
Puteri Elok merasa kedinginan karena pakaiannya basah. Wanita itu terlihat kebingungan karena tidak membawa baju ganti.
"Lepas pakaianmu dan jemur sebentar!" Pangeran Gaurav berkata sambil melepas pakaiannya sendiri.
Puteri Elok terkagum-kagum memandangi tubuh pria yang bertelanjang dada itu. Tubuhnya berotot dan terlihat mengesankan. Kulitnya yang agak gelap tampak berkilauan dibawah matahari.
Pria itu memeras bajunya kemudian menjemurnya di atas ranting. Kemudian dia melepas sepatunya yang berisi air dan membuang airnya.
Setelah selesai, Pangeran Gaurav berbalik dan melihat Puteri Elok yang masih duduk sambil mengamatinya.
"Kenapa kau belum melepas pakaianmu yang basah itu? " Tanya Pangeran Gaurav heran.
Tiba-tiba wajah Puteri Elok terasa panas karena tertangkap basah memandangi tubuh pria itu. Kulit wajahnya kini berubah merah sampai ke telinga. Wanita itu segera memalingkan wajahnya.
"Aku tidak mungkin melepas pakaianku di sini!" Puteri Elok tentu saja merasa malu untuk melepas pakaiannya di depan seorang pria.
"Kalau pakaianmu tidak dijemur nanti kau bisa sakit. "
"Tidak apa-apa."
Pangeran Gaurav kemudian berjalan menuju kudanya dan mengambil selembar selimut di kantung pelananya. Kemudian dia menghampiri Puteri Elok dan menyampirkan selimut itu di pundak wanita itu.
"Jemurlah pakaianmu, aku tidak akan mengintip. "
Puteri Elok agak ragu untuk melepas pakaiannya, tapi tubuhnya sekarang kedinginan dan dia bisa terkena flu jika terus memakai pakaian yang basah. Akhirnya dia bersembunyi di balik pohon zaitun dan melepaskan pakaian dan sepatunya. Tubuhnya dia bungkus rapat dalam selimut.
Dengan susah payah wanita itu berusaha menjemur pakaiannya di ranting pohon. Dia melompat-lompat sambil memegangi selimut yang membungkusnya. Ketika melompat untuk kesekian kalinya, tanpa sengaja dia menginjak ujung selimut yang menyebabkannya terjatuh.
Bruukk!
Mendengar suara benda jatuh, Pangeran Gaurav segera datang. Pria itu tercengang melihat Puteri Elok tersungkur di tanah dengan selimut membelit tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan? "
Pangeran Gaurav tersenyum geli melihat Puteri Elok tertelungkup dalam posisi lucu. Puteri Elok melihat pria itu menertawakannya. Wajahnya jadi cemberut.
"Tolong aku! " Dengan menahan malu Puteri Elok meminta bantuan Pangeran Gaurav karena dia tidak bisa bangun.
Pangeran Gaurav kemudian mengangkat tubuh Puteri Elok dan membantunya berdiri. Kemudian diambilnya pakaian wanita itu dan menjemurnya di ranting pohon. Sepatu Puteri Elok juga dia jemur di sebelah sepatunya.
Pria itu tersenyum melihat ukuran sepatu wanita itu begitu kecil jika dibandingkan sepatunya. Tanpa sadar diliriknya kaki Puteri Elok yang tanpa alas kaki.
Kaki itu terlihat mungil dan cantik. Kuku-kukunya jernih dan telapak kakinya berwarna merah muda. Dia belum pernah melihat kaki secantik itu.
Puteri Elok memilih duduk bersandar di batang pohon. Lama-kelamaan wanita itu tertidur karena kelelahan.
Sudah cukup lama mereka beristirahat, pakaian yang dijemurpun sudah kering. Pangeran Gaurav memakai kembali pakaiannya lalu mengangkat pakaian milik Puteri Elok. Dia kemudian menghampiri wanita itu untuk memberikan pakaiannya.
Namun dia tertegun melihat Puteri Elok yang sedang tertidur. Perlahan-lahan Pangeran Gaurav mendekat dan berjongkok di depan wanita itu. Menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya. Mengagumi wajahnya yang terpahat sempurna.
Saat pandangannya turun pada bibir tipis yang berwarna merah ceri, tiba-tiba dia teringat saat memberikan napas buatan pada wanita itu. Dia telah merasakan kelembutan bibir itu. Dan dia ingin lagi. Tanpa sadar jarinya menyentuh bibir Puteri Elok.
Bagaimana sekarang? Kenapa dia tidak bisa melupakannya? Pangeran Gaurav menarik dirinya menjauh dari Puteri Elok. Dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba otaknya bisa berpikir mesum pada wanita itu. Padahal selama ini dia mati-matian menolak Puteri Elok. Supaya tidak khilaf, Pangeran Gaurav pergi memberi makan kudanya.
__ADS_1
Sementara itu, Puteri Elok yang terbangun karena merasakan sentuhan lembut di bibirnya menghembuskan napas lega. Tadi dia sempat melihat Pangeran Gaurav memandanginya dan menyentuh bibirnya. Karena gugup, wanita itu sampai menahan napas.
Kemudian Puteri Elok mengambil pakaiannya dan memakainya di balik pohon. Setelah selesai, dia mendekati Pangeran Gaurav.
"Apakah kita akan berangkat sekarang? " Suaranya mengejutkan Pangeran Gaurav, pria itu terlonjak.
"Kalau kau sudah siap, ayo! "
"Aku siap! " Puteri Elok tersenyum ceria, bunga-bunga seakan sedang bermekaran di dadanya.
Pangeran Gaurav agak heran dengan perubahan sikap Puteri Elok yang sejak tadi terlihat murung. Namun dia enggan menanyakannya.
Puteri Elok menunggangi kudanya dengan gembira, sesekali diliriknya Pangeran Gaurav yang menunggang kudanya sambil menarik kuda milik Eldrige.
Mereka berkuda tanpa henti dan tiba di perbatasan Kerajaan Alsatia tepat sebelum matahari terbenam.
*****
Selesai bertugas, Raja Satria memeriksa mayat korban pembunuhan tadi malam. Ini adalah korban ketiga dalam rentang waktu satu bulan. Kondisi mayat itu sangat mengerikan. Selain tubuhnya dicabik-cabik, jantung dan ginjalnya juga menghilang.
Jika pembunuhnya adalah binatang buas, pastilah meninggalkan jejak. Jadi kemungkinan pelakunya adalah manusia atau makhluk buas yang cerdas.
"Sudahkah kau pastikan bahwa yang di lehernya adalah sisik ikan?" Tanya Raja Satria pada Radit, seorang Penyidik Kerajaan.
"Saya tidak bisa mengatakan bahwa itu pasti sisik ikan, namun bentuk dan baunya memang identik dengan sisik ikan."
"Baiklah." Raja Satria terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Lalu tubuh korban dicabik-cabik menggunakan apa? "
"Aneh! " Gumam Raja Satria.
"Dari ketiga korban itu, korban pertama menunjukkan kondisi seperti mengalami tenggelam. Paru-parunya berisi air padahal dia ditemukan di rumahnya." Penyidik itu membaca catatannya.
"Lalu apakah ada persamaan latar belakang dari para korban? "
"Sayangnya mereka berasal dari latar belakang dan profesi yang berbeda. Hanya saja, mereka semua baru saja pulang dari bepergian ke Kerajaan lain."
"Kerajaan mana? "
"Korban pertama baru kembali dari Kerajaan Nord empat minggu yang lalu. Korban kedua baru kembali dari Kerajaan Alsatia empat minggu yang lalu. Korban ketiga baru kembali dari Kerajaan Nord empat minggu yang lalu. "
"Mereka sama-sama kembali empat minggu yang lalu? "
"Mungkinkah mereka saling mengenal? "
"Menurut kerabat dan para kenalan, mereka bertiga tidak saling mengenal. "
"Atau jangan-jangan mereka berjumpa di perjalanan? " Tebak Raja Satria.
"Itu bisa saja karena mereka bepergian seorang diri. Jadi tidak ada yang bisa memastikannya. "
"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Jika ada perkembangan, kau bisa menghubungiku. "
__ADS_1
"Baik, Yang Mulia." Penyidik Kerajaan Radit membungkuk hormat.
Raja Satria berjalan keluar dari kamar mayat. Saat bertemu dengan Atmaja, orang kepercayaannya, Raja Satria segera memberikan perintah khusus.
"Tingkatkan penjagaan di seluruh wilayah Elfian. Termasuk wilayah perbatasan! "
"Baik, Yang Mulia! "
Raja Satria kemudian kembali ke Wisma Raja. Di sana Ratu Gita sedang menunggunya.
"Apa kau menungguku, sayang? "
"Iya, aku sengaja menunggumu." Ratu Gita memeluk lengan suaminya.
"Ada apa, sayang? "
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." Ratu Gita memberikan sebuah buku kepada suaminya.
"Buku? "
"Aku menemukannya tadi di perpustakaan. " Ratu Gita mengajak suaminya duduk. "Coba lihat ini! "
Ratu Gita memperlihatkan sebuah gambar makhluk yang menyerupai puteri duyung.
"Rusalqa . " Gumam Raja Satria.
"Menurut buku ini, Rusalqa adalah makhluk yang tinggal di air. Namun biasanya mereka tidak mendekati manusia kecuali mereka telah diganggu."
"Maksudmu mereka adalah makhluk pendendam? " Raja Satria memandangi gambar makhluk setengah ikan itu.
"Bisa dikatakan seperti itu."
"Lihat ini! Mereka kadang tertarik secara seksual kepada manusia." Raja Satria merasa kaget.
"Apakah para korban mengalami pelecehan?" Tanya Ratu Gita dengan serius.
"Tidak. Semua korban adalah laki-laki." Raja Satria mengatakannya seolah-olah hanya perempuan yang bisa dilecehkan.
"Laki-laki juga bisa menjadi korban pelecehan!" Ratu Gita mengingatkan.
"Aku tidak bisa membayangkannya." Pria itu bergidik ngeri.
"Jangan dibayangkan! "
"Ini ada keterangan lain lagi. Para Rusalqa akan membunuh manusia yang mengganggu habitatnya atau menyakiti mereka. Biasanya mereka akan mencabik-cabik korbannya dan mengambil organ tubuhnya untuk cinderamata." Setelah membacanya Raja Satria nampak berpikir keras.
"Sampai di sini kurasa ada sedikit persamaan dengan kondisi para korban pembunuhan itu." Ratu Gita mengemukakan pendapatnya.
"Ini ciri-ciri mereka. Separuh manusia dan separuh ikan. Mereka selalu dalam kondisi basah dan tidak akan jauh-jauh dari air." Ratu Gita melanjutkan membaca keterangan di buku.
"Tapi kondisi para korban tidak basah. Hanya ada satu korban yang ditemukan dalam kondisi paru-paru dipenuhi air. Namun dia tidak ditemukan di dalam air. "
"Aneh! " Ratu Gita mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Sudahlah sayang, nanti kita pikirkan lagi. Aku senang kau sudah membantuku." Raja Satria mengecup kening istrinya.