
Raja Satria dan Eldrige menunduk diantara rumput alang-alang yang tinggi. Mengamati aktivitas orang-orang itu yang sedang menumpuk kotak-kotak kayu di dekat tenda.
Tak lama kemudian mereka berkumpul dan menyalahkan api unggun dan memasak makanan. Setelah itu mereka makan sambil bercakap-cakap.
Melihat hal itu, Raja Satria memberikan kode pada Eldrige untuk menyusup ke sana. Raja Satria mengendap-endap mendekati tumpukan kotak-kotak tadi.
Raja Satria mengambil salah satu kotak yang berada di tumpukan paling atas kemudian membukanya.
Di dalam kotak itu ada kain terpal yang menutupi isinya. Raja Satria segera menyingkap kain itu.
Di dalamnya berisi bubuk berwarna hitam. Teksturnya berbentuk butiran seperti pasir. Tercium aroma belerang dan bahan kimia yang pekat.
"Bubuk mesiu!" Raja Satria berseru geram.
Kemudian Raja Satria mengembalikan kotak itu ke tempatnya semula. Mereka berjalan memeriksa tenda di sebelah tumpukan kotak kayu. Disana terdapat bermacam-macam senjata tajam dan bahkan ada meriam berukuran kecil ada tiga buah.
Setelah puas memeriksa, Raja Satria dan Eldrige segera kembali ke tempat pengintaian mereka tadi, padang alang-alang.
Mereka mengamati orang-orang itu yang sedang berlatih pedang. Mereka memiliki teknik pedang yang sangat hebat.
Pedang yang mereka gunakan juga terlihat buatan pembuat pedang profesional. Bunga-bunga api terlihat memercik saat pedang-pedang itu beradu.
Raja Satria dan Eldrige bertahan di sana dengan kaki kesemutan. Mereka menggerak-gerakkan kaki agar aliran darah mereka kembali normal.
"Nguuung... nguuung.. "
Raja Satria mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir nyamuk-nyamuk yang mengerubunginya.
"Aku tidak tahan dengan nyamuk-nyamuk ini, Eldrige! "
Raja Satria cemberut melihat Eldrige yang terlihat tenang tanpa diganggu nyamuk.
"Oleskan minyak ini!"
Eldrige menyerahkan botol kecil berisi cairan berwarna ungu pekat. Raja Satria langsung menerimanya. Dia menuangkan minyak itu ke telapak tangannya lalu mengoleskan ke wajah, leher dan tangannya.
Kulit Raja Satria jadi terlihat berminyak dan berwarna keunguan. Eldrige menahan senyum sambil pura-pura fokus ke arah orang-orang yang sedang bertarung di depan.
Tak lama kemudian, tiba-tiba kumpulan alang-alang itu tersibak. Ada sebuah kereta kuda yang datang menembus ilalang.
Raja Satria dan Eldrige segera merunduk lebih dalam. Setelah kereta kuda itu lewat, mereka kembali mengamati.
Orang-orang itu segera membongkar muatan. Isi muatan itu ternyata berbagai senjata yang digunakan untuk berperang.
"Eldrige, kurasa sudah cukup kita mengamati mereka. Sekarang kita harus kembali ke istana."
Raja Satria berbalik. Namun ternyata telah ada lima orang bertampang seram berdiri di belakang mereka.
*****
Ratu Gita terbangun dari tidurnya. Namun dia merasa asing dengan kamar ini. Dengan perlahan, wanita itu beranjak turun dari ranjangnya.
Ratu Gita berjalan ke arah pintu dan membukanya. Di luar ternyata gelap dan sunyi. Perlahan-lahan wanita itu melangkah keluar.
Kakinya yang telanjang menginjak rumput yang dingin dan basah tersiram embun. Kini dia berdiri di tengah lapangan rumput yang tak berujung.
__ADS_1
Ratu Gita memandang ke atas. Langit terlihat gelap tanpa bintang. Secuil cahaya terpancar dari bulan sabit yang pucat.
Di depan sana, nampak seorang wanita berdiri membelakangi. Rambutnya yang hitam bergelombang bergerak-gerak tertiup angin.
"Halo, siapa di sana!"
Ratu Gita berteriak memanggil. Namun wanita itu tidak menoleh. Dengan tergesa-gesa Ratu Gita mendekat dan berhenti di depan wanita itu. Dan seketika itu Ratu Gita terbelalak kaget.
"Ibu?"
"Kau siapa?" Tanya wanita itu.
"Aku Gita, Ibu. Anakmu!"
"Tapi aku tidak mengingatmu. Aku bahkan tidak ingat siapa diriku."
"Kau adalah Selir Widya, ibuku. Dan aku anakmu satu-satunya, Gita."
Ratu Gita lalu memeluk tubuh ibunya dan menangis tersedu-sedu. Betapa rindunya dia pada wanita ini.
"Aku ingin bersamamu, Ibu. Izinkan aku untuk selalu bersamamu!"
"Kau tidak boleh di sini! Di sini bukan tempatmu."
"Kenapa? Tempat apa ini?"
"Ini adalah lembah kematian. Pergilah, ini bukan tempatmu!"
"Kenapa?"
"Masih hidup... masih hidup... masih hidup"
Suara itu terus terngiang-ngiang di telinganya. Di benaknya mulai terbayang kilasan-kilasan wajah-wajah yang pernah dikenalnya.
Wajah ayahnya. Wajah Gaurav. Dan samar-samar seraut wajah yang terlihat akrab namun dia lupa. Wajah itu menimbulkan rasa nyeri di hatinya. Membuat dia meneteskan air mata.
*****
"Ternyata ada tikus yang mengintip markas kita! " Seorang laki-laki bertampang sangar mengayun-ayunkan pedangnya di udara.
Raja Satria tersenyum mengejek ke arah orang-orang yang mengepungnya. Orang-orang itu tidak tahu bahwa yang berada di hadapan mereka adalah penguasa negeri ini.
"Eldrige, temani aku bermain dengan para badut ini!" Ucap Raja Satria sambil menarik pedangnya dari sarung pedang yang tergantung di pinggangnya.
Eldrige mengangguk dan segera mengeluarkan pedangnya. Sebuah pedang berkilauan milik bangsa peri.
Orang-orang itu terkagum-kagum melihat keindahan pedang yang dibawa Eldrige. Namun dengan nekat mereka tetap menyerangnya.
"Trang... Trang... Trang...! "
Suara pedang beradu dan bergesek. Mereka saling menusuk, menggores dan menyabet. Padang ilalang itu bergerak-gerak seperti gelombang di lautan.
"Sreet.. sreet.. cras.. cras.. "
Berulang kali Raja Satria dan Eldrige berhasil melukai dan menusuk orang-orang itu. Tubuh mereka sudah koyak dan berlumuran darah.
__ADS_1
Mereka tak sebanding melawan Raja Satria dan Eldrige. Tak butuh waktu lama, mereka berlima tersungkur dan ambruk di bawah rimbunan alang-alang.
"Kita harus segera pergi Eldrige!"
Mereka segera pergi menerobos ilalang dan menembus hutan. Tak lama kemudian beberapa orang dari gerombolan itu mendekat. Mereka mendengar suara gaduh dari arah padang ilalang.
Melihat rekan-rekannya tersungkur tak bernyawa, mereka segera menyebar untuk mencari pelakunya. Orang-orang itu bergerak cepat mengejar penyusup yang telah mengetahui sarang mereka.
Namun mereka terlambat, karena Raja Satria dan Eldrige telah berteleportasi ke istana lewat lubang dimensi yang dibuat oleh Eldrige.
Karena tidak bisa menemukan para penyusup, mereka akhirnya kembali ke tenda. Mereka menemui pemimpin mereka, seorang pria berambut hitam dikepang.
"Maaf, Jenderal Lee. Kami tidak berhasil menangkap para penyusup."
"Kurang ajar! Mereka pasti akan segera melapor pada prajurit kerajaan. Sekarang kemasi semuanya! Kita harus meninggalkan tempat ini sekarang juga!"
*****
Chen masuk ke kamar tempat wanita itu berbaring. Dia duduk di kursi di sebelah ranjang. Diusapnya air mata yang mengalir di pipi wanita itu.
Kemudian dia mengambil sebuah kotak kayu berwarna hitam mengkilap yang berisi peralatan medis. Lalu diambilnya sebuah jarum dan mensterilkannya ke dalam cairan alkohol.
Dengan cekatan tangannya menusuk titik nadi yang berada di leher wanita itu. Chen memang mahir dalam dunia medis. Bahkan dialah yang membuat wanita itu "tidur" dalam waktu lama. Kini dia memutuskan untuk membangunkannya.
Tak lama kemudian, sepasang mata itu bergerak-gerak dan mengerjap. Berusaha untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari yang menerangi kamar itu.
"Kau sudah bangun, Sayang?" Chen tersenyum manis.
Dahi wanita itu berkerut. Dia sama sekali tidak mengenali wajah yang pertama kali dilihatnya itu.
"Siapa kau?"
"Aku tunanganmu, Sayang. Chen."
"Chen? Tapi aku sama sekali tak mengenalmu. "
"Tentu saja kau mengenalku. Kau hanya lupa."
"Tapi aku mengingat semuanya. Aku adalah Gita. Puteri dari Kerajaan Watu Ijo."
"Kau pasti bermimpi, Sayang! Ah, tapi aku tak menyalahkanmu. Kau sudah tertidur lama sekali. Kau tidak bisa membedakan dunia nyata dan alam mimpi."
"Maksudmu semua itu mimpi? Aku bukan Puteri Gita?" Jari-jarinya yang lentik menekan pelipisnya karena kepalanya tiba-tiba terasa nyeri.
"Tenang Sayang, aku tak akan memaksamu mengingat semuanya."
"Jadi siapa aku? Katakan siapa aku?" Wanita itu mulai histeris.
Dengan lembut Chen menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Dielusnya rambut hitam yang bergelombang itu dengan sayang.
"Kau adalah Fen, kekasihku. Orang tuamu meninggal akibat ledakan dua bulan yang lalu. Aku tahu kau masih trauma, Sayang. Tapi percayalah, aku akan selalu mendukungmu untuk melewati semua ini." Chen berkata dengan lemah lembut.
"Jadi sebenarnya aku sebatang kara?" Mata wanita itu berkaca-kaca.
"Tidak! Ada aku di sini, aku sekarang adalah keluargamu!"
__ADS_1