
Eldrige memandangi kapal-kapal yang bersandar di dermaga. Bendera-bendera warna-warni berkibar-kibar di pucuk-pucuk tiang layar. Kapal-kapal itu biasanya hanya berlayar ke dua tujuan, daratan Kerajaaan Dewanata atau Kepulauan Kerajaan Timur.
Jika ingin berpikir praktis, tujuan mana yang akan dipilih Tabib Bagio? Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya. Beberapa kali Eldrige menimbang, memikirkan berbagai kemungkinan.
Jarak Kerajaan Dewanata lebih dekat dengan waktu tempuh lebih pendek. Dan dengan kondisi Tabib Bagio yang sudah tidak tergolong muda, Kerajaan Dewanata akan menjadi pilihan yang lebih baik. Jadi Eldrige memutuskan untuk naik kapal dengan tujuan Kerajaan Dewanata. Dia berharap pilihannya tidak salah dan hanya membuang-buang waktunya.
Selama dua hari selanjutnya Eldrige menghabiskan waktunya dengan memandangi lautan dari atas kapal. Birunya lautan seakan melebur dengan langit. Seolah tak ada batas diantara keduanya.
Pada penghujung hari tiba-tiba mendung bergulung-gulung di atas laut. Angin bertiup kencang dan ombak semakin ganas mengombang-ambingkan kapal naik hingga ke pucuk gelombang dan detik berikutnya menukik turun ke dasar gelombang.
Kru kapal berlarian di dek dan berusaha mempertahankan kapal dari serbuan badai. Hujan turun membasahi kapal dan bercampur dengan air laut yang mengguyur dengan deras.
Beberapa orang menarik tali-tali yang menggantung pada tiang kapal, beberapa mencoba menguras air yang mulai menggenangi lantai kapal dengan ember-ember kaleng.
Eldrige membantu sebisanya hingga badannya basah kuyup. Tepat sebelum matahari terbenam, badai berhenti mengamuk. Awan-awan mendung mengurai dan lenyap tak bersisa. Langit cerah dan sinar matahari senja menyinari permukaan laut yang keemasan.
Kapal berhasil mendarat di pelabuhan Samandar dengan selamat. Para penumpang turun dengan perasaan syukur yang tak terkira. Langit sudah sepenuhnya gelap, tapi pelabuhan itu terang. Lampu-lampu bersinar di rumah-rumah para nelayan, kedai-kedai dan gedung patroli perbatasan.
"Saya akan mengantar Tuan ke penginapan. " Seorang pemuda berkulit gelap dengan sepasang mata besar yang ramah, berdiri di depan Eldrige dengan sikap sopan.
"Siapa kau? " Eldrige yang dari tadi sibuk dengan pikirannya sambil mengamati suasana asing di sekitarnya, merasa terkejut.
"Saya Eshwar. Saya memiliki kereta kuda. Saya biasa mengantar penumpang kapal yang baru datang kemari. " Pemuda itu memandang Eldrige sambil tersenyum.
"Aku membawa kuda. " Eldrige memalingkan pandangannya dari pemuda itu tanpa minat.
"Saya juga bisa menjadi pemandu." Eshwar tidak menyerah menghadapi orang asing di hadapannya itu dan terus mencoba menawarkan jasanya.
Eldrige kembali menoleh pada pemuda gigih itu. Senyuman lebar menghiasi wajah Eshwar. Tiba-tiba hati Eldrige tergerak dan tanpa sadar kepalanya mengangguk.
"Ambilkan kudaku di geladak, lalu tunjukkan arah penginapan terdekat. " Eldrige menyerahkan sebuah nomor penitipan kuda pada Eshwar.
Pemuda itu langsung pergi mengambil kuda milik Eldrige dan menuntunnya pada tuannya.
"Ini kuda milik Tuan. " Kata Eshwar sambil mengelus-elus punggung kuda itu.
__ADS_1
"Terima kasih. Sekarang antar aku ke penginapan. "
*****
Pangeran Awang betul-betul orang yang praktis, dia langsung meminang Puteri Pertiwi di pertemuan pertamanya dengan Raja Badre. Karena Raja Badre belum cukup mengenal pangeran dari Alsatia tersebut, maka Raja Badre meminta waktu agar Pangeran Awang lebih saling mengenal dulu dengan Puteri Pertiwi.
Setelah beberapa hari berada di istana Dewanata, Pangeran Awang sudah cukup melihat-lihat keadaan istana megah itu dan sangat mengaguminya. Dia tidak bisa menahan diri untuk menghayalkan masa depan sebagai pemimpin dua kerajaan.
Dengan berusaha bersikap simpatik, Pangeran Awang mendekati Puteri Pertiwi yang terlihat selalu menjaga jarak dengannya. Pangeran Awang memaklumi sikap gadis itu. Bagaimanapun Puteri Pertiwi adalah seorang calon penerus Kerajaan Dewanata. Dia tidak sembarangan berdekatan dengan seorang lelaki.
"Bisakah Tuan Puteri menemani saya jalan-jalan? " Pinta Pangeran Awang pada suatu pagi.
Puteri Pertiwi yang baru masuk ke ruang makan merasa terkejut dan tidak siap menjawab pertanyaan itu.
"Saya.. " Puteri Pertiwi tergagap dan tanpa sadar menoleh pada ayahnya untuk minta pertolongan.
"Apa ada sesuatu yang harus kau kerjakan? " Tanya Raja Badre melihat kebingungan di wajah anaknya.
"Juwita sakit beberapa hari ini dan aku sudah berencana membawanya ke desa Kulm pagi ini. " Jawab Puteri Pertiwi yang tiba-tiba teringat pada sepupunya yang mendadak sakit di hari kedatangan Pangeran Awang.
"Bukankah di istana ini ada tabib? " Pangeran Awang paling benci dengan penolakan. Dia mulai merasa bahwa alasan yang diberikan oleh Puteri Pertiwi hanya dibuat-buat saja.
"Keponakanku dulunya tinggal di desa Kulm dan mempelajari ilmu pengobatan. Mungkin saja sakitnya hanyalah perasaan rindu pada suasana desa itu." Raja Badre berusaha memberi penjelasan pada tamunya agar tidak tersinggung.
"Baiklah. Mungkin saya juga memerlukan udara desa yang sejuk untuk menyegarkan tubuh yang kelelahan akibat perjalanan jauh. " Pangeran Awang menatap Puteri Pertiwi dengan tajam. " Saya akan ikut mengantar ke desa Kulm. "
Perkataan Pangeran Awang itu membuat seluruh mata menatap padanya. Puteri Pertiwi yang sangat terkejut memandang Pangeran Awang dengan bibir agak terbuka.
"Saya.. keberatan." Jawab Puteri Pertiwi akhirnya.
Pangeran Awang merasa geram, sepertinya gadis di depannya itu tidak mudah ditundukkan. Memiliki ratu dengan sifat seperti itu di masa depan rasanya akan menyulitkannya. Tidak, gadis itu hanya akan menjadi selirnya saja.
"Kenapa saya tidak diizinkan ikut? " Tanya Pangeran Awang dengan wajah merah padam. Pandangan matanya yang selalu dingin seakan berkobar dan menyiratkan kekejian.
Raja Badre yang dari tadi mengamati percakapan keduanya merasakan firasat tidak enak. Akhirnya dengan bijaksana dia memutuskan untuk menghentikan desakan Pangeran Awang.
__ADS_1
"Ini adalah perjalanan para puteri kerajaan. Kami biasa menjaga gadis-gadis kami yang belum menikah dan melarang mereka berdekatan dengan lelaki. Saya harap Pangeran Awang maklum. " Kata Raja Badre.
"Bukankah saya calon suaminya? " Kali ini kemarahan Pangeran Awang sudah hampir mencapai batasnya.
"Kami belum menerima lamaran siapapun. Saya sudah memutuskan untuk membuat sayembara sebagai cara yang adil mencari calon suami yang cocok untuk cucuku! " Nenek Divya yang dari tadi diam kini angkat bicara.
Pangeran Awang tersenyum. Hatinya mulai disulut dendam. Rupanya lamarannya tidak dipandang baik oleh keluarga kerajaan itu. Dia bersumpah akan menaklukkan negeri ini bagaimanapun caranya.
"Jika memang begitu, saya akan mengikuti ketentuan yang sudah ditetapkan." Kata Pangeran Awang sambil mengangguk sopan.
Setelah selesai sarapan, Puteri Pertiwi pergi ke kamar sepupunya. Di sana dilihatnya gadis itu sedang sarapan bersama Ningrum.
"Kalian curang! " Puteri Pertiwi mengejutkan keduanya dengan seruan kesal dan langsung menjatuhkan bobot tubuhnya ke kursi di hadapan kedua gadis itu.
"Ada apa? " Puteri Juwita tertegun melihat kelakuan sepupunya itu.
"Kalian terus mendekam di kamar dan membiarkan aku menghadapi pangeran itu seorang diri! " Wajah Puteri Pertiwi cemberut.
"Bukankah dia sangat tampan? " Goda Ningrum.
"Wajahnya sih lumayan, tapi sikapnya seperti menyembunyikan sesuatu yang gelap." Kata Puteri Pertiwi sambil mencomot secuil roti dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Ehm, sebenarnya ada sesuatu yang belum kami ceritakan. " Puteri Juwita menatap Puteri Pertiwi dengan ragu-ragu.
"Apa? " Puteri Pertiwi melihat kedua gadis di depannya itu saling berpandangan dengan sikap aneh.
"Sebenarnya aku sengaja berpura-pura sakit agar tidak bertemu dengan Pangeran Awang." Kata Puteri Juwita.
"Kalian mengenalnya? Apa dia tidak baik? " Puteri Pertiwi merasa penasaran.
"Kami tidak yakin mengenai hal itu, tapi Bagas mengatakan sesuatu tentang konspirasi yang melibatkan seseorang di istana Alsatia. Dia adalah kandidat terkuat untuk menggantikan almarhum pamanku, Raja Sagar, sebagai raja. Lagipula.. dia salah satu orang yang menginginkan kematianku. Dia yang memerintahkan hukuman mati padaku."
"Hukuman mati? " Puteri Pertiwi tercengang. Kisah mengerikan itu belum diceritakan oleh sepupunya.
"Ceritakan semuanya padaku. Jangan ada satupun yang kau tutup-tutupi! " Puteri Pertiwi menatap lekat sepasang mata lebar yang serupa dengannya itu.
__ADS_1