Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 52 Semakin Dekat


__ADS_3

"Maaf Chen, sepertinya kita tidak bisa menikah dalam waktu dekat. Kau tahu sendiri kondisiku saat ini."


"Iya, aku tahu. Aku hanya bercanda, kau jangan cemas." Chen mengelus kepala Fen.


Fen tersenyum lega. Meskipun Chen selalu bersikap baik padanya, namun entah kenapa dia tidak bisa mempercayainya. Dia selalu merasa apa yang diucapkan Chen bukanlah apa yang ada di dalam hatinya.


"Istirahatlah, besok aku akan memberimu kejutan. Kau pasti akan senang. "


"Terima kasih Chen, aku tidak sabar menunggu besok." Fen tersenyum manis.


Chen tersenyum senang, dia akan bersabar sampai wanita itu mau menerimanya. Dia akan membuat Fen membalas perasaannya.


Setelah Chen pergi, Fen segera mengenakan mantelnya. Dia ingin menyelidiki rahasia yang disembunyikan oleh Chen darinya.


Dengan mengendap-endap Fen keluar dari kamarnya. Dilihatnya kedua pelayannya sedang sibuk membereskan dapur. Fen kemudian keluar dari paviliun tanpa menimbulkan suara.


Di luar sudah gelap, terlihat beberapa pelayan berjalan beriringan menuju gedung utama. Dia segera berjalan di belakang mereka.


"Aku tidak sabar melihat Tuan Chen, dia sangat tampan dan gagah." Seorang gadis pelayan yang terlihat masih remaja berbicara sambil terkikik pelan.


"Tapi sayang sekali dia sekarang sudah bertunangan! " Timpal gadis yang lain.


"Benarkah? " Gadis remaja tadi terlihat kaget.


"Kau ketinggalan gosip terhangat. Tuan Chen pulang membawa seorang wanita asing yang disebut sebagai tunangannya. "


"Wanita asing? "


"Iya, dia bukan dari ras kita. Kudengar wanita itu datang dalam kondisi tidak sadar. "


"Apakah wanita itu sakit? "


"Sepertinya begitu, tadi aku melihat Tabib Nyuk Giu datang ke paviliun Tuan Chen. "


"Seperti apa wanita itu, apakah dia cantik? "


"Menurut Ling dan Wei, pelayan Tuan Chen, wanita itu memiliki mata yang lebar dan bulu mata yang lentik. Wanita itu terlihat seperti berasal dari keluarga bangsawan. Tapi Tuan Chen bilang bahwa orang tua wanita itu hanyalah seorang pedagang. "


"Aku penasaran dengan tunangan Tuan Chen. "


"Sebaiknya tunangan Tuan Chen benar-benar sehebat itu, karena dia akan segera berhadapan dengan Nona Bao Yu."


"Kau benar. Nona Bao Yu pasti tidak akan tinggal diam."


Fen berhenti mengikuti mereka dan berdiri di bawah bayang-bayang pepohonan. Dari pembicaraan para pelayan tadi, dia bisa mengambil kesimpulan bahwa Chen selama ini sudah membohonginya.


Kalau begitu, siapakah dirinya yang sesungguhnya? Dari mana asalnya? Apakah dia masih memiliki keluarga?

__ADS_1


Fen ingin pergi keluar, tapi dilihatnya beberapa orang pengawal berjaga-jaga di depan gerbang. Sepertinya akan sulit jika dia nekat untuk menyelinap.


Akhirnya wanita itu memutuskan untuk kembali ke paviliun. Di dalam sepi. Rupanya kedua gadis pelayan tadi sudah pergi. Fen masuk ke kamarnya dan menggantung mantelnya.


Sambil duduk di depan cermin Fen menyisir rambutnya. Di dalam pikirannya dia terus memikirkan cara untuk mencari tahu masa lalunya. Untuk sementara dia akan pura-pura menuruti Chen, tapi saat ada kesempatan dia akan melarikan diri.


Karena jika yang dikatakan tabib itu benar, berarti dia sudah memiliki anak. Atau bahkan seorang suami. Chen mungkin telah menculiknya.


*****


Raja Satria memandangi air laut yang biru dan bergelombang. Awan-awan putih menggumpal di cakrawala, seakan bersentuhan dengan lautan. Beberapa kali dilihatnya kawanan lumba-lumba berenang dengan gembira mengikuti kapal yang ditumpanginya.


Pria itu kini sedang dalam pelayaran menuju daratan Laut Timur bersama sepupu istrinya, Pangeran Gaurav. Mereka berdua berangkat lima pekan yang lalu. Tidak ada yang mengetahui tujuan mereka, kecuali Eldrige.


Semua urusan kerajaan sudah dia serahkan kepada Dewan Kerajaan. Sedangkan Eldrige akan mengawasi keamanan negara dari serangan sihir jahat.


Di kejauhan mulai tampak daratan yang menyerupai siluet reptil yang panjang dan gelap. Lama-kelamaan siluet itu semakin nyata menampilkan daratan yang sangat indah.


Ratusan kapal dengan berbagai model bersandar di dermaga. Burung-burung camar beterbangan di udara dan ada beberapa yang bergerombol di tiang-tiang kapal.


Para pelaut turun dari kapal untuk membongkar muatan. Para penumpang turun dan melanjutkan perjalanan ke tujuan masing-masing.


Raja Satria dan Pangeran Gaurav memutuskan untuk mampir ke kedai makan. Di sana orang-orang memperhatikan mereka berdua dengan pandangan aneh.


Jelas penampilan mereka sangat mencuri perhatian para penduduk berdarah oriental itu. Pangeran Gaurav terlihat seperti bangsawan dari negeri tropis. Sedangkan Raja Satria mungkin lebih terlihat seperti jelmaan para siluman dalam dongeng mitologi.


"Aku tidak nyaman dipelototi orang-orang ini. Aku jadi merasa seperti binatang yang diperdagangkan di pasar." Raja Satria menggerutu.


"Tuan-tuan ingin memesan apa?" Seorang pelayan bertanya pada Pangeran Gaurav.


"Tolong bawakan teh dan makanan terbaik di kedai ini dua porsi."


"Baik Tuan." Pelayan itu mengangguk sambil melirik Raja Satria.


Saat hidangan sudah tersaji di meja, Raja Satria memandangi makanan itu dengan dahi berkerut.


"Aku tahu ini mie, masalahnya aku tidak bisa memakai sumpit." Keluh Raja Satria. Tangannya mengaduk-aduk mie di mangkuk dengan sebatang sumpit.


"Apa kau mau kusuapi?" Ejek Pangeran Gaurav.


"Kau ini menyebalkan mirip seperti Eldrige." Raja Satria mencemooh.


"Sudahlah, pakai ini!" Pangeran Gaurav mengeluarkan sebuah kotak segi empat kecil dari kantungnya.


"Apa itu?"


Pangeran Gaurav tersenyum sambil membuka kotak itu. Tangannya mengambil sebuah garpu dan menaruhnya ke mangkuk Raja Satria.

__ADS_1


"Kuakui kali ini kau sangat cerdas, sobat." Raja Satria segera menyantap makanannya.


Setelah makan mereka menanyakan tentang rombongan sirkus yang datang sekitar dua bulan yang lalu.


"Saya ingat rombongan sirkus itu, mereka menuju ibukota Baiyun."


"Masih jauhkah dari sini? "


"Lumayan jauh untuk saya yang tidak pernah bepergian. Sekitar satu hari perjalanan ke arah utara."


"Baik, terima kasih."


Kemudian mereka pergi ke toko pakaian dan membeli beberapa hanfu dan jubah bertudung untuk menyamarkan penampilan mereka.


Setelah itu mereka membeli dua ekor kuda dan langsung memacunya ke arah utara. Sepanjang jalan terhampar sawah-sawah bersusun yang menghijau dan asri. Gunung-gunung batu yang tinggi menjulang menjadi latar belakangnya.


Jalanan menjadi semakin menanjak dan berkelok, saat mereka memasuki hutan bambu. Cahaya matahari juga mulai redup. Mereka memacu kuda semakin kencang agar bisa mencapai kota Baiyun sebelum terlalu gelap.


Akhirnya mereka sampai di dataran tinggi yang lapang. Di atas sana hamparan ibukota Baiyun terlihat sangat indah. Lampu-lampu di kota berkerlap-kerlip seperti kumpulan kunang-kunang di malam hari.


"Aku pasti bisa menemukan Ratu Gita di antara ribuan orang yang tinggal di kota itu!" Ucap Raja Satria, seolah pada dirinya sendiri.


Mereka kemudian menuruni bukit dan berpacu ke arah kota Baiyun. Di sana, sepanjang jalan berjajar bangunan-bangunan unik dengan ujung atap yang melengkung dan membuatnya terlihat sangat cantik.


Ribuan lampion yang tergantung di atas menghiasi jalanan kota Baiyun. Para pedagang kaki lima membuka lapak-lapak dagangan di pinggir jalan.


"Kita harus mencari penginapan." Ucap Pangeran Gaurav.


"Aku tidak bisa membaca tulisan mereka. Mana menurutmu yang tertulis penginapan?" Tanya Raja Satria.


"Yang itu! " Tunjuk Pangeran Gaurav.


Mereka kemudian menuju ke penginapan. Seorang pria tua membawa kuda-kuda mereka ke kandang. Di dalam penginapan, seorang wanita cantik bergaun merah menyambut mereka dengan sangat ramah. Suaranya pun sangat merdu.


"Apakah Tuan-tuan ingin menginap? "


"Iya, siapkan dua kamar yang nyaman." Kata Pangeran Gaurav sambil tersenyum.


"Ada kamar yang sangat nyaman dengan layanan istimewa. Apakah Tuan Muda mau mengambilnya? "


"Baiklah, sekalian bawakan menu istimewa kalian ke kamar."


Mereka kemudian mengikuti seorang pelayan pria ke lantai atas menuju kamar masing-masing yang letaknya saling bersebelahan.


Raja Satria langsung membaringkan tubuhnya ke ranjang. Punggungnya terasa pegal karena seharian berkuda. Matanya terasa berat sehingga dia langsung terlelap.


"Tok.. tok.. tok..! "

__ADS_1


Suara ketukan di pintu membangunkannya dari tidur. Dengan malas pria itu berjalan dan membuka pintu. Namun betapa kagetnya dia saat melihat siapa yang berdiri di sana.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


__ADS_2