
Chen buru-buru mengajak Fen pulang. Tadi sewaktu di Pagoda Putih, dia melihat ada orang asing yang bertanya pada biksu tentang seorang wanita.
Chen curiga kalau wanita yang dimaksud itu adalah Fen, karena orang asing tadi terlihat dari ras yang sama dengan Fen. Dia harus berhati-hati jangan sampai Fen mengetahuinya.
Oleh karena itu Chen berencana akan membawa Fen pergi ke tempat lain. Chen berpikir untuk mengajak Fen ke kampung halamannya.
"Fen, besok aku ingin mengajakmu ke kampung halamanku di desa. Aku ingin mengenalkanmu pada ibuku. "
Wajah Fen langsung berubah tidak senang. Dia tidak tahan dengan sikap Chen yang suka sekali membuat keputusan tanpa berdiskusi dulu dengannya.
"Tapi Chen, kau berjanji padaku untuk memberi waktu sampai aku siap! "
"Jangan cemas, aku cuma ingin kau mengenal keluargaku. "
"Tapi Chen.. "
"Sudah Sayang, jangan membantah. Sebenarnya aku harus menjalankan tugas untuk beberapa waktu, jadi aku ingin kau sementara tinggal dengan ibuku. "
Fen terdiam untuk beberapa saat, lalu dia teringat peristiwa di Pagoda Putih.
"Tadi aku mendengar seseorang menyebut nama Gita. "
Perkataan Fen sontak membuat wajah Chen pucat. Pria itu menjadi sangat gelisah, namun berhasil tetap menunjukkan ekspresi wajah yang tenang.
"Itu pasti hanya Imajinasimu. Mungkin aku harus memanggil Tabib Nyuk Giu? "
"Apakah harus? "
"Demi kesehatanmu sendiri, sebaiknya kau menuruti perkataan calon suamimu ini. "
"Tapi aku tidak sakit. "
"Tentu saja Sayang. Tapi untuk memastikannya, kau tetap harus diperiksa oleh tabib. "
Fen akhirnya diam. Rasanya percuma jika ingin membantah Chen. Pria itu selalu bersikap lembut, namun memaksa.
Satu jam kemudian, Tabib Nyuk Giu datang. Sikap wanita itu sedikit aneh. Dia sama sekali tidak memandang wajah Fen. Tabib itu melakukan pemeriksaan rutinnya. Lalu mengambil jarum akupunktur dan meminta izin untuk menancapkannya pada tengkuk Fen.
"Kalau aku menolak, bagaimana? " Tanya Fen sambil menatap tajam tabib itu.
"Nona tidak punya alasan untuk menolak pengobatan saya." Tabib itu menjawab dengan tenang dan penuh percaya diri.
"Bagaimana aku yakin kalau obat yang kau berikan itu bukan racun? " Pancing Fen.
"Mengapa Nona berkata demikian? " Wajah Tabib Nyuk Giu langsung pucat.
"Karena aku selalu sakit setelah kau melakukannya."
"Itu tidak masuk akal, Nona. Obat yang saya berikan hanyalah vitamin. " Tabib itu mulai gelisah dan berusaha menghindari tatapan Fen.
"Kalau begitu cobalah kau pakai sendiri." Permintaan Fen semakin membuat tabib itu gugup.
"Kenapa Nona bersikap aneh? "
"Aneh? Kau sendiri yang bilang tubuhku dalam kondisi sehat. Lalu apa fungsi akupuntur di belakang leherku? Kenapa aku sakit setelah kau memasukkan obat itu ke dalam tubuhku? " Pertanyaan yang makin memojokkan keluar dari bibir Fen.
__ADS_1
"Anda salah paham Nona." Tabib itu berusaha menghindar.
"Buktikan kalau aku salah! Pakailah obat itu untuk dirimu sendiri! " Suara Fen terdengar tegas dan mengancam.
"Tapi Nona! " Tabib itu ingin membantah.
"Lakukan sekarang! "
"Maaf Nona, saya tidak berani. "
"Apa kau berusaha meracuniku? " Tuduhan kembali dilayangkan oleh Fen.
"Tidak Nona, saya tidak akan melakukannya." Tabib itu tersungkur di kaki Fen.
"Aku akan melaporkannya pada Chen! " Fen kembali mengeluarkan ancamannya.
"Jangan Nona, Tuan Chen yang memberikan obat itu pada saya! " Tanpa sengaja Tabib Nyuk Giu membocorkan rahasianya. Dengan cepat wanita itu menutup mulutnya dengan tangan.
"Chen? Berani sekali kau menuduh dia?" Suara Fen yang biasanya lembut kini terdengar memekik.
"Tapi itu kenyataannya Nona! " Bisik tabib itu.
"Obat apa itu? "
"Itu adalah obat penenang. Saya mohon bicara dengan pelan Nona Fen!"
"Kenapa Chen memberiku obat penenang?" Batin Fen.
"Apa ada efek samping dari obat itu? " Fen bertanya dengan mimik serius.
"Jika dosis yang diberikan terlalu banyak, maka akan menyebabkan halusinasi dan hilangnya sebagian memori. "
"Cukup banyak. " Jawab tabib itu sambil menunduk malu.
"Jadi, apakah kau serius dengan perkataanmu waktu itu? Bahwa aku pernah melahirkan?" Fen menanyakan hal yang mengganggunya itu.
"Iya, Nona Fen. Bahkan menurut saya, anda baru melahirkan belum ada setahun. "
"Baiklah, terima kasih Tabib Nyuk Giu. "
"Tolong jangan katakan pada Tuan Chen tentang hal ini Nona. Tuan Chen bisa melakukan apa saja, termasuk menghabisi keluarga saya!" Tabib itu memohon dengan sangat.
"Tidak akan aku katakan padanya. Tapi kau harus mau membantuku jika sewaktu-waktu aku membutuhkannya! "
"Baik, Nona Fen! "
Senyum puas terbit di sudut bibir Fen yang berwarna peach alami. Satu rahasia Chen telah berhasil terkuak. Dia harus bersiap-siap untuk langkah selanjutnya.
*****
"Aku sudah mendapatkan alamat Tuan Liu. Dia adalah salah satu orang terkaya di kota Baiyun. Dan Chen, dia adalah tangan kanan Tuan Liu."
Pangeran Gaurav berbicara kepada Raja Satria dan Eldrige saat mereka makan malam. Pangeran Gaurav tadi sempat mengorek informasi dari wanita pemilik penginapan.
"Bagus, malam ini kita ke sana." Jawab Raja Satria.
__ADS_1
"Eldrige sebaiknya kau tetap di sini bersama anakku. " Raja Satria menoleh ke arah Eldrige.
"Baik, Yang Mulia."
Akhirnya, Raja Satria dan Pangeran Gaurav pergi meninggalkan penginapan. Di luar masih ramai, pedagang belum akan menutup tempat usahanya sebelum tengah malam.
Mereka berjalan dibawah cahaya lampion yang berwarna-warni. Beberapa kali mereka menanyakan arah kepada orang-orang. Setelah beberapa waktu, mereka sekarang berada di depan kediaman Tuan Liu.
Bangunan megah yang dikelilingi tembok itu dijaga oleh beberapa pengawal. Mereka mencari celah untuk memasuki kawasan itu.
"Lewat sini! "
Pangeran Gaurav berjalan mendahului. Dia berjalan memutar ke belakang tembok kediaman Tuan Liu.
Disini hanya ada jalan yang lengang tanpa penerangan. Rumah-rumah tetangga juga berjarak agak jauh. Dengan langkah lebar, kaki Pangeran Gaurav menjejak pada tembok dan melompat ke atas. Pria itu kini berada di atas tembok.
"Perlu ku ulurkan tali? " Pria itu menatap ke arah Raja Satria sambil tersenyum mengejek.
"Sial! "
Raja Satria segera meloncat dengan putaran yang lincah di udara, kemudian mendarat di atas tembok dengan posisi tubuh tegak. Posturnya terlihat mengagumkan dan membuat iri pria di sebelahnya.
Keduanya lalu melompat turun dan bersembunyi di bawah bayang-bayang pepohonan. Gerakan mereka yang gesit terlihat menyatu dengan bayangan.
"Bangunan- bangunan yang terpisah dari gedung utama, kemungkinan untuk ditempati pegawai kepercayaan Tuan Liu." Bisik Pangeran Gaurav.
Mereka mengendap-endap, mencoba mengintip ke dalam bangunan paviliun. Di paviliun pertama, terlihat sekelompok pria sedang mengobrol di terasnya sambil menikmati arak yang ditaruh di botol labu.
"Aku akan ke sana dan bertanya pada mereka."
"Jangan gila!" Bisik Pangeran Gaurav , berusaha untuk mencegahnya.
Raja Satria berjalan dengan tenang dan mendekati orang-orang yang sedang mabuk itu. Dia duduk di sebelah mereka dan menepuk bahu pria berbadan gemuk yang wajahnya merah.
"Apa Tuan Chen ada? "
"Dia sudah pulang ke paviliunnya. Kau anak baru? " Bau alkohol yang menyengat keluar dari mulutnya.
"Dimana paviliun Tuan Chen? "
"Kau terus saja ke arah sana. Paviliun paling besar itu punya Tuan Chen." Pria mabuk dengan wajah merah itu mengarahkan telunjuknya ke arah kanan.
"Ya, sudah. Terima kasih. "
"Ya.. " Orang-orang mabuk itu semua menyahut serempak.
Raja Satria segera menuju ke arah yang ditunjuk orang tadi. Pangeran Gaurav mengikutinya di belakang.
"Itu tempatnya! " Tunjuk Raja Satria.
Mereka mendekati jendela. Dengan telunjuknya, Raja Satria mencoblos kertas shoji dan mengintip ke dalam. Ruangan itu terang. Terlihat dua orang wanita sedang berbincang.
Tak lama kemudian, seorang dari mereka berdiri lalu keluar dari kamar. Tinggal seorang wanita yang duduk membelakanginya. Wanita itu duduk tak bergerak selama beberapa waktu.
"Tok.. tok.. tok.. "
__ADS_1
Pintu dibuka dari luar. Seorang pemuda memasuki kamar itu. Wajahnya yang tampan tampak familiar. Raja mencoba mengingat-ingat dimana dia pernah melihatnya.
"Dia si pemain sirkus!" Batin Raja Satria dengan geram.