Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 88 Menonton Pertandingan


__ADS_3

Akhir pekan yang dinantikan datang juga. Setelah sarapan, gadis-gadis yang tinggal di asrama segera bersiap-siap untuk keluar. Kebanyakan dari mereka sudah memiliki rencana untuk bepergian.


Puteri Juwita dan teman sekamarnya, Ningrum, kini sedang berjalan menuruni tangga untuk bertemu dengan teman-teman mereka di lantai satu.


"Akhirnya kalian turun juga, kami sudah lama menunggu! " Seru Sari.


"Bukankah ini masih pagi? " Tanya Puteri Juwita dengan heran.


"Astaga, kau tidak tahu ya? Pertandingan hari ini sangat dinantikan semua orang. Aku takut kita tidak kebagian kursi! " Ratri terlihat kesal.


"Kalau begitu ayo bergegas! " Ajak Sari.


Gadis-gadis itu segera melapor pada asisten ibu asrama. Mereka menulis nama, jam keluar dan tujuan. Setelah itu mereka segera berjalan keluar. Saat tiba di gerbang sekolah, mereka menunjukkan kartu pengenal dan segera dicatat oleh seorang penjaga.


"Ayo cepat, jangan sampai kehabisan tiket masuk! " Sari memimpin jalan, sepertinya dia sudah terbiasa ke sana.


Mereka berlari di sepanjang jalan sambil menarik gaun mereka ke atas agar tidak tersangkut kaki. Gadis-gadis itu saling tertawa, menikmati masa kebebasan mereka.


Akhirnya mereka berlima sampai di depan sebuah stadion olahraga yang sangat megah. Bentuk bangunan itu melingkar dengan lapangan rumput berada di tengahnya.


"Berikan uang kalian, biar aku yang membeli tiket! " Sari menerima uang dari teman-temannya lalu segera menuju penjual tiket dan mengantri. Gadis-gadis itu membeli tiket kelas satu yang berada langsung di depan lapangan.


"Pegang tiket kalian erat-erat, jangan sampai hilang! " Sari mengingatkan.


Mereka berlima masuk ke dalam stadion dan langsung menuju ke bangku mereka. Sesaat setelah mereka duduk, dua tim Baggata memasuki lapangan. Sorak sorai segera membahana memenuhi stadion.


Teeeeeet!


Suara terompet terdengar, semua orang menjadi senyap. Seseorang yang berdiri di lapangan dengan pakaian berwarna kuning terang segera memperkenalkan kedua tim Baggata.


"Di sebelah kanan saya, tim Baggata berseragam merah adalah tim kebanggaan Sekolah Kesatrian! " Ucapan pria itu dijeda oleh tepukan bergemuruh.


"Di sebelah kiri saya, tim Baggata berseragam hitam adalah tim terbaik Sekolah Royal! " Lagi-lagi ucapan pria itu menuai tepukan meriah.


Setelah pria berbaju kuning itu menjelaskan peraturan permainan Baggata, akhirnya pertandingan dimulai.


Kedua tim berkumpul di tengah lapangan. Masing-masing tim terdiri dari sepuluh orang. Setiap anggota tim membawa sebuah tongkat yang ujungnya memiliki jala berbentuk lingkaran.


Tugas mereka adalah memasukkan bola yang terbuat dari kulit rusa yang disumpali bulu angsa, ke dalam gawang lawan.


Setelah berundi, tim Kesatrian mendapat giliran pertama membawa bola. Seorang pemain berlari membawa bola ke seberang namun segera dihadang oleh tiga orang dari tim Royal.


Dengan cepat pemain Kesatrian itu melempar bolanya pada temannya namun sayangnya tongkat seorang pemain dari tim Royal berhasil menggagalkannya.


Bola melambung tinggi di udara. Masing-masing tim bersiap-siap untuk merebut bola. Semua mata terfokus pada bola yang pelan-pelan melambung turun. Semua penonton menahan napas, penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Yaaaa..! " Sorak penonton begitu bola kembali direbut tim Kesatrian.


Kembali terjadi aksi kejar-kejaran dan rebutan bola. Bola berwarna putih itu melambung kesana-kemari diperebutkan kedua tim.


"Yaaaaa..! " Sorakan membahana begitu penjaga gawang tim Royal gagal mencegah bola memasuki gawang milik mereka.

__ADS_1


Angka bertambah untuk tim Kesatrian. Mereka melakukan atraksi saling senggol yang cukup menghibur dan membuat penonton menjerit-jerit, terutama kaum wanita.


"Lihat itu Bagaskara! " Sari menunjuk seorang pemuda tampan dengan rambut coklat tua diikat ke atas yang sedang bersenggolan dengan teman-temannya.


"Wow, tampan sekali! " Seru kedua temannya, Ratri dan Sapna.


Puteri Juwita tersenyum canggung ketika menyadari bahwa pemuda yang ditunjuk temannya tadi mengedipkan sebelah mata padanya.


Pertandingan kembali dilanjutkan. Aksi memperebutkan bola kembali berlangsung seru. Kali ini tim Royal membalas kekalahannya tadi. Dua kali mereka berhasil menerobos gawang tim Kesatrian.


"Semoga tim Kesatrian menang." Ucap Sari penuh harap.


"Ayo tim, semangat! " Teriak Sari, Ratri dan Sapna bersamaan.


Beberapa teman dari sekolah mereka juga datang menonton dan ikut mendukung tim Kesatrian. Tim Kesatrian sangat tersanjung mendapatkan dukungan dari gadis-gadis bangsawan itu.


Hanya Puteri Juwita dan Ningrum yang terlihat menahan diri. Ningrum merasa rendah diri karena bobot tubuhnya agak berlebih, sedang Puteri Juwita karena tidak terbiasa melakukan hal-hal yang dilakukan teman-temannya itu.


"Kami akan mencetak angka untuk kalian! " Bagaskara menunjuk gadis-gadis itu sambil tersenyum menawan.


"Aaaaaa! " Gadis-gadis itu menjerit-jerit histeris.


Tim Kesatrian seolah mendapat tambahan energi sehingga dapat membalas tim Royal dengan berkali-kali memasukkan bola ke gawang mereka.


Di akhir pertandingan, tim Kesatrian keluar sebagai pemenangnya. Seluruh penonton bersorak gembira.


"Ayo, kita temui mereka! "


"Mereka! " Jari telunjuk Sari mengarah pada tim Kesatrian yang sedang berjalan meninggalkan lapangan.


Sari langsung berjalan cepat menerobos kerumunan orang, diikuti oleh teman-temannya. Puteri Juwita sungguh tidak mengerti kenapa mereka harus menemui tim Kesatrian. Namun dia tidak banyak bertanya dan hanya mengikuti saja.


"Bagaskara! " Nama kapten tim Kesatrian diteriakkan oleh gadis-gadis penggemarnya.


Pemuda itu sepertinya sudah terbiasa menghadapi para penggemar. Dengan tak lepas dari senyuman, pemuda itu menanggapi panggilan mereka dengan hangat.


Tim Kesatrian menerima ratusan hadiah yang dibawa oleh para penggemar itu. Beberapa asisten bertugas membawa semua hadiah-hadiah itu.


Sari menerobos kerumunan penggemar dan berhasil menarik ujung baju Bagaskara. Pemuda itu berhenti dan menoleh ke belakang.


"Tolong terima hadiah dariku Bagaskara! " Sari memandang Bagaskara penuh pemujaan.


Sebenarnya Bagaskara sudah sangat lelah dan enggan berlama-lama lagi meladeni para pemujanya. Namun pemuda itu dengan ramah tersenyum pada Sari dan menerima bungkusan yang dibawa gadis itu.


"Aaaaaaaa... ! Bagaskara menerima hadiah dariku! " Sari berteriak histeris. Kedua temannya, Ratri dan Sapna juga ikut-ikutan berteriak gembira.


"Teman-teman, aku ke toilet dulu! " Puteri Juwita berpamitan pada teman-temannya yang sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka masih tenggelam dalam euforia.


Puteri Juwita berjalan menyusuri stadion, mencari petunjuk arah untuk mencari toilet. Saat akhirnya gadis itu menemukannya, dia segera masuk.


Tak lama kemudian saat gadis itu keluar, dia mencari teman-temannya. Namun setelah berputar-putar mencari, mereka tidak terlihat dimanapun.

__ADS_1


Akhirnya Puteri Juwita memutuskan untuk pulang. Dia akan berusaha mengingat rute perjalanan mereka tadi.


Meskipun jarak stadion ini tidak jauh dari sekolahnya, namun ini adalah pertama kalinya gadis itu keluar sendirian. Karena itu perasaan Puteri Juwita menjadi agak gugup.


Puteri Juwita berjalan sambil mengingat-ingat jalan. Rasanya sangat aneh berjalan sendirian seperti ini. Namun dia berusaha untuk tetap tenang seolah sudah biasa melewati jalan ini.


"Aaaakh! " Puteri Juwita berteriak kencang saat tiba-tiba seseorang memegang pundaknya.


"Sssttt.. tenang. Ini aku! " Seorang pemuda tampan tiba-tiba muncul di belakangnya. Rambutnya yang panjang sebahu digerai bebas.


"Siapa kau? " Puteri Juwita bertanya dengan suara gemetar. Gadis itu berusaha mati-matian untuk tidak menunjukkan ketakutannya, padahal tangannya gemetar hebat.


"Kenalkan namaku Bagaskara! " Pemuda itu mengulurkan tangannya.


Puteri Juwita berusaha mengingat-ingat dimana dia pernah mendengar nama itu.


"Aku Juwita! " Jawab Puteri Juwita tanpa menyambut uluran tangan pemuda itu.


"Apa kau tidak mengenaliku? " Tanya Bagaskara. Dia agak kecewa karena ada seseorang yang tidak mengingatnya setelah menonton pertandingannya.


"Kenapa aku harus mengenalimu. Memangnya kau siapa? " Puteri Juwita benar-benar tidak ingat padanya.


"Sudahlah, lupakan saja! " Pemuda itu sudah pasrah.


Puteri Juwita berjalan sambil mewaspadai pemuda asing yang berjalan di sebelahnya itu.


"Apa kau sekolah di Griya Pitutur? "


"Kau tahu? "


"Kau tidak terlihat seperti rakyat jelata bagiku." Pemuda itu memperhatikan penampilan Puteri Juwita yang tak biasa. Rambutnya perak dengan bentuk telinga yang runcing. Sebuah tahi lalat menghiasi pipinya yang mulus.


"Kutebak kau berasal dari Kerajaan Elfian? "


"Oh, karena penampilanku, kurasa? " Puteri Juwita menghembuskan napas kasar seolah-olah bosan karena telah mendengar pernyataan yang sama berulang-ulang.


"Jangan tersinggung. Menurutku kau sangat cantik. " Puji Bagaskara, namun pujian itu tidak menyebabkan gadis itu tersipu.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di dekat sekolah. Wajah Puteri Juwita berubah cerah. Perubahan itu tertangkap jelas di mata pemuda dengan rambut sebahu itu.


"Kurasa kau sudah sampai? " Bagaskara menatap Puteri Juwita dengan agak canggung.


"Ya, aku sudah sampai. Terima kasih sudah menemaniku." Puteri Juwita tersenyum lebar. Wajahnya seakan bersinar dengan aura kebahagiaan.


"Tidak masalah, aku bersedia menemanimu lagi lain kali. " Pemuda itu tersenyum.


Puteri Juwita mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Namun tiba-tiba gadis itu teringat sesuatu, dia langsung berbalik dan melihat ke arah Bagaskara.


"Apa mungkin kau tadi ikut bertanding di stadion? " Tanya Puteri Juwita sedikit berteriak.


"Akhirnya kau ingat! " Jawab pemuda itu sambil mengedipkan matanya.

__ADS_1


Puteri Juwita tersentak. Jadi benar kalau dia adalah orang itu?


__ADS_2