Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 170 Koalisi Busuk


__ADS_3

"Kenapa melihatku seolah melihat hantu?" tanya Eldrige sambil berjalan mendekat.


"Ah, Eldrige. Untung kau datang, cepat tangkap mereka. Mereka ingin melukai Juwita," seru Nenek Divya.


Mandala terkekeh mendengarnya. Dia tidak menyangka wanita setua itu masih mahir bersandiwara.


"Sekar, cepat selamatkan Juwita!" perintah Eldrige.


Nona Sekar segera mendekat namun sebelum dia berhasil menyentuh Puteri Juwita, tubuh gadis itu telah berpindah ke dalam bopongan Mandala.


"Lepaskan dia!" teriak Eldrige sambil menghunuskan pedangnya.


"Kau bisa apa tanpa kekuatan sihirmu? Tubuh manusiamu itu tak akan sanggup menghadapiku. Enyah saja dari hadapanku sebelum aku memutuskan untuk melenyapkanmu juga," jawab Mandala sambil menyeringai.


"Gadis itu tidak berguna untukmu. Lepaskan dia!" Eldrige berusaha menekan emosinya.


"Kau salah. Gadis ini sangat berarti bagiku." Mandala tersenyum mengejek lalu dia melompat sambil membopong tubuh Puteri Juwita.


Sekelebat saja tubuh Mandala sudah tidak terlihat dan sekarang berada ratusan meter dari tempat itu.


"Urus mereka Sekar, aku akan mengejar orang itu." Tanpa menunggu jawaban, Eldrige segera mengejar Mandala.


"Huh!" Nona Sekar mendengus kesal. Bisa-bisanya Eldrige meninggalkannya begitu saja. Untuk melampiaskan kekesalannya wanita itu menyerang Jadukari Daalal Nath tanpa ampun.


Lelaki tua itu dengan gesit melompat-lompat berusaha menghindari serangan Nona Sekar. Meski kekuatannya sudah pulih namun dia bukan lawan yang sepadan bagi wanita peri itu. Dalam hati dia mengumpati tuannya yang dengan tega mengumpankannya pada wanita yang sedang dilanda cemburu itu.


"Stop! Berhenti!" pekik dukun tua itu ketika ujung pedang Nona Sekar menekan dadanya yang tipis. Rasa perih menjalari permukaan kulitnya yang tergores ujung pedang peri itu.


"Jangan menambah kemarahanku, dukun tua!" hardik Nona Sekar.


"Sabar, Nona," ucap dukun itu dengan napas ngos-ngosan. "Kukira kita bisa merundingkan hal ini dengan kepala dingin."


"Aku tidak melihat ada untungnya berunding dengan makhluk licik sepertimu." Tolak wanita itu.


"Jangan salah, Nona. Orang tua ini selalu berusaha menjadi berguna bagi siapa saja yang dekat dengannya." Jadukari Daalal Nath menegakkan punggungnya yang melengkung.


"Apa itu termasuk Pangeran Awang yang kau korbankan untuk membangkitkan lelaki tadi?"


Mata Jadukari Daalal Nath hampir melompat karena tidak mengira jika wanita cantik di hadapannya itu bisa mengetahui perbuatan busuknya.


"Ah, Nona pasti salah paham. Kewajiban saya terhadap Pangeran Awang sudah saya tunaikan. Jadi tidak salah jika saya pun menuntut timbal balik, bukan begitu?" Lelaki tua itu tertawa lirih.


"Bilang saja kalau kau ini hanya makhluk hina yang bisa sewaktu-waktu menggigit tuannya," cemooh Nona Sekar. Tidak ada alasan baginya untuk mempercayai dukun tua itu sejak dia menemukan mayat Pangeran Awang di hutan dekat reruntuhan desa kuno.


Jadukari Daalal Nath menghela napas berusaha untuk tenang. Dia mencoba merangkai kata-kata yang tepat agar wanita cantik di hadapannya itu mengampuni nyawanya. Nyawa yang dia pertahankan hingga seratus tahun ini tidak akan dia biarkan melayang begitu saja.


"Ampun, Nona. Bisakah Nona mengampuni saya kali ini saja? Saya akan mendukung Nona dan tidak akan berkhianat. Saya sebenarnya sedikit mengerti mengenai hubungan kalian bertiga." Jadukari Daalal Nath mengeluarkan umpannya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Suara Nona Sekar meninggi karena mulai terpancing oleh ucapan dukun tua itu.


"Nona mencintai lelaki itu. Namun dia malah mencintai sang awatara Dewa Murr."


Nona Sekar tertegun mendengar ucapan dukun tua itu. Ada semburat merah yang pelan-pelan merayapi pipinya. Di sana, dihadapan Nenek Divya dan para punggawanya, dukun tua itu malah membuka rahasia hatinya.


Jadukari Daalal Nath yang menyadari perubahan raut wajah wanita itu segera bersorak dalam hati. Rupanya terkaannya benar. Wanita peri itu menyimpan rasa cinta yang tidak kesampaian pada Eldrige, dan itu bisa dimanfaarkannya.


"Saya bisa memisahkan kedua orang itu, Nona." Dukun itu berbicara dengan suara berbisik.


"Omong kosong! Berani sekali mulutmu yang kotor itu dengan lancang mengeluarkan kata-kata rendah semacam itu?" Nona Sekar berusaha menutupi perasaannya meskipun dalam hati mulai bertanya-tanya benarkah dukun tua itu bisa mewujudkan keinginannya.


"Jangan malu, Nona. Di antara kita ini tidak ada yang tidak berdosa, termasuk ibunda raja itu." Telunjuk Jadukari Daalal Nath terarah pada Nenek Divya.


"Kurang ajar kau Daalal Nath!" rutuk Nenek Divya.


"Sekarang kita blak-blakan saja. Kita sama-sama menginginkan sesuatu. Kau, wanita tua. Kau menginginkan Mangal Arti untuk mengembalikan masa mudamu dan menjadi penguasa tertinggi di negeri ini, bukan begitu?" Lagi-lagi ucapan dukun tua itu membuat Nenek Divya mendengus geram.


"Kau sudah bersusah payah menyingkirkan keturunan asli bangsawan Dewanatha dan masih saja gagal menjadi penguasa tertinggi." Ejek dukun itu.


"Itu kan gara-gara kau yang berhianat!" teriak Nenek Divya yang masih tersulut amarah.


"Aku hanya ingin menyelamatkan batang leherku saja, Yang Mulia." Jadukari Daalal Nath terkekeh. "Tapi kali ini kita harus bekerjasama untuk meraih tujuan kita masing-masing. Tidak ada saling menikung di belakang."


"Bagaimana bisa? Sedangkan Mangal Arti saja sudah dirampas Mandala." Nenek Divya berkata dengan rasa kesal luar biasa karena usahanya memancing Puteri Juwita untuk membawakannya Mangal Arti gagal begitu saja akibat kedatangan Mandala dan dukun tua itu.


Nona Sekar yang semula tidak mempercayai lelaki berpenampilan aneh itu kini mulai tertarik. Tidak ada salahnya jika dia memberi kesempatan pada Jadukari Daalal Nath untuk membuktikan ucapannya. Dia menarik kembali pedangnya dan membuat dukun tua itu menghembuskan napas lega.


*****


Sementara itu Eldrige yang berlari mengejar Mandala kini tertinggal sangat jauh di belakang. Bayangan tubuh Mandala yang melesat sangat cepat itu kini bahkan sudah tidak terlihat lagi. Eldrige merasa sangat kesal pada tubuh fananya yang begitu lemah. Andai saja dia masih memiliki kekuatan peri tentu tak sulit baginya untuk menyusul Mandala.


Percuma saja dia mengorbankan diri melepaskan kehidupannya sebagai peri jika akhirnya dia tidak bisa menyelamatkan wanita yang dicintainya. Dalam keputusasaannya tiba-tiba sebuah sentuhan lembut mendarat di bahunya.


"Eldrige, kurasa kita tidak bisa mengangap remeh lelaki itu." Nona Sekar yang kini sudah berdiri di hadapannya berbicara dengan raut prihatin.


"Aku tahu, Sekar. Dan aku merasa tidak berdaya."


"Tenang saja, Eldrige. Aku akan selalu siap membantumu."


"Bagaimana caranya, Sekar? Otakku rasanya seperti buntu."


"Hanya ada satu cara." Nona Sekar memandang Eldrige lekat-lekat. "Kau harus menemui Ratu Malea."


Kaki Eldrige rasanya goyah. Dia tahu resikonya jika meminta bantuan kepada penguasa bangsa peri itu. Namun apakah dia mampu menyelamatkan Puteri Juwita dengan tubuh manusianya? Sedangkan lawan yang harus dihadapinya adalah Mandala yang memiliki kekuatan di atas rata-rata manusia normal. Ditambah lagi, di genggaman lelaki itu ada Mangal Arti yang membuat kekuatannya setara dewa.


*****

__ADS_1


Tubuh Puteri Juwita terguncang-guncang dalam rengkuhan sepasang lengan Mandala. Lelaki itu melompat-lompat dengan ringan seperti seekor belalang dengan gerakan super cepat. Kini mereka sudah berada di area desa terbengkalai tempat Mandala dibangkitkan.


Suasana desa yang gelap tampak angker dan menyeramkan. Namun langkah Mandala tidak gentar karena tidak ada yang ditakutinya. Segala hantu atau makhluk-makhluk menyeramkan yang biasa dihayalkan manusia normal sama sekali tidak mampir di pikirannya. Dia sudah pernah mati dan kini bangkit lagi. Jadi apa lagi yang ditakutinya?


Ketika dia mulai merasakan tubuh Puteri Juwita bergerak-gerak, Mandala memutuskan untuk masuk ke dalam salah satu rumah. Meski atapnya bolong dan beberapa temboknya sudah roboh namun dia merasa tempat itu lebih baik daripada di luar.


Dia kemudian meletakkan tubuh Puteri Juwita di lantai yang dia alasi dengan jubahnya. Setelah itu dia mengambil sepotong meja rusak yang teronggok di sudut ruangan. Dengan sedikit menggebrak, meja itu seketika langsung hancur berantakan. Setelah mengumpulkannya di tengah ruangan, Mandala menjentikkan jarinya dan seketika kayu-kayu bekas meja itu terbakar.


Mandala tersenyum puas, kemudian dia kembali menghampiri Puteri Juwita.


"Uma. Tidak kusangka setelah sekian lama kita bisa bertemu lagi." Jari-jari Mandala mengusap pipi Puteri Juwita yang sedari tadi kehilangan kesadaran.


Puteri Juwita menggeliat karena merasakan sentuhan pada wajahnya. Begitu matanya terbuka, dia langsung berhadapan dengan wajah Mandala yang sedang mengamatinya.


"Ah, siapa kau?" Gadis itu beringsut mundur. Dia bukannya tidak mengenali wajah Mandala, hanya saja kenyataan bahwa orang yang sering dilihatnya di dalam mimpi kini berada di hadapannya membuat dirinya takut.


"Jangan takut, anak manis," ucap Mandala lembut. "Aku Mandala. Roh yang kini ikut bersemayam di tubuhmu dulunya adalah istriku."


Puteri Juwita teringat dengan mimpi-mimpinya. Dia juga teringat bagaimana Mandala membantai Uma namun hidup lelaki itu berakhir di tangan Uma.


"Tapi kau membunuh istrimu," bantahnya.


"Hahaha ... dialah yang membunuhku, ingat?" Mandala tertawa sumbang.


"Jadi kau sekarang ingin membalasnya? Kau ingin ... membunuhku?" Rasa takut semakin mencengkeram gadis itu.


"Menurutmu?" Mandala mendekatkan wajahnya.


Puteri Juwita menelan ludah ketika sepasang mata milik Mandala menatapnya dengan tajam.


"Hahaha ... rasanya menyenangkan sekali bisa menggodamu gadis kecil." Tiba-tiba Mandala tertawa terbahak-bahak melihat wajah Puteri Juwita yang pias.


Puteri Juwita melongo melihat tingkah lelaki itu. Dia bahkan tidak tahu apa yang membuat lelaki itu tertawa.


"Jangan cemas, aku tidak berniat membunuhmu." Lelaki itu kembali berbicara. "Atau setidaknya, saat ini aku belum berpikir untuk melakukannya."


Lagi-lagi Puteri Juwita menelan ludah. Perkataan Mandala mengisyaratkan bahwa tidak ada jaminan bahwa lelaki itu akan membiarkannya hidup.


"Apa yang kau inginkan dariku?"


Mendengar pertanyaan gadis itu Mandala kembali mengamati Puteri Juwita.


"Kau memiliki sesuatu yang sangat aku inginkan." Mata Mandala tampak berkilat. Tangannya terulur ke depan dan membuat Puteri Juwita kembali mundur.


"Benda yang melingkar di lehermu itu, serahkan benda itu padaku!" Suara Mandala berubah dingin.


Puteri Juwita secara spontan meraba lehernya dan baru menyadari ada sebuah kalung yang melingkar di sana. Pandangannya turun dan matanya melebar begitu menyadari benda apa itu.

__ADS_1


"Mangal Arti?" ucapnya hampir berbisik.


__ADS_2