
Raja Pelvis berdiri memandangi calon pengantinnya yang sedang bersama tamu tak diundang. Pria tampan itu tersenyum memikat ke arah Puteri Elok.
"Kemarilah sayang! " Raja Pelvis mengulurkan tangannya pada Puteri Elok.
Puteri Elok merasa ragu dalam hatinya, namun demi keselamatan dua orang yang ada di depannya Puteri Elok melangkah maju.
"Jangan, Kak! " Pangeran Sagar memegangi lengannya.
"Tenanglah Sagar, Kakak tidak apa-apa. " Puteri Elok melepaskan tangan adiknya dari lengannya.
"Jangan! " Pangeran Gaurav menggeleng sambil menatap Puteri Elok dengan mata berkaca-kaca.
"Tolong jaga adikku. " Ucap Puteri Elok sambil terus berjalan.
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi dengannya!" Tiba-tiba Pangeran Gaurav memeluk tubuh Puteri Elok dari belakang. Kepalanya dia sandarkan pada bahu wanita itu.
"Lepaskan aku! " Suara Puteri Elok bergetar.
"Aku tidak mau! Jangan tinggalkan aku! "
Puteri Elok merasakan pelukan yang semakin erat di tubuhnya dan dia juga bisa merasakan tubuh pria yang memeluknya itu berguncang.
"Lepaskan istriku! " Raja Pelvis berteriak marah.
"Wanita ini bukan istrimu! " Pangeran Gaurav menatap tajam mata Raja Pelvis.
Ada aura permusuhan yang sangat kental di antara mereka, Seolah-olah ada aliran listrik tak kasat mata yang membentang.
"Kemarilah istriku! "
Suara Raja Pelvis yang lembut kembali memanggil Puteri Elok. Suara mistis bangsa Rusalqa hampir mirip suara para Siren, mampu menghipnotis korbannya. Meskipun sebenarnya hal itu tidak berpengaruh pada Puteri Elok.
Puteri Elok berusaha melepaskan tangan Pangeran Gaurav yang memeluk tubuhnya.
"Jangan memilihnya! " Pangeran Gaurav mempertahankan pelukannya.
"Aku sudah membuat keputusan." Puteri Elok berbicara dengan datar.
"Bagaimana denganku? "
"Kau pasti akan baik-baik saja. "
Puteri Elok berusaha menahan air matanya, tak dipungkiri wanita itu masih sangat mencintai Pangeran Gaurav. Namun hatinya terluka karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Aku tidak mau kehilanganmu! Aku tak akan pernah melepaskanmu! "
"Jangan keras kepala! Pikirkan keselamatanmu sendiri dan adikku! "
"Aku kemari menjemputmu tidak perduli akan hidup atau mati! "
"Kenapa? " Suara Puteri Elok bernada putus asa.
"Karena.. Karena aku mencintaimu! " Akhirnya Pangeran Gaurav mampu mengungkapkan perasaannya.
Mendengar ucapan cinta dari pria itu membuat air mata yang dari tadi ditahan oleh Puteri Elok akhirnya luruh. Seluruh tubuh wanita itu bergetar. Ada perasaan lega dan bahagia yang menyusup di dalam hatinya.
Namun di depan sana dia melihat Raja Pelvis sedang berdiri dengan mode siaga. Insting binatangnya pasti mendeteksi musuh yang akan merebut pasangannya. Wanita itu tidak mau kalau Raja Pelvis menyerang Pangeran Gaurav dan adiknya.
"Maafkan aku! " Puteri Elok segera melepaskan tangan pria yang dicintainya itu dan berjalan ke arah Raja Pelvis.
Penolakan itu membuat hati Pangeran Gaurav benar-benar hancur. Dia tidak menyangka perasaan cintanya akan diabaikan begitu saja.
"Aku tidak perduli meskipun kau menolakku. Kau tetap harus pulang! " Tiba-tiba Pangeran Gaurav menarik tangan Puteri Elok sehingga tubuh wanita itu mundur ke belakang.
__ADS_1
"Sagar, bawa kakakmu pulang! " Pangeran Gaurav mendorong tubuh Puteri Elok ke arah Pangeran Sagar. Pemuda itu segera menangkap tubuh kakaknya dan menariknya melewati lorong tempat mereka datang tadi.
"Kalian tidak akan bisa pergi dari tempat ini! " Suara Raja Pelvis terdengar murka.
Pria itu meletakkan telunjuknya di pelipis dan mengirimkan gelombang elektromagnetik sebagai sinyal transmisi untuk memanggil bangsa Rusalqa. Dia akan mengerahkan semua rakyatnya untuk mencegah calon pengantinnya melarikan diri.
Pangeran Gaurav menyadari bahwa Raja Pelvis sedang memanggil teman-temannya dan hal itu pasti akan membahayakan Puteri Elok dan Pangeran Gaurav.
"Hei, manusia ikan. Kemarilah dan lawan aku!" Pangeran Gaurav berusaha memancing Raja Pelvis.
Benar saja, Raja bangsa Rusalqa itu segera menarik telunjuknya dan menatap Pangeran Gaurav dengan garang.
"Ternyata kau sudah tidak ingin hidup! "
*****
Ratu Gita agak syok melihat kondisi mayat yang sangat mengenaskan. Seumur hidupnya, dia belum pernah melihat pemandangan yang sangat mengerikan seperti ini.
Namun rasa ingin tahunya mengalahkan rasa takutnya. Dengan tangan gemetar, Ratu Gita memeriksa luka-luka yang terdapat pada mayat itu.
"Korban bernama Handoko, seorang anggota Dewan Kerajaan." Penyelidik Kerajaan memberikan penjelasan kepada Ratu Gita.
"Di mana korban ditemukan? "
"Korban ditemukan tadi pagi di rumahnya. "
"Di rumahnya?"
"Namun ada yang janggal. Sepertinya korban meninggal tidak dibunuh oleh pelaku pembunuhan sebelumnya. Luka-lukanya dibuat seolah-olah menyerupai korban terdahulu. "
"Atas dasar apa pemikiranmu itu? " Ratu Gita mengerutkan keningnya.
"Jika diperhatikan dengan seksama, maka akan terlihat bahwa korban dicabik-cabik setelah meninggal. Dan saya tidak menemukan cairan amis yang biasanya ditemukan pada tubuh korban sebelumnya. Hanya ada sisik ikan ini yang menempel di tubuhnya. "
"Sisik itu sama. "
"Jadi menurutmu, ada seseorang yang membunuh Handoko namun membuat sayatan di tubuhnya setelah dia meninggal sehingga nampak seolah-olah dibunuh oleh pembunuh sebelumnya. Benar? "
"Benar! "
"Lalu orang itu juga meninggalkan sisik yang sama seperti pada korban-korban sebelumnya?"
"Benar Yang Mulia. "
"Selidiki dengan siapa saja Handoko berhubungan akhir-akhir ini. Dan siapa orang yang terakhir kali ditemuinya! "
"Baik Yang Mulia! "
Ratu Gita kemudian melangkah pergi diikuti oleh Atmaja. Ratu Gita berharap ada seseorang yang bisa membantunya untuk mengungkap misteri ini. Dan terutama mencari penawar bagi kesembuhan suaminya.
Ketika Ratu Gita baru sampai di kediamannya, dia telah disambut oleh pekikan seorang gadis.
"Gita! "
"Sekar? " Ratu Gita agak terhuyung ketika tubuhnya ditubruk oleh seorang gadis kecil berpipi tembem.
"Oh, Gita. Aku benar-benar merindukanmu. "
"Aku juga merindukanmu, Sekar. Kau datang bersama siapa, anak manis? " Ratu Gita mengelus rambut ikal gadis kecil itu.
"Halo Gita." Seorang pemuda tersenyum menyapa Ratu Gita.
"Arya? Dan.. Faye? " Ratu Gita tersenyum lebar, setitik air mata membasahi sudut matanya.
__ADS_1
Ratu Gita segera duduk diantara sahabat-sahabatnya itu. Hatinya agak terhibur dengan kedatangan mereka.
"Aku terkejut sekali melihat kalian ada di sini. " Ucap Ratu Gita.
"Sebenarnya kami diutus oleh Ratu Malea untuk membantu Yang Mulia." Ucap Faye.
"Membantuku? "
"Ratu Malea telah mengetahui kejadian mengerikan yang terjadi di Kerajaan Elfian." Faye berbicara dengan serius.
"Oh, maksudnya tentang pembunuhan itu? "
"Juga tentang Raja Satria. "
Wajah Ratu Gita berubah muram. Kesedihan tercetak jelas di wajahnya. Senyuman yang tadi mengembang di bibirnya kini sirna.
"Terima kasih." Ratu Gita berusaha tersenyum.
"Kami akan membantu mencari obat penawar bagi Raja Satria. "
"Aku lega mendengarnya. " Ratu Gita tersenyum sambil meneteskan air mata.
*****
Seorang wanita berjalan terseok-seok tanpa alas kaki di pinggiran hutan. Tubuhnya penuh luka dan pakaiannya compang-camping.
Hidungnya beberapa kali mengendus-endus udara, mencoba mencari jejak aroma dari bangsa sejenisnya. Malam ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menemukan pasangannya.
Tiba-tiba wanita itu menegakkan tubuhnya, dia menangkap sinyal panggilan di telinganya. Meskipun hanya sesaat, dia tahu bahwa panggilan itu berasal dari seseorang yang paling dominan di kaumnya. Panggilan dari seorang pemimpin, seorang raja.
Wanita itu tidak menangkap pesan itu dengan jelas, namun yang dia tahu adalah bahwa dia telah dipanggil. Mengingat nanti malam adalah malam pengantinnya. Pastilah Raja Pelvis mengharapkanya datang.
"Aku sudah membunuh manusia-manusia bejat itu. Aku akan datang suamiku! " Wanita itu mempercepat langkahnya.
"Berhenti! " Sebuah panggilan memaksanya untuk menghentikan langkah.
"Kenapa kau selalu mengikutiku? " Tanya wanita itu dengan amarah yang memuncak.
"Lihat, aku memiliki ini. "
Mata wanita itu memperhatikan cincin safir ditangan orang itu. Cincin yang selama ini membuatnya bertekuk lutut dihadapan manusia.
"Apa maumu? "
"Kau harus menyelesaikan tugasmu! "
"Tugas apa? Aku tak punya perjanjian denganmu! Satu-satunya manusia yang membuat perjanjian denganku adalah Danang. Dan dia sudah kubunuh! " Wanita itu menyeringai mengerikan.
"Bagaimana dengan dua orang lainnya? "
"Mereka ingin menggunakan tubuhku untuk memuaskan nafsu mereka! Mereka juga sudah kubunuh! "
"Mari buat perjanjian, aku akan membantumu mencapai tujuanmu! "
"Apa kau tahu tujuanku? "
"Aku mengetahui semua tentangmu. Kau adalah Viviane. Kau berasal dari rawa-rawa dekat desa Yaselda. Kau adalah calon mempelai Raja Pelvis dari telaga Masserjarvi. "
Wanita itu, Viviane, tampaknya terkejut dengan keakuratan informasi yang dimiliki orang itu.
"Siapa kau? "
Orang itu membuka tudungnya, tampaklah seraut wajah cantik khas bangsawan Elfian.
__ADS_1
"Aku Mayang. "