
Pusaran angin yang bertambah tinggi itu seakan menarik awan-awan hitam di sekitarnya seperti magnet. Hal itu menyebabkan pusaran angin itu menjadi bertambah besar dan mengerikan. Daun-daun dan rumput-rumput kering beterbangan di udara, tersedot pusaran angin itu.
Para prajurit segera menjauh agar tidak tersedot dalam pusaran angin. Air di permukaan telaga ikut bergolak.
Kemudian saat Eldrige menjentikkan jarinya, tiba-tiba pusaran angin yang besar dan mengerikan itu terurai dan hujanpun berhenti. Langit kembali cerah dan bulan purnama bersinar terang.
Eldrige memperhatikan Raja Pelvis dan Pangeran Gaurav yang masih bertarung dibawah sinar bulan. Kini kedudukan mereka seimbang.
Tubuh keduanya basah oleh air hujan dan darah. Mereka bergerak saling menusuk, menyabet dan memukul lawan. Mereka sama-sama menunjukkan dominasi dan menguarkan aroma hormone steroid yang mengintimidasi.
Tak jauh dari telaga, sebuah kereta kuda berhenti. Dua orang wanita turun dengan tergesa-gesa saat melihat bulan purnama semakin naik.
Mereka berhenti sejenak ketika melihat ada puluhan kuda kerajaan yang di tambatkan. Merasa bahwa mungkin akan menimbulkan resiko yang tidak diinginkan, mereka berjalan ke arah telaga dengan mengendap-endap.
"Viviane, aku akan menunggu di sini. Kau pergilah mencari calon suamimu! " Mayang berbisik lirih ketika melihat prajurit-prajurit yang berjaga.
Viviane mengangguk. Rusalqa betina itu berjalan dengan dituntun instingnya. Dia bisa mencium aroma lawan jenisnya yang sangat kuat. Aroma paling dominan dari jenisnya, aroma seorang pemimpin.
Viviane secara alami menjadi bergairah dan melepaskan feromon yang tersimpan di dalam pori-pori kulitnya ke udara. Menunjukkan keberadaannya.
Namun wanita itu berhenti ketika melihat pertarungan yang terjadi. Raja Pelvis, pemilik aroma yang memikatnya, sedang mengayunkan trisula kembar dengan kedua tangannya melawan seorang manusia.
"Hentikan! " Viviane berlari menerobos arena, membuat kedua pria itu menghentikan pertarungan.
Pangeran Gaurav mundur beberapa langkah dengan napas tersengal-sengal. Sedangkan Raja Pelvis terlihat murka karena ada seorang Rusalqa yang berani menginterupsi pertarungannya.
"Siapa kau? " Teriak Raja Pelvis dengan suara keras.
"Apa kau tak mengenaliku? Aku Viviane, pengantinmu! " Viviane mendekati Raja Pelvis. Tangan wanita itu terulur ingin menyentuh tubuh calon suaminya.
Namun tak disangka Raja Pelvis malah mundur dengan wajah jijik. Seolah pria itu mencium bau yang sangat busuk dari tubuh Viviane.
"Kau bukan pengantinku. Tubuhmu telah tercemar! " Tolak Raja Pelvis dengan kejam.
Viviane merasa tak percaya mendengar penolakan Raja Pelvis. Selama ini dia berusaha untuk melarikan dari dari manusia-manusia yang menyekapnya agar bisa bertemu dengan pria ini. Tapi ternyata dia telah ditolak karena tubuhnya telah tercemar.
Wanita itu baru menyadari bahwa aroma feromon yang dikeluarkannya telah bercampur dengan aroma manusia yang menodainya. Viviane juga melihat para Rusalqa yang berkumpul di tepian telaga sedang menatapnya dengan jijik.
"Ini semua bukan salahku! " Viviane tersungkur sambil menangis.
"Pergilah! Aku sudah memiliki calon pengantin. Sebentar lagi upacara pernikahanku akan dimulai. " Raja Pelvis mengusir Viviane yang sedang menangis di hadapannya.
"Calon pengantinmu adalah aku! " Wanita itu menjerit.
"Wanita kotor sepertimu tidak pantas menjadi pendampingku! Lihatlah wanita itu, dialah calon pengantinku! " Telunjuk Raja Pelvis mengarah pada Puteri Elok.
"Se-seorang manusia? " Bibir Viviane bergetar.
Viviane menatap nyalang ke arah Puteri Elok. Dia merasa terhina karena Raja Pelvis lebih memilih manusia sebagai pengantinnya.
"Wanita itu hanyalah makhluk rendahan! Kau tak bisa memilihnya menjadi pasanganmu! "
__ADS_1
"Berhentilah menghina calon istriku, calon Ratu bangsa Rusalqa! "
"Wahai kalian bangsa Rusalqa, apa kalian bersedia memiliki seorang Ratu dari bangsa manusia? " Viviane berteriak ke arah para Rusalqa yang menatapnya di pinggir telaga.
Tapi makhluk-makhluk itu hanya terdiam. Mereka hanya akan mengikuti perintah pemimpinnya, Raja Pelvis.
"Pergilah! " Usir Raja Pelvis.
Viviane berdiri dengan tubuh bergetar kemudian berjalan menjauh dengan langkah gontai. Air mata membasahi wajahnya yang pucat. Hatinya dipenuhi kepahitan dan dendam.
Sambil berjalan, sisik-sisik mulai tumbuh di sekujur tubuhnya dan sirip yang runcing tumbuh di sepanjang tulang punggungnya. Dan dengan gerakan cepat wanita itu melompat menerjang ke arah Puteri Elok yang sedang berdiri agak jauh di belakang Eldrige. Jari-jarinya yang runcing mengarah leher jenjang wanita itu.
Sreeet!
"Aaaargh! " Suara jeritan yang menyayat bergema di udara.
Semua orang menatap tak percaya melihat koyakan di leher wanita itu. Darah segar mengalir membasahi tubuhnya.
Tubuh Puteri Elok seketika ambruk dan tergeletak di atas tanah yang basah. Mata wanita itu terpejam dan tubuhnya tak bergerak.
*****
Ratu Gita berbincang serius dengan Faye di ruang kerja Raja Satria.
"Jadi apa yang dikatakan oleh Ratu Melia mengenai obat penawar itu? "
"Kita tidak bisa memaksa seorang Rusalqa untuk memberikan penawar itu. Apalagi Rusalqa yang berada di rawa-rawa di dekat Desa Yaselda. Oleh karena itu kita harus pergi ke padang rumput Masserjarvi yang terletak di antara perbatasan Kerajaan Nord dan Alsatia. Di sana ada sebuah telaga yang dikuasai oleh bangsa Rusalqa. Kita akan memohon pada Raja Pelvis, penguasa bangsa Rusalqa di tempat itu, untuk memberikan obat penawar. "
"Baik, Yang Mulia! "
Faye segera merobek udara dengan jarinya dan membuka pintu dimensi. Kemudian mereka berdua masuk ke dalam terowongan berbentuk spiral, sebelum akhirnya melangkah keluar dan berada di padang rumput yang diterangi cahaya bulan.
"Kita ke sana! "
Faye menuntun jalan. Mereka menginjak rerumputan yang basah dan becek. Tiba-tiba dari kejauhan mereka mendengar suara keributan.
"Kita harus bergegas. " Ucap Faye.
Kedua wanita itu berlari melewati padang rumput yang licin dan segera mendekati telaga yang berkilau memantulkan cahaya bulan.
Di sana mereka melihat kerumunan prajurit Kerajaan Alsatia. Dengan tergesa-gesa keduanya berlari menerobos kerumunan.
Ratu Gita melihat seorang wanita tergeletak bersimbah darah. Dan tak jauh dari sana dia melihat sepupunya, Pangeran Gaurav sedang berlutut.
"Gaurav, apa yang terjadi? " Ratu Gita berlari mendekat dengan perasaan cemas.
"Gita? " Pangeran Gaurav mendongak ketika mendengar suara Ratu Gita.
"Puteri Elok? " Ratu Gita terperanjat melihat wanita yang berada di hadapan Pangeran Gaurav.
Pangeran Gaurav mengangkat tubuh Puteri Elok dan membopongnya. Eldrige segera datang menunjukkan tempat untuk membaringkan Puteri Elok.
__ADS_1
"Kurasa malam ini aku batal melaksanakan upacara pernikahan." Seorang pria berdiri menjulang menatap Puteri Elok yang terbaring di atas selimut.
Pangeran Gaurav berdiri dan menghadapi Raja Pelvis.
"Apakah itu berarti sekarang kau sudah menyerah, Raja Pelvis?" Pangeran Gaurav menatap Raja Pelvis tepat di matanya.
"Ya. Kurasa kematian lebih mengerikan daripada melepaskannya. Aku baru menyadari hal itu. "
"Terima kasih! " Ucap Pangeran Gaurav dengan tulus.
Raja Pelvis berbalik dan berjalan mendekati tubuh Viviane yang terbujur dengan bersimbah darah di atas rerumputan. Pria itu menunduk dan mencabut trisulanya yang menancap di leher wanita itu. Kemudian dia berjalan menuju telaga.
"Raja Pelvis, tunggu! "
Raja Pelvis berhenti dan menoleh ke belakang. Dia melihat seorang wanita berambut hitam bergelombang mendekatinya.
"Kau siapa? "
"Aku Ratu Gita dari Kerajaan Elfian. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."
"Aku tidak berhubungan dengan Kerajaan Elfian. " Pria itu sudah akan pergi ketika Ratu Gita kembali berbicara.
"Ada pembunuhan yang terjadi di Kerajaan Elfian yang dilakukan oleh bangsa Rusalqa! "
"Apa kau yakin bahwa pelakunya adalah bangsa Rusalqa? "
"Aku yakin sekali! " Ratu Gita menatap wajah Raja Pelvis dengan serius. "Suamiku digigit oleh salah satu Rusalqa dan keadaannya sekarang kritis. Seluruh bangsa Elfian akan sangat berterima kasih jika Yang Mulia membantu kami. "
"Apa hubunganmu dengan Puteri Elok? "
"Puteri Elok adalah sepupu Raja Satria, suamiku. "
"Baiklah, aku bersedia membantu. Aku harus membersihkan nama baik bangsa Rusalqa! "
Ratu Gita merasa sangat lega mendengar Raja Pelvis bersedia membantu.
"Gaurav, Eldrige. Aku akan pulang ke Elfian. Jagalah Puteri Elok! " Ratu Gita berpamitan kepada Pangeran Gaurav dan Eldrige.
"Ya. Berhati-hatilah sepupu! " Pangeran Gaurav menepuk pundak Ratu Gita. Sedang Eldrige tersenyum sambil menunduk hormat pada Ratu Gita.
Faye kemudian mencabik udara dan membuka lubang dimensi. Raja Pelvis mengikuti Faye dan Ratu Gita memasuki lubang dimensi. Setelah lubang itu menutup dan menghilang di udara, para Rusalqa yang berada di pinggiran telaga segera menyelam kembali.
Eldrige mendekati tubuh Viviane dan memeriksanya. Ada bekas penyiksaan di tubuh Rusalqa betina itu. Kemudian dia meminta para prajurit untuk menguburkan wanita itu dengan layak.
"Kita kembali ke Alsatia! " Eldrige membuka lubang dimensi dan mengajak Pangeran Sagar dan Pangeran Gaurav yang sedang membopong Puteri Elok yang pingsan.
Sementara itu di bawah bayangan pepohonan zaitun, seorang wanita bersembunyi dengan amarah yang hampir meledak di dadanya. Rencana yang telah dia susun sedemikian rupa harus berantakan begitu saja.
Namun dia masih memiliki satu rencana cadangan. Bibirnya tersenyum ketika menatap sebuah cincin safir yang melingkar di jarinya.
"Aku belum kalah! "
__ADS_1