
Malam sudah sangat larut. Suasana di luar sudah sepi. Toko-toko tutup dan para pedagang kaki lima telah meringkas dagangannya dan kembali ke rumah.
Seorang pria dengan rambut perak tergerai, berlari di bawah cahaya ribuan lampion sambil menggendong seorang wanita.
Wanita itu seakan tersihir memandang wajah pria yang menggendongnya. Meski wajah itu tampak asing, namun wanita itu merasa sangat nyaman di dekatnya.
"Kita sudah sampai. Turunlah! "
Tiba-tiba perkataan Raja Satria membuyarkan lamunan wanita itu. Kemudian dia berdiri sambil memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan pipinya yang merona.
"Ayo! "
Raja Satria menggenggam tangan istrinya dan membawanya masuk ke penginapan. Di meja penerima tamu, seorang pelayan pria sedang berjaga.
"Selamat datang, Tuan. " Ucapnya sopan.
Raja Satria mengangguk. Dia kemudian mendekati pelayan itu dan memberinya sekeping perak.
"Jangan mengatakan kepada siapapun tentang kami semua, paham? "
"Ya Tuan, saya mengerti! " Matanya terlihat berbinar memandang kepingan logam berkilau itu.
Raja Satria naik ke lantai atas sambil menggandeng tangan Ratu Gita. Wanita itu mengikutinya dengan patuh. Raja Satria kemudian berhenti di depan kamarnya dan mengetuk pintu.
"Tok.. tok.. tok..!
Wajah Eldrige langsung muncul begitu pintu dibuka dari dalam. Tampaknya peri itu belum tidur dan masih berjaga-jaga. Wajahnya terlihat senang melihat Ratu Gita ikut bersama suaminya.
"Senang berjumpa dengan Yang Mulia Ratu! " Ucap Eldrige sambil membungkuk hormat.
"Terima kasih. Ngomong-ngomong siapa kau? " Tanya Ratu Gita.
Eldrige terlihat kebingungan, bagaimana mungkin wanita itu tidak mengenalinya.
"Dia Eldrige, penjaga perpustakaan. Tadi dia sedang menjaga anak kita. "
"Penjaga perpustakaan? " Ratu Gita bingung, kenapa seorang penjaga perpustakaan berubah profesi menjadi penjaga bayi.
"Tidak usah bingung. Dia pekerja serabutan! " Tangan Raja menepuk-nepuk lengan Eldrige.
"Di mana bayi itu? " Tanya Ratu Gita.
"Puteri Juwita sedang tidur, Yang Mulia. "
Dengan senang hati, Eldrige menunjukkan seorang bayi yang sedang tertidur pulas dengan posisi kedua tangan di sebelah kepala.
"Cantik sekali! " Gumam Ratu Gita.
Wanita itu mengagumi makhluk mungil yang tengah terlelap itu. Jika bayi itu benar-benar anaknya, maka Chen sudah melakukan hal yang sangat keterlaluan. Pria itu sudah tega memisahkan seorang anak dari ibunya.
Disentuhnya pipi yang tembem dan halus itu. Tahi lalat kecil di bawah matanya, mengingatkannya pada almarhum ibunya. Tak terasa air mata menetes dari sudut matanya.
"Eldrige, sebaiknya kita pergi menolong Pangeran Gaurav! "
"Bagaimana dengan Ratu dan Tuan Puteri? "
"Biar mereka di sini. Tolong kau segel gedung ini! "
"Baik, Yang Mulia! "
"Sayang, kami pergi untuk menolong sepupumu. Tetaplah di sini bersama anak kita! " Raja Satria menatap wajah istrinya.
Wanita itu mengangguk sambil tersenyum. Dia memandang kepergian mereka dengan perasaan cemas.
Diluar penginapan, Eldrige menggambar udara dengan mantra sihir untuk membuat benteng gaib dan menyegel gedung penginapan. Dengan mata orang awam, tempat itu tampak seperti gedung terbengkalai.
Kemudian Raja Satria dan Eldrige bergegas pergi menuju ke rumah Tuan Liu. Dari balik bayang-bayang pohon Ginko berdaun kuning, mereka memperhatikan kediaman Tuan Liu dengan seksama. Rumah itu sekarang dijaga oleh lebih banyak prajurit.
__ADS_1
Eldrige memejamkan matanya dan menajamkan pendengarannya. Didengarnya suara para prajurit yang saling berbisik.
"Pangeran Gaurav tertangkap! " Bisik Eldrige.
*****
Di dalam ruang tahanan pribadi milik Tuan Liu, Pangeran Gaurav duduk terikat di kursi. Di depannya, Chen berdiri sambil menatapnya dengan geram.
"Kau siapa? Berani sekali memasuki rumah Tuan Liu? "
"Orang sepertimu tidak pantas menanyakan hal itu padaku!" Jawab Pangeran Gaurav.
"Sombong sekali! Berani-beraninya kau ke sini dan mengacaukan segalanya!" Bentak Chen.
"Lucu sekali! Kau pikir siapa Gita itu? Berani-beraninya kau membawanya seolah-olah memungut barang yang tercecer di jalan! "
"Kau sama sekali tidak paham. Fen dan aku saling mencintai. Sebentar lagi kami menikah."
"Jangan mimpi! Apa kedudukanmu untuk menggantikan seorang Raja sebagai suaminya? "
"Apa maksudmu? "
"Ternyata kau sungguh-sungguh tolol, Chen! Kau bahkan tidak tahu identitas wanita yang kau culik? "
"Aku yang menyelamatkan Fen, laki-laki itu bahkan tidak bisa menjaganya. Dia meninggalkan Fen di kedai saat terjadi ledakan! "
"Jangan-jangan kaulah pelaku ledakan itu? "
"Kalau iya, kenapa? Mereka adalah bangsa penjajah, tidak pantas dikasihani! "
"Penjajah?"
"Mereka mengeruk hasil bumi negeri-negeri Timur dan mempekerjakan para pribumi dengan upah yang rendah! "
"Aku tidak tahu maksudmu, tapi hal-hal seperti itu bukankah harus dibicarakan oleh kepala negara kalian?"
Pangeran Gaurav tertawa geli. Ternyata Chen adalah orang yang naif.
"Katakan, dimana kalian membawa Fen?"
"Dia sedang melepas rindu bersama suaminya, kenapa kau masih bertanya? "
"Plak! "
Chen menampar wajah Pangeran Gaurav, bibir pria itu menetaskan darah namun senyuman masih tetap tersungging.
Tiba-tiba seorang prajurit masuk dan berbisik kepada Chen. Raut wajah pemuda itu berubah tegang, lalu dia segera meninggalkan tempat itu.
Chen pergi menemui Tuan Liu di gedung utama. Pria tua itu tampak murka.
"Apa yang kau lakukan, Chen? Kau telah membahayakan misi kita! "
"Apa maksud Tuan? "
"Jangan coba-coba mendustaiku lagi! Sekarang katakan padaku, tahukah kau siapa wanita yang telah kau bawa ke rumahku? "
"Dia adalah warga asing yang tinggal di Elfian!"
"Prang...! "
Tuan Liu melempar vas keramik yang ada di meja kerjanya.
"Bodoh! Kau bahkan tidak tahu identitas wanita itu? "
"Saya akui, dia adalah wanita yang sudah bersuami." Wajah Chen terlihat ketakutan.
"Apa kau tahu siapa suaminya? " Tuan Liu bertanya dengan wajah merah padam.
__ADS_1
Chen menggeleng.
"Suaminya adalah Raja Satria, penguasa Kerajaan Elfian! "
Wajah Chen semakin pucat. Dia tidak menyangka kalau wanita yang dia culik adalah seorang ratu. Ternyata perbuatannya yang gegabah telah menimbulkan masalah yang sangat besar.
"Ampun, Tuan Liu. Saya tidak tahu! "
"Kebodohanmu bahkan tidak sampai di situ, orang yang kau tahan di rumahku sekarang ini adalah Putera Mahkota Kerajaan Watu Ijo, Pangeran Gaurav! "
"Apa? "
"Chen, kali ini perbuatanmu bukan hanya membahayakan dirimu saja, tapi juga aku dan seluruh negeri ini! "
"Maafkan saya, Tuan Liu! "
Tuan Liu menghembuskan napas kasar. Dia harus mencari cara agar dapat menyelesaikan masalah ini. Tuan Liu sangat khawatir jika Kaisar mengetahui semua hal yang terjadi di rumahnya.
"Kita harus berusaha agar Kaisar jangan sampai mengetahui hal ini. Tugasmu sekarang adalah membereskan kekacauan yang kau buat! "
"Ingat, jangan sampai ada jejak yang tertinggal! " Suara Tuan Chen terdengar tenang dan dingin.
"Baik Tuan Liu! "
Chen segera pergi dari hadapan tuannya.
*****
"Eldrige, kurasa aku harus menemui Kaisar negeri ini! "
"Tapi Yang Mulia, bukankah itu sangat berbahaya? "
"Aku sudah memikirkan semua, Eldrige! Besok kita akan datang menemui Kaisar! "
"Baik Yang Mulia. "
"Tapi sebelum itu, kita bebaskan dulu sepupu yang menyebalkan itu! Eldrige, lakukan tugasmu! "
Eldrige segera mencakar-cakar udara dan membuat sobekan lubang dimensi. Kemudian mereka berdua masuk ke dalam lubang itu dan keluar di taman kediaman Tuan Liu.
Dengan berhati-hati mereka mencari tempat Pangeran Gaurav disekap. Ketika berada di belakang gedung utama, agak jauh dari bangunan-bangunan paviliun, mereka melihat sebuah bangunan berukuran kecil yang dijaga ketat oleh empat orang penjaga.
"Pangeran Gaurav pasti di sana! " Bisik Raja Satria.
Mereka kemudian berjalan menuju tempat itu. Keempat orang penjaga yang melihat ada orang asing datang, langsung menyerang mereka.
"Wuuuusshh!"
Namun tanpa diduga Eldrige langsung meniup mereka dengan telapak tangan di depan mulutnya. Hawa dingin yang membekukan menerpa mereka sehingga keempat orang itu berdiri kaku. Namun mata mereka masih bisa bergerak dan menatap ketakutan.
"Saya hanya ingin menghemat waktu, Yang Mulia." Kata Eldrige.
"Baguslah, kali ini aku tak perlu menyuruhmu. Ayo, masuk! "
Raja Satria membuka pintu dengan kunci yang diambil Eldrige dari pengawal yang berdiri kaku itu. Di dalam, Pangeran Gaurav duduk terikat di kursi dengan wajah lebam.
"Halo, sobat. Sudah lama menunggu? " Sapa Raja Satria.
"Kalian melewatkan pestanya! " Balas Pangeran Gaurav sambil tersenyum lebar.
Eldrige segera membebaskan ikatan pada tubuh Pangeran Gaurav. Pria itu kemudian meregangkan otot-ototnya yang pegal karena terlalu lama duduk.
"Kita kembali sekarang, Eldrige! " Ajak Raja Satria.
Eldrige kembali membuka lubang dimensi. Mereka kemudian masuk ke dalamnya.
Bersamaan dengan itu, Chen datang dan mendapati para penjaga yang membeku di depan pintu. Chen kaget dan langsung masuk ke dalam. Saat melihat tawanannya hilang, pria itu berteriak-teriak marah sambil menendang barang-barang yang ada di sana.
__ADS_1