Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 114 Menuju Peperangan


__ADS_3

Raja Sagar diantar pulang oleh Faye tepat di depan kamarnya. Setelah mengucapkan terima kasih, Raja Sagar segera masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat istrinya sedang tidur ditemani kedua putra putrinya. Sejak mendapati ada penyusup di istananya, dia mengajak anak-anaknya tidur bersama di satu ranjang.


Raja Sagar pergi ke balkon, memperhatikan dengan seksama segala bunyi-bunyian malam dan menatap pegunungan yang menjulang di kejauhan dan berwarna abu-abu gelap.


Dikeluarkannya botol kecil pemberian Eldrige. Diamatinya cairan merah muda yang bergolak seperti letupan kuah gulai yang dimasak di atas api. Jika dia membuka tutupnya, apakah reaksinya akan langsung terlihat? Rasa penasaran membuat tangannya perlahan menarik sumbat kayu di ujung botol.


Pluk.


Asap merah muda keluar dari mulut botol yang terbuka. Asap yang tipis dan berbau manis seperti aroma karamel segera menyebar ke segala penjuru. Asap itu sebagian masuk ke kamar dan membuat seluruh ruangan itu menjadi tampak merah muda.


Melihat hal itu, Raja Sagar kembali menutup botol dan memeriksa keadaan anak dan istrinya. Pria itu menghembuskan napas lega saat dilihatnya ketiga orang itu masih tidur dengan tenang.


Raja Sagar akhirnya naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya. Tak lama kemudian matanya tertutup dan dia segera jatuh ke dalam tidur yang lelap.


Tanpa disadari, asap merah muda masih menyebar di udara dan bercampur dengan hawa dingin dan kabut yang turun malam itu. Asap itu menyusup ke setiap sudut bangunan istana.


Tampaknya tidak ada yang terjadi malam itu, selain gerimis singkat sebelum fajar. Kabut sudah mulai menipis. Saat itulah waktu pergantian jaga para prajurit tiba. Para prajurit yang bertugas malam sebelumnya segera melaporkan diri ke pos jaga.


Namun apa yang terjadi saat itu adalah pekik ngeri beberapa pria yang merobek keheningan pagi. Mereka kaget melihat beberapa mayat rekan mereka terbujur kaku di dalam pos dengan kondisi tercabik dan kehilangan darah.


Beberapa prajurit dari pos lain datang bergegas dan segera menutupi mayat-mayat itu dengan jubah mereka. Salah satu dari mereka segera melapor kepada raja.


Sementara itu sang raja yang baru terlelap kurang dari dua jam, terbangun karena ketukan pintu. Sambil mengancingkan jubahnya Raja Sagar membuka pintu, matanya merah dan dibawahnya terdapat lingkaran hitam.


"Ada apa? " Tanya Raja Sagar sambil menahan mulutnya untuk tidak menguap.


"Beberapa prajurit terbunuh di posnya, Yang Mulia." Seorang prajurit muda melaporkan kejadian yang membuat geger lingkungan istana pagi-pagi.


"Bagaimana bisa? "


"Mereka terlihat seperti korban keganasan para Daemonie."


Wajah Raja Sagar seketika membeku. Ternyata efek dari ramuan dalam botol kecil itu segera bereaksi. Dia segera menyuruh semua prajurit, staf dan pelayan istana untuk berkumpul di halaman.


Saat Raja Sagar sedang berjalan di koridor, di depan sana Faye datang mendekat. Gadis itu membungkuk hormat.


"Saya yakin bahwa yang mulia telah membuka botol pemberian Ratu Malea." Perkataan Faye mendapat anggukan dari Raja Sagar.

__ADS_1


"Para Daemonie itu sekarang pasti sudah tidak bisa menyembunyikan wujud asli mereka. Tolong kau jaga istri dan anakku, aku akan menemui semua bawahanku di halaman. "


"Baik, Yang Mulia. " Faye bergegas menemui sang ratu. Sementara Raja Sagar meneruskan langkahnya.


Sedangkan di Wisma Selir tempat para gadis berada, suasananya juga tampak tegang. Mereka sudah mendengar bahwa ada pembunuhan di pos jaga.


Namun dengan tegas Nona Sekar melarang mereka keluar dari gedung. Jadi tidak ada satupun yang berani keluar. Meskipun mereka rasanya ingin segera meninggalkan istana dan kembali pada keluarga mereka masing-masing.


Kejadian di asrama sudah cukup membuat mereka ketakutan. Sekarang ditambah dengan pembunuhan. Bagi gadis-gadis belia itu, hal ini sudah di luar batas kemampuan mereka.


*****


Hiruk pikuk kekacauan terjadi di berbagai wilayah Liga Kerajaan. Bagaimana tiba-tiba beberapa orang berubah menjadi para Daemonie ketika menghirup asap merah muda beraroma karamel.


Para prajurit disibukkan melawan para Daemonie dan berusaha mengusir mereka. Kini semua orang bisa dengan jelas membedakan antara kawan dengan lawan.


Beberapa dari mereka terkejut bahwa orang-orang terdekat mereka adalah jelmaan Daemonie. Setelah itu mulai diadakan pencarian besar-besaran bagi orang-orang yang menghilang. Kebanyakan dari mereka akhirnya ditemukan tewas meskipun ada segelintir yang selamat.


Dalam waktu dua hari seluruh wilayah Liga Kerajaan telah bersih dari para Daemonie. Para Daemonie itu sebagian tewas terbunuh dan sebagian lagi melarikan diri.


Untuk sementara waktu suasana menjadi agak tenang meskipun masih menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga para korban.


Ningrum menangis berhari-hari karena kehilangan kakak satu-satunya. Puteri Juwita selalu mendampingi gadis itu melewati masa berkabung. Namun setelah itu Ningrum ditarik pulang ke rumahnya. Begitupun semua murid Sekolah Griya Pitutur. Bu Padma memutuskan memulangkan mereka semua karena sudah tidak mungkin lagi untuk melanjutkan kegiatan belajar.


"Aku akan mengunjungimu jika sempat. " Ucap Ningrum sebelum kereta kudanya melaju meninggalkan Istana Alsatia.


Puteri Juwita memandangi kepergian sahabatnya dengan sedih. Dia sendiri juga harus kembali ke rumahnya. Namun sebelum itu Raja Sagar memintanya pindah ke kamar yang berdekatan dengan kamar anggota keluarganya.


Gadis itu menghabiskan waktu untuk bermain dengan kedua sepupunya Lintang dan Wulan. Kedua anak kembar berusia empat tahun itu sangat cerdas dan menyenangkan.


"Kak Juwita, tinggal saja di sini menemani kami." Puteri Wulan dengan suara kanak-kanaknya mencoba menahan Puteri Juwita ketika gadis itu berkata akan segera pulang ke Elfian.


"Benar kak, kami senang sekali ditemani kakak," sambung Pangeran Lintang.


"Aku ingin sekali terus menemani kalian. Tapi orang tuaku hanya memilikiku, jadi aku harus pulang." Jawab Puteri Juwita.


"Sebaiknya kau tetap di sini karena perang besar akan dimulai." Suara Raja Sagar menggema di ruangan ketika pria itu masuk.

__ADS_1


"Apa maksud paman? "


"Semua kerajaan sedang bersiap-siap mengirim pasukan ke dataran Gornerbahn untuk mencegah pasukan Daemonie mendekat."


Sekujur tubuh Puteri Juwita merinding karena tidak menyangka akan mendengar kabar itu. Dataran Gornerbahn hanya berjarak dua hari perjalanan dari Istana Elfian. Itu berarti peperangan sudah sangat dekat dengan tempat kelahirannya.


"Bagaimana dengan orang tuaku? "


"Jangan cemas, Kerajaan Elfian adalah Kerajaan terbesar diantara Liga Kerajaan. Pasukan mereka juga sangat tangguh. "


"Tapi aku ingin bertemu orang tuaku. Eldrige bisa membawaku pulang lewat lubang dimensi."


"Lubang dimensi sedang dijaga ketat dan tidak boleh digunakan sembarangan untuk sementara waktu karena para Daemonie beberapa waktu lalu berhasil menerobosnya."


"Jadi aku tidak bisa pulang? "


"Tinggallah di sini, keponakan. Jika jalur lubang dimensi sudah aman, aku akan menyuruh salah satu peri untuk mengantarmu ke Elfian. "


"Baik, Paman."


*****


Ratu Gita melepas kepergian suaminya beserta pasukannya dengan wajah murung. Perutnya mulai terlihat buncit dengan kehamilannya yang sudah masuk bulan ke empat.


Iring-iringan pasukan melewati jalanan ibukota dan terus ke luar ke wilayah perbatasan. Raja Satria memimpin mereka melewati lereng-lereng panjang dan curam. Mereka terus berjalan hingga senja datang dan langit menjadi merah karena matahari mulai terbenam. Sosok mereka kini menjadi bayang-bayang kelabu di lereng berbatu.


Senja semakin larut. Kabut menggantung di belakang mereka dan melayang di tepian lembah. Untung saja langit tampak jernih dan bintang-bintang mulai bermunculan. Dan bulan sabit terlihat melayang di ufuk timur.


Mereka kini sudah sampai di dataran berbatu yang lapang. Beberapa pohon ara tumbuh diantara bebatuan.


"Malam ini kita berkemah di sini." Seru Raja Satria, kemudian dia turun dari kuda. Seorang prajurit segera mengambil kuda milik raja dan mengurusnya.


"Eldrige, menurutmu apakah kita bisa sampai di sana tepat waktu? " Raja Satria menusukkan sebuah ranting ke dalam api unggun.


"Kemarin Ratu Malea mengatakan bahwa pasukan Daemonie sudah berada di pegunungan Kemuning, itu berarti mereka akan mencapai Gornerbahn paling lambat besok siang." Jawab Eldrige.


"Semoga saja Gaurav dan Raja Norman bisa sampai di sana lebih awal." Pandangan Raja Satria jauh ke arah utara, ke arah kegelapan malam.

__ADS_1


Malam itu mereka membaringkan tubuh di atas tanah yang berbatu-batu. Eldrige memejamkan mata, mencoba mendapatkan kekuatan dengan membayangkan wajah lembut kekasihnya. Pertempuran kali ini dia lakukan untuk memperjuangkan masa depan orang yang dikasihinya.


__ADS_2