Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 21 Memasuki Hutan Lucshire


__ADS_3

Di kegelapan malam, Ratu Gita terduduk di pinggir jurang memandangi bangkai makhluk menyeramkan yang tadi menyerangnya. Tubuhnya masih gemetar dan lemas seolah semua tulang dan persendiannya terlepas.


Gerimis mulai turun membasahi bumi, seluruh tubuh wanita itu menjadi basah kuyup namun dia tidak juga beranjak dari posisinya. Jiwanya sedang terguncang dengan kejadian tadi. Lama kelamaan tubuh Ratu Gita menggigil karena kedinginan. Untunglah saat menjelang fajar, hujan berhenti.


Cahaya fajar yang kuning keemasan terbit dari lembah di seberang jurang. Sinarnya yang hangat mulai menyinari alam sekitar. Ratu Gita yang masih menatap bangkai itu terkesiap karena menyaksikan perubahan yang terjadi. Begitu sinar mentari mulai menyinari bangkai monster, perlahan-lahan makhluk itu berubah menjadi sosok nenek tua berhidung bengkok. Wanita penyihir itu kini telah mati.


Setelah memastikan wanita tua itu sudah benar-benar tidak bergerak, Ratu Gita memberanikan diri untuk bangkit berdiri. Pandangannya menatap hamparan lembah yang membentang luas. Sedangkan dibawahnya terdapat jurang yang dialiri sungai berarus deras.


Ada hal aneh yang baru dia sadari. Lembah di depannya itu berada di sebelah timur gunung Grand Solano. Dan sejauh matanya memandang, dia tidak melihat ada satupun dusun di sana. Ratu Gita jadi meragukan kakak beradik yang pernah ditemuinya, Arya dan Sekar. Mungkin memang semua ini adalah salahnya sendiri karena terlalu mudah percaya pada orang yang tidak dikenal.


Dengan tertatih-tatih Ratu Gita berjalan menembus hutan, berusaha mencari jalan untuk kembali ke pondoknya. Berkali-kali wanita itu berputar-putar di hutan yang gelap itu. Dan setelah hampir seharian berjalan, akhirnya wanita itu berhasil sampai ke pondoknya.


Ratu menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Karena kelelahan dia langsung terlelap. Di dalam tidurnya wanita itu beberapa kali mengigau.


Ratu Gita terbangun di tengah malam, suasana di pondoknya gelap gulita. Dengan susah payah dia berusaha bangun dan menyalakan perapian. Ratu merasa kedinginan, badannya menggigil hebat. Seluruh tubuhnya terasa sakit, dan dia terserang demam. Akhirnya wanita itu kembali ke tempat tidurnya dan membungkus dirinya dengan selimut. Tak lama kemudian dia kembali terlelap.


Ratu Gita bangun keesokan harinya saat matahari sudah tinggi. Ratu merasa demamnya sudah turun. Namun tubuhnya masih lemas dan perutnya lapar. Dia ingat seharian kemarin tidak makan.


Direbusnya air dan menyeduh teh panas. Sambil minum teh, Ratu Gita memakan kue terakhir yang dibawanya dari istana. Setelah itu Ratu Gita kembali berbaring, pandangan matanya kosong ke arah langit-langit.


*****


Eldrige terlihat cemas. Beberapa kali pria itu berjalan mondar-mandir di kamarnya. Baru saja dia mendapat kabar dari Ratu Malea bahwa Ratu Gita telah diserang oleh seorang penyihir dari bangsa Daemonie.


Kejadiannya sudah dua malam yang lalu. Meskipun Ratu terlihat syok, namun wanita itu berhasil diselamatkan dan penyihir itu telah mati.


Ratu Malea diam-diam membantu Ratu Gita dengan menyerang Penyihir Mors dari jarak jauh. Ratu Malea jugalah yang menyuruh Arya dan Sekar untuk mengawasi Ratu. Arya dan Sekar adalah peri hutan penghuni Hutan Lucshire yang terletak di sebelah timur kaki gunung Grand Solano.


Eldrige ingin sekali mengunjungi Ratu Gita, namun semua penghuni istana dilarang pergi mendatangi Ratu di tempat pengasingannya tanpa seizin Raja. Dan dia tidak yakin kalau Raja akan mengizinkannya.


"Maaf Yang Mulia, saya mohon izin untuk mengunjungi Ratu Gita." Ucap Eldrige. Peri itu nekat menemui Raja untuk minta izin.

__ADS_1


"Untuk apa kau mau menemuinya? Apa kau begitu merindukannya?" Raja merasa curiga. Pria itu memandang sinis dari singgasana.


Eldrige berusaha untuk tidak menghiraukan perkataan Raja yang menyudutkannya. Semua ditahannya demi menjaga keselamatan Ratu Gita.


"Sebenarnya saya mendapat kabar dari Ratu Malea bahwa Ratu Gita telah diserang oleh seorang penyihir. Saya curiga bahwa ada orang lain yang telah menyuruhnya."


"Apa?" Raja kaget, matanya membulat sempurna.


"Saya merasa jika penyerangan itu masih berhubungan dengan Succubus dan Doppelganger yang dulu menyerang." Eldrige menjelaskan kecurigaannya.


"Berarti Ratu Gita berada dalam bahaya." Raja berkata lirih, pikirannya tiba-tiba menjadi panik.


Raja mendekati Eldrige dengan pandangan serius. Tangannya mencengkram lengan baju peri itu.


"Eldrige, lakukan sesuatu! Ayo, kita bawa pulang Ratu Gita!"


"Tapi Yang Mulia, jangan melakukan sesuatu yang akan membuat Dewan Kerajaan kecewa!"


"Tidak. Oleh karena itulah saya mohon izin untuk menemani Ratu Gita." Jawab Eldrige dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.


Raja menyentakkan cengkeramannya. Dia marah sekali pada Eldrige, karena sudah memanfaatkan situasi ini untuk mendekati istrinya.


"Jangan melewati batas Eldrige. Ingat tugasmu sebagai Guardian di Kerajaan Elfian!" Raja mengingatkan posisinya.


"Saya tidak akan melupakannya Yang Mulia!" Ucap Eldrige.


Raja tidak akan membiarkan Eldrige pergi menemui istrinya. Dia tahu bahwa keistimewaan yang dimiliki Eldrige bisa sangat menarik di mata seorang wanita. Apalagi Ratu Gita adalah wanita yang masih polos, dia pasti akan terkagum-kagum pada peri itu. Ditambah lagi mereka hanya berdua saja di tengah hutan. Mungkin saja istrinya itu akan jatuh cinta padanya!


"Tidak! Aku tidak mengizinkanmu ke sana!" Ucap Raja setengah berteriak. Dia menjadi panik karena pikirannya sendiri.


Eldrige hanya berdiri dengan tenang dihadapan Raja Satria yang labil. Sebenarnya bisa saja dia pergi diam-diam menemui Ratu Gita tanpa sepengetahuan Raja. Namun Eldrige tidak mau melakukannya.

__ADS_1


"Lalu siapa yang akan melindungi Ratu Gita?" Tanya Eldrige dan membuat Raja serba salah.


"Bawa aku menemui Ratu Malea. Aku akan meminta bantuan padanya." Ucap Raja pada akhirnya.


"Baik Yang Mulia!"


Kemudian Eldrige mengajak Raja ke kamarnya yang terletak di sebelah perpustakaan.


"Saya akan berjaga di sini. Yang Mulia hanya perlu memasuki lubang dimensi. Di sana Yang Mulia akan dituntun oleh pengawal Kerajaan Peri untuk menemui Ratu Malea."


Kemudian Eldrige segera membuka portal gerbang dimensi dengan cara memutar-mutar tangannya di udara. Tak lama kemudian, tersibaklah udara di depannya dan menampakkan lubang dimensi yang berbentuk seperti sebuah pusaran air.


Peri itu segera mempersilakan Raja Satria untuk memasukinya. Tanpa ragu-ragu, Raja segera mencondongkan tubuhnya ke dalam lubang itu.


Tiba-tiba tubuh Raja tertarik masuk ke dalamnya. Tubuhnya terasa ringan melayang-layang di dalam lorong yang aneh. Ada cahaya berwarna-warni yang berpendar di dalam lorong yang berputar seperti spiral itu. Dalam sekejap Raja sampai pada ujung lorong yang bersinar sangat terang dan menyilaukan. Tiba-tiba saja, Raja Satria seperti terdorong keluar. Dengan sedikit terhuyung, Raja berdiri di atas tanah yang berumput. Dibelakangnya, lubang dimensi tadi sudah tertutup.


Raja memandang lingkungan yang baru dimasukinya itu. Tempat ini adalah sebuah area hutan belantara. Ada perasaan janggal yang tiba-tiba dirasakannya, tetapi Raja Satria tidak tahu penyebabnya.


Pohon-pohon besar tumbuh tinggi menjulang dipenuhi dengan lumut hijau yang tebal. Lumut yang basah itu terlihat berkilauan tertimpa siraman cahaya mentari yang menembus dedaunan di atas sana. Berbagai jenis tanaman dan jamur tumbuh subur. Bahkan ada beberapa jamur raksasa terlihat tumbuh di antara akar pohon. Sulur-sulur tanaman merambat menggulung dahan-dahan dan cabang-cabang pepohonan.


Ada banyak sekali kunang-kunang beterbangan di udara. Mereka seakan tidak peduli kalau hari masih siang. Cahaya mereka yang berpendar membuat suasana terasa magis.


Tiba-tiba seekor kunang-kunang terbang mendekati Raja Satria. Dia terbang terlalu dekat ke arah wajah Raja membuat pria itu mengibaskan tangannya.


"Tenanglah Raja!" Ada suara lirih seperti bisikan yang tiba-tiba terdengar di telinga Raja.


Raja Satria kebingungan, dia melihat kesana-kemari mencari sumber suara. Tapi tidak ada seorangpun di sana.


Raja berdiri dengan waspada dan menajamkan inderanya. Tiba-tiba dia menyadari bahwa dia tidak sendirian di hutan ini. Beberapa peri hutan terlihat berdiri berkamuflase diantara pepohonan. Bahkan kumpulan kunang-kunang yang dilihatnya itu sebenarnya berbentuk mirip manusia yang sangat kecil dan bersayap transparan. Raja langsung mengenali jenis peri itu, mereka adalah Pixi.


"Selamat datang di Lucshire." Sebuah suara lembut menyapa di telinga Raja.

__ADS_1


__ADS_2