Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 67 Pembunuhan


__ADS_3

Ratu Gita sedang duduk memangku bayinya di gazebo ketika dua orang pelayan pribadinya, Esme dan Talitha datang dengan wajah pucat. Mereka segera menyampaikan sebuah berita yang sedang hangat dibicarakan di Kerajaan Elfian.


"Gawat Yang Mulia, semalam terjadi pembunuhan lagi! " Talitha melaporkan.


"Pembunuhan? " Tanya Ratu Gita.


"Pembunuhan berantai lebih tepatnya." Jawab Esme.


"Berarti lebih dari satu kasus? "


"Lebih dari satu kasus pembunuhan yang identik. Kemungkinan dilakukan oleh orang yang sama." Lanjut Esme lagi.


"Atau monster! " Seru Talitha.


"Monster? " Ratu Gita mengerutkan keningnya.


"Karena hanya monster yang bisa melakukan hal sekeji itu. Para korban dibunuh dengan cara yang sangat tidak manusiawi." Talitha berbicara dengan berapi-api.


"Kabarnya para korban tewas dalam keadaan tubuh tercabik-cabik sampai kehabisan darah dan ada beberapa organ tubuh yang hilang." Esme berbicara dengan mimik ketakutan.


"Mengerikan sekali! " Ratu Gita tersentak.


"Dan anehnya, semua korban yang dibunuh sudah ditandai. " Suara Esme agak lirih membuat Ratu Gita penasaran.


"Ditandai? "


"Iya. Kabarnya, ditubuh para korban terdapat luka yang menyerupai sisik ikan. "


"Sisik ikan? "


"Di leher para korban ada sisik ikan yang menempel. "


"Saya rasa pembunuhnya adalah penjual ikan." Talitha mencoba menerka.


"Kalian sedang membicarakan apa? " Suara Raja Satria tiba-tiba mengagetkan mereka.


Esme dan Talitha segera membungkuk hormat kemudian meninggalkan tempat itu.


"Ah, kau sudah datang? Aku berbincang dengan mereka untuk membunuh waktu." Ratu Gita tersenyum pada suaminya.


"Da.. da..! " Bayi Juwita melonjak-lonjak di pangkuan ibunya begitu melihat ayahnya datang.


"Kau senang sekali melihatku sayangku" Raja Satria mengangkat tubuh bayinya dan menggendongnya.


"Apakah benar rumor yang beredar? Tentang pembunuhan berantai? " Ratu Gita mencoba mengkonfirmasi rumor tadi.


"Iya. Para pegawaiku sudah berusaha memecahkan kasus itu namun belum berhasil. Pelakunya seakan hilang tanpa jejak. "


"Apakah mungkin jika pelaku pembunuhan itu bukanlah manusia? "


"Jangan terlalu percaya pada gosip!" Raja Satria terkekeh dan mengacak rambut istrinya dengan gemas.


"Aku akan menyelidiki kasus ini dan akan segera menangkap pelakunya! "


"Kuharap kau berhati-hati, sayang! " Wanita itu menyandarkan kepalanya di lengan suaminya.


"Aku akan berhati-hati. "

__ADS_1


*****


Awan hitam yang menggantung sejak tadi, kini mulai meneteskan air pada saat rombongan Pangeran Gaurav sampai di padang rumput Masserjarvi. Lokasinya berada diantara wilayah Kerajaan Alsatia dan Nord. Untuk mencapai istana Alsatia, mereka butuh waktu satu jam lagi.


Seharusnya perjalanan mereka tidak memakan waktu selama itu andai mereka berkuda dengan kecepatan normal.


"Kita harus segera mencari tempat berteduh." Ucap Pangeran Gaurav, segera setelah dia merasakan setetes air jatuh di tangannya.


"Kau lihat di tempat ini tidak ada rumah. Dimana kita akan berteduh? " Tanya Eldrige.


"Kalian tunggulah di sini, aku akan memeriksa tempat ini. "


Pangeran Gaurav turun dari kudanya dan berjalan menembus rerumputan setinggi pinggang. Bayangannya menghilang dibalik kabut yang mulai turun seraya tubuh pria itu semakin menjauh.


Puteri Elok turun dari kuda dibantu oleh Eldrige. Mereka kemudian duduk di bawah pohon zaitun berdaun lebat yang tumbuh di pinggir jalan.


Saat itulah terlihat sepercik sinar hijau tiba-tiba muncul di depan mereka. Udara sobek dan keluarlah seorang gadis remaja yang menyandang busur di punggungnya.


"Faye? " Eldrige terkejut.


"Ratu Malea mengutusku untuk mengajakmu ke Lucshire sekarang juga. Ada hal yang sangat mendesak!"


"Tapi aku tidak bisa meninggalkan Puteri Elok seorang diri." Tolak Eldrige.


"Tidak apa-apa Eldrige, sebentar lagi Pangeran Gaurav akan kembali. Kau pergilah! " Puteri Elok merasa tidak enak karena dirinya menghalangi Eldrige menemui Ratu bangsa peri.


"Apa kau yakin? " Eldrige sungguh tidak tega meninggalkan Puteri Elok sendirian di tempat itu.


"Iya Eldrige, pergilah! " Wanita itu meyakinkan Eldrige.


"Baiklah Tuan Puteri, saya pergi dulu. Berhati-hatilah!" Eldrige memandang Puteri Elok dengan khawatir.


Eldrige mengikuti Faye yang menghilang dalam lubang dimensi. Puteri Elok terdiam memandangi percikan yang menghilang di udara.


Agak lama Puteri Elok menunggu kedatangan Pangeran Gaurav. Gerimis sudah berhenti sejak tadi. Sambil merapatkan mantelnya, wanita itu menajamkan matanya berusaha menembus kabut namun tak terlihat siapapun.


"Kenapa kau sendirian di sini? " Sebuah suara mengejutkannya.


Puteri Elok berbalik dan menjumpai seorang pria berambut hitam sebahu yang bertelanjang dada. Rambut dan tubuh pria itu basah. Dia seperti habis kehujanan. Air menetes dari rambutnya membasahi tubuhnya yang ramping dan berotot.


Wajah pria itu sangat tampan dan pandangan matanya lembut namun tajam. Seolah ada aura mistis yang membuat Puteri Elok merasa takut sekaligus terpikat.


"Aku tidak sendirian." Jawab Puteri Elok dengan bibir gemetar dan kakinya melangkah mundur.


"Aku tidak melihat orang lain di sini, dimana temanmu? " Pria itu mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Dia sedang pergi mencari tempat berteduh. "


"Tidak ada rumah di sekitar sini." Pria itu tersenyum sambil memandangi Puteri Elok yang terlihat rapuh namun waspada.


"Kau bisa ikut ke rumahku, di sana lumayan nyaman." Senyum pria itu sungguh menawan.


"Tidak, terima kasih." Wanita itu menolak tawarannya.


"Oh, ayolah. Aku tak akan menyakitimu."


Suara pria itu sangat merdu dan menentramkan. Puteri Elok ingin mempercayai ucapan pria itu.

__ADS_1


"Ayo! " Pria itu mengulurkan tangannya pada Puteri Elok.


Bagai terkena mantera, wanita itu menyambut uluran tangannya dan berjalan mengikuti pria asing itu. Mereka berjalan menjauhi jalan utama, menembus rerumputan yang basah.


"Kau akan membawaku kemana? "


"Ke rumahku." Pria itu berbisik tepat di telinganya.


Mereka terus berjalan menginjak rumput yang basah di tengah kabut. Puteri Elok merasakan kakinya semakin dingin dan basah seolah masuk ke dalam kolam. Namun dia tak kuasa untuk menolak atau berhenti mengikuti pria misterius itu.


Kini Puteri Elok bahkan merasakan gaunnya basah sampai ke dada dan napasnya mulai sesak seakan air menekan dadanya. Namun langkahnya tak juga berhenti dan tetap mengikuti pria itu.


Puteri Elok merasa mulai tenggelam, matanya bahkan bisa melihat sekarang dirinya dikelilingi air yang keruh. Puteri Elok tidak bisa mencegah air yang mulai memasuki mulutnya. Kini napasnya serasa putus.


Tiba-tiba sepasang tangan menariknya dengan kuat. Pegangan tangannya terlepas dari pria yang baru dijumpainya itu. Dia merasa tubuhnya melayang.


"Elok! "


Wanita itu merasa tubuhnya diguncang dan telinganya samar-samar menangkap suara seseorang memanggil namanya. Namun dia tidak yakin siapa yang memanggilnya.


"Bangunlah, kumohon! "


Bukankah suara itu sangat akrab di telinganya? Puteri Elok ingin menyahut namun dadanya sesak dan tenggorokannya tercekat.


"Elok! "


Dadanya terasa ditekan berkali-kali dan rasanya sangat nyeri. Dia merasakan hidungnya dijepit dan membuat mulutnya otomatis terbuka. Bibirnya yang dingin dan hampir mati rasa tiba-tiba merasakan sesuatu yang hangat menempel. Dia merasakan hembusan udara berkali-kali masuk ke dalam mulutnya.


Puteri Elok merasa dadanya bergolak dan ingin batuk. Kemudian mulutnya memuntahkan air beberapa kali. Sekuat tenaga dia berusaha membuka matanya yang terpejam, namun terasa sangat sulit.


Kembali mulutnya yang terbuka merasakan sesuatu yang hangat menempel dan menghembuskan udara menuju paru-parunya beberapa kali.


Kali ini oksigen yang mengalir melalui mulutnya mulai menyadarkannya. Perlahan matanya terbuka dan samar-samar menatap seraut wajah yang berada sangat dekat dan hampir menyentuhnya.


"Kau sudah sadar? "


Suaranya terdengar cemas. Mata pria itu juga menyiratkan hal yang sama. Puteri Elok hanya bisa memandangnya. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.


"Aku lega kau selamat." Pria itu mengelus rambutnya yang basah.


Puteri Elok tertegun melihat sikap Pangeran Gaurav yang mendadak hangat dan bersahabat. Pria itu lalu membantunya duduk dan menyandarkan kepala Puteri Elok di dadanya, menempel pada pakaiannya yang juga basah kuyup.


Sesaat kemudian awan-awan hitam berarak pergi tertiup angin dan sinar matahari kembali menerangi bumi. Kabut pun mulai hilang dan menampakkan pemandangan telaga yang luas ditengah-tengah padang rumput.


"Kenapa kau masuk ke telaga itu? " Tanya Pangeran Gaurav.


"Aku tidak tahu di situ ada telaga." Puteri Elok menjawab dengan suara yang agak serak.


"Lalu kenapa kau ke sana? Mana Eldrige? "


"Eldrige pergi. Dia dipanggil untuk bertemu Ratu Malea di Lucshire."


"Lain kali jangan pernah pergi tanpa seizinku lagi! "


Pangeran Gaurav kemudian mengangkat tubuh Puteri Elok dan membopongnya. Langkahnya yang lebar meninggalkan jejak berjeda di tanah yang basah.


Tanpa mereka sadari ada sosok yang muncul di tengah telaga. Pria berambut hitam dan tubuh yang liat itu kini sedang memperhatikan kepergian mereka dengan sorot mata yang dingin.

__ADS_1


Setelah puas mengawasi, dia melompat masuk ke telaga dan memperlihatkan fitur tubuhnya yang separuh ikan. Gerakannya itu menciptakan cipratan yang besar di tengah telaga.


__ADS_2