
Eldrige berdiri memandang bangkai binatang yang dibunuhnya semalam. Sesuai dugaannya, binatang itu adalah beruang. Tapi yang mengherankannya adalah bagaimana seekor beruang bisa menerobos masuk ke dalam rumah.
"Apa semalam kau lupa mengunci pintu? " Tanya Eldrige pada pria pemilik kedai.
"Saya kebetulan keluar sebentar untuk memeriksa kayu bakar. Mungkin saya tidak mengunci pintu dengan benar. " Kata pria itu dengan gugup.
"Apakah binatang ini yang sering menyerang orang-orang? " Tanya Eldrige.
"Mungkin saja, karena saya sendiri belum pernah melihatnya. "
Beberapa warga desa datang untuk melihat beruang yang mati itu. Mereka yakin bahwa binatang itulah yang sering menyerang di malam hari.
"Terima kasih. Tuan sudah berhasil membunuh binatang itu. Kami bisa keluar di malam hari dengan aman. " Kata seorang lelaki yang menjabat sebagai Kepala Desa.
"Baiklah, karena semuanya sudah selesai saya akan pergi sekarang. " Kata Eldrige.
"Kalau boleh tahu, Tuan mau ke mana? " Tanya Kepala Desa.
"Saya ingin ke rumah Kardi. "
"Kardi yang bekerja sebagai kusir? Bukankah dia berada di ibukota? " Kepala Desa tampak bingung.
"Saya mendengar dia sudah kembali. " Eldrige memandang Kepala Desa.
"Tapi tak ada seorangpun yang mengetahuinya. Mungkin Tuan salah dengar?"
"Saya akan memeriksanya untuk memastikan." Eldrige tak terpengaruh perkataan itu.
"Kalau begitu saya akan mengantar Tuan. Rumah Kardi agak susah ditemukan. " Kata Kepala Desa.
Setelah membayar jasa menginap Eldrige segera pergi mengikuti Kepala Desa. Jalan yang mereka lalui sempit dan diapit hutan. Saat mereka sudah berada agak jauh ke dalam, tiba-tiba Kepala Desa memacu kudanya lebih kencang dan membuat tunggangannya itu melompat sejauh beberapa meter.
Sraak!
Sebelum Eldrige sempat berpikir lebih jauh, tiba-tiba dia dan kudanya terperosok jatuh ke bawah. Kudanya meringkik kaget dan berputar-putar dengan terpincang-pincang di dalam lubang sedalam 10 meter yang kini mengurung mereka.
Eldrige memandang ke atas. Beberapa wajah memandangnya dari atas sana. Salah satunya adalah Kepala Desa.
"Mau apa kalian? " Teriak Eldrige marah.
"Bukan salah kami. Kenapa Tuan kemari dan mengusik ketenteraman desa ini? " Tanya Kepala Desa.
"Aku tidak mengusik kalian. Aku kemari cuma mencari Kardi! "
"Bicaralah sesuka Tuan, kami tak akan mempercayainya. Mungkin Tuan bisa berbincang dengan kuda malang itu? " Kepala Desa tertawa mengejek dan diikuti oleh teman-temannya.
"Apakah semalam kalian yang sengaja melepas beruang itu? "
"Benar. Tidak kami sangka Tuan berhasil membunuhnya padahal kami sudah bersusah payah menangkap binatang itu. "
"Aku datang kemari tidak bermaksud buruk. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu pada Kardi. "
"Yah, sayang sekali teman Tuan sudah membunuhnya lebih dulu. "
"Membunuhnya? " Mata Eldrige terbelalak kaget.
"Wanita itu terlihat hampir mirip dengan Tuan." Kepala Desa memandang Eldrige dengan sengit.
"Wanita? " Eldrige terlonjak kaget.
"Dia sangat cantik. Meskipun sedikit mirip bangsa Elfian tapi kami yakin bukan. Dia memiliki kemampuan sihir yang membuat kami sampai mengira bahwa dia bangsa peri."
"Apa yang ditanyakan wanita itu pada Kardi? "
__ADS_1
"Mana kami tahu? "
"Bolehkah aku menemui ibunya Kardi? "
"Mau apa lagi menemuinya? Wanita malang itu masih tertekan dengan kematian anaknya."
"Saya bersumpah tidak ada hubungannya dengan pembunuh Kardi. Kalian bisa mengikatku untuk berjaga-jaga sebagai jaminan aku tidak akan menyakiti ibunya Kardi. "
"Kenapa Tuan masih memaksa? "
"Karena informasi yang kuperlukan itu akan menuntunku untuk menemukan seseorang. "
"Siapa? "
"Calon istriku. "
"Calon istri? "
"Kami terpisah sejak perang meletus. Setelah perang usai aku mulai menelusuri jejaknya. Terakhir kali aku mendengar bahwa calon istriku itu menggunakan jasa Kardi untuk pergi ke suatu tempat." Eldrige memandang orang-orang yang berada di atasnya itu dengan putus asa.
"Aku harus menemukannya sebelum wanita itu. "
"Jadi Tuan mengenal wanita itu? "
"Kalau tebakanku tidak salah, wanita itulah yang mencoba memisahkan kami. Aku takut.. jika calon istriku menemui nasib seperti Kardi." Eldrige terlihat sedih dan suaranya menyayat hati.
Terdengar bisik-bisik dari atas sana. Mereka mulai berdebat untuk tetap mengurung Eldrige atau melepasnya. Rupanya cerita sepasang kekasih yang dipisahkan membuat mereka terharu.
"Baiklah Tuan, kami akan mengantar Tuan ke rumah Kardi untuk menemui ibunya. "
Mereka kemudian mengulurkan tali. Beberapa orang turun dan mulai mendorong kuda ke atas papan yang mereka sandarkan. Meskipun usaha itu cukup melelahkan dan memakan waktu agak lama, namun mereka berhasil membawa kuda itu naik.
"Maafkan kami Tuan. " Ucap Kepala Desa. Raut menyesal juga terpasang pada semua wajah penduduk desa yang lain.
Seorang wanita membuka pintu begitu mereka tiba. Raut terkejut tak bisa disembunyikannya begitu melihat Eldrige.
"Dia akan bertemu Bu Patmi. " Kata Kepala Desa pada wanita itu.
Meskipun masih terkejut namun wanita itu menyingkir dari pintu dan membiarkan mereka masuk. Eldrige diantar ke sebuah kamar sederhana di mana seorang wanita tua tengah terbaring sambil melamun menatap jendela.
"Bu Patmi, ada yang ingin bertemu." Kata Kepala Desa.
Pandangan wanita itu beralih pada tamunya. Bu Patmi menatap sepasang mata merah yang tampak seperti batu ruby itu. Wanita itu kemudian duduk bersandar di ranjangnya.
"Tuan mau apa? " Tidak ada permusuhan dalam suaranya.
"Saya ingin bertanya. Kemanakah Kardi mengantar Tabib Bagio terakhir kali? " Tanya Eldrige.
"Pertanyaan Tuan sama persis dengan wanita itu. " Raut wanita tua itu menjadi keruh. " Saya mengingatnya dengan jelas karena wanita itu menanyakan hal itu berkali-kali pada anak saya."
"Apakah Kardi mengatakannya? "
"Pada akhirnya iya, setelah wanita itu mengancam untuk membunuh saya. " Setitik air mata mengalir dari sudut mata wanita itu dan terus turun melewati pipinya yang keriput sampai akhirnya jatuh di pangkuannya.
"Saya ikut berdukacita atas meninggalnya Kardi. Dan saya juga menyesal sudah mengganggu di masa berkabung ini." Eldrige memandang wanita itu dengan tulus.
".... Tapi saya membutuhkan informasi itu untuk menemukan calon istri saya." Tatapan Eldrige bertemu dengan tatapan wanita tua itu.
"Apakah wanita itu akan menyakiti calon istri Tuan? "
"Saya takut wanita itu tidak segan-segan melakukannya. " Ucap Eldrige. Suaranya mengandung kekhawatiran.
"Saya menduga wanita itu mencintai Tuan. "
__ADS_1
"Tapi saya tidak mencintainya. " Ucap Eldrige dengan tegas.
Wanita tua itu tersenyum dan menganggukkan kepala. "Anak saya sudah berusaha mencegahnya Tuan. Kardi adalah orang yang setia. Anak saya telah bekerja selama bertahun-tahun pada Tabib Bagio meskipun tidak setiap hari disewa.".
"Kardi menjaga kesetiaannya sampai akhir. Saya mengaguminya." Eldrige berkata dengan sungguh-sungguh.
"Pelabuhan Sozo." Wanita tua itu memandang Eldrige. " Kardi mengantar Tabib Bagio dan keluarganya ke pelabuhan Sozo. "
*****
Istana Dewanata sedang bersiap-siap menyambut kedatangan rombongan pangeran dari Alsatia. Istana yang megah itu dihias dengan demikian indah. Lantai-lantai pualam digosok sedemikian rupa sehingga hampir bisa digunakan untuk bercermin.
"Aku sangat gugup, Juwita. Aku takut bertemu pangeran itu. " Kata Puteri Pertiwi ketika mengintip persiapan itu.
"Jangan takut. Jika kau tak menyukainya, bicaralah terus terang pada ayahmu." Puteri Juwita mengelus pundak sepupunya itu.
"Aku punya firasat tak akan menyukai pangeran itu. Kalian sudah tahu alasannya kan? " Kata Puteri Pertiwi dengan suara lirih.
"Apakah pantas kakakku dibandingkan dengan pangeran itu? " Ningrum tampak sedih.
"Jangan bicara seperti itu, Ningrum. Bukankah kakakmu berhati mulia? Dia menyelamatkan Juwita meskipun tidak mengenalnya. Bagiku, kebaikan hatilah yang menentukan kualitas seseorang." Wajah Puteri Pertiwi terlihat bersinar saat mengatakannya.
"Ya, tapi jabatan dan kekuasaan tidak bisa diabaikan begitu saja. Keluarga kerajaan pastilah akan disandingkan dengan seseorang yang setara. " Jawab Ningrum.
"Perkataanmu memang benar, Ningrum. Tapi aku akan berusaha untuk memperjuangkan cintaku. " Puteri Pertiwi terdiam sejenak, pandangannya lekat pada gadis bertubuh agak gemuk itu.
"Tolong tanyakan pada Bagas tentang perasaannya padaku." Penerus Kerajaan Dewanata itu memohon pada Ningrum.
"Tapi.. tapi bagaimana jika kakak saya tidak mencintai Tuan Puteri? " Tanya Ningrum dengan hati-hati.
"Jika hal itulah yang terjadi, maka aku akan menikah dengan siapapun yang dijodohkan ayahku. " Jawab Puteri Pertiwi dengan tegas.
"Pertiwi, tapi aku cemas jika hal ini akan membahayakan Kak Bagas." Puteri Juwita berusaha menyadarkan Puteri Pertiwi dari perasaan cintanya yang belum tentu terbalas.
"Apakah dia tidak mau berkorban untukku jika dia mencintaiku? " Tanya Puteri Pertiwi.
"Justru itulah yang dikhawatirkan." Jawab Puteri Juwita.
"Juwita, pernahkah kau jatuh cinta? Bukankah kau akan berbuat segalanya untuk bersatu dengan kekasihmu? " Pertanyaan Puteri Pertiwi terasa menohok.
Ningrum memandang Puteri Juwita dengan sedih. Puteri Pertiwi belum tahu cerita tentang Eldrige jadi dia bertanya seperti itu.
"Aku akan mengorbankan diriku demi keselamatan orang-orang yang kukasihi. Mencintai seseorang tidak berarti harus bersamanya." Kata Puteri Juwita dengan perasaan getir.
"Itulah perbedaan kita, Juwita. Aku percaya dengan cinta sejati. Aku tidak akan gentar pada siapapun untuk bisa bersatu dengan orang yang kucintai. " Kata Puteri Pertiwi dengan penuh percaya diri.
"Benar. Itulah perbedaan kita. " Kata Puteri Juwita.
Mereka bertiga berjalan menyusuri koridor istana di lantai dua. Matahari senja menyorot lembut melewati balkon yang berbentuk melingkar. Tiba-tiba terdengar keriuhan di bawah sana. Dengan langkah cepat ketiganya pergi ke arah balkon dan memandang keluar.
"Apa itu? " Tanya Puteri Juwita ketika melihat rombongan berkuda di bawah sana. Mereka diiringi sekelompok pemain musik. Bunga-bunga ditebarkan seiring langkah rombongan itu.
"Rombongan dari Kerajaan Alsatia telah tiba! " Teriak salah satu staf kerajaan.
Ketiga gadis yang sedang melihat dari atas balkon saling berpandangan. Mereka memperhatikan seorang pria yang sedang turun dari punggung seekor kuda putih yang sangat gagah. Langkahnya tegap dan pembawaannya begitu berwibawa.
Tiba-tiba pria itu mendongak ke atas ke arah gadis-gadis itu. Senyumnya mengembang dengan sepasang mata yang tampak dingin. Diam-diam ketiga gadis itu bergidik.
Puteri Juwita memperhatikan wajah yang terlihat familiar itu. Tiba-tiba tangannya meremas kain sutra penutup kepalanya begitu mengenali pria itu. Telapak tangannya terasa dingin dan berkeringat.
"Selamat datang Pangeran Awang! " Suara Raja Badre terdengar.
Puteri Juwita dan Ningrum sama-sama menelan ludah. Begitu sempitnya dunia ini!
__ADS_1