Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 45 Ikatan Darah


__ADS_3

Hari sudah pagi ketika Raja Pramana mendengar kabar bahwa putrinya sudah melahirkan. Dia ragu apakah akan menjenguknya atau tidak.


Selama ini hubungan mereka tidak cukup baik. Sangat berbeda dengan hubungan ayah dan anak seperti lazimnya.


Sebuah alasan yang hanya dimengerti oleh dirinya. Sebuah keraguan yang semakin mengikis hati nuraninya sebagai seorang ayah.


Akhirnya Raja Pramana pergi menjenguk cucunya itu setelah sarapan. Dia berencana akan melihat bayi itu sebentar dan akan segera pergi dengan alasan mengikuti Pertemuan Liga Kerajaan.


Ketika pria itu keluar dari kamarnya, ternyata Pangeran Gaurav sudah menunggunya. Sebagai orang tua yang sudah berpengalaman, dia bisa memahami perasaan keponakannya itu. Dia tahu, diam-diam Pangeran Gaurav menaruh hati pada Ratu Gita.


Tapi tentu saja hal itu tak akan dibiarkannya. Pangeran Gaurav adalah satu-satunya ahli waris Kerajaan Watu Ijo. Dia adalah harapannya untuk meneruskan tampuk pimpinan di negerinya. Tidak akan dia biarkan pemuda itu merusak masa depannya demi gadis itu.


"Paman. Apakah paman akan menjenguk Gita?" Wajah pria muda itu terlihat sangat berharap.


"Iya. Ayo ke sana!"


Raja Pramana berjalan dengan wajah kaku tanpa ekspresi. Gerakan tubuhnya masih gesit meskipun usianya sudah tidak muda lagi.


"Gaurav!"


Ratu Gita terkejut ketika melihat Pangeran Gaurav masuk ke kamarnya. Wanita itu tersenyum lebar melihat kedatangan sepupunya itu. Tapi kemudian matanya terbelalak ketika melihat orang yang berjalan di belakangnya.


"A..yah?"


Pangeran Gaurav melirik ke arah pamannya sekilas. Memastikan bahwa pria itu mengikutinya.


"Kudengar kau sudah melahirkan?" Pria itu dengan canggung mendekati ranjang tempat putrinya berbaring.


"Iya, Ayah. Bayiku sedang dimandikan." Jawab Ratu Gita.


Tepat setelah Ratu Gita mengatakannya, Esme masuk membawa bayi yang sudah dibungkus selimut berwarna putih.


"Itu cucuku?" Raja Pramana bertanya pada gadis pelayan itu.


"Betul, Yang Mulia." Esme mendekati Raja Pramana untuk menunjukkan bayi itu.


Raja Pramana dengan ragu-ragu melihat wajah bayi perempuan itu. Rambut bayi itu seperti ayahnya, telinganya juga runcing menyerupai telinga bangsa Elfian. Namun wajahnya menyerupai mendiang selirnya, ibunda Ratu Gita. Ada sebuah tahi lalat kecil di pipi kirinya, tepat di bawah mata.


Ada perasaan haru yang tiba-tiba menyusup di relung hatinya. Bergolak melawan ego dan kerasnya hati seorang pria yang merasa tersakiti.


"Yang Mulia boleh menggendongnya." Ucap Esme sambil tersenyum.


Pangeran Gaurav dan Ratu Gita menahan napas menunggu reaksi pria tua itu. Akankah dia mau menyentuh bayi itu?


Tiba-tiba tanpa disadarinya, tangan keriput itu mengulur ke arah bayi dalam gendongan Esme. Ratu Gita yang melihatnya merasa tidak percaya dan sampai menitikkan air mata.


Raja Pramana menggendong bayi mungil itu dalam pelukannya. Mata ungunya yang berbinar memandangi wajah tua di depannya dengan sangat polos. Sesekali tangannya yang kecil menggapai-gapai udara.


"Kau cantik sekali, gadis kecil."

__ADS_1


Suaranya terdengar agak bergetar ketika menyapa bayi itu. Tangannya mengelus pipi tembem itu dengan perasaan sayang.


Tanpa sengaja, matanya menangkap sesuatu dibalik baju bayi itu. Jari-jarinya yang besar mencoba menyingkap bagian dada bayi itu.


"Astaga!"


Matanya terbelalak lebar dan seketika air matanya luruh. Di dada bayi itu ada sebuah tanda lahir berbentuk hati berwarna coklat kehijauan. Tanda yang sama dengan miliknya.


Tanpa sadar dia meremas dadanya sendiri sambil menangis tersedu-sedu. Betapa besarnya penyesalan yang harus dia tanggung di masa tuanya ini.


Pangeran Gaurav segera mendekati pamannya dan mengambil bayi kecil itu. Kemudian dia menyerahkannya pada Esme.


Dengan agak ketakutan, gadis itu segera menerima bayi itu. Lalu Esme segera menyerahkannya pada ibunya.


"Ada apa, Paman? Apa perlu saya panggilkan tabib?" Pangeran Gaurav nampak khawatir.


"Tidak Gaurav! Aku tidak apa-apa." Kata pria itu di sela-sela tangisnya.


Tiba-tiba Raja Pramana tersungkur di lantai, membuat Pangeran Gaurav dan Ratu Gita kaget. Namun sebelum mereka melakukan sesuatu, Raja Pramana berbicara dengan suara bergetar.


"Ampuni ayahmu ini, Gita! Ampuni orang tua yang penuh dosa ini!"


Pria itu berlutut di depan ranjang Ratu Gita, membuat semua orang yang ada di ruangan itu terbelalak kaget.


"Ayah, bangunlah!"


Ratu Gita berusaha untuk turun dari ranjangnya namun dicegah oleh ayahnya. Pria itu mengangkat tangannya ke arah Ratu Gita.


"Selama ini aku mengira kalau ibumu tidak setia. Aku mengira kau bukan anak kandungku.." Raja Pramana tergugu di lantai.


"Ayah.."


Ratu Gita turun dari ranjangnya menghampiri ayahnya. Wanita itu bersimpuh di depan ayahnya sambil menangis.


"Kemarilah, anakku!"


Ratu Gita menghambur ke pelukan ayahnya. Ini adalah pertama kalinya dia bisa merasakan pelukan dari seorang ayah.


Pangeran Gaurav hanya berdiri dengan mata berkaca-kaca. Dia ikut bahagia melihat Ratu Gita akhirnya diakui oleh ayahnya.


*****


Pertemuan Liga Kerajaan berlangsung sesuai rencana. Para pemimpin dan perwakilan dari kelima kerajaan saling berdiskusi mengenai masalah keamanan yang mereka alami akhir-akhir ini. Terutama tentang Kerajaan Dewanata yang menyerang beberapa kerajaan anggota Liga Kerajaan.


"Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan?" Tanya Raja Aidan, pemimpin Kerajaan Nord.


"Kita harus memiliki cara untuk berkomunikasi agar dapat mengetahui kondisi masing-masing dan bisa segera memberikan bantuan bagi yang membutuhkan!" Usul Raja Nicholay dari Kerajaan Alsatia.


"Selama ini kita hanya saling berkirim pesan lewat penjaga di perbatasan. Jadi apakah kita akan menambah pos penjagaan?" Raja Pramana ikut bersuara.

__ADS_1


Mereka semua terdiam. Memikirkan cara efektif agar dapat mengirimkan pesan darurat dalam waktu cepat.


"Bagaimana jika kita memasang lonceng raksasa di menara istana. Kita akan buat kode dengan hitungan tertentu agar dapat segera dimengerti oleh penjaga perbatasan. Kemudian penjaga perbatasan akan mengirim pesan dengan lonceng lainnya untuk kerajaan tetangga." Sebuah ide dilontarkan oleh Raja Satria.


Mereka saling melontarkan ide dan pemikiran masing-masing. Kemudian mencari jalan terbaik untuk kepentingan bersama. Sampai saat makan siang mereka belum mengambil keputusan final.


Di sela-sela makan siang, Raja Satria mengumumkan kelahiran putrinya. Semua orang mengucapkan selamat kepadanya. Juga kepada Raja Pramana selaku kakek bayi kecil itu.


"Selamat atas kelahiran Tuan Puteri Kerajaan Elfian!"


Raja Pramana tersenyum gembira. Perasaannya sangat terharu dan bangga. Dia tidak menyangka akan bisa merasakan hal seperti ini.


*****


Pertemuan Liga Kerajaan sore itu telah usai. Mereka sepakat untuk menggunakan ide Raja Satria. Mereka juga membuat kode untuk menjelaskan situasi tertentu. Berapa kali lonceng akan berbunyi untuk masing-masing tanda darurat.


Beberapa perwakilan kerajaan langsung pulang ke negeri asalnya. Namun masih ada yang menginap semalam lagi dan pergi keesokan harinya.


Raja Pramana dan Pangeran Gaurav memutuskan untuk menginap. Mereka masih ingin melihat Puteri kecil itu.


"Apakah bayi itu sudah diberi nama?" Tanya Pangeran Gaurav.


"Belum." Jawab Ratu Gita.


"Aku ingin memberinya nama ibuku, Juwita. Apa kau setuju?" Tanya Raja Satria kepada istrinya.


"Aku suka nama itu." Ratu Gita mengangguk.


"Itu nama yang cantik. Aku masih ingat dengan ibumu, dia adalah Ratu yang sangat bijaksana. Dia yang meminta menjodohkan kalian." Raja Pramana bercerita dengan penuh semangat.


"Benarkah? Tapi bagaimana ibuku bisa mengenal Ratu Gita?" Tanya Raja Satria.


"Entah bagaimana ceritanya, Ibumu itu sebenarnya berteman dengan Selir Widya, ibunya Gita." Raja Pramana mengenang masa lalu.


"Dan mereka sudah sepakat akan menjodohkan anak mereka nantinya." Sambungnya.


Semua orang di sana merasa takjub. Mereka tidak menyangka bahwa Raja Satria dan Ratu Gita sudah dijodohkan bahkan sejak belum lahir.


"Namun setelah Raja Prasetya dan Ratu Juwita meninggal, kita mengalami sedikit perselisihan dan kesalahpahaman. Maka pernikahan kalian menjadi solusi terbaik untuk kita semua."


"Maafkan ayah karena sudah memaksamu menikah demi kepentingan negara." Raja Pramana memandang anaknya dengan penuh penyesalan.


"Sudahlah Ayah, aku tidak apa-apa." Kata Ratu Gita.


"Lagipula kami sekarang sangat bahagia, terutama sejak kelahiran bayi kami." Raja Satria menimpali ucapan istrinya.


"Semoga kalian selalu berbahagia." Ucapan doa dari Raja Pramana segera diamini mereka.


Tiba-tiba seorang Staf Kerajaan memohon izin untuk menyampaikan pesan kepada Raja Satria.

__ADS_1


"Prajurit penjaga di dekat wilayah Teluk Putri Duyung mengatakan bahwa mereka telah melihat beberapa armada kapal asing sedang mendekati pantai. Diperkirakan mereka akan sampai dalam dua hari."


Raja Satria terdiam. Dia mencemaskan satu hal. Armada kapal bajak laut!


__ADS_2