas.


"Ampuni saya. Saya benar-benar tidak tahu?" Prajurit itu membungkuk hormat. Kemudian dia menatap mereka dengan gugup, seperti ada masalah yang dirisaukannya.


"Ada apa?" Tanya Bagas.


"Maaf, tapi kami sekarang sedang menghadapi masalah. Kedua tuan puteri tiba-tiba saja menghilang tanpa ada yang tahu." Kata prajurit itu.


"Maksudmu Puteri Pertiwi dan Puteri Juwita menghilang?" Bagas bertanya dengan panik.


"Benar."

__ADS_1


Eldrige dan Bagas saling berpandangan. Kemudian mereka segera berlari menuju kuil.


__ADS_2