Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 43 Pesta Di Istana


__ADS_3

"Apa kau betul-betul sudah membaik? Aku tidak ingin kau mengamuk dan menakuti istriku yang sedang hamil!"


Raja Satria memandang Eldrige dengan senyum meledek, ketika peri itu datang menemuinya di ruang tamu Wisma Raja.


Ratu Gita menatapnya khawatir, namun tidak berani bertanya. Dia takut kalau suaminya akan marah lagi.


"Saya baik-baik saja. Yang Mulia tidak perlu cemas!" Jawab Eldrige dengan perasaan dongkol.


"Aku berencana untuk mengadakan pertemuan Liga Kerajaan di sini, setelah pasukan Elfian yang kemarin pergi berperang kembali dari Kerajaan Angsana." Ucap Raja, kali ini nada suaranya terdengar serius.


"Aku juga ingin kau hadir untuk memberikan pendapat yang berhubungan dengan bahaya sihir." Lanjutnya sambil mengelus tangan istrinya yang dari tadi digenggamnya.


"Baik, Yang Mulia!" Jawab Eldrige.


Ratu Gita hanya diam mendengarkan. Dia bertanya-tanya apakah ayahnya akan datang kemari. Ataukah hanya akan diwakilkan oleh Gaurav?


Meskipun sejak kecil dia selalu dijauhi oleh ayahnya, namun ada perasaan rindu yang tak mampu dia cegah pada pria tua itu. Sebuah ikatan batin yang tak akan pernah bisa disangkal oleh siapapun.


"Apakah ayahku akan hadir?" Dengan raut sedih Ratu Gita bertanya pada suaminya, setelah Eldrige pergi.


"Ya, seharusnya begitu."


Raja Satria bisa merasakan kesedihan istrinya itu meskipun tidak mengetahui masalah yang sebenarnya. Dia hanya merasa bahwa hubungan antara ayah dan anak itu kurang akur.


"Kuharap ayahku akan ikut senang dengan kehamilanku ini." Ucap wanita itu sambil mengelus perutnya.


"Hei, jangan murung! Bukankah aku sebagai ayah bayi ini merasa sangat...sangat...bahagia menyambut kehadirannya? Apa kau tidak merasa itu sudah cukup?" Raja Satria menatap mata istrinya yang kini berkaca-kaca.


"Iya, itu cukup bagiku."


Ratu Gita tersenyum sambil mengangguk. Hatinya merasa tersentuh dengan ucapan suaminya.


Jika nanti ayahnya tidak menyayangi bayi di dalam kandungannya, itu tidak masalah. Cinta dan kasih sayangnya dan juga suaminya sudah cukup untuk membekali kehidupan anaknya kelak.


*****


Seluruh Kerajaan Elfian menyambut kedatangan pasukan yang kembali dari berperang. Sepanjang jalan mereka dielu-elukan oleh rakyat.


Raja Satria memberi sambutan kepada mereka dan menyelenggarakan pesta penyambutan. Para prajurit itu berbaur dengan pasukan yang berjaga di istana. Mereka sama-sama telah berjuang demi negara.


Esme dan Talitha terlihat sibuk bergosip mengenai para prajurit yang terlihat gagah itu. Mereka berdua beberapa kali terlihat menebar pesona di depan para prajurit itu.


"Apa ada pemuda yang kalian sukai?" Tanya Ratu Gita sambil tersenyum.


"Maaf, Yang Mulia. Sebenarnya kami hanya iseng." Jawab Esme malu-malu sambil menyikut lengan Talitha.


"Iya, betul Yang Mulia." Talitha mengiyakan ucapan temannya.


"Aku tidak melarang kalian untuk menyukai mereka. Tapi aku berharap kalian akan bertindak bijaksana agar tidak merugikan diri kalian sendiri." Ratu Gita menasehati mereka.

__ADS_1


Kedua gadis itu mengangguk. Menyadari kekonyolan sikap mereka di depan para prajurit itu.


"Aku berharap kalian mendapatkan pemuda yang baik dan tulus menyayangi kalian." Sambung wanita itu.


"Iya, Yang Mulia. Kami mengerti. Maafkan sikap kami yang sudah tidak sopan dan memalukan." Jawab Talitha dengan perasaan malu.


"Tidak apa-apa, aku tidak menyalahkan kalian." Ratu Gita menggenggam tangan Esme dan Talitha.


Kedua gadis berambut merah itu tersenyum bahagia. Mereka bersyukur bisa mengenal Ratu Gita secara pribadi.


"Bagaimana pendapat kalian tentang Galih dan Anjas? Mereka berdua pemuda yang baik dan sopan."


Pertanyaan Ratu Gita sontak membuat wajah kedua gadis itu bersemu merah. Kedekatan mereka dengan kedua pemuda itu selama beberapa hari memang sempat menimbulkan desiran aneh di dada mereka. Namun sikap dingin kedua pemuda itu membuat mereka takut berharap.


"Mereka baik. Terutama Anjas, dia sering membantu saya memetik sayuran di kebun." Esme berbicara sambil membayangkan seorang pemuda berambut cokelat keemasan yang sangat tampan.


"Betul Yang Mulia. Mereka berdua sangat baik. Galih pernah membantu saya mengikat tali jemuran yang putus." Talitha juga ikut menyebut nama seorang pemuda pendiam bertampang macho.


"Malam ini akan ada acara dansa di pesta. Siapa tahu mereka ingin mengajak kalian?" Ratu Gita melihat mereka tersenyum malu-malu.


"Tapi mereka sangat pendiam." Keluh Esme sambil jarinya memainkan ujung rambutnya.


"Bagaimana jika mereka kuperintahkan untuk menemani kalian di pesta?" Tanya Ratu Gita sambil menahan senyum.


"Benarkah? Tentu saja kami mau!" Jawab mereka berdua kompak.


"Baiklah. Sekarang kalian bersiap-siaplah untuk pesta nanti malam!" Perintah Ratu Gita.


Teman-teman mereka yang tinggal di asrama pelayan pun tengah sibuk bersiap-siap ke pesta. Jarang-jarang di istana mengadakan pesta untuk para prajurit yang boleh dihadiri oleh semua pegawai istana.


Ratu Gita menyuruh seorang pengawal untuk memanggil kedua pemuda itu, Galih dan Anjas. Mereka baru saja selesai bertugas.


"Aku ingin meminta tolong kepada kalian." Ratu Gita memandang kedua pemuda itu dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.


Kedua pemuda itu saling berpandangan, mereka merasa akan mendapatkan tugas yang penting.


"Bisakah kalian menjaga dua orang tamu di pesta nanti malam?"


"Kami bersedia, Yang Mulia!"


Sebenarnya mereka berharap bisa menghadiri pesta itu setelah bertugas, bukannya kembali mendapatkan tugas baru. Namun permintaan seorang Ratu merupakan perintah yang tak mungkin mereka tolak.


Pesta yang diadakan di kebun istana malam itu terlihat meriah. Ratusan lampion berwarna putih dan biru menggantung di atas. Lilin-lilin beraroma bunga juga di bakar di dalam wadah-wadah perak yang indah. Bunga-bunga segar melengkapi dekorasi pesta.


Raja menyewa pelayan-pelayan dari luar istana untuk melayani di pesta itu. Mereka menghidangkan makanan dan kue-kue yang lezat. Tak lupa minuman sari buah yang sudah difermentasi disuguhkan dalam teko-teko berleher angsa.


Musik yang indah mengalun menemani pesta yang meriah itu. Beberapa pasangan bahkan sudah mulai berdansa.


Galih dan Anjas berdiri di pinggir dekat meja hidangan. Mereka menunggu tamu yang harus mereka jaga malam itu.

__ADS_1


Tiba-tiba Raja Satria dan Ratu Gita hadir di tengah-tengah pesta. Mereka berdua terlihat sangat serasi malam itu dengan pakaian pesta berwarna hitam. Rambut hitam Ratu Gita di sanggul asal dan menyisakan beberapa helai di tengkuknya.


Para hadirin yang terdiri dari para prajurit, pelayan dan staf kerajaan bertepuk tangan meriah menyambut Raja dan Ratu mereka.


Ratu Gita kemudian mendekati dua orang pemuda yang sudah menunggu dari tadi.


"Malam ini aku perintahkan kalian berdua untuk mendampingi kedua gadis cantik ini sampai pesta usai!"


Kedua pemuda itu terkagum-kagum melihat dua orang gadis yang sangat cantik dalam balutan gaun pesta berwarna biru muda yang muncul di belakang Ratu Gita.


Mereka terbelalak kaget begitu menyadari bahwa kedua gadis itu adalah Esme dan Talitha. Rambut merah keduanya berkilau laksana cahaya api yang sangat indah.


"Aku serahkan mereka kepada kalian!"


Ratu Gita berkata pada Galih dan Anjas. Setelah itu dia segera melangkah pergi namun wanita itu sempat menoleh ke arah Esme dan Talitha sambil mengedipkan sebelah matanya.


Mereka berempat berdiri berhadapan dengan perasaan kikuk. Antara senang dan malu.


"Apa kalian haus?" Tanya Galih untuk mencairkan suasana.


Kedua gadis cantik itu mengangguk. Mereka berdua berusaha mati-matian agar terlihat anggun.


Galih mengambil gelas berleher panjang yang berisi minuman dan memberikannya kepada Talitha. Begitu juga Anjas, dia juga mengambilkan segelas minuman untuk Esme.


"Terima kasih." Ucap Esme sambil tersenyum manis kepada Anjas.


Pemuda itu tersipu malu. Senyum yang tampak kaku tersungging di bibirnya.


Mereka berdua adalah pemuda yang tidak pernah dekat dengan gadis manapun, jadi mereka tidak pandai merayu dan memuji seorang gadis.


Keringat dingin mulai membasahi kening mereka. Bagi mereka, menghadapi musuh dalam pertarungan lebih mudah daripada menghadapi seorang gadis.


"Apa kau tidak ingin mengajakku berdansa?" Tanya Esme tidak sabar.


"Ah, tentu saja. Eh, maksudku.. Maukah kau berdansa denganku?" Anjas mengulurkan tangannya pada Esme.


Gadis itu langsung menyambutnya tanpa malu-malu. Mereka segera menuju lantai dansa, Esme menautkan tangannya ke bahu pemuda itu. Anjas tampak ragu untuk memeluk pinggang gadis itu. Namun Esme dengan cepat menaruh tangan pemuda itu di pinggangnya.


Talitha yang melihat sahabatnya itu sudah berdansa dengan Anjas, segera mengulurkan tangannya kepada Galih dengan pandangan mengintimidasi.


"Bolehkah aku mengajakmu berdansa?" Galih memberanikan diri bertanya.


"Tentu saja. Aku sudah menunggunya dari tadi!" Gadis itu tersenyum saat Galih meraih uluran tangannya.


Mereka kemudian menyusul temannya ke lantai dansa. Mereka semua sangat menikmati pesta ini.


Raja Satria dan Ratu Gita duduk di kursi kehormatan. Raja Satria menggenggam tangan istrinya.


"Apa kau ingin berdansa?" Bisiknya.

__ADS_1


"Ya, tapi nanti setelah bayi ini lahir." Balas Ratu Gita sambil tersenyum.


Malam ini adalah malam yang sangat indah di Istana Elfian.


__ADS_2