Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 121 Penghianatan


__ADS_3

Ibukota Alsatia kini dalam keadaan genting. Banyak penduduknya yang mengungsi. Begitu juga keadaan di istana, banyak pegawai di istana yang ketakutan dan memutuskan untuk meninggalkan istana. Bangunan megah itu kini tampak sepi karena ditinggalkan sebagian penghuninya.


Pagi itu Puteri Juwita menyiapkan keperluannya sendiri karena pelayan yang biasa melayaninya harus membantu koki yang ditinggalkan semua asistennya.


Saat sarapan, hanya ada menu sederhana yang tersedia di meja.


"Kuharap kalian memaklumi keadaan saat ini dan menikmati hidangan seadanya." Ratu Akemi berkata sambil memandang anak-anak dan kedua keponakannya.


"Hidangan ini sudah cukup memuaskan, Bibi." Jawab Puteri Juwita dengan sopan.


"Syukurlah jika kau menyukainya." Ucap Ratu Akemi.


Pangeran Ryota hanya diam sambil mengaduk-aduk makanannya. Ini adalah hidangan terburuk yang pernah dia makan. Bahkan hidangan di sekolahnya jauh lebih baik dari hidangan ini.


Namun kedua bocah kembar yang duduk saling bersebelahan malah itu terlihat sangat menyukai makanan mereka. Keduanya dengan lahap mengunyah roti gandum yang diolesi mentega.


Praang!


Suara pecahan kaca membuat mereka terdiam. Pangeran Ryota segera keluar dan melihat kaca jendela yang pecah, serpihannya menyebar di sekitar lantai. Serpihan itu berkilauan seperti permata karena tertimpa cahaya matahari.


"Ada apa ini? " Tanyanya pada beberapa pelayan yang berkerumun di sana.


"Istana diserang, Pangeran. " Tiba-tiba Nona Sekar datang.


"Diserang? "


"Pasukan Daemonie telah memasuki istana. Saya akan menemui Ratu Akemi. " Wanita itu bergegas memasuki ruang makan untuk memberi tahu Ratu Akemi.


Saat Pangeran Ryota masuk ke ruang makan, terlihat raut cemas di wajah semua orang di sana.


"Ryota, bersiap-siaplah. Kita akan segera berangkat. " Kata Ratu Akemi.


"Sebaiknya kalian saja yang pergi, aku akan tetap disini bersama para prajurit. "


"Tapi Ryota! "


"Bibi, Paman telah berpesan padaku untuk melindungi kalian. Aku tidak akan lari meninggalkan istana ini. "


"Pangeran Ryota, sebaiknya anda ikut pergi. Bangsa Daemonie bukan lawan yang mudah. Mereka.. bukan manusia. " Kata Nona Sekar.


"Aku juga bukan lawan yang mudah. " Pangeran Ryota tersenyum.


Seorang pria yang merupakan staf kepercayaan Raja Sagar datang dan membawa mereka ke sebuah kamar. Kamar itu berdebu dan usang. Ada sebuah ranjang sederhana yang di sebelahnya terdapat meja kecil dan sebuah lemari kayu tua di sisi ruangan.


Staf Kerajaan itu memutar kayu di ujung ranjang dan menyebabkan lantai di bawah ranjang itu bergeser.


"Apa ini? " Tanya Ratu Akemi dengan takjub.


Di bawah sana ada lubang persegi empat terbuka dengan tangga yang mengarah ke bawah. Staf itu segera menyalakan lilin yang diambilnya dari laci meja.


"Mari ikut saya. " Pria itu memimpin jalan. Dia turun ke dalam lubang yang gelap itu.


Drak.. drak.. drak..


Tangga kayu berderak-derak setiap terinjak. Di ujung tangga terdapat lorong gelap.


"Saya hanya bisa mengantar sampai di sini. Semoga Yang Mulia dapat menjaga diri. "


"Lorong ini menuju ke mana? "

__ADS_1


"Lorong ini berakhir di sebuah rumah pedesaan dekat padang rumput Masserjarvi. Yang Mulia bisa tinggal sementara di sana. Jika keadaan sudah aman, kami akan menjemput kembali. "


Pria itu meninggalkan mereka dan naik lagi ke atas. Pintu di bawah ranjang kembali ditutup.


"Ibu, aku takut. " Suara gadis kecil menggema.


"Jangan takut, ibu akan selalu menjaga kalian. "


"Bibi, biar aku yang berjalan di depan." Puteri Juwita kini berjalan ke depan. Di kegelapan sana seakan ada monster yang sedang menunggu mereka.


Kaki mereka kini mulai letih dan tidak tahu lagi sudah berapa lama mereka berjalan namun lorong itu seakan tak berujung.


"Ibu, aku haus. " Puteri Wulan mulai merengek.


"Sabar, Sayang. Sebentar lagi kita sampai."


"Bibi, bagaimana jika kita istirahat dulu? " Tanya Puteri Juwita.


"Baik, kita istirahat sebentar."


Mereka duduk di lantai yang dingin dan lembab. Puteri Juwita meraba lantai di sebelahnya dan tangannya basah. Tangan gadis itu terus meraba dan merasakan genangan air di dekat dinding.


Puteri Juwita kemudian berdiri dan menyusuri rembasan air di dinding. Tiba-tiba tangannya merasakan ada semburan kecil dari sebuah lubang kecil. Gadis itu segera menangkupkan tangannya dan menempelkannya di bawah lubang. Ketika telapak tangannya penuh air, dia segera mendatangi Puteri Wulan.


"Wulan, minumlah! "


Gadis kecil itu meneguk air dari telapak tangan Puteri Juwita dengan rakus. Rasanya sangat lega karena tenggorokannya sudah kering dari tadi.


Setelah Puteri Wulan minum, Puteri Juwita kembali menangkup air dan kali ini memberikannya pada Pangeran Lintang.


Ratu Akemi berdiri dan ikut mengambil air. Mereka bertiga minum sampai puas.


Mereka terus berjalan dan sesekali berhenti untuk beristirahat. Setelah berhenti untuk yang ketiga kalinya, tiba-tiba di depan mereka ada undakan tangga ke atas. Dengan berhati-hati mereka berjalan dan akhirnya mereka sampai di ujung tangga. Ada sebuah engsel di atas mereka


Dengan sekuat tenaga gadis itu berusaha untuk menariknya.


Ctek.


Akhirnya engsel berhasil ditarik.


Tangan Puteri Juwita perlahan-lahan menarik untuk menggeser pintu besi yang agak berat karena berkarat. Ratu Akemi membantu keponakannya itu. Akhirnya setelah bersusah payah, pintu itu terbuka.


Wuuush..


Angin dingin menerpa dari atas. Kepala Puteri Juwita keluar dari lubang pintu. Di depannya padang rumput terlihat berwarna keemasan tertimpa cahaya senja. Puteri Juwita melangkah naik.


"Bibi, kenapa tidak ada rumah satupun? " Tanya Puteri Juwita dengan bingung.


Ratu Akemi memandang padang rumput sejauh mata memandang. Dia juga heran kenapa tidak ada rumah seperti yang di katakan staf kepercayaan suaminya.


"Malam ini kita terpaksa tidur di dalam lubang tadi." Kata Ratu Akemi.


"Tapi, bagaimana jika para Daemonie itu mengejar? "


"Ibu, aku lapar. " Keluh Puteri Wulan. Wajah gadis kecil itu terlihat pucat.


"Kalian tunggu di sini dulu ya? Kakak akan mencari makanan. " Puteri Juwita membungkuk, mensejajarkan tubuhnya dengan kedua bocah itu.


"Em." Puteri Wulan dan Pangeran Lintang mengangguk bersamaan.

__ADS_1


"Hati-hati, Juwita! " Kata Ratu Akemi.


Puteri Juwita berjalan melintasi rumput-rumput tebal. Matanya menjelajah ke segala arah. Setelah beberapa waktu, dikejauhan sana terlihat pantulan sinar matahari senja yang agak menyilaukan.


"Apakah itu sungai? " Tanya Puteri Juwita dalam hati.


Gadis itu setengah berlari menuju tempat itu. Dia kini berada di tepian sebuah telaga. Air yang membentang terlihat tenang.


"Apakah di sini ada ikan? Kalaupun ada, bagaimana cara untuk menangkapnya? "


Dengan memberanikan diri dia menanggalkan sepatunya di tepian lalu mulai melangkah masuk ke telaga. Di keremangan senja, dia tidak bisa melihat apa-apa di dalam air.


"Ya Tuhan, tolong aku. Berilah aku ikan untuk makan. " Gadis itu bergumam.


Crat.


Tiba-tiba seekor ikan melompat ke tepian. Ikan itu menggelepar di rerumputan. Puteri Juwita segera menangkap ikan itu meskipun dengan susah payah karena tubuh ikan itu sangat licin.


"Syukurlah, tapi ikan ini hanya cukup dimakan oleh kedua sepupu kecilku. Seandainya ada seekor lagi yang agak besar untukku dan bibiku. " Kata Puteri Juwita lagi.


Crat.


Seekor ikan melompat lagi dari telaga. Kali ini ikan itu jatuh tepat di depan kaki gadis itu, seolah ada seseorang yang sengaja melemparnya.


Puteri Juwita menjadi bingung. Jika seekor ikan tiba-tiba melompat ke arahnya sekali, mungkin itu adalah kebetulan. Tapi tidak untuk yang kedua kalinya, hal itu sangat mencurigakan.


Namun Puteri Juwita tetap mengambil ikan itu meskipun hatinya ragu-ragu.


"Terima kasih, untuk siapapun dirimu! " Kata gadis itu dengan suara keras, kemudian dia bergegas kembali sebelum sinar terakhir matahari menghilang di ujung cakrawala.


*****


Pasukan Alsatia di bawah pimpinan Raja Sagar terus terdesak. Elephas yang berukuran besar menginjak-injak prajurit-prajurit seperti semut.


Raja Sagar yang belum sembuh dari lukanya kondisinya semakin lemah. Beberapa luka baru kini menghiasi tubuhnya.


"Yang Mulia sebaiknya mundur, biarkan saja Jendral Ito yang memimpin." Seorang pengawal pribadi raja bernama Darya memapah tubuh raja yang hampir ambruk.


"Tapi, para prajurit membutuhkan aku di garis depan. "


"Kami membutuhkan raja yang hidup. Kami tidak bisa bertahan jika Yang Mulia tiada. "


"Yah, Darya. Suatu hari nanti pun aku pasti mati. Tidak ada bedanya hari ini atau besok."


"Yang Mulia! " Darya menangis mendengar perkataan rajanya.


Ssiiing.. Jleb.


Tiba-tiba sebuah anak panah menembus dada Raja Sagar. Mulut pria itu langsung memuntahkan darah dan terciprat pada tubuh Darya.


Mata Darya melebar begitu melihat anak panah yang menancap di dada rajanya. Itu adalah anak panah milik pasukan Kerajaan Alsatia. Kepala pria itu menoleh ke arah panah tadi berasal. Dia tertegun ketika menyadari siapa yang telah berusaha membunuh rajanya.


"Penghianat! " Desisnya.


Namun sebelum pria itu dapat melakukan apa-apa, orang itu kembali membidikkan anak panahnya dan kali ini sasarannya adalah Darya.


Tubuh Darya goyah. Dia tak kuat lagi menahan tubuhnya agar tetap tegak, akhirnya dia ambruk bersama Raja Sagar yang masih bersandar pada tubuhnya.


"Raja itu sudah mati. " Senyum mengembang di wajah si pembunuh.

__ADS_1


__ADS_2