Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 90 Bukan Mimpi


__ADS_3

Ketika Puteri Juwita sedang bersantai di sore hari bersama teman-temannya, mau tidak mau dia menyampaikan apa yang telah mengganggu pikirannya sejak semalam.


"Apa kalian pernah mengalami hal yang aneh selama bersekolah di sini? " Tanya Puteri Juwita.


"Hal yang aneh? Maksudmu apa? "


"Maksudku.. emm.. apa kalian pernah melihat atau mengalami hal-hal ganjil? Terutama di malam hari? "


"Maksudmu seperti.. hantu? "


"Ya, aku itu terdengar konyol sekali tapi.. sepertinya aku telah bertemu hantu semalam! "


"Kau melihat hantu dimana? "


"Di jendela kamarku." Puteri Juwita memelankan suaranya.


"Kau jangan menakut-nakuti aku, Juwita! " Ningrum mengkerut.


"Maaf tapi aku tidak berbohong. Semalam ada seseorang yang duduk di jendela kemudian dia menjatuhkan dirinya ke bawah. Lalu saat kuperiksa ternyata di bawah tidak ada apa-apa!"


"Kau pasti bermimpi! " Kata Ratri


"Ya, mungkin kau terlalu lelah? " Sapna menatap Puteri Juwita dengan perasaan khawatir.


"Aku juga tidak yakin. Tapi aku benar-benar merasakan sensasi dingin saat tangannya menyentuh pipiku! " Puteri Juwita menyentuh pipinya seakan masih merasakan sensasi dingin yang diakibatkan sentuhan waktu itu.


"Selama aku tinggal di asrama ini sejak setahun yang lalu, aku tidak pernah mengalami hal-hal ganjil seperti itu. " Ratri menatap Puteri Juwita dengan pandangan tak percaya.


"Ah, mungkin kalian benar. Aku terlalu lelah sehingga berhalusinasi." Puteri Juwita menunduk lesu.


"Kasihan sekali kau teman sekamarku! " Ningrum memeluk lengan Puteri Juwita.


"Tapi bagaimanapun juga hal ini tidak bisa dibiarkan! " Sari tiba-tiba berdiri.


Semua teman-temannya memandang gadis itu dengan heran.


"Kita akan mencari tahu apakah yang dialami Juwita adalah mimpi atau nyata! "


"Bagaimana caranya? "


"Juwita! Jika kau sekali lagi mengalami hal ganjil, cobalah untuk memastikan bahwa kau sedang dalam keadaan sadar! "


"Apa aku harus mencubit diriku sendiri? "


"Ya, itu bisa juga kau lakukan. "


"Lalu jika aku sudah yakin kalau aku benar-benar sadar, apa yang harus aku lakukan? "


"Cari bantuan! Siapapun akan mudah mendengar teriakanmu. "


"Tapi bagaimana jika aku mendapat hukuman karena membuat keributan di malam hari? "


"Kalau begitu, bangunkan dia saja!" Sari menunjuk Ningrum.


"Tapi aku takut hantu! " Mata Ningrum terbelalak ketakutan.


"Semua orang juga takut hantu. Tapi kita tidak harus yakin dulu kalau yang dilihat Juwita adalah hantu. Bisa saja dia hanya berhalusinasi? "


"Baiklah, lagipula aku juga tidak pernah merasakan hal-hal yang aneh di kamar kami." Ningrum memandang Puteri Juwita sambil mengangguk. "Kau boleh membangunkan aku."


"Terima kasih! " Ucap Puteri Juwita dengan tulus.


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan! Sekarang kita akan membahas rencana kita untuk pergi ke pasar malam." Ucap Sari untuk mengakhiri pembahasan tentang hantu.


*****


Rombongan Raja Satria sampai di tanah kelahiran Ratu Gita tepat saat senja mulai menghilang. Pengawal kepercayaan Raja Satria melaporkan kedatangan mereka pada penjaga perbatasan.

__ADS_1


Kemudian rombongan itu dikawal menuju Istana Watu Ijo. Saat mereka tiba di sana, tampak seorang pria tampan dengan rambut hitam sebahu telah menunggu.


"Gaurav! " Pekik Ratu Gita begitu pria itu mendekati kudanya.


"Sepupuku tersayang! " Raja Gaurav membantu Ratu Gita turun dari kudanya. Mereka berdua saling berpelukan untuk melepas rindu.


"Kau tidak melupakan aku kan, Gaurav?" Raja Satria menepuk bahu Raja Gaurav.


"Tentu saja tidak, sahabatku! " Raja Gaurav berbalik dan memeluk Raja Satria.


Mereka berjalan memasuki istana dengan posisi Ratu Gita berada di tengah. Sesekali Raja Gaurav melirik sepupunya itu untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.


Meskipun Raja Gaurav sudah berhenti mengharapkan Ratu Gita, namun wanita itu masih menduduki posisi penting di hatinya, setelah istri dan anaknya.


"Elok telah menunggu kalian sejak tadi. Dia menjadi tidak sabar saat mendengar kau ikut, Gita." Raja Gaurav tersenyum lebar.


"Aku juga tidak sabar ingin bertemu dengan Elok! " Jawab Ratu Gita.


Saat mereka memasuki aula, seorang wanita cantik sedang berjalan dengan anggun menuruni tangga. Mata ungunya berbinar dan senyuman mengembang di bibirnya.


"Kak Gita! " Ratu Elok mempercepat langkahnya dan berlari menubruk Ratu Gita. Wanita cantik itu memeluk Ratu Gita dengan erat.


"Elok, kau terlihat semakin cantik!" Puji Ratu Gita.


"Ah, benarkah? Tapi kadang aku merasa iri dengan gadis-gadis muda yang mengelilingi suamiku! " Bibir Ratu Elok mencibir sambil melirik suaminya.


"Ada apa dengan gadis-gadis itu? " Raja Satria melirik tajam pada Raja Gaurav yang wajahnya terlihat memerah.


"Tidak ada apa-apa sepupu, mereka hanyalah gadis-gadis bodoh yang belum berpengalaman. Tentu saja mereka tidak bisa dibandingkan dengan istriku yang sangat cantik ini! " Raja Gaurav segera memeluk pinggang istrinya.


"Gadis-gadis bodoh yang nekat! Mereka menyombongkan masa muda yang telah kulewati! " Suara Ratu Elok terdengar geram.


"Seharusnya kau tak perlu memikirkan mereka, sayang. Mereka bahkan tidak layak dibandingkan dengan bayanganmu! " Raja Gaurav mengecup tangan istrinya.


Ratu Elok akhirnya tersenyum mendengar ucapan suaminya yang membesarkan hati. Sebenarnya wanita itu sangat menyadari betapa setianya Raja Gaurav kepadanya. Namun kedatangan wanita-wanita muda itu telah mengusik ketenangannya.


"Baiklah." Ratu Elok mengangguk. "Kak Satria, aku akan mengajak Kak Gita ke kamar dulu. Setengah jam lagi aku menunggu kalian untuk makan malam! "


"Iya, Elok." Raja Satria mengecup pipi Ratu Gita sekilas lalu membiarkannya pergi bersama sepupunya itu.


Ratu Gita berjalan beriringan dengan Ratu Elok menuju kamarnya. Wanita itu merasa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Ratu Elok.


"Ada apa, Elok? " Ratu Gita bertanya saat mereka berdua sudah berada di dalam kamar.


Tiba-tiba Ratu Elok terisak, air mata mengalir deras membasahi wajahnya. Ratu Gita menjadi sangat kebingungan.


"Kak, akhir-akhir ini aku sudah tidak tahan dengan keadaanku! " Ratu Elok berusaha menyeka air matanya.


"Aku mengerti, Elok." Ratu Gita mengangguk. Dia memahami keadaan wanita itu. Meskipun Raja Gaurav sangat mencintainya, namun Dewan Kerajaan pasti, akan terus mendesak pria itu untuk mencari selir agar mendapatkan seorang pewaris tahta.


Pernikahan Raja Gaurav dan Ratu Elok yang sudah hampir lima belas tahun memang selalu dihantui oleh tidak adanya kehadiran putra mahkota. Mereka hanya memiliki seorang putri berusia empat belas tahun bernama Puteri Devi yang sakit-sakitan.


Ratu Elok membaringkan kepalanya di pangkuan Ratu Gita dengan tubuh bergetar. Dia merasa dadanya sangat sesak.


"Ada beberapa gadis yang didatangkan ke istana ini untuk dipilih menjadi selir. Bisakah kau bayangkan itu? Hatiku sakit sekali saat melihat gadis-gadis itu menatapku angkuh dan mencemooh." Ratu Elok melepaskan unek-uneknya.


"Bersabarlah, aku yakin Gaurav tidak akan melakukan hal-hal yang gegabah." Ratu Gita mencoba memberi penghiburan.


"Oh iya, bagaimana kabar Devi? Kenapa aku tidak melihatnya? " Tanya Ratu Gita lagi.


"Dia sedang berada di Graha Usadha untuk menjalani pengobatan rutin." Wajah Ratu Elok tambah muram.


"Bagaimana keadaannya sekarang? "


"Belum ada perubahan yang berarti, aku berharap ada keajaiban sehingga Devi bisa sembuh." Ratu Elok menghela napas panjang mengingat kondisi kesehatan anaknya yang lemah.


"Besok ajak aku menemuinya, ya? " Ratu Gita menepuk-nepuk pelan lengan Ratu Elok.

__ADS_1


"Iya, Kak. Dia pasti akan senang sekali. "


*****


Malam ini Puteri Juwita tidur awal karena tubuhnya sangat lelah. Dia bahkan tidur sebelum lonceng jam malam dibunyikan.


Wuuush..


Tiba-tiba gadis itu merasakan ada tiupan angin menerpa tubuhnya. Secara reflek gadis itu menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya sampai kepala.


Wuuush..


Tubuhnya gemetar kedinginan, angin dingin berhembus menembus selimut yang membungkus tubuhnya.


Wuuush..


Kali ini dia tidak tahan lagi, tidurnya benar-benar sudah terganggu. Puteri Juwita segera membuka matanya dan keluar dari selimut.


"Aaaa! " Sebuah pekikan keluar dari mulut Puteri Juwita.


Matanya memancarkan ketakutan ketika melihat ada seseorang yang berdiri di dekat jendela sedang memandanginya.


Ada hawa dingin yang dipancarkan oleh orang berpakaian serba hitam itu, membuat seluruh tubuh Puteri Juwita menggigil dan jantungnya berdebar tak karuan.


"Siapa kau? " Teriak Puteri Juwita sekuat tenaga, namun suara yang keluar dari mulutnya hanyalah desisan kecil tak bermakna.


Tiba-tiba orang itu berjalan mendekat tanpa menimbulkan suara langkah kaki, seakan tubuhnya melayang di atas lantai yang terbuat dari kayu jati yang halus dan mengkilap.


Semakin orang itu mendekat, semakin Puteri Juwita mengenalinya. Dia adalah pemuda yang dilihatnya jatuh dari jendela kamarnya.


Pemuda itu menarik sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman. Namun bagi Puteri Juwita hal itu lebih terlihat seperti seringaian.


Tiba-tiba gadis itu teringat saran teman-temannya untuk menghadapi situasi seperti ini. Situasi dimana dia tidak yakin apakah nyata atau tidak.


Jari-jari Puteri Juwita segera mencubit tubuhnya sendiri. Tangannya yang berada di samping tubuhnya hanya mampu meraih area pahanya.


Gadis itu mengernyit kesakitan untuk merespon rasa sakit yang ditimbulkan cubitannya pada pahanya.


"Auuh! " Gadis itu mengaduh.


Ternyata efeknya bukan hanya rasa sakit, namun seolah kesadarannya kembali. Tubuhnya kini mampu bergerak lagi dan merespon perintah otaknya.


Puteri Juwita segera bangun dari posisi tidurnya, masih sambil memandangi pemuda itu. Kakinya langsung turun di sisi lain tempat tidur agar menjauh dari pemuda itu.


Gadis itu bergerak dengan cepat mendekati tempat tidur teman sekamarnya dan menggoncang tubuh temannya itu untuk membangunkannya.


"Ningrum, bangun! " Teriaknya.


Namun temannya itu masih saja terlelap, seakan tidak merasakan apa-apa.


"Dia tak akan bangun! Lagipula apa yang kau harapkan jika dia bangun? " Suara yang lembut dan dingin terdengar dari arah belakang.


"Siapa kau? " Kali ini Puteri Juwita mampu berbicara normal di hadapan pemuda itu.


"Apakah penting untukmu mengetahuinya?" Jawab pemuda itu.


"Tentu saja! Aku ingin tahu identitas orang yang menerobos kamarku dan mengintaiku saat tidur! " Kemarahan yang menguasai jiwa Puteri Juwita membuatnya menemukan keberanian untuk melawan sosok yang mengintimidasi itu.


"Hahaha..Tak kusangka kau begitu berani gadis kecil! " Ucapan yang sangat aneh diucapkan oleh pemuda yang terlihat masih belia itu.


"Baiklah kalau kau begitu ingin tahu, namaku Nicolae! " Aura dingin dan sesak seakan berdesakan di dalam ruangan itu ketika pemuda itu menyebutkan namanya.


Puteri Juwita berdiri memandang pemuda yang tingginya jauh di atasnya itu dengan berani.


"Nicolae! " Puteri Juwita menyebut nama pemuda itu.


Tiba-tiba tubuh Nicolae hilang dari hadapannya seolah-olah musnah begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Puteri Juwita mengerjapkan matanya seolah baru terbangun dari mimpi.

__ADS_1


__ADS_2