Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 30 Bulan Baru


__ADS_3

Eldrige mengamati benda-benda sihir yang berada di dalam kotak perunggu. Ada beberapa kantung jimat, botol-botol berisi berbagai cairan dan serbuk. Juga ada buku-buku petunjuk menggunakan mantera sihir.


"Ini adalah kantung jimat yang dulu ditemukan pelayan. Bukankah terlihat mirip dengan yang ini?" Raja Satria menyerahkan sebuah kantung jimat pada Eldrige.


"Ya, memang mirip." Eldrige mengangguk setuju. Tangannya membuka-buka buku catatan dan buku mantera.


"Mantera Pengikat Jiwa?" Eldrige mengerutkan keningnya.


Ada sebait sajak Goetia yang tertulis di lembaran buku yang sudah menguning. Tintanya sudah agak pudar, namun aura magisnya masih terasa kuat. Sajak itu merupakan mantera pemanggil Iblis Sitr.


Eldrige membuka halaman yang lain dan tidak menemukan petunjuk lain untuk mengalahkan si wanita elang. Hanya sebuah gambar sayap elang berbentuk bulan sabit dan di bawahnya tertulis Yareakh yang berarti new moon atau bulan baru.


Eldrige berpikir sejenak dan mengira-ngira. Menghitung fase new moon yang kebetulan terjadi nanti malam. Akhirnya dia memutuskan untuk memberitahu rencananya pada Raja Satria.


Raja mengangguk setuju. Dia memerintahkan semua pengawal untuk menyiapkan peralatan yang diminta Eldrige. Mereka juga berjaga di semua area terbuka dan di menara pengawas yang berada di empat sudut istana. Masing-masing bersiaga dengan panah yang ujungnya telah dicelup dengan ramuan daun Sage.


Semua orang merasa tegang melihat makhluk mengerikan yang tak berhenti berputar-putar dan melengking di atas istana. Mereka berdoa agar makhluk itu bisa segera ditaklukkan.


Semua yang diminta Eldrige selesai disiapkan sebelum senja. Diperkirakan new moon akan terbit sekitar dua puluh menit setelah matahari terbenam.


Tak lama kemudian, matahari tenggelam meninggalkan semburat keemasan di ufuk barat. Langit yang kemerahan pun berangsur gelap. Semua yang berjaga siap siaga di posisi mereka.


"Kita harus memancing makhluk itu untuk turun. Harus ada yang menjadi umpan!" Eldrige memandang Raja Satria, seolah mengatakan bahwa dialah yang harus menjadi umpan.


Raja Satria mengerti dan tidak keberatan dijadikan umpan. Lagipula sebagai seorang pemimpin dia wajib melindungi rakyatnya. Namun yang dia tidak suka adalah cara Eldrige memandangnya yang seolah mengejek. Sepertinya peri itu sangat senang jika dia kesusahan.


"Saya bersedia menjadi umpan!" Tiba-tiba Ahren menawarkan diri, membuat mereka berdua yang sedang perang dingin menjadi kaget.


"Itu sangat berbahaya, Ahren!" Cegah Eldrige.


Perkataan itu seketika membuat Raja Satria melirik tajam ke arah Eldrige. Berarti peri itu memang sengaja ingin membuatnya dalam posisi bahaya.


"Ini semua kesalahan saya, maka sudah seharusnya jika saya yang melakukanya." Ahren terlihat bersungguh-sungguh.


"Baiklah kalau itu keputusanmu." Jawab Eldrige sambil menghela napas.


Raja Satria mendengar nada kecewa dalam suara Eldrige. Membuatnya ingin sekali memarahi peri itu namun ini bukanlah saat yang tepat untuk melakukannya.


*****

__ADS_1


"Ayo, bersiaplah di posisi masing-masing!" Perintah Raja Satria dengan suara lantang.


Semua mengikuti perintah Raja Satria, termasuk Ahren. Pemuda itu segera berlari ke tengah halaman istana yang luas. Pemuda itu kemudian melambai-lambaikan tangannya ke atas untuk menarik perhatian makhluk itu.


"Kaaaaaack!"


Makhluk itu segera melihat Ahren. Setelah bermanuver sebentar di udara, makhluk itu langsung menukik turun ke arah pemuda itu.


Raja memberi isyarat dengan tangannya agar semua orang bersiap-siap dan menunggu perintah selanjutnya.


Kepakan sayap wanita elang itu menimbulkan angin kencang yang menerpa seperti topan. Hal itu membuat debu beterbangan ke segala penjuru.


Mereka semua menahan napas menyaksikan makhluk itu dengan gesit menyambar tubuh Ahren.


Tepat saat itulah Raja Satria memberi isyarat untuk segera melaksanakan perintahnya.


Dari keempat penjuru, para prajurit tiba-tiba melemparkan jaring ke arah wanita elang itu. Kemudian mereka memanahnya bersamaan. Baik itu pengawal yang berjaga di atas menara maupun pengawal yang berjaga di bawah.


"Kaaaaaack! Kaaaaaack!" Wanita elang itu melengking marah.


Dia berusaha melepaskan diri dari jaring di tubuhnya. Tak butuh waktu lama, jaring itu akhirnya sobek terkena terjangan cakar dan paruhnya. Jaring itu ternyata tidak mampu mengurungnya. Dan sayangnya semua panah mereka pun meleset, tak ada satupun yang mengenainya. Makhluk itu kemudian terbang membawa Ahren.


Melihat hal itu Eldrige langsung melompat ke atas sebuah batu hiasan taman, lalu meloncat ke atap istana. Dia bergerak secepat mungkin untuk menyusul makhluk itu. Kepangan rambutnya yang perak, berkilauan tersorot cahaya lampu istana. Kepangan itu berayun-ayun di punggungnya.


Eldrige terus berlari di atas atap, mengejar makhluk itu. Langkahnya menimbulkan bunyi pijakan di atas genteng.


Sepertinya makhluk itu tidak berniat untuk pergi. Dia hanya berputar-putar membawa Ahren yang dari bawah terlihat seperti boneka yang berayun-ayun.


Eldrige bersiap-siap dengan busurnya. Berkali-kali dia melesatkan anak panahnya ke arah makhluk itu, namun selalu meleset. Wanita elang itu cepat sekali menghindar.


Eldrige kembali mengejar. Dengan lincah pria itu berlari sambil melepaskan panahnya. Wajahnya yang biasanya tenang, kini tampak geram.


"ssiiiiing!"


Sebuah anak panah melesat kencang di samping Eldrige, sangat dekat hampir mengenai telinganya. Anak panah itu berhasil menembus sayap kiri makhluk itu dan membuatnya menjerit marah.


Eldrige menoleh dan melihat Raja Satria menyusulnya. Pria itu menyeringai menyebalkan. Mata ungunya berkilat penuh semangat. Kelihatannya dia sangat menikmatinya.


"Tap...tap...tap..."

__ADS_1


Mereka berlarian mengejar makhluk itu sambil melepaskan panah. Panah-panah mereka melesat berkejar-kejaran menghujani wanita elang itu. Beberapa anak panah berhasil mendarat di tubuh wanita elang dan membuatnya agak terhuyung.


"Kaaaaaack!"


Makhluk itu sangat marah. Kemudian dia mengepak-ngepakkan sayapnya berkali-kali dan menimbulkan gelombang angin yang kencang. Atap istana mengelupas di beberapa bagian dan beterbangan di udara.


Eldrige segera mengeluarkan cambuknya. Sinarnya sangat terang membelah malam. Dengan gesit dia memutar-mutar cambuknya seperti tali lasso. Kemudian dilemparnya ke arah kepala mahkluk itu dan menjerat lehernya.


"Kaaaaaack!"


Leher wanita elang itu tercekik. Tubuhnya limbung ke kanan dan ke kiri seperti layang-layang. Eldrige menariknya dengan kuat, lalu peri itu melompat ke bawah membuat makhluk itu terjungkal.


Cengkeramannya pada Ahren terlepas. Tubuh pemuda itu terjun bebas ke bawah. Namun beberapa prajurit segera menangkapnya tepat sebelum tubuhnya terhempas ke tanah. Mereka menggotongnya ke pinggir. Pemuda itu dalam keadaan pingsan.


*****


"Buuum!"


Eldrige berhasil menghempaskan tubuh makhluk itu ke tanah. Wanita elang itu terkapar tak berdaya, darah segar mengalir di beberapa bagian tubuhnya yang tertancap panah.


Eldrige memandang ke langit dan melihat bulan sabit yang sudah beranjak ke atas. Ini adalah saatnya, kali ini dia harus berhasil.


"Bawa kemari cermin itu, lalu arahkan pada bulan!" Teriaknya sambil memegangi cambuknya dengan kencang.


Beberapa prajurit membawa cermin itu dan mengarahkannya pada bulan. Sinar bulan yang temaram itu menyorot bagaikan sinar laser berwarna biru. Sinar itu kemudian memantul dan menyoroti tubuh wanita elang itu.


Eldrige meminta Raja Satria untuk memegangi cambuknya. Makhluk itu meronta-ronta, namun Raja Satria tetap mempertahankan posisinya. Beberapa tetes keringat membasahi keningnya.


Sementara itu Eldrige mengucapkan mantera sihir sambil menggerak-gerakkan tangannya di udara. Ada cahaya aneh berwarna biru kehijauan yang tiba-tiba saja muncul dari tubuh makhluk itu. Cahaya itu menyerupai wanita elang itu.


Cahaya itu perlahan-lahan keluar dari raga Selir Mayang dan terbang masuk ke dalam cermin. Tiba-tiba saja cermin itu meledak dan pecah menjadi berkeping-keping.


Serpihan-serpihan cermin itu berterbangan ke udara dan sepintas tampak seperti bintang-bintang yang bertaburan.


Tubuh Selir Mayang tergeletak di tanah dengan leher terlilit cambuk. Beberapa anak panah menembus punggung dan kakinya. Wanita cantik itu terlihat sangat mengenaskan.


Ayahnya segera berlari mendekat dan memeluknya. Pria itu menangis tersedu-sedu. Raja Satria memerintahkan para pengawal untuk membawa Selir Mayang masuk ke kamarnya.


Eldrige mendekati Raja Satria dan memandangnya dengan serius.

__ADS_1


"Ini belum berakhir. Kita harus segera mengadakan upacara pembatalan perjanjian dengan iblis!"


Raja Satria mengangguk. Untuk malam ini cukuplah sampai disini dulu. Besok saat Selir Mayang sadar, mereka akan melakukan upacara itu.


__ADS_2