Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 126 Jatuh


__ADS_3

Shuuuuuu...


Tubuh Puteri Juwita meluncur turun dengan sangat cepat. Kedua tangannya menjulur ke atas dengan tubuh telentang. Rambutnya berkibar-kibar seperti nyala api yang dihembus angin.


Eldrige meluncur di atas gadis itu. Dia menggerakkan lengannya ke bawah sekuat tenaga untuk meraih tangan Puteri Juwita sebelum gadis itu membentur tanah.


Bugh.


Saat hampir menyentuhnya, tubuh Eldrige terbentur batu yang menonjol pada dinding tebing. Tubuhnya terpental di udara.


Tenggorokannya tercekat. Dari sudut matanya, dia melihat tubuh gadis itu meluncur turun lebih jauh.


Bum!


Krek.


Suara benda jatuh dan bunyi tulang remuk menggema dari dasar jurang. Bau amis darah menguar menyusup ke dalam indera penciuman.


Kuda milik Eldrige yang memiliki bobot paling berat di antara mereka telah meluncur lebih dulu ke tanah. Tubuh binatang itu terkoyak dan darahnya memercik ke segala arah. Kuda itu menggelepar sebentar lalu diam tak bergerak.


Hati Eldrige seketika mencelos. Dia takut Puteri Juwita mendapat giliran berikutnya. Dengan tangan gemetar dia menggapai pinggang dan menarik cambuknya. Dengan cepat dia melempar cambuknya, berusaha menangkap tubuh gadis itu.


Cambuk itu menyala dalam kegelapan dan berputar-putar mendekati tubuh Puteri Juwita. Begitu cambuk itu berhasil mengurungnya, Eldrige segera menariknya. Tubuh Puteri Juwita yang terjerat kini tertarik ke atas.


Kaki Eldrige segera menendang dinding tebing, tubuhnya berputar-putar di udara sambil menahan tubuh Puteri Juwita tetap aman dalam belitan cambuknya.


Mereka meluncur pelan dan terkendali. Udara terasa lebih sejuk. Perlahan gadis itu membuka matanya dan terkejut.


"Aaaaa! " Puteri Juwita berteriak kencang. Tubuhnya yang bergerak secara tiba-tiba membuat cambuk yang membelit tubuhnya berguncang dan terlepas.


"Aaaaa! " Gadis itu kembali terjun bebas.


Eldrige segera menarik cambuknya dan melemparkannya ke arah batu-batu di sekitarnya. Ujung cambuk itu berhasil membelit sebuah batu, kemudian Eldrige berayun turun untuk menangkap tubuh Puteri Juwita.


Swiiing..... Grep!


"Aku sudah menangkapmu." Ucapnya. Eldrige berayun sambil memeluk tubuh gadis itu.


Tubuh mereka kini tergantung sekitar sepuluh meter di atas tanah. Puteri Juwita memeluk tubuh Eldrige dengan erat.


"Eldrige, kenapa kau di sini?" Gadis itu bingung. Dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru dan masih tidak bisa menebak tempat apa itu.


"Dimana kita? Apa.. apa kita sudah mati?"


"Kalau begitu sekarang kita ada di surga." Eldrige menatap lembut ke dalam mata Puteri Juwita.


Puteri Juwita menjadi salah tingkah karena dipandangi seperti itu. Dia meremas baju Eldrige, namun dia merasakan telapak tangannya lengket dan basah. Dia menarik sebelah tangannya dan melihat darah di telapak tangannya.


"Kau terluka, Eldrige? " Gadis itu ketakutan.


"Hanya luka kecil. " Eldrige tersenyum. Perasaannya sangat lega karena Puteri Juwita selamat.


Tangan Eldrige yang berpegangan pada cambuknya menjadi kesemutan dan lama-lama mati rasa. Nyeri dari luka di punggungnya kini menyebar dan tubuhnya gemetar.


"Eldrige, kau tidak apa-apa? " Puteri Juwita menyadari ada yang tidak beres pada Eldrige.


"Aku.. tidak tahu, Juwita. Aku biasanya tidak seperti ini. " Jawab Eldrige.


Puteri Juwita merasa suhu tubuh Eldrige naik. "Kau demam. "


"Demam? " Eldrige bingung. Dia tidak pernah demam. Namun kini dia merasa kedinginan dan tubuhnya menggigil.


"Eldrige? " Puteri Juwita bertambah cemas dengan kondisi Eldrige.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, jangan cemas. Peganglah cambuk ini, Juwita. Pegang yang erat! " Perintah Eldrige dengan suara lemah.


Puteri Juwita menuruti perintah Eldrige, dia menggenggam erat cambuk yang menyala keemasan itu.


"Aku sudah memegangnya. " Kata Puteri Juwita.


"Bagus." Ucap Eldrige.Tubuhnya berkeringat dan tidak kuat lagi menahan bobot tubuh mereka berdua.


Shuuuuuu...


Tubuh Eldrige mendadak merosot dan meluncur turun.


"Eldrige! " Teriak Puteri Juwita panik.


Bruk!


Tubuh Eldrige jatuh membentur tanah. Puteri Juwita tidak bisa melihat pergerakan pria itu.


"Eldrige! " Puteri Juwita berayun-ayun di udara sambil menjerit histeris.


Eldrige, jangan mati..


*****


Raja Satria mendengar laporan bahwa Eldrige membawa kabur Puteri Juwita saat pelaksanaan eksekusi. Pria itu tersenyum.


"Eldrige memenuhi janjinya. " Ucapnya lega.


Pangeran Awang datang bersama beberapa orang prajurit.


"Raja Satria, saya ingin tahu apakah anda ada hubungannya dengan kaburnya tahanan yang akan dihukum mati sore ini? "


"Kalian mengurungku di sini. Dan kalian masih menuduhku ? " Raja Satria menatap tajam ke arah Pangeran Awang.


"Masalahnya, peri yang selalu bersama anda itu yang melakukannya." Kata Pangeran Awang dengan nada menuduh.


"Bagaimana jika kita lakukan penyelidikan? " Pangeran Awang mengusulkan.


"Kalau begitu sekalian saja kasus putriku juga diselidiki ulang. Aku sama sekali tidak keberatan." Tantang Raja Satria.


"Heh, kasus itu sudah ditutup."


"Kalau begitu aku sudah tidak ada urusan lagi di sini. Aku akan pergi sekarang dan jangan coba-coba menghalangiku! " Raja Satria mengibaskan jubahnya dan melangkah pergi meninggalkan Pangeran Awang yang berdiri kehabisan kata-kata.


"Si*al! " Pangeran Awang menggeram marah. Urat-urat di sekitar wajahnya bertonjolan.


Raja Satria menaiki kudanya diikuti oleh sebagian prajuritnya yang sengaja menemaninya selama masa persidangan.


*****


Puteri Juwita mengayunkan tubuhnya untuk menjangkau bebatuan pada dinding tebing. Saat tangannya berhasil menggapai batu yang agak lebar, gadis itu melompat dan berpegangan erat pada batu itu.


Perlahan-lahan gadis itu merayap turun. Saat melihat ke bawah dia merasa gamang. Kakinya gemetar. Sesekali pijakannya meleset dan menyebabkan batu-batu kecil berhamburan ke bawah.


"Aku harus bisa. " Tekadnya.


Setelah perjuangan yang cukup menguras tenaga akhirnya kakinya menjejak tanah. Setelah menghirup napas panjang, gadis itu bergerak tersaruk-saruk mencari Eldrige.


"Aaaaa! "


Puteri Juwita berteriak kaget. Kakinya menabrak tubuh yang tidak bergerak. Ada sesuatu yang lengket menempel di kakinya. Meski dia tidak bisa melihat dalam gelap, namun dia tahu itu adalah darah.


Puteri Juwita segera berjongkok dan meraba-raba sekitar. Dia menyentuh sesuatu yang halus seperti beludru namun di beberapa bagian terasa lembek dan lengket.

__ADS_1


Gadis itu berusaha mengontrol irama jantungnya. Dia harus memastikan apa yang terbujur di hadapannya sekarang. Dia memberanikan diri untuk menyusuri tubuh itu dan akhirnya memastikan bahwa itu adalah tubuh kuda.


"Hah." Puteri Juwita bernapas lega.


Dia kemudian kembali berjalan dan mengira-ngira tempat Eldrige terjatuh. Di kegelapan, samar-samar dilihatnya sesuatu yang berwarna putih.


Puteri Juwita berlari mendekat namun kakinya tersandung semak belukar hingga tubuhnya jatuh tersungkur. Tangannya terasa perih tertancap beberapa kerikil kecil.


Ketika dia mendongak, wajahnya tepat berada di depan tubuh seseorang.


"Eldrige? " Tangannya meraba-raba sosok di depannya. Dia yakin bahwa itu adalah Eldrige.


Puteri Juwita memeluk tubuh Eldrige. Tangannya menyusuri wajah pria itu dan merasakan cairan lengket di bagian pelipis. Gadis itu kemudian menempelkan telunjuknya di bawah hidung Eldrige untuk memastikannya masih bernapas.


"Eldrige." Puteri Juwita menangis setelah merasakan hembusan napasnya. Dia benar-benar merasa tidak berdaya.


Keadaan sekitar mulai riuh dengan suara-suara serangga dan binatang malam. Puteri Juwita takut sekali kalau ada binatang buas yang datang karena mencium bau darah.


"Tuhan, tolong kami. " Pintanya dengan tulus.


Tiba-tiba seberkas cahaya terlihat di atas sana. Cahaya itu perlahan turun. Di sana terlihat siluet seseorang yang melompat turun dan ketika sampai di tempat cambuk Eldrige tergantung, orang itu mengambilnya.


"Siapa? " Tanya Puteri Juwita ketika orang itu sudah di bawah dan berjalan mendekat.


"Hmm, sudah kuduga akan seperti ini. " Kata orang itu sambil menyorotkan lenteranya pada Puteri Juwita.


"Nona Sekar? " Puteri Juwita terkejut ketika tahu bahwa yang datang adalah Nona Sekar.


"Eldrige terluka. " Nona Sekar berjongkok sambil memeriksa Eldrige.


"Tolong kami. " Puteri Juwita memohon.


"Eldrige akan mati jika tidak segera ditolong." Kata Puteri Juwita.


"Saya mohon, tolong dia. "


"Aku akan menolongnya asal kau mau melakukan permintaanku." Wanita itu menatap tajam ke arah Puteri Juwita.


"Saya akan melakukan apa saja agar Eldrige selamat. " Ucap gadis itu bersungguh-sungguh.


"Bagus! " Nona Sekar segera mengangkat tubuh Eldrige dan memapahnya.


Ketika Puteri Juwita berjalan mengikutinya, Nona Sekar menghentikan langkahnya.


"Jangan dekati Eldrige lagi. "


"Apa? "


"Kalau kau ingin Eldrige selamat, jangan pernah dekati Eldrige lagi! "


"Tapi kenapa? " Tanya gadis itu tak mengerti.


"Peri tidak seharusnya jatuh cinta pada manusia. Dia akan lemah dan mati. Oleh karena itu menjauhlah dari Eldrige. Sebisa mungkin jangan sampai kalian bertemu lagi. Apa kau bisa berjanji? "


"Saya.. saya.. "


"Berjanjilah atau akan kubiarkan saja Eldrige mati di sini. " Ancam wanita itu.


"Jangan! Tolong selamatkan Eldrige. Saya berjanji tidak akan mendekati Eldrige lagi. "


"Kalau bisa menghilanglah. Eldrige pasti akan nekat mencarimu jika dia sadar. Kau lihat sendiri tubuhnya kini menjadi lemah. Itu semua gara-gara dirimu. "


"Baik. Saya akan pergi dan menghilang. Saya berjanji takkan ada seorangpun yang akan mendengar tentang saya lagi. " Ucap gadis itu dengan air mata berlinang.

__ADS_1


"Bagus. Lentera ini kutinggalkan di sini untuk berjaga-jaga dari binatang buas. " Setelah berkata begitu Nona Sekar melompat ke atas sambil membawa tubuh Eldrige.


Puteri Juwita memandang ke atas meski tak bisa melihat apa-apa. Hatinya terasa hampa. Semua hal terenggut dari hidupnya. Kini dia benar-benar sendirian.


__ADS_2