
Raja Satria melangkah mundur, mencoba menghindari wanita elang itu. Tapi kelihatannya Raja Satria sudah terlanjur menarik perhatian makhluk itu. Jadi kemanapun Raja Satria melangkah, makhluk aneh itu tetap mengawasinya. Raja melangkah perlahan ke belakang makhluk itu dan berusaha menghindarinya. Namun yang terjadi malah lebih mengerikan, karena kepala makhluk itu bisa berputar sejauh seratus delapan puluh derajat. Matanya yang tajam terus mengintainya. Raja Satria terbelalak kaget melihat hal yang mengerikan itu.
Kemudian Raja Satria segera berlari secepat mungkin melintasi lapangan rumput, kemudian menerobos bedeng-bedeng Freesia dan dia juga tidak berhenti bahkan ketika kakinya menginjak-injak semak mawar hingga kakinya terasa perih.
Tiba-tiba dia melihat ada sebuah bayangan gelap melintas di atas tanah yang dipijaknya. Bayangan yang sangat besar!
Raja Satria mendongak ke atas dan melihat wanita elang tadi terbang di atasnya dengan merentangkan sayapnya yang lebar. Makhluk itu mengejarnya, mendadak dia merasa menjadi mangsa seekor Predator.
"Kaaaaaack!"
Suara lengkingan makhluk itu memecah kesunyian malam. Dengan irama jantung yang bertalu-talu dan napas yang kian memburu, Raja Satria mempercepat ayunan kakinya. Dilihatnya pintu Wisma sudah dekat, dia harus bisa mencapai pintu Wisma sebelum makhluk itu menyerangnya. Sesaat sebelum kakinya mencapai pintu, tiba-tiba dia merasa tubuhnya melayang. Makhluk itu telah mencengkeram bahunya dan membawanya terbang. Rasa sakit menjalar di bahunya karena cakar elang itu menancap menembus kulitnya.
Raja meronta-ronta berusaha melepaskan diri, namun makhluk itu terbang semakin tinggi melewati atap dan bahkan melewati menara istana. Raja Satria akhirnya memutuskan untuk diam saja karena jika terjatuh maka akan fatal akibatnya.
Makhluk itu terus membumbung ke angkasa, menembus langit malam. Raja Satria melihat ke bawah dan bisa melihat istananya semakin mengecil hingga menjadi titik yang samar. Udara di atas sini juga terasa semakin menipis dan terasa dingin.
Tiba-tiba saja, makhluk itu melepaskan cengkeramannya. Tubuh Raja Satria melayang kebawah dan menukik tajam ke bumi. Tubuhnya terasa lemas dan perutnya seperti diaduk-aduk. Dia merasa bagaikan bulu yang melayang-layang. Dipejamkannya matanya untuk menyambut kematian. Wajah istrinya terbayang di benaknya, seiring bobot tubuhnya yang terus melaju turun ke bawah.
Mendadak ada sebuah tangan yang menangkap tubuhnya. Menariknya keatas dan mengguncang-guncang tubuhnya.
"Sadarlah..!" Ada sebuah suara memanggil-manggil.
Rasanya berat sekali untuk membuka matanya. Wajahnya perih serasa ditampar berkali-kali.
"Sadarlah!"
Perlahan-lahan Raja Satria membuka matanya. Samar-samar cahaya mulai memasuki penglihatannya. Dan mulai terlihat seraut wajah yang terus memanggilnya.
"Sayang?" Tangannya berusaha menggapai wajah istrinya yang terlihat cemas. Dia merasa bersyukur masih bisa melihat wanita yang dicintainya itu.
"Sayang.."
Telinganya mendengar suaranya sendiri yang bergumam. Dan ketika kesadarannya pulih, ternyata dia sedang mengelus-elus wajah Eldrige yang menatapnya dengan ekspresi menggelikan.
__ADS_1
Dia segera menarik tangannya dari wajah Eldrige. Lalu memandang sekelilingnya dengan bingung. Ternyata dia masih berada di ranjangnya sendiri.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Raja Satria penuh curiga. Sebenarnya dalam hatinya merasa risih dan malu karena sudah menjamah wajah peri itu.
"Yang Mulia tadi mengigau dan terjatuh dari tempat tidur. Saya berusaha mengangkat kembali ke ranjang dan juga berusaha menyadarkan Yang Mulia." Tampak kilat kecemasan di mata Ruby -nya.
"Jadi tadi aku hanya bermimpi?" Pikirannya kembali melayang pada peristiwa menyeramkan yang baru saja dialaminya. Rasanya betul-betul nyata. Bahkan dia masih bisa merasakan perihnya bekas cengkeraman makhluk itu di bahunya.
Eldrige memberikan segelas air kepada Raja Satria yang segera ditandaskannya.
"Tadi aku bermimpi dan itu terasa sangat nyata. Ada seorang wanita yang menari di bawah sinar bulan. Dan aku merasa sangat familiar dengan sosoknya tapi ternyata saat kudekati, wajahnya itu.. ternyata wajah elang!" Raja Satria masih terlihat syok.
"Wanita berwajah elang?" Raut wajah Eldrige tiba-tiba terlihat tegang.
"Dia mengejarku dan berhasil menangkapku. Makhluk itu mencengkeram bahuku dan membawaku terbang. Lalu dia melemparku dari atas ketinggian." Raja Satria berusaha menceritakan mimpinya.
"Sampai sekarang bahkan aku masih merasakan sakitnya bekas cakaran makhluk itu."
Dengan sedikit ragu, Raja Satria melepas kancing bajunya. Disingkapnya bagian bahu dan diperlihatkan kepada Eldrige.
Mata peri itu terbelalak melihat bekas kuku yang menancap di kedua bahu Raja Satria. Seolah-olah mimpi yang dialami Raja Satria betul-betul nyata.
"Sangat menarik!" Gumam Eldrige.
Raja Satria mengaduh saat dia mencoba meraba luka di bahunya.
"Kurasa ini bukan mimpi biasa 'kan, Eldrige?" Raja Satria memandang Eldrige dengan tatapan menuntut. Dia merasa masalah ini lebih serius dari perkiraannya. Otaknya sama sekali sulit mencerna fenomena aneh ini.
Eldrige terdiam memikirkan sesuatu. Rasanya dia pernah mendengar kasus kematian yang disebabkan oleh mimpi buruk.
"Saya belum bisa menjelaskan secara pasti yang menyebabkan Yang Mulia mengalami hal ini. Namun saya sarankan jangan tidur dulu sampai pagi!"
Raja Satria mengangguk setuju. "Lagi pula aku sudah tidak mengantuk."
__ADS_1
Eldrige mengambil kotak obat dan menaburkan bubuk obat ke atas luka Raja Satria. Wajah Raja Satria mengernyit merasakan perih.
"Wajahku juga rasanya perih, Eldrige. Bisakah kau oleskan sesuatu? Aku takut wajahku nanti bengkak." Raja mengusap-usap pipinya yang memerah.
Eldrige memandangnya sambil menahan senyum. Tanpa sepengetahuan Raja Satria, tadi dia sempat menepuk-nepuk wajahnya dengan agak keras untuk menyadarkannya. Ataukah itu disebut menampar? Entahlah, dalam keadaan panik seseorang bisa saja melakukan hal-hal yang agak berlebihan tanpa sadar 'kan?
"Kenapa kau cengengesan seperti itu?" Raja Satria menegur Eldrige ketika dia mendapati peri itu tersenyum-senyum saat membalut lukanya.
"Saya?" Eldrige bertanya dengan wajah polos dan tampak tanpa dosa.
"Jangan pura-pura! Kau pasti menganggapku sangat lemah karena mengalami hal ini. Coba saja kalau kau sendiri yang mengalaminya?" Raja Satria merasa sebal ditertawakan oleh seorang peri penjaga perpustakaan.
Eldrige kemudian menuang beberapa tetes minyak esensial yang terbuat dari ekstrak Geranium dan Rosemary dari botol, kemudian mengoleskannya pada wajah Raja Satria.
"Rasanya nyaman." Raja Satria tersenyum sambil mengelus pipinya yang licin dan mengkilap terkena minyak.
"Saya rasa ini sudah saatnya kita menanyakan langsung kepada Selir Mayang." Ucap Eldrige.
Dia merasa yakin bahwa Selir Mayang yang membuat Raja Satria mengalami mimpi buruk itu dengan bantuan Sitr.
"Ya, kurasa kau benar. Kurasa permainan ini sudah mulai berbahaya." Raja Satria tidak mengerti kenapa selirnya itu sampai nekat melakukan hal-hal yang mengerikan seperti ini. Kini dia merasa bahwa wanita yang terlihat lemah lembut itu ingin membunuhnya.
"Apakah aku dan Ratu Gita bisa melepaskan pengaruh Sitr jika Selir Mayang berhenti memanterai kami?"
"Saya khawatir tidak semudah itu, Yang Mulia. Seseorang yang sudah mengikat perjanjian dengan iblis biasanya tidak akan bisa memutuskan perjanjian secara sepihak." Wajah Eldrige terlihat sangat serius.
"Lalu apa yang harus kita lakukan padanya?"
"Kita harus bisa membuatnya melakukan upacara pembatalan perjanjian!"
"Upacara pembatalan perjanjian?" Raja Satria menirukan ucapan Eldrige.
Eldrige mengangguk. Mereka berdua saling berpandangan penuh arti.
__ADS_1