Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 23 Melepas Rindu


__ADS_3

Malam itu Raja Satria menginap di pondok. Tadi Ratu Malea mengatakan akan mengabari Eldrige dan menyuruhnya menjemput Raja besok pagi. Raja sangat berterima kasih atas kebaikannya.


"Apa kau tidak terganggu mendengar suara berisik itu?" Raja mengintip jendela karena merasa bising mendengar suara-suara serangga di luar.


Ratu Gita tersenyum melihat tingkah suaminya yang bolak-balik mengintip jendela sambil menepuk-nepuk tangan dan wajahnya karena digigiti nyamuk. Pria itu terlihat sangat tidak nyaman.


"Kemarilah!" Panggil Ratu Gita dengan suara lembut. Dan di pendengaran Raja Satria, suara itu terdengar sedikit menggoda.


Raja Satria segera berbalik melihat istrinya yang sedang duduk di pinggir ranjang sambil tersenyum manis. Melihat itu Raja Satria tersenyum-senyum sendiri. Wajahnya agak merah karena dari tadi dia tepuki sendiri dan juga karena agak malu membayangkan apa yang dipikirkan istrinya.


Pria itu mendekati istrinya dengan pura-pura tidak tahu, padahal berkali-kali dia berusaha menahan senyum. Dia tidak menyangka bahwa istrinya yang pemalu itu akhirnya punya inisiatif untuk mendekatinya duluan. Mungkin karena sudah sangat merindukannya jadi Ratu Gita sudah melepaskan gengsinya.


Raja Satria duduk di sebelah istrinya itu sambil menatapnya dengan tatapan menggoda. Ratu Gita terlihat gugup dipandang dengan begitu intens oleh suami tampannya itu. Berkali-kali wanita itu berusaha untuk menguatkan hatinya agar tidak jatuh pingsan karena terlalu gugup. Segera dipegangnya tangan suaminya itu dan menyingkap lengan bajunya.


Raja Satria terbelalak kaget dengan sikap istrinya yang mendadak agresif. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa dia sangat senang dengan perlakuan istrinya itu. Didekatkannya wajahnya ke wajah istrinya membuat wanita itu gelagapan dan menahan napas.


"Auh!" Raja tiba-tiba menjerit kaget karena merasakan sesuatu yang dingin dan lengket pada tangannya.


Dilihatnya Ratu Gita sedang menempelkan ramuan yang terasa lengket di lengannya. Wanita itu mengusap-usapnya sampai merata. Ratu Gita juga mengolesi wajahnya dengan ramuan itu. Raja Satria berusaha menepisnya namun ternyata wanita itu sangat gigih sehingga kini wajahnya yang tampan itu sudah dipenuhi dengan ramuan berwarna ungu yang lengket.


"Apa ini? Aku tidak suka!" Raja Satria berteriak-teriak seperti bocah.


Ratu Gita tertawa-tawa melihat tingkah suaminya. Raja Satria yang melihat istrinya tertawa lepas itu menjadi terdiam. Jantungnya berdebar kencang melihat betapa cantiknya istrinya dalam penampilan yang sangat sederhana seperti ini.


"Itu ramuan Lavender , supaya suamiku ini tidak dikerubuti nyamuk." Ratu Gita tersenyum geli.


"Rupanya kau cemburu pada nyamuk-nyamuk itu ya?" Raja Satria mengejek istrinya sambil tersenyum jahil.


"Enak saja, cemburu dengan nyamuk!" Ratu Gita bersidekap sambil cemberut.


"Buktinya kau tidak mau nyamuk-nyamuk itu mengerubutiku." Raja Satria senang sekali menggoda istrinya.


"Ya sudah kalau kau suka dikerubuti nyamuk dan ingin seluruh tubuhmu bentol-bentol digigiti nyamuk hutan!" Ucap Ratu Gita kesal.


Raja Satria tertawa-tawa mengejek. Dicoleknya dagu istrinya itu, namun hal itu malah membuat Ratu Gita memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Kau tambah cantik kalau sedang merajuk." Bisik Raja Satria di telinga istrinya, membuat wanita itu merinding.


"Mau apa kau? Jauh-jauh sana!" Ratu Gita mendorong lengan suaminya namun yang didorong tidak beranjak sedikitpun.


Dengan gerakan pelan Raja Satria memeluknya. Dibelainya rambut hitam istrinya itu. Tangannya kemudian memegang tengkuk wanita itu dan mendekatkan wajahnya hingga dapat dirasakannya hembusan napas istrinya yang hangat. Dipandanginya mata berbentuk daun salam yang indah itu, bulu matanya yang lentik tampak bergetar.


Dengan lembut dikecupnya bibir tipis berwarna peach itu. Lalu menciumnya semakin dalam dan penuh perasaan. Seakan rasa rindunya ingin dia luapkan sampai tuntas. Namun sepertinya perasaan itu bahkan tak kan pernah terpuaskan. Pria itu malah semakin menginginkan lebih dan lebih lagi.


Ratu Gita merasa seakan jiwanya melayang menerima perlakuan manis suaminya. Ciuman yang semakin dalam dan intens membuat napasnya tersengal-sengal, namun dia tidak ingin mengakhirinya. Dia ingin menerima seluruh kasih sayang suaminya itu dan juga ingin menyerahkan semua miliknya.


Malam itu di dalam pondok yang sederhana di tengah hutan, mereka berdua menghabiskan malam dengan saling mencurahkan kasih sayang untuk menggantikan malam-malam yang mereka lewatkan dengan penuh kerinduan.


*****


Pagi harinya Ratu Gita bangun dengan senyuman di wajahnya. Dipandanginya wajah tampan suaminya yang sedang tidur sambil memeluknya. Betapa rindunya dia pada pria ini sampai-sampai selalu memikirkannya siang dan malam. Bahkan sampai sekarang dia masih merasa kalau kehadiran pria ini hanyalah sebuah mimpi.


Ratu Gita mengelus pipinya yang halus, mengagumi rahangnya yang kokoh, hidungnya yang bangir, telinga yang meruncing indah. Betapa dia sangat menyukai semua yang ada pada pria ini. Akankah kebersamaan mereka yang singkat ini akan cukup membuatnya bertahan dalam kesendirian di hari-hari mendatang?


Mata wanita itu berkaca-kaca membayangkan perpisahan yang akan tiba sebentar lagi. Hatinya merasa sangat sakit karena harus berpisah dengan orang yang dikasihinya itu.


Raja Satria mendekap kepala wanita itu di dadanya. Dikecupnya berkali-kali kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Dia bisa merasakan kepedihan yang dirasakan wanita itu. Hatinya pun sesungguhnya merasa berat dan sakit karena harus rela meninggalkan wanita yang sangat dikasihinya itu. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan segera menemukan cara agar bisa membebaskan istrinya itu dari hukuman yang sangat tidak manusiawi ini.


Mereka sarapan sudah agak siang dengan menu sederhana. Ingin rasanya waktu berjalan lebih lambat agar kebersamaan mereka tidak cepat berlalu. Mereka berpura-pura tidak ada yang akan terjadi, seolah mereka akan selalu bersama-sama seperti ini. Keduanya saling bercerita tentang apa saja, berharap tidak ada hal-hal yang akan menimbulkan kesedihan.


"Tok..tok..tok.." Pintu yang terbuka separuh itu diketuk dari luar.


Raja Satria dan istrinya saling berpandangan. Menduga siapa yang ada di depan. Mungkinkah Eldrige sudah datang menjemput?


"Halo!" Seraut wajah mungil tersenyum lebar dari balik pintu.


"Sekar? Kamu datang lagi?" Ratu Gita setengah berlari mendatangi Sekar. Wajahnya terlihat sangat gembira menyambut kedatangan gadis kecil itu.


"Kau bersama Arya?" Ratu Gita celingukan mencari keberadaan kakak laki-laki Sekar.


Raja Satria yang melihat hal itu merasa sangat sebal, wajahnya ditekuk. Dia ingat bagaimana kemarin istrinya membanting pintu saat dia datang. Tapi sekarang kenapa wanita itu kelihatan gembira sekali melihat kedatangan gadis kecil itu? Memangnya siapa dia?

__ADS_1


"Kak Arya sedang mengambil madu di pohon randu dekat sungai." Gadis itu menjelaskan sambil mengunyah telur rebus dari atas meja. Dia sama sekali tidak kelihatan sungkan dan malu-malu lagi seperti saat pertama kali kemari.


"Kau siapa bocah? Kelihatannya akrab sekali dengan istriku?" Raja Satria bertanya dengan wajah galak.


"Aku temannya. Aku pikir kakak ini belum menikah karena tinggal sendirian. Aku pikir akan menyenangkan kalau dia menikah dengan kakakku." Ucap gadis itu dengan polosnya, membuat Raja Satria yang sedang menyesap teh menjadi tersedak. Pria itu langsung melotot ke arah gadis itu.


"Apa kau bilang? Enak saja kau menjodoh-jodohkan istriku dengan kakakmu!" Pria itu mengomel sambil menunjuk-nunjuk wajah imut gadis itu.


Yang dimarahi hanya mengedikkan bahu, sama sekali tidak menghiraukan Raja Satria yang mengamuk.


"Eh, kau ini peri hutan ya?" Raja Satria tiba-tiba menyadari identitas gadis kecil itu.


Ratu Gita segera menoleh ke arah Sekar. Dia memang agak curiga pada Sekar dan kakaknya.


"Iya, aku dan kakakku peri hutan. Tapi kami tidak bermaksud jahat. Ratu Peri yang menyuruh kami kemari untuk mengawasi kakak itu!" Gadis itu bicara sambil mengunyah, seolah-olah hal yang dia bicarakan itu bukanlah apa-apa.


"Kau yang diutus Ratu Malea untuk mengawasi Ratu Gita?" Raja Satria mulai mengendurkan sarafnya.


"Oh, ternyata kakak ini Ratu?" Gadis itu mulai tertarik. Diperhatikannya Ratu Gita dari atas kebawah sambil menaruh telapak tangan kirinya di dagu, seolah-olah sedang menilai.


"Hei, jangan melihatnya seperti itu! Tidak sopan tahu!" Tegur Raja Satria.


"Kenapa? Aku kan cuma melihat kakak Gita!" Sekar mencibir ke arah Raja Satria membuat pria itu mendelik.


Ratu Gita datang membawakan teh untuk Sekar. Kemudian wanita itu duduk di kursi di antara Sekar dan suaminya.


"Kenapa aku tidak melihat dusun kalian saat berada di dekat jurang sana?" Tanya Ratu Gita.


"Karena dusun itu dilindungi oleh perisai gaib yang hanya bisa dilihat dan dimasuki oleh orang-orang tertentu saja." Tiba-tiba sebuah suara laki-laki menyahut dari arah pintu.


Mereka bertiga serentak menoleh ke arah sumber suara. Di sana telah berdiri seorang pria tampan dengan rambut perak dikepang rapi sambil menenteng sebuah kantung.


"Eldrige!" Ratu Gita terpekik gembira.


Hal itu membuat Raja Satria lagi-lagi memandang sebal.

__ADS_1


__ADS_2