
Para pelamar sudah berangkat ke hutan di kaki gunung Taevas sejak subuh. Mereka masing-masing sudah menyiapkan panah untuk membidik binatang buruan. Binatang-binatang itu sudah ditandai dengan stempel kerajaan sehingga para peserta tidak bisa sembarangan membunuh binatang.
Masing-masing binatang itu berupa rusa, babi hutan dan kelinci. Dan setiap binatang memiliki poin yang akan dihitung di akhir perlombaan.
Para peserta memacu kudanya masuk lebih jauh ke dalam hutan. Menyusuri jejak-jejak binatang dan membidik sasaran yang lengah.
Lengkingan binatang-binatang yang sekarat saat meregang nyawa bergema di antara rimbunnya pepohonan. Hari itu banyak binatang dibantai untuk mengumpulkan poin kemenangan.
Di awal perlombaan Pangeran Anthony sudah berhasil membidik seekor rusa. Beberapa prajurit langsung membawa binatang yang mati itu dan menandainya sebagai hasil buruan Pangeran Anthony.
Namun setelah lewat tengah hari Raja Naren dari Kerajaan Bodhi mendapat hasil buruan terbanyak. Setelah Raja Naren, pelamar berikutnya yang berhasil mendapatkan binatang buruan terbanyak adalah Pangeran Anthony. Hal itu jelas membuat pelamar lain menjadi gusar.
Namun ternyata tidak sama halnya dengan Pangeran Awang, meskipun dia berada di urutan ke empat namun wajahnya masih tampak tenang.
"Kalian mungkin harus bersiap-siap pulang sebelum petang. " Raja Naren dengan congkak berbicara pada Pangeran Awang ketika mereka bertemu di salah satu sudut hutan
"Semua masih belum berakhir. " Jawab Pangeran Awang.
Sampai petang saat terompet dibunyikan untuk mengakhiri perburuan, anehnya tak ada satu peserta pun yang menambah jumlah hasil buruan.
"Binatang-binatang itu nampaknya lari jauh ke atas gunung. " Keluh Raja Naren dengan tubuh mengkilap karena peluh.
"Ataukah jumlah binatang yang dilepas itu tidak sebanyak yang disebutkan? " Tuduh Pangeran Anthony.
Keempat pelamar berdebat dengan argumen masing-masing hingga beberapa prajurit datang berbondong-bondong membawa puluhan binatang buruan yang mati dengan panah yang menancap. Binatang-binatang itu kemudian ditandai sebagai hasil bidikan Pangeran Awang.
Jumlah binatang buruan yang didapat oleh Pangeran Awang meroket drastis meninggalkan lawan-lawannya.
"Bagaimana kau melakukannya? " Tanya Raja Naren heran.
Begitupun ketiga peserta yang lain, mereka semua heran bagaimana Pangeran Awang bisa membidik begitu banyak binatang buruan.
"Kurasa ini adalah keberuntungan pemula." Jawab Pangeran Awang sambil mengulas senyum tipis.
Malamnya saat perjamuan makan, Raja Badre mengumumkan pemenang perlombaan yang pertama.
"Yang mengumpulkan binatang buruan terbanyak adalah Pangeran Awang. Maka untuk pertandingan berburu binatang pemenangnya adalah Pangeran Awang dari Kerajaan Alsatia. " Ucap Raja Badre.
"Terima kasih Yang Mulia. " Pangeran Awang tersenyum puas.
Decak kagum datang dari para pendukungnya, namun pandangan iri didapatnya dari para rivalnya.
*****
"Pertandingan hari ini dimenangkan oleh Pangeran Awang. Aku takut Juwita." Puteri Pertiwi bergidik ngeri jika sampai semua pertandingan dimenangkan oleh pangeran jahat itu.
__ADS_1
"Tenang Pertiwi, masih ada dua pertandingan lagi." Puteri Juwita berusaha menenangkan sepupunya.
"Tapi siapapun pemenangnya, mereka bukanlah orang yang kuinginkan. "
"Bukankah kau sudah bicara pada nenek? Kenapa kau belum juga menemui Kak Bagas?"
"Aku.. sebenarnya sudah menemuinya."
"Apa? Lalu bagaimana? " Kejar Puteri Juwita.
"Dia menolakku. "
"Apa? " Puteri Juwita seakan tak percaya dengan pendengarannya.
"Mungkin selama ini aku hanya salah paham. Aku mengira bahwa perhatiannya padaku adalah bentuk dari rasa cinta."
"Pertiwi.. aku ikut sedih. " Puteri Juwita memeluk Puteri Pertiwi untuk berbagi kesedihannya.
"Kau beruntung Juwita. Eldrige sangat mencintaimu. " Suara Puteri Pertiwi terdengar iri.
"Tapi hubungan kami diwarnai berbagai masalah."
"Tapi setidaknya perasaan kalian saling bersambut. Dan Eldrige juga bersedia memperjuangkannya."
"Mungkin cinta bisa datang setelah menikah. Orang tuaku bertemu tepat sebelum pernikahan mereka. Aku yakin merekapun awalnya tidak saling mencintai. Tapi lihatlah sekarang, setelah bertahun-tahun mereka tetap terlihat mesra sampai-sampai kadang membuatku malu. "
"Benar kan? Jadi jangan bersedih Pertiwi. Siapa tahu jodohmu sudah ada di depan pintu. "Kedua gadis itu tertawa untuk melupakan kesedihan.
Tepat pada saat itu pintu terbuka. Seorang pemuda berdiri agak ragu di hadapan mereka.
" Aku.. aku ingin bicara berdua, bolehkah? " Pemuda itu menatap wajah salah satu gadis itu.
"Ingin bicara denganku, atau dengannya? " Tanya Puteri Pertiwi.
"Denganmu." Jawab pemuda itu.
"Kak Bagas, kenapa kau berani sekali menerobos ke dalam kediaman Puteri Pertiwi? " Tiba-tiba Ningrum datang dengan napas terengah-engah.
Pemuda tadi, Bagas, tidak menghiraukan ucapan adiknya dan hanya menatap Puteri Pertiwi menunggu persetujuannya.
"Kak Bagas, ayo keluar! " Ningrum menyeret tangan kakaknya itu.
"Diamlah Ningrum, kakakmu ingin bicara denganku! " Puteri Pertiwi menghentikan aksi Ningrum.
"Sebaiknya kami pergi. Ayo, Ningrum! " Puteri Juwita gantian menarik tangan Ningrum.
__ADS_1
"Tidak, kalian tetap di sini. Aku menolak bicara berdua saja dengannya. " Ucapan Puteri Pertiwi membuat kedua gadis itu membeku di tempat.
"Katakan apa yang kau inginkan? " Puteri Pertiwi menatap ke arah kedua bola mata Bagas.
"Aku.. " Bagas menoleh sejenak pada dua orang gadis lainnya lalu melanjutkan kalimatnya. "Aku menyesali perkataanku tadi."
"Perkataan apa? " Tanya Ningrum.
"Kenapa kau cepat sekali berubah pikiran, Tuan Bagas? " Pertanyaan Puteri Pertiwi seakan sebuah sindiran.
Puteri Juwita dan Ningrum bergantian menoleh ke arah kedua orang yang sedang berbicara itu.
"Aku minta maaf. Tadi aku bicara seenaknya dan membuatmu sedih. " Jawab Bagas.
"Lalu maksudmu kemari apa? Kalau hanya minta maaf, kau sudah kumaafkan. Jadi pergi saja." Puteri Pertiwi membalik tubuhnya dan melangkah pergi.
"Aku ingin mengatakan bahwa akupun merasakan apa yang kau rasakan. " Ucapan Bagas membuat gadis langkah gadis itu terhenti.
"Merasakan apa? " Tanya Ningrum yang langsung mendapat sikutan dari Puteri Juwita.
"Apa kau yakin? Aku tidak mau nanti kau akan berubah pikiran lagi. " Tanya Puteri Pertiwi sambil memunggungi mereka.
"Aku yakin akan hal itu. Aku.. aku mencintaimu Tuan Puteri. " Ucapan cinta dari Bagas membuat Puteri Pertiwi berbalik lagi, matanya berkaca-kaca.
Puteri Juwita dan Ningrum secara spontan menutup mulut mereka dengan telapak tangan karena kaget.
"Aku hanya tidak yakin jika ayahmu akan menerimanya. Kau seorang puteri raja, sedangkan aku... aku bukanlah siapa-siapa." Bagas menatap mata gadis itu yang kini mulai basah.
"Kenapa kau memandang dirimu sendiri serendah itu? Kau adalah segalanya bagiku." Puteri Pertiwi melangkah mendekati Bagas dibawah tatapan Puteri Juwita dan Ningrum.
"Apa kau tidak keberatan dengan diriku ini?" Kata Bagas ketika gadis itu sudah berada tepat di hadapannya.
"Aku akan melepaskan gelarku jika hal itu bisa membuatmu menerimaku." Puteri Pertiwi berkata secara mengejutkan.
"Bagaimana dengan keluargamu? " Bagas mengungkapkan kekhawatirannya.
"Aku sudah bicara dengan nenek dan sudah mendapatkan restunya. Kalau kau takut menghadap ayahku, aku akan menemanimu." Suara gadis itu terdengar mantap tanpa ragu.
"Kalian.. kalian saling.. " Ningrum terbata-bata menyaksikan adegan itu.
"Kami saling mencintai. " Ucap keduanya serempak.
"Apa? " Pertanyaan itu berasal dari arah pintu, tepat di belakang Bagas.
"Ayah? " Puteri Pertiwi terkesiap karena tertangkap tangan sedang mengakui perasaannya pada Bagas.
__ADS_1
Semua orang di ruangan itu terdiam. Aura keagungan dari Raja Badre membuat nyali mereka benar-benar diuji. Ketukan sepatu Raja Badre terdengar seakan menggedor-gedor jantung mereka setiap pemimpin Kerajaan Dewanata itu melangkah maju.
"Bisa tolong jelaskan maksud ucapan kalian?" Puteri Pertiwi dan Bagas merasa seolah ditembak ditempat.