Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 168 Menemukan Mangal Arti


__ADS_3

"Siapa kau?"


Puteri Juwita berbalik ketika seseorang bertanya. Dia sekarang sedang berdiri di pelataran reruntuhan sebuah kuil.


"Apa kau pendeta Jairam?" tanya Puteri Juwita sambil melangkah mendekati seorang lelaki berjanggut dengan pakaian pendeta.


"Benar. Kau mencariku?"


"Ibunda raja mengutusku untuk menemuimu. Aku disuruh mengambil ..."


"Mangal Arti. Ah, tentu saja. Bodoh sekali aku tidak langsung mengenalimu. Silakan masuk, semuanya sudah siap." Lelaki itu tersenyum lebar.


Puteri Juwita merasa heran karena seolah-olah pendeta itu telah menunggunya.


"Apa kau mengenalku?"


"Tentu saja. Kau adalah sang pewaris Mangal Arti," jawab Pendeta itu.


"Kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu? Apa alasannya?"


"Jelas sekali bahwa di tubuhmu tidak hanya bersemayam satu jiwa. Ada roh yang sangat agung yang juga bersemayam dalam tubuhmu."


"Maksudmu, Dewa Murr?"


"Rupanya kau sudah tahu. Sungguh beruntung tubuhmu yang lemah itu terpilih menjadi cangkang bagi kekuatan yang maha dahsyat."


"Tapi aku tidak menginginkannya. Aku kemari untuk melepasnya."


"Apa?" Pendeta Jairam terheran-heran. "Bagaimana mungkin ada orang yang begitu bodohnya ingin membuang berkat yang luar biasa ini? Tahukah kau berapa nyawa yang melayang demi bisa mendapatkannya?"


"Aku tidak perduli. Aku hanya ingin terbebas dari Dewa Murr."


"Huh, terserah kau saja. Tapi jangan sampai menyesal dengan keputusanmu."


"Lalu, bisa tolong kau tunjukkan di mana letak Mangal Arti itu?"


"Di sana!" Pendeta itu menunjuk reruntuhan kuil yang terletak di tebing. "Ada sebuah pintu di bawah kuil itu."


"Bisa kau antar aku ke sana?"


Meski tampak kesal, pendeta Jairam tetap mengantar Puteri Juwita ke kuil itu. Dia kemudian menggeser panel yang berada di lantai lalu perlahan-lahan sepetak lantai berukir bunga teratai di lantai kuil itu bergerak.


Grek.


Setelah lantai berukir bunga teratai bergeser, sebuah lubang dengan tangga batu menganga lebar.


"Ambilah sendiri, Mangal Arti itu ada di sana."


Puteri Juwita agak ragu untuk turun ke sana. Bagaimana jika pendeta itu tiba-tiba menguncinya?


"Jangan takut, aku tak akan melakukan hal-hal yang mencelakaimu." Setelah berkata seperti itu pendeta Jairam mengambil sebatang obor yang tergantung di salah satu tembok yang tersisa lalu menyalakannya.


"Bawalah," kata pendeta itu sambil menyerahkan obor kepada Puteri Juwita.


Dengan agak ragu Puteri Juwita menuruni tangga masuk ke dalam lubang di bawah lantai kuil. Bau pengap menusuk hidungnya. Di dalam gelap. Dia melangkah dengan hati-hati dan sekilas melihat lampu minyak. Untuk membuat tempat itu lebih terang, dia menyulut sumbu pada lampu minyak.


Sekarang ruangan itu tampak lebih terang. Sebuah patung dewa Murr tampak berdiri di tengah-tengah dekat dinding. Di lehernya tergantung kalung bunga marigold yang sudah mengering.

__ADS_1


"Di mana benda itu?" Gadis itu membatin.


Matanya menyapu seluruh penjuru ruangan untuk mencari Mangal Arti. Meski dia hanya melihatnya sekilas di dalam mimpi, namun dia yakin akan mengenalinya jika melihat benda itu.


Ruangan itu kosong dan tidak memiliki celah secuilpun agar sinar matahari masuk ke dalam. Di pojok-pojoknya laba-laba bersarang dengan membentangkan jaring yang berkilau kekuningan akibat cahaya api.


Dia berjalan mendekati altar yang berada di depan patung. Mangkuk-mangkuk yang berisi noda kecoklatan yang mengering terlihat berjajar dengan pedupaan yang tertutup debu. Namun selain benda-benda itu tidak ada hal lain lagi di atas altar.


Rasanya dia hampir putus asa mencari di mana letak Mangal Arti berada. Dia sudah ingin menyerah dan bermaksud meminta petunjuk dari pendeta Jairam ketika pandangannya secara tidak sengaja melihat sesuatu yang ganjil pada kaki patung Dewa Murr.


"Apa itu?"


Dia segera mendekat untuk mengamati kaki kiri patung itu. Tidak seperti pada kaki kanan, jempol kaki kiri patung itu tampak bengkok. Puteri Juwita dengan hati-hati meraba jempol itu dan merasakan ada guratan pada pangkalnya. Dia mendekatkan obor dan melihat garis melingkar di pangkal jempol kaki patung itu.


Dengan bersemangat dia menekan jempol kaki itu lalu tanpa terduga patung itu mulai bergerak. Secara reflek Puteri Juwita melompat mundur. Namun sesaat kemudian mulutnya ternganga begitu melihat tembok batu di belakang patung itu berderak membuka. Debu berhamburan dari celah tembok.


"Pintu rahasia?" Gumamnya sambil mengangkat obor untuk menerangi ruangan itu.


Dia kemudian berjalan perlahan-lahan memasuki ruangan di balik tembok itu. Bau harum tercium samar. Dia tidak mengerti, padahal ruangan ini tampak berdebu tebal menandakan sudah lama tidak dibuka. Lantas dari mana datangnya aroma wangi itu.


Dia mengamati ruangan itu, tempat itu benar-benar kosong melompong. Puteri Juwita kemudian meraba-raba dinding, berharap menemukan pintu rahasia lagi. Namun setelah beberapa waktu mencari, semuanya nihil.


"Di mana benda itu? Jangan-jangan benda itu sudah di ambil? Apa pendeta itu sudah membohongiku?" Gumamnya lagi.


Namun dia tidak rela jika perjalanan melelahkan seharian ini tidak membuahkan hasil. Dia tidak boleh menyerah begitu saja. Puteri Juwita kini menggesek-gesekkan sepatunya pada lantai yang berdebu untuk mencari petunjuk, hasilnya debu itu beterbangan memenuhi ruangan itu dan masuk ke saluran pernapasannya.


"Uhuk ... uhuk ..." Dia terbatuk berkali-kali. Tangannya mengibas-ngibas udara untuk menghalau partikel-partikel debu.


Setelah beberapa saat debu-debu itu kembali turun. Kini Puteri Juwita merasa hampir putus asa. Dia kemudian melangkah untuk meninggalkan ruangan itu. Namun begitu kakinya menapak pintu, mendadak tubuhnya seakan tersedot kembali ke dalam dengan kencang sehingga tubuhnya terhuyung dan membentur tembok.


Dia memandang berkeliling dengan curiga. Dia tidak tahu siapa ... atau apa yang telah menarik tubuhnya seperti itu. Kini dia bangkit dan berdiri dengan waspada.


Wuuushh...


Mendadak ada angin meniup obornya sampai padam, begitu juga lampu minyak di ruangan sebelah juga ikut padam. Ruangan itu sekarang gelap gulita.


Puteri Juwita kini gelisah, dia berusaha meraba-raba untuk menemukan pintu. Namun, tiba-tiba dia merasa bahwa kini dia tidak sendiri. Dia merasa ada orang lain yang kini juga berada di ruangan itu.


Adrenalinnya mulai terpompa seiring degup jantung yang semakin cepat. Bulu kuduknya meremang dan tubuhnya gemetar tak terkendali.


Tak.


Obor di tangannya jatuh. Entah kenapa energinya seakan habis hingga tak sanggup membawa sebatang obor.


Ces.


Sebuah sinar ungu mendadak muncul dalam kegelapan. Sinar itu seperti kunang-kunang yang terbang. Lama-kelamaan sinar itu bertambah besar dan terlihatlah sebuah untaian manik-manik dan di tengahnya terdapat mutiara sebesar telur burung. Puteri Juwita begitu takjub melihat benda bersinar itu.


Benda itu kemudian bergerak mendekatinya. Puteri Juwita berdiri diam dan hanya memperhatikan benda itu semakin mendekat. Kini benda itu melingkari lehernya.


Tanpa disadarinya kedua tangannya mengelus benda itu. Seolah terpesona sampai-sampai dia tidak menyadari ada sesosok wanita muncul dari kegelapan dan mendekatinya. Wanita itu mengelus lengan Puteri Juwita namun gadis itu tidak menyadarinya.


*******


Eldrige tidak jadi menyewa kuda dan kini mengikuti Nona Sekar masuk ke dalam lubang dimensi. Saat kakinya melangkah keluar, suasana yang gelap tidak menghalanginya untuk menyadari bahwa dia kini berada di daerah pesisir. Suara deburan ombak terdengar di kejauhan.


"Di mana Puteri Juwita?" tanya Eldrige pada wanita di sebelahnya.

__ADS_1


"Sabar, Eldrige. Akan kutunjukkan tempatnya."


Nona Sekar melangkah mendahului Eldrige menapaki jalanan berpasir. Meski jalanan hampir tidak terlihat namun Nona Sekar seolah tidak masalah. Dia berjalan dengan mudah melewati bukit-bukit rendah yang ditumbuhi ilalang.


Setelah berjalan menanjak akhirnya terlihat siluet reruntuhan bangunan kuil. Mereka serentak mempercepat langkah.


Hal pertama yang dilihat Eldrige adalah tubuh ramping seorang gadis yang kini berjalan di pelataran kuil. Rambutnya yang keperakan tampak berkilau saat rembulan menyembul dari balik awan.


"Juwita?"


Eldrige bergegas melangkah namun langkahnya tertahan karena tangannya dicengkeram Nona Sekar.


"Tunggu sebentar, Eldrige!" seru wanita itu.


Eldrige menatap tak mengerti. Dia berusaha menyingkirkan tangan Nona Sekar namun wanita itu memberi isyarat untuk diam. Eldrige memperhatikan seorang lelaki berjanggut lebat datang mendekati gadis itu. Dan yang mengherankan, lelaki itu tampak bersujud di kaki Puteri Juwita.


"Beri aku kekuatan, Ya Murr Yang Agung," seru lelaki itu membuat Eldrige bertambah heran.


Puteri Juwita tampak tidak menghiraukan pendeta itu dan malah berjalan melangkahi kepalanya.


"Berkatilah hamba!" pinta pendeta itu lagi sambil kali ini menarik ujung gaun gadis itu.


Tiba-tiba Puteri Juwita berhenti. Lalu dia berbalik dan memandang pendeta itu."Aku akan memberkatimu. Berdirilah!"


Pendeta Jairam tersenyum senang. Dia kemudian berdiri di hadapan gadis itu untuk menerima berkat. Puteri Juwita tersenyum. Tangannya mengelus wajah Pendeta Jairam. Namun tiba-tiba tangan gadis itu turun dan menyambar leher lelaki di hadapannya.


"Aaakh!"


Suara pekikan terdengar membahana merobek keheningan. Tubuh lelaki itu terkulai jatuh dengan leher terpuntir ke belakang.


"Juwita!" teriak Eldrige. Dia tidak pernah menyangka gadis polos yang dikenalnya sejak bayi tega melakukan kekejian semacam itu.


Kepala Puteri Juwita menoleh padanya dan Eldrige bisa melihat seringai kejam tersungging di bibir gadis itu. Eldrige terpana tanpa mengetahui apa yang kini dilakukan gadis itu dengan menggerak-gerakkan tangan di udara.


Eldrige baru menyadari apa yang dilakukan Puteri Juwita ketika sebuah lubang tiba-tiba menganga di hadapan gadis itu. Rupanya Puteri Juwita telah membuka lubang dimensi. Cahaya ungu berpendar dari dalam lubang.


Eldrige terkejut melihat kemampuan gadis itu. Bagaimana mungkin manusia biasa bisa membuka lubang dimensi?


Ayo!" Kali ini sebuah tarikan di tangan membuyarkan lamunannya. Nona Sekar kini menyeretnya menuju kuil.


Eldrige berlari untuk mengejar Puteri Juwita. Namun sesaat kakinya menginjak pelataran kuil, lubang dimensi itu menutup dan menghilang di udara.


"Juwita!" teriak Eldrige. Lelaki itu memukul-mukul udara dengan geram.


"Sudah Eldrige. Kau kini telah melihat sendiri bagaimana sifat gadis itu sebenarnya. Dia jahat, Eldrige. Darahnya memiliki bibit kejahatan yang kini mulai bangkit," ucap Nona Sekar.


"Tidak. Kau salah, Sekar. Juwita tidak jahat. Dia hanya sedang dikuasai suatu entitas jahat. Aku harus menemukannya, Sekar. Bawa aku padanya, Sekar. Bawa aku padanya!" Eldrige berteriak-teriak sambil mengguncang-guncang bahu Nona Sekar.


"Tenang, Eldrige. Tunggu sebentar." Nona Sekar mengulurkan tangan dan meraba-raba udara, mencoba melacak lubang dimensi yang dipakai Puteri Juwita.


"Kurasa aku bisa melacaknya," ucap Nona Sekar setelah beberapa waktu.


"Cepat kejar dia, Sekar!"


Wanita itu lalu mencabik udara dan membuka lubang dimensi. Eldrige melangkah masuk ke dalam lubang dimensi mengikuti Nona Sekar. Dengan jantung berdebar-debar dia sudah tidak sabar untuk menemukan Puteri Juwita.


"Tempat ini?" seru Eldrige terkejut begitu dia menjejakkan kakinya keluar.

__ADS_1


__ADS_2