Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 87 Menyesuaikan Diri


__ADS_3

Bangunan asrama terpisah dari bangunan sekolah. Bangunan asrama adalah gedung berbentuk persegi panjang dengan tiga lantai. Bangunan itu terletak di belakang gedung sekolah, tepat diseberang lapangan berumput.


Semua gadis-gadis penghuni asrama menempati kamar yang terletak di lantai dua dan tiga. Lantai satu ditempati oleh Nona Sekar dan para stafnya.


Kepala sekolah dan guru-guru tidak tinggal di asrama. Mereka menempati rumah-rumah dinas yang berlokasi tidak jauh dari sekolah.


Puteri Juwita harus menyesuaikan diri dengan peraturan di asrama karena tidak sama seperti saat dia tinggal di istana Elfian. Di sini diberlakukan jam malam. Saat lonceng yang berada di menara kastil berdentang sembilan kali para gadis tidak diperbolehkan meninggalkan kamar masing-masing.


Sebelum itu para gadis akan makan malam bersama Nona Sekar dan para staf asrama selepas senja. Kemudian mereka akan mendapat jatah istirahat, sampai para senior yang ditunjuk menjadi asisten yang mewakili ibu asrama, mulai mengingatkan mereka untuk segera masuk ke kamar masing-masing.


Ketika Puteri Juwita masuk ke kamarnya malam itu, tubuhnya sangat letih sehingga saat dia menaruh kepalanya di bantal gadis itu langsung tertidur. Namun mendadak dia terbangun di tengah malam karena hembusan angin dingin menerpa tubuhnya. Angin itu berasal dari jendela kamarnya yang dibiarkan terbuka.


Di luar, angin menghempas daun jendela sehingga menimbulkan suara berderak yang berirama.


Tak.. tak.. tak..!


Puteri Juwita kemudian duduk di pinggir ranjangnya dengan gelisah di dalam kegelapan, mendengarkan setiap suara. Namun yang terdengar hanyalah suara angin dan kepakan kelelawar yang sesekali melintas di depan jendela.


Sesekali gadis itu menoleh ke arah ranjang teman sekamarnya dan melihat Ningrum yang tertidur pulas. Gadis itu tidur miring sambil memeluk guling membelakangi Puteri Juwita.


Kraaaak!


Kemudian, tiba-tiba, dalam keheningan malam muncul suara lain. Keras dan melengking menyentaknya.


Puteri Juwita bangkit. Merinding. Lalu dalam kegelapan, dia berjalan mendekati jendela. Perlahan-lahan dia menyibak tirai jendela. Angin menghantam pepohonan di pinggir lapangan, membuatnya terlihat meliuk-liuk.


"Suara apa tadi ya? " Gumam gadis itu sambil berusaha menormalkan detak jantungnya.


Puteri Juwita seakan membeku di jendela, ketakutan setengah mati.


Ada seekor burung besar bertengger di salah satu dahan pohon. Burung itu sangat besar dan berbulu sehitam gagak. Meskipun tidak bisa melihatnya dengan jelas, namun gadis itu merasa burung itu sedang memperhatikannya.


Dengan tangan gemetar, gadis itu berusaha menutup jendela dan menguncinya. Sesaat sebelum daun jendela tertutup, burung besar itu terlihat mengepakkan sayapnya yang lebar dan terbang melesat menembus malam.


"Makhluk apa itu? Apakah ada burung sebesar itu? " Puteri Juwita bertanya-tanya dalam hatinya.


Di sisa malam, Puteri Juwita hanya berbaring dengan gelisah tanpa tertidur lagi.


*****


Ada yang kurang di Istana Elfian setelah kepergian Puteri Juwita ke sekolahnya. Bukan hanya kedua orang tuanya saja yang merasa kehilangan, namun juga sejumlah staf dan pelayan yang biasa berinteraksi dengan gadis itu.


"Sepi sekali! " Keluh Esme, wanita itu kini sedang membersihkan kamar Puteri Juwita.


Wanita itu sudah menikah selama 15 tahun dan sudah dikaruniai dua orang anak laki-laki. Namun Puteri Juwita tetap menjadi kesayangannya.


Esme kini mulai melipat ulang pakaian-pakaian Puteri Juwita yang berada di lemari. Kemudian menata ulang mainan-mainan milik Puteri Juwita yang sebagian adalah pemberiannya.


"Apa yang kau lakukan, Esme? " Tiba-tiba Talitha masuk dan menemukan Esme lagi-lagi sedang menghabiskan waktunya di kamar Puteri Juwita.


"Aku sedang membersihkan kamar ini. "


"Tapi kau sudah di sini sejak pagi! Astaga, kau melakukannya setiap hari terus-menerus sejak Puteri Juwita pergi! "

__ADS_1


"Aku merindukan gadis kecil itu, Talitha! Apa kau tidak? "


"Aku juga merindukannya, Esme. Bagaimanapun juga aku melihatnya tumbuh, bahkan sejak dalam kandungan. Tapi gadis itu bukan gadis kecil lagi, Esme. Dia sudah tumbuh! Kau bahkan tak akan sadar jika nanti tiba-tiba harus membantu menyiapkan pernikahannya. " Kata Talitha mengingatkan.


"Kalau Puteri Juwita menikah, dia pasti akan pergi mengikuti suaminya. Astaga! " Esme memekik.


Tanpa mereka sadari, seorang wanita yang telah mengandung dan melahirkan gadis yang sedang mereka bicarakan saat ini sedang berdiri termangu di depan pintu. Wanita itu merasa sedih jika yang dikatakan dua orang pelayan setianya itu terjadi.


Wanita itu cepat-cepat mengusap air matanya dan segera berjalan menjauh. Sebenarnya tadi dia bermaksud untuk membereskan kamar anaknya, namun ternyata sudah didahului Esme.


"Sayang, kau di sini? Aku mencarimu dari tadi! " Tiba-tiba wanita itu dikejutkan oleh panggilan suaminya.


"Aku sedang berjalan-jalan." Wanita itu berusaha tersenyum di hadapan suaminya.


"Aku punya berita gembira, coba tebak! " Pria dewasa yang tidak kehilangan ketampanannya itu berbicara dengan mimik lucu.


"Aku tidak bisa menebak. " Ratu Gita tertawa kecil.


"Ah, sudah kuduga! Meskipun nanti akan kuberi beberapa petunjuk, kau mungkin juga tak bisa menebaknya." Raja Satria pura-pura kecewa.


"Maafkan aku! " Ratu Gita memeluk lengan suaminya sambil tertawa geli. Bertahun-tahun hidup bersama pria itu membuka Ratu Gita memahami karakteristiknya.


"Aku akan menyebut huruf G! " Raja Satria memberi petunjuk.


"Gaurav? " Ratu Gita terpekik gembira.


"Hei, aku sangat kesal karena kau langsung bisa menebaknya! " Kali ini Raja Satria benar-benar kesal. Bukan karena istrinya bisa menebak pertanyaannya, melainkan karena cemburu.


"Apa Gaurav dan Elok akan kemari? "


Ratu Gita tanpa sadar melepaskan pelukannya pada lengan suaminya. Terlihat sekali jika wanita itu kecewa.


Raja Satria menyadari perubahan sikap istrinya itu. Kemudian dia segera meraih pinggangnya dan memeluknya dengan erat.


"Kita yang akan menemui mereka." Ucapnya dengan lembut.


"Apa? " Mata wanita itu melebar.


"Bersiap-siaplah, besok kita akan pergi ke Kerajaan Watu Ijo untuk menemui mereka. Sekaligus mengunjungi makam orang tuamu." Raja Satria berbicara sambil memperhatikan raut istrinya yang terlihat senang sekaligus sedih.


"Terima kasih! " Hanya ucapan itu yang mampu keluar dari bibir Ratu Gita. Wanita itu sangat terharu. Sudah lama dia tidak kembali ke tanah kelahirannya.


"Tak perlu berterima kasih. Aku minta maaf tidak membawamu ke sana lebih sering! " Raja Satria merasa bersalah karena tidak pernah berkunjung ke Kerajaan Watu Ijo sejak kematian Raja Pramana tiga tahun yang lalu.


"Tidak apa-apa, aku tahu kau sangat sibuk. "


"Yah, kebetulan akan ada pertemuan Liga Kerajaan yang diadakan di Kerajaan Watu Ijo. Jadi sekalian saja kau ikut. "


"Iya, aku tetap senang! " Ratu Gita memeluk suaminya dengan gembira.


Saat itu beberapa pelayan yang kebetulan lewat tidak jauh dari mereka tersenyum melihat keromantisan kedua orang itu. Mereka ikut senang karena Raja Satria bisa memelihara keharmonisan rumah tangganya seperti dia menjaga Kerajaan Elfian dengan baik.


Untaian doa diam-diam mereka panjatkan untuk kebaikan kedua orang itu dan juga untuk negara mereka.

__ADS_1


*****


Puteri Juwita terlihat kelelahan saat pelajaran berakhir. Gadis itu menumpuk buku-bukunya dan memeluknya di dada. Kemudian gadis itu berjalan gontai menuju asrama.


"Juwita, tunggu! " Sebuah seruan membuat gadis itu menghentikan langkahnya.


Sari berlari tergesa-gesa mensejajari langkahnya. Dahi gadis itu berkeringat, anak-anak rambutnya yang pirang tipis menempel lengket di keningnya.


"Aku ingin tahu apa kau mau ikut menonton pertandingan Baggata besok? " Tanya Sari.


"Apa Nona Sekar mengizinkan kita keluar? " Puteri Juwita merasa ragu.


"Tentu saja, setiap akhir pekan kita diizinkan keluar sampai jam enam sore." Sari menjawab dengan gembira.


"Tapi aku tak yakin akan menyukai permainan itu. " Wajah Puteri Juwita terlihat tidak tertarik.


"Hei, kau tak tahu ya siapa yang akan bertanding besok? Mereka adalah siswa dari sekolah Kesatrian! Sekolah elit tempat para pangeran dan bangsawan. Aku tidak sabar ingin melihat mereka! " Sari terlihat seperti sedang bermimpi.


"Kau ingin melihat siswa-siswa sekolah itu atau ingin menonton pertandingan mereka? " Alis sebelah kiri Puteri Juwita terangkat.


"Keduanya! " Wajah gadis pirang itu berbinar.


"Siapa saja yang akan ikut kesana? " Puteri Juwita mulai penasaran.


"Dua anak dari kelas kita, Ratri dan Sapna. Kau pokoknya harus ikut! " Sari berpura-pura marah.


"Boleh aku mengajak Ningrum? " Tanya Puteri Juwita ketika tiba-tiba teringat pada teman sekamarnya itu.


Sari terlihat berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepalanya menyetujui.


"Baiklah, besok aku ikut. " Puteri Juwita tersenyum.


"Jangan lupa, kita akan bahas lagi setelah makan malam! " Setelah mengatakan hal itu, Sari segera beranjak menuju kamarnya.


Puteri Juwita tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Saat gadis itu hendak menaiki tangga, tidak sengaja matanya melihat Nona Sekar sedang berjalan mendekat dengan sikap yang anggun.


"Nona Sekar! " Sapanya.


"Oh, Juwita. Ada apa? " Tanya Nona Sekar dengan ramah.


Entah mengapa setiap berhadapan dengan Nona Sekar, Puteri Juwita berpikir jika wanita itu adalah seseorang yang dicintai oleh Eldrige. Sebenarnya pemikiran itu membuatnya sedikit senang, namun sisi hatinya yang lain merasa agak kecewa jika hal itu benar-benar terjadi.


"Bolehkah besok saya dan teman-teman pergi menonton pertandingan Baggata? "


"Oh, kau juga suka permainan olahraga itu? " Nona Sekar terlihat agak terkejut.


"Saya belum pernah menyaksikannya, jadi tidak tahu akan menyukainya atau tidak. " Jawab Puteri Juwita dengan jujur.


"Baggata adalah permainan yang menyenangkan, kau akan menyukainya. Aku mengizinkan kalian pergi. Tapi ingat, berhati-hatilah! Jangan mudah terpikat dengan pemuda tampan yang kau temui! "


Perkataan Nona Sekar membuat Puteri Juwita merasa malu dan wajahnya merona merah.


"Saya akan menuruti nasehat Nona Sekar. " Jawabnya dengan sopan.

__ADS_1


"Oh ya, apakah Eldrige tidak akan mengunjungimu besok? " Tiba-tiba Nona Sekar bertanya ketika Puteri Juwita melangkahkan kakinya ke tangga.


"Maaf, saya tidak tahu. " Jawabnya dengan perasaan tidak senang, kemudian kembali berjalan menuju kamarnya dengan langkah gontai.


__ADS_2