
Raja Satria masih demam sejak semalam. Kini bahkan pria itu sudah tidak sadarkan diri. Ratu Gita terjaga semalaman untuk mengompres suaminya. Wajah wanita itu terlihat agak pucat dan terdapat lingkaran hitam di bawah matanya.
"Bangunlah sayang, kumohon! Kembalilah padaku! " Ratu Gita menempelkan telapak tangan suaminya pada pipinya.
"Ehemm! "
Tabib Albus masuk ke kamar. Tabib tua itu datang dari semalam, kini dia kembali memeriksa luka-luka bekas cakaran dan juga bekas gigitan di bahu Raja Satria yang telah dijahitnya. Luka itu masih basah. Dia kembali membalurkan ramuan pada luka-luka di tubuh Raja Satria.
"Bagaimana keadaan suamiku? " Tanya Ratu Gita.
"Yang Mulia Raja terkena bisa Rusalqa yang terdapat pada air liurnya. Untuk sementara ini kita hanya bisa menjaga suhu tubuhnya agar tetap normal, karena saya tidak memiliki obat penawar untuk bisa itu." Tabib Albus menarik napas untuk menjeda kalimatnya.
"Apakah suamiku bisa bertahan? " Ratu Gita sangat cemas.
"Biasanya tubuh yang terkena bisa Rusalqa itu secara alami akan mengeluarkan antibodi yang melawan efek bisa. Namun saya tidak dapat mengatakan berapa lama Yang Mulia Raja akan berhasil melewati masa kritisnya. " Tabib Albus berbicara dengan mata sayu, pria tua itu terlihat lelah.
"Maksudmu, suamiku akan terus seperti ini entah sampai kapan? "
"Kita hanya bisa berdoa agar tubuh Yang Mulia Raja bisa melawan bisa ini dan tidak menimbulkan efek lain. "
"Efek lain? " Kening Ratu Gita berkerut.
"Jika antibodi tidak mampu melawan bisa itu, maka tubuh Yang Mulia Raja akan mengalami kelumpuhan. " Tabib Albus berusaha memberikan penjelasan.
"Apa? " Ratu Gita terhuyung. Dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.
"Apa yang harus aku lakukan, Albus? Kemana aku harus mencari penawarnya? " Suara Ratu Gita terdengar tidak berdaya.
"Yah, sebenarnya hanya bangsa Rusalqa yang memiliki penawarnya." Jawab Albus. Dia ragu kalau Ratu Gita bisa mendapatkan penawar itu dari para Rusalqa.
Ratu Gita membayangkan wanita-wanita menyeramkan yang menyerang mereka kemarin. Dia memikirkan bagaimana caranya untuk meminta mereka menyerahkan penawar itu?
Pada saat Ratu Gita sedang dipusingkan oleh hal itu, tiba-tiba Esme masuk dan mengatakan bahwa Atmaja datang ingin bertemu.
Ratu Gita segera keluar dari kamar dan pergi menemui Atmaja. Pria itu berdiri di tengah ruangan dan langsung membungkuk hormat begitu melihat kedatangan Ratu Gita.
"Ada apa Atmaja? "
"Saya ingin melaporkan bahwa telah terjadi pembunuhan lagi, Yang Mulia. Kali ini korbannya adalah salah satu anggota Dewan Kerajaan."
Ratu Gita berdiri mematung. Rupanya teror para Rusalqa masih terus berlanjut dan semakin dekat ke istana. Kenapa hal ini terus terjadi?Apakah ada sesuatu yang dia lewatkan?
"Nanti aku akan ikut denganmu untuk memeriksanya. " Ucap Ratu Gita setelah beberapa saat.
"Baik Yang Mulia! " Atmaja segera undur diri.
Ratu Gita duduk termangu memikirkan semua masalah yang dihadapinya. Sebagai seorang istri, dia ingin terus mendampingi suaminya melewati masa kritis. Namun sebagai Ratu, dia harus mampu menggantikan peran suaminya untuk mengatasi urusan kerajaan.
*****
Pangeran Gaurav mengatur strategi bersama prajurit. Mereka akan berjaga-jaga di sekitar telaga. Mereka menyiapkan jaring untuk menangkap para Rusalqa.
"Harus ada seseorang yang masuk ke dalam telaga untuk mencari Puteri Elok. " Ucap Eldrige pada Pangeran Gaurav.
"Biar aku saja yang melakukannya. " Pangeran Gaurav langsung mengajukan diri.
"Apa kau yakin Puteri Elok akan mau mengikutimu? Bukankah Puteri Elok mengikuti Rusalqa itu untuk menyelamatkan nyawamu?" Eldrige sangat ragu jika Puteri Elok mau mengikuti Pangeran Gaurav.
"Eldrige, izinkan aku yang mencari kakakku." Pangeran Sagar, tanpa diduga menawarkan dirinya.
"Tapi di sana sangat berbahaya, Pangeran! " Eldrige berusaha mencegah pemuda belia itu.
__ADS_1
"Aku tidak takut, Eldrige! " Jawab Pangeran Sagar. Rupanya pemuda itu sangat bertekad.
"Baiklah." Jawab Eldrige pada akhirnya.
"Aku akan menemani Pangeran Sagar ke sana." Pangeran Gaurav masih tidak menyerah.
"Baiklah, aku tak akan mencegah. "Jawab Eldrige.
Sebelum tengah hari Pangeran Gaurav dan Pangeran Sagar telah bersiap-siap di tepi telaga. Mereka berdua sama-sama bertekad untuk menyelamatkan Puteri Elok.
" Berhati-hatilah! " Ucap Eldrige sambil memandang keduanya.
Pangeran Gaurav dan Pangeran Sagar berjalan perlahan-lahan menuju telaga, sedikit demi sedikit tubuh mereka mulai terbenam di dalam air yang berlumpur.
Saat seluruh tubuh mereka benar-benar telah tenggelam, mereka berdua menyelam mencari apapun yang mungkin menjadi tempat persembunyian makhluk buas yang menculik Puteri Elok.
Pangeran Gaurav yang pertama kali melihat sebuah terowongan yang dipenuhi lumut dan tanaman air. Pria itu menarik tangan Pangeran Sagar agar mengikutinya.
Mereka memasuki terowongan yang gelap itu dan terus berenang sampai napas mereka hampir habis. Namun tiba-tiba mereka melihat di depan sana air tampak terang berwarna kehijauan.
Kemungkinan mereka hampir sampai di permukaan. Pangeran Gaurav memberi isyarat agar naik kepermukaan dengan pelan-pelan dan waspada.
Saat kepala mereka muncul di permukaan, hal pertama yang mereka lakukan adalah mengambil napas. Mereka menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-paru.
Setelah napas mereka sudah stabil, Pangeran Gaurav mulai meneliti tempat itu. Rupanya mereka sekarang berada di dalam sebuah goa. Diatas sana terdapat celah alami yang membuat sinar matahari masuk dan menerangi goa.
Mereka mulai berenang perlahan dan melihat ada daratan di bagian ujung, namun tidak ada seorangpun di sana.
"Kita ke sana! " Bisik Pangeran Gaurav.
Pangeran Sagar berenang mengikuti Pangeran Gaurav. Saat sampai di tepian, remaja itu segera naik dan matanya terpaku pada kalung yang biasa dikenakan oleh Puteri Elok tercecer di dekat batu cadas berbentuk memanjang.
"Ini kalung milik kakakku." Pangeran Sagar memungut kalung itu dan menyerahkannya pada Pangeran Gaurav.
Andai waktu bisa diputar ulang, dia tak akan tega menyakiti hati Puteri Elok.
"Semoga saja kakakmu masih di sekitar sini. " Pangeran Gaurav memasukkan kalung itu kedalam kantungnya.
Mereka berjalan semakin jauh menyusuri lorong goa. Langkah mereka menggema di sepanjang dinding goa yang berpendar dengan cahaya kehijauan.
Akhirnya mereka sampai di sebuah jalan yang bercabang. Mereka ragu untuk memilih jalan yang mana.
"Kita akan belok kemana, Kak? " Pangeran Sagar bolak-balik melihat kedua arah.
" Ke kanan! " Tanpa pikir panjang Pangeran Gaurav berbelok ke kanan dan Pangeran Sagar mengikutinya dengan patuh.
Mereka berjalan cukup lama sebelum melihat ada cahaya di ujung lorong yang tampak terang benderang. Dengan mengendap-endap mereka mendekati tempat itu.
"Hempft ."
Saat melihat apa yang dihadapannya, Pangeran Sagar hampir saja berteriak jika Pangeran Gaurav tidak segera membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
Di depan sana mereka melihat Puteri Elok sedang duduk dikelilingi oleh beberapa wanita. Sepertinya mereka sedang sibuk mendandani Puteri Elok dan menghias tubuhnya dengan perhiasan yang terdiri dari mutiara-mutiara yang berkilau dan cangkang kerang.
Wajah Puteri Elok terlihat datar dan membiarkan saja wanita-wanita itu melakukan apapun pada tubuhnya.
"Sekarang kau sudah terlihat seperti pengantin." Salah satu dari mereka memuji Puteri Elok. Teman-temannya yang lain mengangguk membenarkan.
"Kau sungguh beruntung, manusia! Sebentar lagi kau akan menjadi pengantin untuk Raja Pelvis kami yang tampan." Ucapan yang bernada cemburu terdengar dari wanita yang kini menyisiri rambut Puteri Elok dengan sisir yang terbuat dari tulang ikan.
"Benar! " Mereka semua mengangguk setuju.
__ADS_1
"Padahal kami tidak melihat keistimewaan apapun padamu. Kau bahkan tidak bisa bernapas di dalam air! " Wanita itu tertawa mengejek.
"Bagaimanapun juga Raja kalian memilihku. Dia mencintaiku! " Jawab Puteri Elok dengan suara datar.
Pangeran Gaurav merasa sangat sakit mendengar ucapan Puteri Elok. Semudah itukah wanita itu memutar haluannya? Sudah hilangkah perasaan cintanya? Pantas saja wanita itu membuang kalungnya.
Setelah beberapa waktu akhirnya wanita-wanita itu meninggalkan Puteri Elok sendirian. Puteri Elok duduk di sebuah batu cadas dengan pose yang anggun. Penampilannya sekarang mirip seperti Puteri Duyung.
"Kau terlihat berbeda."
Puteri Elok tersentak kaget ketika melihat Pangeran Gaurav keluar dari lorong di belakangnya.
"Kenapa kau bisa ada di sini? " Suara Puteri Elok bergetar.
"Aku kemari untuk membawamu pulang. "
"Tidak! Kau pergi saja cepat! " Kalimat penolakan keluar dari bibir Puteri Elok yang agak pucat.
"Kenapa? Apa kau mau menghabiskan seumur hidupmu di dalam lubang pengap ini? "
"Ya, aku mau." Perkataan Puteri Elok membuat Pangeran Gaurav tertegun.
"Kenapa? "
"Karena Raja Pelvis mencintaiku."
"Apa kau mencintainya? "
"Ya, aku mencintainya." Jawab Puteri Elok dengan cepat.
"Bohong! Kau tidak mencintainya! "
"Kenapa kau begitu yakin? " Pandangan mata Puteri Elok begitu dingin dan asing.
"Karena kau mencintaiku! "
"Hahaha.. Lucu sekali! " Puteri Elok tertawa sambil bertepuk tangan.
Pangeran Gaurav merasa sangat sakit hati namun dia berusaha menahannya.
"Ternyata kau suka berhayal! " Wanita itu memandang dengan tatapan sinis.
"Aku tahu kau marah padaku. Kuakui selama ini salah, Aku minta maaf! " Suara Pangeran Gaurav terdengar tulus.
"Aku tidak pernah menyalahkanmu. Pergilah! " Suara Puteri Elok kembali lembut, namun sikapnya seolah-olah tidak peduli.
"Ikutlah denganku! " Pintar Pangeran Gaurav lagi.
"Kau sudah mendengar jawabanku, aku bilang tidak! "
"Tolong kembalilah, Kak! " Tiba-tiba Pangeran Sagar keluar dari persembunyiannya.
"Sagar, Apa yang kau lakukan di sini? " Raut wajah Puteri Elok mendadak berubah.
"Kami datang untuk membawamu pulang, Kak!"
"Tempat ini berbahaya, Sagar. Pulanglah kumohon! " Puteri Elok terlihat sangat cemas, matanya memindai lorong tempat wanita-wanita tadi pergi.
"Kau tahu tempat ini berbahaya, kenapa tak mau pulang? " Pangeran Sagar membalikkan pertanyaan.
"Karena.. karena aku jatuh cinta dengan Raja Pelvis! " Jawab Puteri Elok dengan gugup.
__ADS_1
"Benarkah kau jatuh cinta padaku? " Sebuah suara mengagetkan mereka bertiga.