
Hari ini Ratu Gita mengikuti Arya dan Sekar pergi mencari tanaman herbal. Mereka mengajaknya ke sudut-sudut hutan yang tidak pernah dia ketahui. Berjalan di bawah rimbunnya pohon-pohon Redwood raksasa yang telah berusia ribuan tahun dan menyusuri sungai kecil di dekat sana untuk memancing ikan Salmon.
"Sungai ini bernama Altcreek. Kau tahu, saat musim bertelur akan ada lebih banyak ikan Salmon yang bisa kita tangkap." Kata Arya sambil membantu memasang umpan pada kail milik Ratu Gita.
"Aku suka ikan bakar!" Teriak Sekar dari tepian.
Ratu Gita mengamati cara Arya memasang umpan dan melempar kail ke tengah sungai. Kemudian dengan cekatan pemuda itu menancapkan joran pancing pada tepian sungai yang berpasir.
Ratu Gita lalu duduk di atas batu berukuran sedang di tepi sungai, menunggu umpannya dimakan ikan. Aliran air yang agak deras menciptakan cipratan setiap kali menghantam bebatuan. Batu-batu kerikil berbentuk bulat dan berwarna-warni terhampar indah di tepian sungai.
Sementara itu, Sekar melepas sepatu kulitnya dan melemparkannya sembarangan ke arah semak-semak berbunga kuning kecil-kecil. Nampak ujung jari-jari kakinya agak mengerucut dan melengkung ke atas seperti kelopak bunga Lily. Gadis itu kemudian menenggelamkan kakinya ke dalam pasir yang basah. Dia tertawa senang merasakan aliran air di sela-sela jari kakinya.
Tiba-tiba senar pancing milik Arya tertarik dan jorannya melengkung. Peri remaja itu memegangi jorannya sekuat tenaga agar ikan yang memakan umpannya tidak terlepas. Terlihat senar pancingnya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan cepat, mengikuti pergerakan ikan di dalam air. Jari-jari Arya dengan lincah memutar tali senarnya cepat-cepat, mengunci pergerakan ikan dan menarik ikan itu melesat ke atas dengan mulut tergantung pada kail.
"Horeee!" Sekar berteriak girang.
Arya dengan bangga menunjukkan hasil tangkapannya pada Ratu Gita. Ikan yang masih tergantung itu menggelepar di udara.
"Kau hebat sekali Arya." Pujian dari Ratu Gita membuat pemuda itu tersipu.
Tak lama kemudian kail pancing milik Ratu Gita juga dimakan ikan. Ratu Gita memegangi jorannya dibantu oleh Arya. Dengan sabar pemuda itu mengajari Ratu Gita memutar senar dan mengunci pergerakan ikan. Akhirnya mereka berhasil menarik ikan yang berukuran agak besar itu keluar dari air. Ratu Gita tampak puas dengan hasil tangkapan perdananya.
"Ikan punya Kakak Gita lebih besar, Kakak Gita hebat!" Sekar memuji-muji Ratu Gita.
Arya dengan cekatan membersihkan ikan-ikan itu dan menggaraminya. Ratu Gita membantu menyiapkan ranting-ranting kering untuk kayu bakar. Setelah semuanya siap, Arya menyalakan api dan mulai memanggang ikan. Aroma lezat segera menguar di udara membuat perut mereka keroncongan.
"Aku mau makan ikan yang besar!" Sekar mencomot segumpal daging ikan yang masih mengeluarkan asap. Ditiup-tiupnya lalu segera memasukkannya ke dalam mulut.
"Enak!" Teriak gadis kecil itu.
Mereka menikmati ikan bakar dengan lahap. Sambil makan mereka berbincang dengan gembira.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengawasi mereka dari balik batang pohon Redwood yang sangat besar. Orang itu menatap mereka dengan kesal. Telapak tangannya beberapa kali memukul-mukul batang pohon yang berkulit kasar itu.
Tanpa sengaja orang itu terpeleset lumut licin yang menempel pada akar pohon. Tubuhnya tergelincir menerobos semak belukar dan meluncur turun kemudian jatuh tersungkur tepat didepan mereka.
"Aine?" Arya berseru kaget.
Aine mencoba berdiri dengan susah payah, dengan kesal dia menepuk-nepuk gaunnya yang kotor terkena tanah dan rontokan daun.
"Kau bohong padaku! Kau bilang akan mengajakku pergi memancing!" Gadis cantik itu cemberut menatap Arya. Aine memandangi Ratu Gita dengan penuh curiga.
"Kau malah mengajak seorang manusia?" Aine menubruk Arya dan memukuli bahu pemuda itu.
"Berhenti Aine, sakit tahu!" Arya berusaha menenangkan gadis yang sedang mengamuk itu.
__ADS_1
"Apa gadis itu kekasih Arya?" Ratu Gita bertanya pada Sekar dengan suara berbisik.
"Iya. Tapi aku tidak suka padanya!" Sekar memandang gadis itu dengan sebal.
"Kenapa?" Bisik Ratu Gita lagi.
"Karena dia cerewet dan suka memukuli kakakku! Aku lebih suka padamu." Bisik Sekar.
Ratu Gita dan Sekar hanya menonton pertunjukan drama pertengkaran sepasang kekasih itu. Akhirnya Aine terisak di pelukan Arya. Pemuda itu mengelus-elus rambut pirang kekasihnya.
"Sudah, jangan marah lagi! Dia adalah Gita yang sekarang menempati pondok di tengah hutan itu." Bujuk Arya.
"Kenapa kalian bisa bersama-sama?" Gadis itu bertanya dengan perasaan cemburu membakar dadanya.
"Ratu Malea yang memberiku tugas untuk mengawasi keselamatan Gita!"
Gadis cantik itu langsung terdiam begitu mendengar bahwa Ratu Malea yang menyuruh. Dia merasa segan jika menyangkut tugas dari Sang Ratu.
"Halo, aku Gita." Ratu Gita memperkenalkan diri. Wanita itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Dengan agak canggung Aine menyambut uluran tangannya.
"Namaku Aine. Aku tunangannya Arya!" Kata gadis itu sambil memeluk lengan Arya, membuat pemuda itu merasa malu di depan Ratu Gita.
"Cuih!" Sekar mengerucutkan bibirnya.
"Aku tidak akan mengganggu Arya. Kau jangan khawatir! Lagipula aku sudah menikah." Ucap Ratu Gita agar gadis itu tidak marah.
"Aku akan sering mengunjungimu agar kau tak kesepian." Kata Aine dengan ramah.
"Terima kasih, aku sangat senang mendengarnya." Ratu Gita tersenyum.
Setelah puas berbincang, mereka berjalan bersama menuju pondok kediaman Ratu Gita. Mereka mengantarnya hanya sampai di depan pagar karena hari sudah senja.
Ratu Gita melambaikan tangan. Dia sempat menyaksikan sayap-sayap transparan tiba-tiba mencuat dari punggung mereka. Kemudian rombongan peri itu melesat terbang menerobos rimbunnya pepohonan, meninggalkan pendar-pendar cahaya di udara.
*****
Di istana Elfian, Raja Satria dan Eldrige mendatangi kediaman Selir Mayang. Wanita cantik itu menyambut kedatangan Raja Satria dengan gembira. Namun ketika melihat kehadiran Eldrige, tiba-tiba ada kilatan bengis di matanya.
Raja Satria merasa agak aneh dengan penampilan Selir Mayang sekarang. Riasan wajahnya terlihat mencolok dan berlebihan. Garis matanya hitam dan tebal, warna bibirnya semerah darah.
"Kau terlihat berbeda, Selir Mayang." Raja Satria mengomentari penampilannya.
"Iya, sayang. Ini adalah diriku yang baru." Sahut selir itu.
"Apa kau baik-baik saja?"
__ADS_1
"Tentu saja. Kau tak perlu mencemaskan aku, sayang." Jawab wanita itu.
Eldrige memperhatikan wanita itu dan merasakan ada aura gelap yang menyelimuti Selir Mayang. Jiwa wanita itu sudah dikuasai oleh energi gelap yang sangat jahat.
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, Selir Mayang." Raja Satria menatap selirnya sambil menghembuskan napas berat.
Wanita itu sudah menduga apa yang hendak ditanyakan Raja Satria. Dengan berani dia menatap matanya seolah menantang.
"Apa kau sudah bermain-main dengan mantera sihir?" Tanya Raja Satria.
"Ha..ha.. lucu sekali. Pertanyaan macam apa itu?" Wanita itu mencoba untuk menghindar.
"Kau tidak perlu menyangkal lagi, aku sudah membawa buktinya!"
"Bukti? Lalu kau mau apa, sayang?" Selir Mayang terlihat tidak takut.
"Aku ingin kau menghentikan kegiatanmu itu!" Pinta Raja Satria.
"Ha..ha.. Tidak akan!" Suara wanita itu tiba-tiba berubah serak dan melengking.
"Eldrige!" Raja Satria menatap Eldrige penuh arti.
Eldrige mengangguk tanda mengerti. Dia segera memerintahkan semua orang untuk keluar dari bangunan ini.
"Siapa kau?" Tanya Eldrige dengan suara tegas.
"Aku Selir Mayang." Wanita itu menyeringai mengerikan.
"Sekh!" Eldrige menyebutkan nama iblis wanita berwajah elang.
"Rupanya kau sudah tahu, Peri!" Teriak Selir Mayang lalu tertawa kencang. Suara tawanya menggema mengerikan.
"Aku ingin kau meninggalkan raga wanita itu sekarang!" Perintah Eldrige.
"Tidak! Wanita ini sudah mengikat perjanjian dengan tuanku!"
"Aku ingin membatalkannya!" Kata Eldrige dengan tegas.
"Tidak bisa!"
"Aku akan tetap memaksa!"
"Kalau kau memaksa maka wanita ini akan M-A-T-I !" Mata selir itu melotot.
"Tidak! Jangan kau bunuh anakku!" Suara seorang laki-laki tiba-tiba terdengar. Tampak Ketua Dewan Permadi datang tergopoh-gopoh berusaha menghentikan Eldrige.
__ADS_1
"Biarkan dia, Eldrige! Kau tidak boleh menyerang Selir Utama kerajaan ini!" Perintahnya.
"Dia bukan lagi Selir Utama. Aku sudah mencopot jabatannya mulai hari ini!" Raja Satria menatap tajam Ketua Dewan Permadi.