Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 50 Berhadapan Dengan Orang Asing


__ADS_3

Begitu sampai di istana, Raja Satria langsung mengumpulkan para prajurit untuk segera pergi ke markas para penjahat di hutan.


Namun ketika mereka sampai di sana, lokasi itu sudah kosong. Mereka tampak tergesa-gesa meninggalkan tempat itu. Beberapa barang milik mereka masih berceceran.


"Periksa tempat ini dengan seksama, jangan sampai ada yang terlewat!" Perintah Raja Satria kepada seorang komandan pasukan bernama Jaya.


Para penjahat itu kelihatannya tidak melewati jalur semula. Mereka memilih melewati jalur memutar yang agak terjal.


Raja Satria menggelar peta daerah itu dan meneranginya menggunakan lentera. Dia meneliti dengan seksama mencari jalur untuk memotong pelarian penjahat-penjahat itu.


"Ayo berangkat!" Perintahnya.


Pasukan itu segera berkuda mengikuti pemimpinnya. Mereka melewati jalur yang gelap dan terjal. Beberapa kali mereka harus merunduk agar tidak tertabrak dahan-dahan yang menjulur agak rendah.


Pasukan itu akhirnya sampai di daerah berbatu-batu. Mereka memutuskan untuk berhenti dan bersembunyi di balik bebatuan raksasa.


Tak lama kemudian, dari kejauhan mulai terdengar suara kuda yang berderap dan suara roda-roda gerobak. Suara itu berasal dari arah yang berlawanan dari tempat mereka datang.


Raja Satria memberikan perintah untuk bersiaga melakukan penyergapan. Dan ketika rombongan itu tiba, mereka serentak melesatkan panah-panah api ke arah muatan gerobak.


"Ssiiiiing... ssiiiiing...! "


"Duaarr... duaarr..! "


Api yang berkobar di atas gerobak kemudian menimbulkan ledakan-ledakan beruntun. Rupanya api telah mengenai gerobak berisi bubuk mesiu.


Suara berdesing seperti letusan kembang api memekakkan telinga. Api segera meludeskan gerobak-gerobak yang diseret oleh puluhan kuda itu. Api bahkan menyambar ranting-ranting pohon dan menyebabkan kebakaran.


Gerombolan itu tidak menyangka akan mendapatkan serangan mendadak seperti ini. Beberapa dari mereka akhirnya tersungkur meregang nyawa.


Namun mereka segera melakukan perlawanan. Mereka menembakkan dua anak panah sekaligus dalam satu busur.


"Ssiiiiing... ssiiiiing...!"


Terjadi pertarungan sengit antara prajurit Elfian dengan para penjahat. Siluet-siluet mereka terlihat bergerak-gerak lincah di antara cahaya api yang terang benderang.


"Trang.. trang.. trang..!"


Senjata-senjata mereka beradu menimbulkan percikan-percikan api. Entah kenapa, keanggunan teknik bertarung para tentara Elfian dapat diimbangi oleh keindahan teknik milik orang-orang asing itu.


Sungguh pertarungan yang luar biasa. Indah sekaligus mematikan!


Raja Satria berhadapan dengan Jenderal Lee. Mereka sama-sama dibesarkan dalam berbagai pertempuran. Teknik dan strategi pertarungan sudah benar-benar mereka kuasai.

__ADS_1


"Trang... trang... trang...! "


"Sreeet.. sreeet... cras.. cras..! "


Mereka saling menyabetkan pedang dan berusaha menumbangkan lawannya. Raja Satria bergerak lincah mengimbangi serbuan Jenderal Lee yang memiliki teknik meringankan tubuh yang cukup mahir.


Gerakan pria bermata sipit itu seolah-olah membuatnya terbang di udara. Menggempur dengan ujung pedang mengarah ke bawah menerjang Raja Satria yang masih menapak di tanah.


"Hyaaaat..! " Pekik Jenderal Lee sambil menyabetkan pedangnya.


"Trang... trang... trang... sreeet..! "


Sebuah luka menganga di lengan kiri Raja Satria akibat terkena sabetan pedang dari lawannya. Lengan bajunya koyak, dan darah mengucur deras.


Dengan menahan nyeri Raja Satria berusaha membalas serangan lawan. Dia kemudian berputar cepat di udara dengan pedang mengarah pada jantung lawan, namun sayangnya serangan itu segera di tangkis oleh Jenderal Lee.


Raja Satria mulai kehabisan tenaga, napasnya terengah-engah. Melihat itu, Jenderal Lee tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dia semakin gencar menyerang dan tidak membiarkan lawannya mengambil jeda walaupun sejenak.


"Trang.. trang.. sreeet..! "


Pedang Jenderal Lee kembali melukai tubuh Raja Satria. Kali ini punggung penguasa Elfian itu tergores cukup panjang. Darah yang basah dan lengket sudah mewarnai pakaian Raja Satria yang serba putih.


Senyum menyeringai menghiasi wajah Jenderal Lee. Dia sudah merasa yakin bahwa kemenangan akan menjadi miliknya. Dan dia ingin segera menuntaskan pertarungan ini.


"Hyaaaat..!


" Trang! "


Tiba-tiba Raja Satria menahan serangan itu dengan pedangnya. Dengan sekuat tenaga dia berusaha bertahan. Dia tidak ingin mati sekarang. Dia masih harus menemukan istrinya. Dia harus hidup demi anaknya. Dan dia harus menang demi rakyatnya.


"Hyaaaat..! "


"Trang... Trang... cras..! "


Seolah mendapat transferan tenaga yang besar, Raja Satria menyerang lawannya dengan teknik yang sangat tidak terduga.


Dia meloncat dan berputar-putar di udara, pedangnya mencabik-cabik tubuh lawannya dengan gerakan yang sangat cepat. Dengan mata terbelalak, Jenderal Lee ambruk ke tanah!


Menyadari pemimpinnya telah tewas, para anak buahnya berusaha untuk melarikan diri. Namun dengan sigap, para prajurit Elfian segera menangkap mereka.


*****


Chen sudah menyiapkan pakaian yang sangat indah untuk tunangannya. Sebuah baju terusan berbentuk kimono berwarna ungu muda, bagian bawahnya bertumpuk-tumpuk indah. Ada bordiran bunga-bunga kecil di lengannya yang transparan.

__ADS_1


Fen mengenakan baju itu dibantu oleh dua orang pelayan. Wanita itu merasa sangat asing dengan pakaian yang dikenakannya. Rasanya baru kali ini dia mengenakan model pakaian seperti ini.


"Anda sangat cantik, nona. Mata Anda besar dan indah, sangat berbeda dengan kebanyakan wanita di sini. "


"Kalian juga sangat cantik. Kulit kalian halus dan bersinar. " Puji Fen.


Mereka tersipu mendengar pujian dari wanita itu. Sebenarnya mereka belum pernah bertemu dengan orang asing seperti wanita ini. Tetapi Chen memaksa mereka untuk pura-pura seakan wanita itu berasal dari ras yang sama.


Rambut Fen digulung separuh, kemudian disanggul. Sisa rambutnya di biarkan tergerai bebas. Sebuah jepit rambut yang terbuat dari perak dan mutiara, kini terselip di rambutnya.


Fen menatap bayangannya sendiri di depan cermin. Dia merasa sangat asing dengan dirinya sendiri. Kemudian para pelayan mengantarnya menemui Chen di depan paviliun.


Pria itu terlihat sangat tampan dengan rambut diikat separuh. Pakaiannya berwarna putih dengan tali pinggang berwarna ungu tua. Sebuah kipas kertas berwarna putih, terselip di pinggangnya.


"Fen, Kau pasti bosan setiap hari di rumah. Apa kau mau kuajak berkeliling? "


"Ya, aku mau."


Chen mengajak wanita itu pergi berkuda mengelilingi ibu kota. Fen sangat kagum dengan keindahan kota Baiyun. Gedung-gedung dengan ujung atap melengkung berjejer di sepanjang jalan. Kedai-kedai makan dan pertokoan menempati gedung-gedung itu.


"Indah sekali. " Fen berdecak kagum.


Chen memandangi wanita itu dengan perasaan senang. Dia merasa lega karena rencananya berjalan dengan lancar. Nanti dia akan mulai memikirkan rencana masa depannya bersama Fen.


"Kita mampir ke sana! " Tunjuk Chen ke arah sebuah kedai makan.


Mereka menitipkan kuda-kuda ke tempat penitipan kuda. Seorang lelaki tua dengan kepala ditutup kain, menuntun kuda-kuda mereka masuk ke kandang.


Chen ingin meraih tangan Fen untuk digandeng, tetapi wanita itu malah menghindar. Chen tersenyum meskipun merasa kecewa. Dia tidak akan memaksa wanita itu. Karena cepat atau lambat Fen akan benar-benar menjadi miliknya.


"Aku akan makan mie kuah, kau mau pesan apa? "


"Mie? "


"Iya. Kalau kau mau apa? Kau mau dimsum? "


"Dimsum?"


"Ya sudah, kita pesan mie dan dimsum."


Chen segera memesan karena takut kalau Fen akan bertanya-tanya lebih jauh dan menyebabkan dia bertambah bingung.


"Aku suka makanannya, enak sekali!" Kata Fen setelah menghabiskan makanannya.

__ADS_1


"Itu memang kesukaanmu." Jawab Chen sambil tersenyum.


Fen mengangguk, namun di dalam hatinya merasa ragu. Lidahnya sama sekali tidak mengenali makanan itu. Dia merasa berada di dunia yang sangat asing, dunia yang sama sekali tidak dikenalinya.


__ADS_2