Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 56 Meloloskan Diri


__ADS_3

"Aku sudah pernah melihat laki-laki itu, Gaurav. Dia pernah datang ke Elfian. " Bisik Raja Satria.


Pangeran Gaurav merasa sangat geram. Dilihatnya wanita itu keluar kamar mengikuti Chen. Meski wajahnya tak terlihat, tapi hampir bisa dipastikan bahwa wanita itu adalah Ratu Gita.


"Sekarang bagaimana?" Tanya Pangeran Gaurav.


"Kita bertahan di sini sebelum terang. Kalau ada kesempatan, kita langsung mengajak Gita." Jawab Raja Satria.


Pangeran Gaurav mengangguk. Mereka berdua tetap bersembunyi di dekat jendela. Lagi-lagi nyamuk sepertinya suka sekali merubung tubuh Raja Satria. Berkali-kali dia menepuk-nepuk wajah dan tangannya.


"Apa kau tidak digigit nyamuk? " Tanya Raja Satria.


"Tidak. Tadi aku sudah mengoleskan minyak dari Eldrige."


"Apa kau membawanya? "


"Tidak."


"Sial! "


Pangeran Gaurav terkekeh melihat Raja Satria yang terus-menerus menepuk-nepuk nyamuk.


Dengan kesal Raja Satria bermaksud untuk mengintip lagi. Dia menempelkan sebelah matanya pada lubang. Namun jendela itu tiba-tiba terbuka.


"Siapa kau? "


Wajah seorang wanita terlihat di hadapannya. Matanya yang sipit terbelalak kaget.


"Aku adalah dewa keberuntungan! " Raja Satria melepas penutup kepalanya.


Melihat sosoknya yang sangat rupawan dan tidak seperti manusia biasa, wanita itu langsung percaya. Dia bahkan bersujud di depan jendela.


"Ada apa gerangan, Dewa yang mulia berkunjung kemari? "


"Aku mencari seorang wanita. Dia adalah permaisuriku. Kudengar dia kemari. "


"Tapi di sini tidak ada seorang Dewi. Tunggu.. apakah yang Dewa maksud adalah Nona Fen?"


"Siapa Nona Fen? Permaisuriku bernama Gita! "


"Ah, jadi benar Nona Fen sebenarnya bernama Gita?"


"Dimana dia sekarang? "


"Nona Fen sedang berbincang dengan Tuan Chen. Sebentar lagi juga akan kembali kemari. "


"Biarkan aku masuk. Aku akan memberkati rumah ini! "


Wanita itu membuka jendela lebar-lebar. Dan membiarkan Raja Satria melompat masuk. Wajah wanita itu tampak terkagum-kagum melihat sosoknya. Dia tidak menyangka akan bertemu seorang Dewa.


"Panggil permaisuriku kemari. Tapi jangan sampai ada yang tahu, kalau tidak maka kau akan kutimpakan bencana! "


"Baik Dewa! "


Wanita itu kembali bersujud, kemudian segera keluar untuk memanggil Fen. Tepat pada saat itu Fen sedang berjalan ke kamarnya.


"Nona Fen, ayo ikut saya ke kamar! "


"Ada apa, Wei? " Tanya Fen kepada pelayannya itu.


"Ada Dewa yang mencari Nona. " Bisiknya.


"Dewa? "


"Sssttt! Jangan keras-keras Nona, nanti Dewa itu marah dan mengutuk saya! "


Fen mengikuti Wei memasuki kamarnya. Fen melihat sosok seorang pria yang membelakanginya. Rambutnya berwarna perak berkilauan sepanjang pinggang.

__ADS_1


"Dewa, Nona Fen sudah datang! "


Saat pria itu berbalik Fen menjadi terpana. Wajahnya sangat tampan dan seolah-olah bersinar. Kedua telinganya runcing dan kulitnya sangat putih. Sepasang matanya yang ungu menatapnya tajam, membuat tubuhnya seakan membeku.


Pria itu mendekat dan memberikan sekeping perak kepada Wei.


"Jangan pernah mengatakan hal ini pada siapapun kalau kau tak ingin mendapat nasib buruk! "


"Baik Dewa, saya mengerti! " Wei kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah pelayan itu pergi, Raja Satria segera mendekati istrinya.


"Sayang, akhirnya aku menemukanmu! " Raja Satria berseru gembira dan melangkah menghampiri Ratu Gita.


"Kau siapa? Bukankah kau Dewa? " Wanita itu mundur ke belakang. Keningnya berkerut heran.


"Aku ini suamimu, Sayang! " Raja Satria menatap bingung ke arah istrinya.


"Lagi-lagi seorang pembohong! " Ratu Gita berteriak.


"Apa maksudmu, Sayang? "


"Pertama Chen, lalu sekarang kau juga datang dan mengaku-ngaku sebagai suamiku? "


"Aku memang suamimu, apa kau lupa? "


"Aku tidak ingat padamu! "


"Gita! " Pangeran Gaurav memanggil dari jendela.


"Gaurav? Benarkah itu kau?" Ratu Gita terkejut melihat Pangeran Gaurav.


"iya, ini aku Gaurav! "


Ratu Gita langsung berlari ke jendela dan mengabaikan Raja Satria.


"Kau mengingatnya dan melupakan aku?" Raja Satria merasa tidak terima.


"Dia siapa Gaurav? "


"Dia itu... Dewa! " Jawab Pangeran Gaurav seenaknya.


"Sialan kau Gaurav! " Raja Satria mengambil bantal di ranjang dan melemparkannya pada Pangeran Gaurav.


Pangeran Gaurav tertawa terpingkal-pingkal melihat suami dari sepupunya itu kesal. Sedangkan Ratu Gita melihat mereka dengan bingung.


"Gita, apa kau tidak ingat padanya? "


Pangeran Gaurav menunjuk pada Raja Satria. Ratu Gita menggeleng pelan. Hal itu membuat wajah Raja Satria menjadi merah padam.


"Dia adalah Raja Satria dari Kerajaan Elfian. Kalian sudah menikah dan sudah memiliki seorang putri kecil berusia lima bulan. "


"Benarkah? " Mata wanita itu kini mulai berkaca-kaca.


"Sayang." Raja Satria mencoba mendekat.


"Berhenti! Aku mohon berikan waktu agar aku mengingat semuanya! "


Meskipun kecewa, Raja Satria akhirnya mengangguk. Wajahnya terlihat lesu.


"Aku ingin mengajakmu pulang. " Ucapnya.


"Pulang? "


"Ikutlah denganku, anak kita sudah menunggu! " Tangan Raja Satria terulur.


Ratu Gita mendekat perlahan dan meraih tangan pria itu. Namun tiba-tiba pintu dibuka dan sekelompok prajurit memasuki kamar.

__ADS_1


"Fen, jauhi orang itu! Dia penipu! " Chen berteriak marah.


"Kalau aku penipu, lalu kau sendiri apa? Seorang pengecut yang menculik istri orang!" Jawab Raja Satria.


"Diam kau, orang asing! Kau tidak mungkin suami Fen! "


"Apalagi kau, badut sirkus! Bisa-bisanya kau mengaku sebagai tunangan istriku! "


Wajah Chen merah padam, dia merasa dipermalukan di depan teman-temannya.


"Ayo, tangkap dia! "


Mereka segera menyerang Raja Satria. Dengan gerakan lincah, Raja Satria menarik tangan Ratu Gita dan membawa tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Sementara tangan kanannya menghantam orang-orang yang menyerangnya.


"Bugh.. bugh.. bugh..! "


Raja Satria memukul dan menghindari serangan lawan sambil memeluk tubuh Ratu Gita. Secara reflek Ratu Gita memeluk tubuh pria itu.


Dalam posisi sedekat itu, mau tidak mau Ratu Gita memandang wajah tampan yang berada sangat dekat dengan wajahnya itu.


Aroma musk dan cendana yang menguar dari tubuh pria itu merasuki indera penciumannya. Aroma yang seakan sangat akrab dan dikenalnya.


Raja Satria berputar sambil mengangkat tubuh wanita itu dan menendang lawan-lawannya secara beruntun.


"Bugh.. bugh.. bugh..! "


Prajurit-prajurit itu tersungkur ke lantai tak sadarkan diri.


"Kau tidak apa-apa? "


Raja Satria berbisik di telinga Ratu Gita, membuat dada wanita itu berdesir. Ratu Gita mengangguk, wajahnya merona dan pipinya terasa panas.


Chen menjadi cemburu melihat adegan mesra itu. Dengan geram dia menyerang Raja Satria dan berusaha menarik tubuh Ratu Gita.


Melihat hal itu, tentu saja Raja Satria tidak membiarkannya. Berkali-kali dia memukul tangan Chen yang terulur ke tubuh istrinya, kemudian menendang perutnya beberapa kali dengan kencang.


"Bugh.. bugh.. bugh..! "


Tubuh Chen terdorong ke belakang beberapa langkah, perutnya terasa sangat sakit. Dia tidak menyangka pria dari Kerajaan Elfian itu lumayan tangguh.


"Fen..! " Panggil Chen sambil memegangi perutnya.


"Namaku Gita! " Sahut wanita itu dengan wajah dingin.


"Aku mencintaimu Fen! " Teriak Chen dengan putus asa.


"Sudah jangan dengarkan dia. Kita pergi sekarang!"


Raja Satria membawa tubuh Ratu Gita melompati jendela. Ternyata Pangeran Gaurav sedang bertarung dengan sekelompok prajurit.


"Trang.. Trang.. Trang..! "


"Kalian pergilah! Aku bisa mengatasi mereka." Ucap Pangeran Gaurav begitu melihat keduanya.


"Apa kau yakin? " Suara Raja Satria terdengar cemas.


"Pergilah cepat! " Pangeran Gaurav terus mendesak.


"Baiklah! "


Raja Satria memandang wajah istrinya dan menaruh kedua tangan wanita itu melingkar di lehernya. Lalu kedua tangannya membopong tubuh istrinya dan meloncat ke atas dengan lincah. Dari atas tembok, dilihatnya prajurit-prajurit berdatangan lebih banyak.


"Hati-hati Gaurav, mereka bertambah banyak!" Teriaknya untuk memperingatkan Pangeran Gaurav.


"Pergilah, cepat! Nanti aku menyusul kalian! " Jawab Pangeran Gaurav sambil mengayunkan pedangnya melawan para prajurit itu.


Raja Satria lalu melompat turun dari tembok meninggalkan Pangeran Gaurav bertarung sendirian. Pria itu berlari sambil membopong tubuh istrinya sepanjang jalan.

__ADS_1


__ADS_2