Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 144 Pertemuan


__ADS_3

"Ada sesuatu di sini, Yang Mulia! " Teriak seorang prajurit dari sebuah ruangan.


Raja Gaurav melihat prajurit itu mengetuk-ngetuk lantai.


Deng.. deng..


Suara yang dihasilkan seolah dibawah sana terdapat rongga. Prajurit-prajurit itu terus mengetuk-ngetuk.


Ctek.


Brak!


Tiba-tiba lantai terbuka. Di dalam sana terdapat anak tangga yang terlihat menuju ke bawah.


Dengan hati-hati Raja Gaurav turun. Tempat itu gelap dan lembap. Salah seorang prajurit menyalakan lentera dari ruangan atas. Cahaya lentera menyeruak lorong yang gelap. Mereka berjalan turun dengan suara gema langkah mereka memantul pada dinding batu.


Di akhir lorong terdapat pintu yang digerendel. Dengan tidak sabar Raja Gaurav segera membuka pintu itu.


"Siapa? " Suara-suara lemah datang dari dalam ruangan yang gelap itu.


Prajurit mendekatkan lentera. Terlihat tubuh-tubuh kurus dan lemah tergeletak di lantai. Bau busuk dan pesing tercium dari ruangan itu.


"Cepat bawa bawa mereka ke atas! " Kata Raja Gaurav ketika tidak melihat kedua keponakannya.


Dia tidak tahan berada di ruangan itu dan segera naik ke atas. Prajurit-prajurit membawa orang-orang yang berada di ruang bawah tanah ke atas.


Orang-orang itu berjumlah 5 orang, dua diantaranya sudah meninggal. Bersama para prajuritnya, Raja Gaurav menguburkan mayat dari ruang bawah tanah dan mayat biarawan yang pertama ditemukan.


"Katakan padaku, di mana sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan yang dibawa kemari? " Tanya Raja Gaurav pada salah seorang yang selamat.


"Kedua anak itu dibawa oleh Guru Shani."


"Kenapa? "


"Saat kedua anak itu datang, Guru Shani menolaknya karena mereka masih terlalu kecil. Lagipula salah satu dari mereka adalah perempuan." Biarawan itu menghela napas panjang, dadanya yang kurus terlihat naik turun.


"Apakah orang-orang itu adalah prajurit Alsatia? "


"Benar. Mereka berkata bahwa kedua anak itu adalah anak-anak mendiang Raja Sagar jadi kami harus mau menerimanya. Namun ketika Guru Shani menanyakan alasan kenapa kedua anak itu kemari, mereka malah memukulinya." Biarawan itu terengah-engah.


"Melihat hal itu kami berusaha menolong beliau, para prajurit itu kemudian menyerang kami. Pada suatu kesempatan kami berhasil menolong Guru Shani melarikan diri bersama kedua anak itu. "


"Ke mana Guru Shani membawa mereka? "


"Ke istana Watu Ijo. "


"Apa? Kenapa? " Raja Gaurav tercengang mendengar penuturan biarawan itu.


"Karena Guru Shani menganggap bahwa penguasa Kerajaan Watu Ijo pasti bersedia membantunya. "


*****


Eshwar mendapat informasi dari rekan sesama kusir sewaan bahwa beberapa waktu yang lalu ada serombongan orang asing yang berprofesi sebagai tabib menyewa jasanya untuk mengantar mereka ke gunung Taevas.


Ciri-ciri yang disebutkan oleh orang itu mirip sekali dengan ciri-ciri keluarga Tabib Bagio. Oleh karena itu Eldrige tidak mau menunggu lama lagi dan segera pergi ke gunung Taevas bersama Eshwar.

__ADS_1


Eldrige membeli seekor kuda untuk Eshwar. Mereka berkuda tanpa henti dengan harapan akan segera menemukan Puteri Juwita.


Mereka sampai di kaki gunung Taevas sudah sore. Menurut seorang petani yang mereka jumpai, ada sebuah penginapan di atas sana. Mereka kemudian menuju ke penginapan itu.


"Tuan bukan dari daerah sini? " Tanya wanita pemilik penginapan ketika dia mengantar tamunya itu ke kamar.


"Benar." Jawab Eldrige.


"Adakah yang Tuan cari di daerah terpencil ini? " Tanya wanita itu ingin tahu.


"Aku mencari seorang tabib." Kata Eldrige.


"Ah, tabib baru itu? Sekarang mereka memang sudah terkenal sejak menangani keluarga yang keracunan itu. Apalagi keluarga kerajaan kabarnya juga datang ke sana. " Wanita itu berbicara panjang lebar tanpa ditanya.


"Kau mengenal mereka? " Eldrige mulai menunjukkan ketertarikan.


"Mereka sempat menginap di sini sebelum pindah ke desa Kulm. Dan saya juga yang merekomendasikan rumah yang mereka tempati sekarang. " Ucap wanita itu bangga.


"Apakah masih jauh dari sini? " Eldrige merasa ingin membatalkan niatnya menginap di sana.


"Sekitar satu jam perjalanan. Tapi sebaiknya Tuan bermalam di sini. Jurang membentang sepanjang jalan dan keadaan sangat gelap tanpa penerangan. Bisa-bisa Tuan celaka jika nekat pergi sekarang. Besok pagi Tuan bisa melanjutkan perjalanan agar selamat." Wanita itu seolah bisa membaca gelagat Eldrige.


"Baiklah." Eldrige masuk ke kamar. Dia juga telah memesan kamar satu lagi untuk Eshwar.


Eldrige tidur lebih awal dan melewatkan makan malam. Tubuhnya terasa sangat lelah.


Besoknya, Eldrige bangun sebelum subuh. Dia mandi dan berganti pakaian. Ketika Eshwar mengetuk pintu kamarnya, Eldrige sudah berpakaian rapi.


"Kita berangkat sekarang, Eshwar! " Eldrige berjalan dengan cepat. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Puteri Juwita.


"Tidak usah. Aku sedang buru-buru. " Tolak Eldrige.


"Tapi teman Tuan kelihatan pucat. Semalam dia menolak makan karena Tuan juga tidak makan. " Wanita itu memandang Eshwar dengan cemas.


Eldrige menoleh pada Eshwar, memperhatikan pemuda yang berdiri sambil menundukkan kepala. Sesaat dia lupa bahwa sekarang ada seseorang yang bersamanya.


"Eshwar, pergilah makan! " Suruh Eldrige.


"Saya tidak bisa makan jika Tuan tidak juga tidak makan. " Pemuda itu menggeleng pelan.


Eldrige menghela napas. Dia akhirnya mengalah dan melangkah ke ruang makan. Pelayan datang membawakan mereka makanan. Eldrige menyantapnya tanpa selera. Berbeda dengan Eshwar yang sudah sangat kelaparan, dia menyantap dan menghabiskan semua makanan yang dihidangkan di meja.


Setelah makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Jalanan agak gelap karena kabut masih menutupi pandangan. Namun Eldrige tetap memacu kudanya dengan kencang meski jarak pandang benar-benar terbatas.


Hiih...!


Tiba-tiba kuda yang ditunggangi Eldrige meringkik sambil mengangkat kedua kaki depannya. Sepertinya ada seseorang di dalam kabut yang hampir tertabrak. Eldrige segera turun untuk memeriksa.


"Maaf, saya tidak melihat ada yang berdiri di sini. " Eldrige berjalan menyibak kabut. Seorang wanita dengan kain sutra menutupi kepalanya berdiri di hadapannya.


Wanita itu tidak menjawab, dia hanya melangkah minggir untuk memberi jalan. Ada perasaan aneh yang dirasakan Eldrige. Setelah dia naik ke punggung kuda pun dia masih memikirkan wanita itu.


"Ada apa Tuan? " Pertanyaan Eshwar mengagetkan Eldrige. Rupanya dari tadi dia masih melamun di atas punggung kuda.


"Tadi ada seorang wanita di sana. " Kata Eldrige agak linglung.

__ADS_1


"Wanita? Saya tidak melihat siapapun, Tuan." Eshwar kebingungan karena dari tadi dia hanya melihat Eldrige melamun.


"Ah, lupakan. " Eldrige kembali menghela kudanya dan membuat binatang itu kembali berlari.


Mereka sampai di desa Kulm tak lama kemudian. Kabut yang turun sudah sepenuhnya pudar. Irama kehidupan desa itu sudah tampak dari warganya. Para wanita yang berpakaian dengan warna-warna mencolok sedang sibuk menjemur pakaian di halaman. Anak-anak kecil berkejaran di bawah tali jemuran.


"Kita harus bertanya pada mereka, Tuan." Kata Eshwar.


"Bertanyalah."


Eshwar segera pergi mendatangi kerumunan wanita yang sedang menjemur pakaian dan menanyakan rumah tabib. Dengan berebut dan tanpa malu-malu mereka saling meneriakkan arah menuju rumah tabib.


"Terima kasih, ibu-ibu. " Eshwar tersenyum. Meskipun wanita-wanita itu berbicara dengan ribut, tapi Eshwar dapat memahaminya.


"Kita ke arah sana, Tuan. " Kata Eshwar ketika dia sudah kembali.


Mereka segera menuju arah yang ditunjukkan oleh wanita-wanita tadi.


*****


Puteri Juwita sedang menjemur selimut-selimut di halaman ketika ada suara derap kuda mendekat. Dengan langkah-langkah kecil, gadis itu berjalan sambil menyibak selimut-selimut yang menggantung di tali jemuran untuk melihat siapa yang datang.


Ketika dia kembali menyibak kain selimut, tiba-tiba dia menabrak tubuh seseorang. Tubuh orang itu tinggi dan kepala gadis itu hanya mencapai dadanya.


"Aduh! " Puteri Juwita terhuyung mundur sambil memegangi hidungnya yang terasa sakit. Setitik air mata menggenang di sudut matanya karena rasa sakit di hidungnya.


"Kau tidak apa-apa? Coba kulihat. " Orang itu meraih wajahnya dan sepasang matanya memindai dengan seksama.


"Hah? " Puteri Juwita tersentak ketika melihat wajah orang itu. "Ka..kau..? "


"Kenapa melihatku seperti itu? " Senyuman tipis khas orang itu membuat jantung gadis itu berdegup kencang.


"Kenapa kau ada di sini? " Puteri Juwita belum beranjak dari rasa terkejutnya.


"Karena untuk menemuimu. " Orang itu berjalan mendekati Puteri Juwita yang kini melangkah mundur.


"Eldrige! " Bibir gadis itu bergetar ketika menyebut nama itu. Nama dari pria yang sangat dicintainya. Pria yang sangat dirindukannya. Dan sekarang pria itu berada di hadapannya.


"Juwita." Tangan Eldrige terulur untuk membelai kepala gadis itu.


Perasaan kaget bercampur rindu yang tak terlukiskan kini dirasakan gadis itu. Betapa rindunya dia mendengar suara Eldrige yang lembut. Betapa rindunya dia memandang sepasang mata merah yang memandangnya penuh rindu itu. Betapa rindunya dia pada sentuhan dan aroma tubuh Eldrige yang membuatnya mabuk kepayang.


Namun ancaman Nona Sekar masih lekat di benaknya. Dia telah mengucap janji untuk menjauhi Eldrige sebagai ganti nyawa pria itu.


"Tidak. Pergilah Eldrige! " Tangan gadis itu mendorong dada Eldrige agar menjauh, tapi Eldrige menangkap tangannya.


"Tidak, Juwita. Sampai kapanpun aku tidak akan pergi. " Kata Eldrige sambil menggenggam tangan Puteri Juwita.


"Aku perintahkan kau untuk pergi, Eldrige! " Teriak gadis itu.


"Tidak, Juwita. Tidak! " Eldrige menarik tangan Puteri Juwita dan memeluk tubuh gadis itu.


"Pergilah Eldrige! " Teriakan Puteri Juwita melemah. Dia terisak dalam pelukan Eldrige.


"Jangan pernah menyuruhku pergi! " Kepala Eldrige menyuruk ke bahu Puteri Juwita. Isakan gadis itu sangat jelas di telinganya.

__ADS_1


Eldrige tidak tahu kenapa sikap Puteri Juwita jadi seperti ini. Dia tidak menyangka jika gadis itu akan menolaknya. Tapi dia sudah bertekad akan membawa pulang gadis itu bagaimanapun caranya.


__ADS_2