
Ahren tidak yakin apakah dia bisa membantu menaklukkan makhluk mengerikan yang sedang meneror istana itu. Namun dia akan melakukan apapun agar Selir Mayang dapat kembali menjadi manusia.
Raja memberitahu Eldrige bahwa pengawal muda itu mungkin bisa membantu.
"Namanya Ahren, coba lihat apa yang bisa dia lakukan untuk membantu kita!" Raja Satria berkata kepadanya saat mereka bertiga duduk di ruang tamu Wisma Selir Utama untuk membahas strategi menangkap Wanita Elang.
"Coba kau ceritakan dari awal. Semua yang kau ketahui!" Perintah Raja kepada Ahren.
Pemuda itu menundukkan kepalanya. Beberapa kali menelan ludah. Merasa gugup? Pasti! Karena menceritakan semua yang dia ketahui artinya membongkar semua rencana busuk dan kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap penguasa tertinggi di kerajaan ini.
Hukuman yang akan diterimanya, mungkin tidak akan lebih ringan dari hukuman Selir Mayang. Karena mereka berdua adalah Partner in crime !
"Ya, akan saya ceritakan."
*****
Semuanya berawal dari tujuh tahun yang lalu, saat Selir Mayang berusia enam belas tahun. Ahren yang waktu itu baru mulai magang di istana, diam-diam mengajak Selir Mayang masuk ke wilayah kediaman anggota kerajaan. Kediaman Raja, Ratu dan Pangeran.
"Jangan sampai ketahuan Mayang, kita hanya bisa mengintip sampai di sini!" Sambil berjongkok Ahren memperingatkan gadis itu dengan suara berbisik.
"Tenang saja Ahren. Toh, kalau sampai ketahuan aku akan berpura-pura tersesat. Kau ingat? Aku kemari 'kan diajak ayahku!" Gadis cantik itu membantah dengan keras kepala.
Hari ini memang ayahnya mengajak kemari untuk mengikuti upacara penobatan Putera Mahkota yang baru yaitu Pangeran Satria. Pangeran itu adalah pewaris tunggal tahta kerajaan Elfian.
"Aku hanya memperingatkanmu. Ayahmu akan memarahi kita jika terjadi sesuatu!" Pemuda yang baru beranjak dewasa itu berkata dengan serius.
Mendengar hal itu gadis cantik itu cemberut. Dia merasa kesal dengan kecerewetan temannya itu. Andai saja dia tidak sedang membutuhkan Ahren, pasti dia akan segera mengusirnya pergi agar bisa leluasa mengintip.
Iya, dia memang mengintip. Perbuatan yang sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang Puteri bangsawan seperti dia. Namun rasa penasarannya lebih besar daripada kesadaran moral yang sejak kecil ditanamkan pada dirinya.
"Sstt..!" Jari telunjuk gadis itu menempel pada bibirnya. Dia memberi isyarat pada Ahren untuk diam karena ada seseorang yang datang di dekat persembunyian mereka.
Seorang gadis asing yang terlihat lebih muda darinya tiba-tiba mendekat. Dia duduk menyandar di bawah pohon dekat rimbunan Rhododendron berbunga merah muda, tempat mereka bersembunyi. Raut wajahnya terlihat sedih. Mereka melihat bahunya terguncang, kelihatannya sedang menangis.
__ADS_1
Tak lama kemudian, seorang pemuda bangsawan datang. Mereka terlihat dari ras yang sama. Pemuda itu terlihat berusaha menghibur gadis itu dan mengajaknya kembali ke dalam. Namun gadis itu menggeleng, akhirnya pemuda itu pergi dengan langkah gontai.
Ketika sedang asyik mengintip, tiba-tiba ada tepukan yang mendarat di bahu mereka. Ketika mereka berbalik, ternyata ayah Puteri Mayang berdiri dengan berkacak pinggang.
"Apa yang kau lakukan disini Mayang?" Pria tua itu bertanya dengan geram. Dari tadi dia mencari putrinya itu untuk dikenalkan pada beberapa orang, namun gadis itu malah menghilang.
"Ayah? Maaf, aku hanya ingin melihat-lihat!" Suaranya sangat lembut dan manis sehingga membuat kemarahan ayahnya seketika sirna. Gadis itu memang memiliki bakat untuk memanipulasi seseorang.
"Ahren, kau tahu tempat ini terlarang untuk umum. Kenapa malah membawa Mayang kemari?" Ketua Dewan Permadi menatap marah ke arah pemuda itu.
"Maafkan saya!" Pemuda itu meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat oleh Puteri Mayang. Dia rela melakukan apa saja asalkan gadis itu bahagia.
"Hmm.. Kalau begitu ikut ayah, Mayang! Dan kau, Ahren. Kembalilah ke pos penjagaanmu!" Ucap Ketua Dewan Permadi.
Puteri Mayang mengikuti ayahnya di belakang. Gadis itu melirik ke arah Ahren dengan ekspresi mengejek. Tanpa sengaja, dia melihat seorang pemuda Elfian yang mengenakan pakaian kerajaan sedang mengusap wajah gadis tadi dengan sapu tangan. Pemuda itu terlihat sangat tampan dan mempesona. Tiba-tiba hatinya berdebar kencang.
Puteri Mayang ingin sekali kembali ke tempat tadi, namun dia tidak berani membantah ayahnya. Akhirnya dengan langkah gontai dia mengikutinya ke aula kerajaan.
Di sana sudah ramai berkumpul para tamu undangan. Ada beberapa orang asing yang ikut di sana, termasuk pemuda asing tadi. Dia tampak serius mendengarkan seseorang yang terlihat berwibawa sedang berbicara.
"Upacara Penobatan Putera Mahkota Kerajaan Elfian di mulai. Pangeran Satria dipersilakan menghadap!" Suara seorang Staf Kerajaan menggema ke seluruh ruangan.
Pemuda tadi berjalan dengan langkah tegap menuju ke hadapan Raja dan Ratu. Puteri Mayang menatap seakan tak percaya begitu mengetahui bahwa pemuda itu adalah Pangeran Satria.
"Aku harus bisa memilikimu!" Gumamnya. Di dalam benaknya mulai merancang rencana untuk mendekati Sang Putera Mahkota.
Usai upacara penobatan, Puteri Mayang berusaha untuk mendekati Pangeran Satria. Namun pemuda itu terlihat sibuk melayani para tamu yang memberikan ucapan selamat.
Ketika akhirnya Pangeran Satria sendirian, dengan percaya diri gadis cantik itu mendekatinya. Namun ketika dia sampai ke hadapan Pangeran Satria, tiba-tiba pemuda itu berjalan pergi melewatinya begitu saja dan keluar dari ruangan itu.
Dengan tergesa-gesa gadis itu berusaha mengikutinya, namun dia telah kehilangan jejaknya. Gadis itu berjalan tak tentu arah melewati lorong-lorong yang luas, lalu berbelok ke arah taman. Di sana hanya ada beberapa pelayan yang mondar-mandir membawa sesuatu untuk jamuan pesta.
Puteri Mayang berjalan diantara rimbunan bunga-bunga mawar merah. Lalu gadis itu sampai di tepian kolam yang sangat indah. Di tengah kolam itu terdapat air mancur, airnya keluar dari kendi yang dipegang patung berwujud wanita cantik.
__ADS_1
Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari-cari keberadaan Pangeran Satria. Tapi pemuda itu tak terlihat di manapun. Dengan kesal gadis itu berjalan ke sembarang arah. Dia melewati pepohonan yang rimbun. Setelah cukup lama berputar-putar di sana, dia tiba di area untuk latihan memanah.
Gadis itu tidak bisa memanah, jadi dia tidak berminat untuk melihat-lihat tempat itu.
"Diamlah, jangan bergerak!" Sebuah suara tertangkap di pendengaran Puteri Mayang.
Gadis itu segera mencari-cari sumber suara. Ketika sampai di belakang gedung penyimpanan peralatan memanah, dia melihat Pangeran Satria terbaring di tanah dengan wajah ketakutan. Di depannya berdiri gadis yang menangis tadi, dia sedang menarik busur dan mengarahkannya pada pemuda itu.
Puteri Mayang terkejut bukan main. Belum sempat gadis itu berteriak, sebuah anak panah melesat dengan cepat ke arah Pangeran Satria.
Seketika Puteri Mayang berteriak histeris. Melihat kehadiran Puteri Mayang, gadis asing itu segera melempar busurnya dan berlari pergi. Puteri Mayang segera mendekati pemuda yang terkapar tak berdaya itu, memeriksanya dengan perasaan takut.
Syukurlah pemuda itu masih hidup. Di dekat kakinya tergeletak bangkai ular berwarna hitam dengan kepala tertancap anak panah. Ternyata gadis tadi bukan ingin membunuh Pangeran Satria, melainkan justru menyelamatkan nyawanya.
Tak berselang lama datanglah serombongan pengawal kerajaan. Mereka segera membawa Pangeran Satria yang pingsan ke Wismanya. Puteri Mayang pun tak ketinggalan menyertainya.
Saat tersadar Pangeran Satria tidak mengingat kejadian yang menimpanya. Pemuda itu memiliki phobia terhadap ular, jadi mungkin dia ingin melupakan kejadian yang menakutkan itu.
Sejak saat itu, semua orang menganggap bahwa Puteri Mayang adalah orang yang telah menyelamatkan Pangeran Satria. Karena hanya dialah satu-satunya orang yang ada di sana. Sedangkan gadis yang menyelamatkannya, tak pernah terdengar kabarnya.
Rencana untuk mendekati Sang Putera Mahkota menjadi sangat mudah. Sampai tiba-tiba tersiar kabar bahwa Pangeran Satria telah dijodohkan dengan seorang Puteri dari bangsa lain.
Misi untuk merebut hati Pangeran Satria pun dimulai. Dia tidak akan membiarkan pemuda itu berpaling darinya. Cara apapun akan dia lakukan. Termasuk menggunakan sihir!
*****
Ahren menceritakan semua yang dia ketahui. Juga menjelaskan bagaimana dia pergi ke hutan Wirasukma dan bertemu seorang penyihir dari ras Daemonie yang bernama Mors. Di sanalah dia mendapatkan buku-buku sihir dan jimat untuk mengikat hati Raja Satria agar jatuh cinta dan takluk pada Selir Mayang. Bahkan di sana jugalah dia mendapatkan Kitab Pikatriz itu.
Raja Satria terbelalak mendengar penuturan Ahren. Ternyata selama ini tak ada satupun kejujuran dari Selir Mayang. Sejak awal semuanya adalah dusta. Dia menduga, bahwa wanita itu jugalah yang nekat meracuni dirinya sendiri menggunakan racun pohon Elk. Bagaimanapun juga, ada rasa kecewa yang menggores hatinya.
"Lalu, bagaimana menurutmu cara menaklukkan makhluk itu?" Tanya Raja Satria akhirnya, dengan menekan emosinya.
"Selir Mayang memiliki sebuah kotak perunggu untuk menyimpan peralatan sihirnya. Mungkin ada sesuatu di dalamnya yang bisa memberi kita petunjuk. Sekarang kotak itu ada rumah Ketua Dewan Kerajaan Permadi." Ucap Ahren.
__ADS_1
"Eldrige, segera perintahkan seseorang untuk mengambilnya." Perintah Raja.