Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 107 Waspada


__ADS_3

Sinar matahari pertama masuk melalui celah jendela ke dalam kamar dimana Puteri Juwita terlihat masih tertidur. Gadis itu tidur dengan tenang dan sama sekali tidak terpengaruh oleh suara langkah kaki berisik yang berlalu lalang di koridor.


Untuk seseorang yang tidak dapat tidur nyenyak selama beberapa hari ini, gadis itu tidur sangat pulas. Namun beberapa saat kemudian dia akhirnya terbangun dari tidurnya.


"..... "


Dengan bingung Puteri Juwita mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Gadis itu menggosok matanya, berusaha untuk mengusir sisa kantuknya. Dia ingat semalam Eldrige menemaninya, tapi pria itu sekarang sudah tidak ada.


Saat dia teringat kejadian semalam, antara dirinya dan Eldrige, mulutnya sontak menganga lebar. Pipinya merah dan terasa panas seolah-olah terbakar. Puteri Juwita meraih bantal dan dengan malu-malu membenamkan wajahnya, berharap dia tidak terus-terusan membayangkan ciuman pertama mereka semalam.


"Ah.. nanti apa yang harus aku lakukan jika bertemu Eldrige? Aku sangat malu! " Gadis itu merasakan napasnya semakin sesak karena terbekap bantal jadi segera mengangkat wajahnya.


Puteri Juwita dengan hati-hati menurunkan kakinya ke lantai, namun dia merasakan lututnya masih terasa nyeri. Tangannya menyingkap gaunnya dan melihat kedua lututnya yang lecet telah dibalut kain.


Ujung jarinya menyentuh kain putih yang membalut lukanya, dia tidak ingat kapan Eldrige melakukannya. Tapi ada perasaan hangat yang menjalari dadanya membayangkan pria itu dengan telaten melakukannya.


Ceklek!


Tiba-tiba pintu kamar dibuka, Ningrum masuk ke dalam dengan wajah pucat.


"Ningrum! " Pekik Puteri Juwita ketika melihat temannya itu.


Ningrum bergegas menghampiri Puteri Juwita dan memeluk gadis itu sambil berurai air mata.


"Syukurlah kau selamat, Juwita! "


"Aku juga senang kau selamat! " Puteri Juwita ikut menangis.


Kedua gadis itu merasa lebih dekat dari sebelumnya. Pengalaman traumatis yang mereka alami membuat ikatan persahabatan mereka semakin mendalam.


"Bagaimana kau bisa selamat? " Tanya Puteri Juwita.


"Tuan Eldrige yang menyelamatkan aku. Kurasa, dia juga yang menolongmu bukan? "


Puteri Juwita mengangguk, wajahnya kembali tersipu. Setidaknya dia beruntung memiliki Eldrige yang menyayanginya dan selalu siap melindunginya.


"Dia menyelamatkan aku saat aku dijual sebagai budak." Setitik air mata kembali menggenang di sudut matanya.


"Juwita, itu mengerikan sekali! Aku lega Tuan Eldrige bisa segera menemukanmu." Ningrum mengusap air matanya.


"Bagaimana pun juga, akhirnya kita selamat. Bagaimana keadaanmu? Terakhir kali kau demam dan aku tidak bisa bertemu denganmu lagi."


"Aku tidak tahu yang terjadi, kemungkinan aku pingsan selama beberapa waktu sebelum Tuan Eldrige datang. Tapi kau tak akan percaya jika aku katakan bahwa Tuan Eldrige memiliki semacam sihir. Dia dengan mudah menghempaskan para penjahat dengan mengibaskan tangannya." Ningrum berbicara dengan bersemangat.


"Benarkah? " Tanya Puteri Juwita sambil mengulum senyum.


"Iya, tapi hal itu mungkin juga hanya halusinasiku akibat aku demam. Yang pasti Tuan Eldrige mengalahkan mereka semua." Ucap Ningrum sambil mengenang saat dia menyaksikan aksi Eldrige dari dalam kamar yang gelap.


Saat itu Puteri Juwita tenggelam dalam pemikirannya dan tidak menyadari bahwa Ningrum memperhatikannya dengan heran. Ada keheningan canggung yang menyelimuti ruangan itu, Ningrum ingin mengatakan sesuatu namun dia mengurungkannya.


Ningrum ragu-ragu untuk beberapa saat, namun dia memutuskan untuk menyadarkan Puteri Juwita dari lamunannya.


"Apa yang kau pikirkan, Juwita? " Serunya dan membuat Puteri Juwita kembali tersadar.


"Bagaimana dengan Sari?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Puteri Juwita.

__ADS_1


Ningrum terdiam, gadis itu sudah berpikir bagaimana cara menghadapi teman yang telah menusuk mereka dari belakang itu. Dia bahkan belum berani menanyakan hal itu pada siapapun.


"Aku juga belum tahu, Juwita." Jawab gadis itu jujur.


Kedua gadis itu kembali terdiam. Pembahasan sensitif seperti ini memang masih membuat mereka merasa tidak nyaman.


*****


Seorang gadis belia sedang berlatih memanah di sebuah lapangan yang dipenuhi oleh bunga-bunga bluebell. Rambut gadis itu berkibar-kibar tertiup angin.


Di ujung sana sebuah anak panah tertancap di pinggir papan face target yang berbentuk lingkaran. Sejak tadi anak panahnya meleset dari sasaran dan melesat ke sembarang arah.


Namun kali ini anak panahnya berhasil mengenai sasaran meski belum tepat. Segaris senyuman tipis terlihat di bibirnya.


"Bagus sekali, Puteri Devi! " Seorang wanita cantik yang dari tadi melatihnya memberikan pujian.


"Terima kasih, Sophie. Semoga kau tidak bosan mengajariku." Jawab gadis itu.


"Saya tidak akan bosan, justru saya sangat bersemangat." Sophie berusaha agar gadis itu tidak patah arang.


"Ayo kita lanjutkan lagi, Tuan Puteri! " Sophie kembali mengajak Puteri Devi berlatih.


Puteri Devi kembali berusaha melesatkan anak panahnya ke arah sasaran, namun sayang kali ini bidikannya meleset lagi. Sophie terus memberinya semangat untuk berlatih.


Berkali-kali Puteri Devi merentangkan busurnya dan menembak sasaran, beberapa berhasil mengenai papan face target meski belum tepat benar.


"Sebaiknya kita akhiri sesi latihan kita kali ini, hari sudah senja. Besok kita ulangi lagi, setelah itu kita akan berlatih menunggang kuda." Sophie mengajak Puteri Devi kembali ke Istana Lucshire.


Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di bawah pohon-pohon redwood raksasa berusia ratusan tahun. Beberapa kali mereka berpapasan dengan peri-peri yang tinggal di hutan Lucshire yang damai.


Saat mereka akan memasuki Istana, tiba-tiba dari langit terlihat gumpalan awan putih yang terlihat semakin turun. Puteri Devi terus memperhatikannya dengan seksama.


Sophie ikut mendongak ke atas, peri itu agak curiga melihat awan yang terlihat aneh itu. Namun semakin lama awan itu mendekat, wujud aslinya semakin tampak nyata.


"Itu Pegasus! " Seru Sophie.


"Pegasus? " Puteri Devi memandangi wujud kuda terbang itu dengan kagum.


Rentangan sayapnya sangat luas, bulu-bulu putihnya tampak indah berkilau. Sapuan angin terasa agak kencang seraya binatang sihir itu semakin mendekat. Pegasus akhirnya mendarat dengan anggun di permukaan tanah.


"Indah sekali! " Seru Puteri Devi penuh kekaguman.


Pegasus menggulung sayapnya dan berdiri di hadapan mereka. Beberapa peri ikut mengerumuni tempat itu, bertanya-tanya mengapa Pegasus datang ke tempat mereka.


"Pegasus itu akan menjadi tungganganmu, Puteri Devi. Karena kau adalah Ksatria yang terpilih untuk memimpin Liga Kerajaan melawan Bangsa Daemonie!" Tiba-tiba saja Ratu Malea muncul di hadapan mereka.


Puteri Devi menatap Ratu Malea seakan tak percaya. Dia akan menunggangi Pegasus? Bahkan dalam mimpi terliarnyapun dia tak pernah membayangkan akan dapat menunggangi binatang sihir yang mulia itu.


Pegasus berjalan beberapa langkah mendekat, lalu tiba-tiba kuda bersayap itu menekuk kaki depannya sehingga tampak sedang membungkuk hormat.


"Kau sangat pintar! " Puteri Devi mengelus-elus kepala Pegasus dan merasakan bulu-bulunya yang halus. Kuda berwarna putih cemerlang itu meringkik pelan.


"Cobalah menungganginya!" Ucap Ratu Malea dengan lembut.


"Ah, baik Yang Mulia." Gadis itu terlihat agak gugup, namun Pegasus begitu tenang sehingga Puteri Devi memberanikan diri untuk naik ke atas punggungnya. Gadis itu mengelus-elus punggung binatang itu dan membelai surainya yang panjang.

__ADS_1


"Aku siap Pegasus. Tolong antar aku berkeliling ke seluruh wilayah Kerajaan Lucshire dan ke puncak gunung Great Solano! " Bisik Puteri Devi.


Kuda itu meringkik lalu mulai membentangkan sayapnya. Para peri yang berdiri menonton dibuat takjub melihat keindahan makhluk sihir itu.


Kemudian dengan sekali hentakan kuda itu melesat terbang ke angkasa. Pada awalnya Puteri Devi merasa takut dan memeluk leher Pegasus dengan erat. Namun lama-lama gadis itu mulai mengendurkan pelukannya dan menikmati belaian angin di wajahnya.


Puteri Devi kini duduk dengan tegak sambil melihat bumi di bawahnya. Hutan Lucshire yang berwarna merah kehijauan kini berada tepat di bawah kakinya.


Pegasus terbang dengan kecepatan sedang untuk mengimbangi penunggang pemula yang kini berada di atas punggungnya. Kuda itu mengepakkan sayapnya dengan gesit dan tanpa suara seperti elang. Kini dia membawa penunggangnya terbang dan melintasi puncak gunung Great Solano yang tertutup es.


"Wow, ini sangat menyenangkan! " Seruan gadis itu tertiup angin bersamaan dengan rambutnya yang terbang-terbang ke belakang.


Setelah beberapa kali lintasan, akhirnya Pegasus membawa Puteri Devi kembali turun di halaman depan Istana Lucshire. Kedatangan mereka disambut tepuk tangan oleh para peri yang masih setia menanti.


"Terima kasih, Pegasus! " Puteri Devi memeluk leher Pegasus.


Setelah itu Pegasus meringkik sekali, kemudian binatang itu kembali melesat di angkasa.


*****


Malam itu di atas langit Elfian terlihat pergerakan kawanan burung hitam yang melintas. Para penjaga yang mengawasi di menara segera melaporkan hal itu pada atasannya.


Raja Satria yang juga diberi tahu segera mengamati dengan teropong. Pria itu memperhatikan kawanan itu yang nampak seperti kawanan burung biasa hanya saja mereka terlihat sangat besar.


"Panggil para peri dan suruh mereka untuk bersiap! " Perintah Raja Satria tanpa mengalihkan perhatiannya dari kawanan burung itu.


Para prajurit juga mulai bersiap di posisi mereka. Mereka merasa tegang karena harus menghadapi musuh yang tidak biasa.


Para peri yang ditugaskan oleh Ratu Malea untuk menjaga wilayah Kerajaan Elfian kini bersiap di seluruh titik jaga. Dua orang peri yang menjaga Istana segera membentuk perisai sihir.


Namun anehnya setelah menunggu cukup lama, kawanan itu hanya melintas dan terbang menjauh.


"Jangan kendurkan penjagaan, kita harus tetap waspada! " Perintah Raja Satria.


Pria itu kemudian pergi menemui Faye dan para Anggota Dewan Kerajaan.


"Bagaimana menurutmu? Kenapa mereka hanya melintas? "


"Menurut saya mereka mungkin hanya mengamati, atau bisa saja hanya untuk mengalihkan perhatian. "


"Berarti kita harus mewaspadai jika mereka sebenarnya sengaja mengalihkan perhatian kita ke angkasa. Bisa saja saat ini mereka sedang menyusup lewat jalur darat." Raja Satria mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya.


"Faye, bagaimana laporan situasi di kerajaan lain? " Raja Satria kemudian mengalihkan pada masalah luar.


"Hari ini terjadi pembantaian di sebuah balai kota Kerajaan Nord. Para peri yang bertugas di sana langsung mendatangi lokasi kejadian, namun para pelaku sudah melarikan diri. "


"Apakah mereka para Daemonie yang berubah wujud sebagai burung-burung Strix? "


"Menurut laporan, para pelaku adalah pedagang yang biasa berjualan di sekitar sana. Namun tiba-tiba mereka membunuh orang-orang di sekitarnya secara acak. Namun tidak ada yang menyebutkan bahwa mereka berubah menjadi Strix."


"Apakah orang-orang itu mendadak gila atau mereka kerasukan? "


"Hal itu masih dalam penyelidikan, namun yang pasti para pelaku saat ini masih dalam pelarian."


"Apakah mungkin bahwa mereka adalah bangsa Daemonie? " Tanya Raja Satria lagi.

__ADS_1


"Hal itu mungkin saja Yang Mulia. Bangsa Daemonie tidak hanya dapat berubah wujud menjadi Strix. Beberapa dari mereka adalah imposter yang ulung. Mereka mampu merubah wujud menjadi siapa saja yang mereka inginkan." Faye menjelaskan dengan suara tenang.


"Jadi kecurigaan awal bahwa para Daemonie itu telah menyusup ke dalam kerajaan tidak boleh kita abaikan. Tetap waspada terhadap orang-orang yang bertingkah mencurigakan, terutama mereka yang memilih tinggal di gedung-gedung berarsitektur indah! " Raja Satria mengucapkan kesimpulannya


__ADS_2