
"Eldrige? " Puteri Juwita berseru kaget. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Eldrige sekarang berada di dalam selnya.
"Apa yang kau lakukan di sini? " Gadis itu berbisik sambil bolak-balik menoleh ke arah pintu karena takut penjaga menangkap basah mereka.
"Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian di sini. " Ucap Eldrige. Pria itu mengulurkan tangannya dan Puteri Juwita langsung menyambutnya.
"Tanganmu dingin. " Gadis itu merasakan genggaman kekasihnya terasa sedingin es.
"Itu karena aku gugup. Ah, rasanya lama sekali kita tidak bertemu. Aku tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini, maafkan aku. "
"Ini bukan salahmu, Eldrige. "
"Aku seharusnya tidak meninggalkanmu. Aku tidak bisa.." Eldrige terdiam beberapa saat. "Juwita, aku takut hal buruk terjadi padamu! "
"Tenanglah, Eldrige. Aku masih di sini. " Puteri Juwita bukannya tidak tahu arti ucapan Eldrige. Hukuman membunuh seseorang, apalagi seorang ratu, adalah hukuman mati.
Eldrige semakin mempererat genggamannya, sesekali dikecupinya kedua tangan yang ukurannya lebih kecil dari tangannya itu dengan putus asa. Dia benar-benar takut kehilangan gadis itu, rasanya dia ingin mati saja.
"Bagaimana kau bisa kemari? " Tanya Puteri Juwita.
"Aku..memakai lubang dimensi."
"Bukankah itu masih dilarang? " Tanya Puteri Juwita kaget.
"Aku tidak tahan ingin bertemu denganmu, Juwita. Aku bahkan tidak perduli jika Ratu Malea menghukumku nanti. Bagiku, berpisah darimu adalah sebuah hukuman. " Eldrige bersimpuh sambil memeluk kaki Puteri Juwita.
Puteri Juwita belum pernah melihat Eldrige serapuh ini. Tangan gadis itu mengelus kepala Eldrige. Jari-jarinya membelai rambut berwarna keperakan itu.
"Aku harus bisa mengeluarkanmu dari sini. Bisakah kau ceritakan padaku kejadian hari itu?"
"Aku terus mengingat kejadian hari itu di otakku sampai rasanya kepalaku mau meledak." Keluh Puteri Juwita.
"Kasihan sekali." Eldrige mengelus tangan gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Aku ingin sekali, sebentar saja, melupakan kejadian itu." Gadis itu menghela napas panjang. Dadanya terasa sangat sesak setiap mengingat permasalahannya.
"Aku tak akan bertanya lagi. Apapun yang terjadi aku hanya akan mempercayaimu." Kata Eldrige.
"Terima kasih,Eldrige. Aku beruntung memilikimu. " Puteri Juwita tersenyum pada Eldrige. Kedua matanya yang lebar dan memiliki bulu mata lentik itu menatap Eldrige dengan lekat, membuat jantung Eldrige berdegup kencang.
Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan. Rasa rindu yang terpendam begitu lama seakan memberontak meminta pelampiasan.
Tanpa sadar Eldrige beranjak dan duduk di sebelah gadis itu. Dia kemudian mendekatkan wajahnya pada Puteri Juwita. Aroma gadis itu terendus indera penciumannya dan membuatnya merasa hampir gila.
Pandangan mereka seakan terkunci. Tubuh dan hati mereka saling menginginkan. Saat keduanya semakin dekat, mereka bahkan dapat mendengar irama jantung masing-masing saling berkejaran dalam ritme cepat.
Deru napas mereka kini semakin memburu. Ketika kulit mereka akhirnya saling bersentuhan, hal itu membuat tubuh mereka seolah tersengat aliran listrik bertegangan ribuan volt.
Sudah sangat lama mereka tidak saling bersentuhan, tidak saling merasakan. Dengan mata terpejam, bibir mereka saling mencari dan menyesap seakan kehausan.
Sebelah tangan Eldrige menyusup ke tengkuk gadis itu dan menekannya untuk memperdalam ciumannya. Namun hal itu rasanya tidak cukup untuk menuntaskan dahaganya.
Tangannya yang lain kini mulai mengelus punggung Puteri Juwita dan merasakan kontur tubuh gadis itu di balik baju tahanan yang berbahan kasar dan membuat gatal. Hal itu membuat imajinasi Eldrige semakin liar dan dia memeluk tubuh gadis itu dengan semakin erat.
"Eldrige, tolong hentikan! " Dengan napas tersengal-sengal Puteri Juwita menahan tubuh Eldrige untuk tidak semakin mendesaknya.
Eldrige berhenti bergerak. Dengan buru-buru dia melepaskan gadis itu dari pelukannya.
"Maafkan aku. " Ucapnya dengan penuh penyesalan. Jarinya mengusap bibirnya yang basah.
"Tidak apa-apa." Kepala gadis itu menunduk dan wajahnya merah karena malu.
"Tidurlah, aku akan menemanimu di sini." Ucap Eldrige dengan gugup, memutus desakan hasrat yang hampir menguasai akal sehatnya.
"Aku tidak bisa tidur. "
"Berbaring saja dan pejamkan matamu." Eldrige membelai kepala Puteri Juwita dengan lembut. Gadis itu sangat berharga baginya.
Puteri Juwita kembali berbaring. Sebelum memejamkan mata dia melihat Eldrige tersenyum, hal itu membuatnya merasa tenang.
Eldrige menggerakkan jarinya di atas kepala Puteri Juwita. Sejumput asap terlepas dari pelipis gadis itu. Berangsur-angsur napas gadis itu menjadi teratur dan wajahnya terlihat tenang.
"Selamat tidur, Juwita." Bisik Eldrige.
*****
Raja Gaurav ingin sekali mendampingi Raja Satria untuk menghadiri pengadilan, namun pria itu tidak bisa karena harus kembali bergabung bersama pasukan Liga Kerajaan.
__ADS_1
"Jangan khawatir, akan kukirimkan tambahan pasukan untuk menjaga istana Elfian." Kata Raja Gaurav sebelum pergi.
"Terima kasih. " Jawab Raja Satria.
Persidangan dimulai tanpa menunggu lama dan hanya berselang satu minggu setelah pemakaman mendiang raja dan ratu. Semua saksi yang datang di pengadilan semuanya memberatkan Puteri Juwita.
Namun yang membuat Puteri Juwita terkejut adalah pernyataan Pangeran Ryota.
"Saya tidak tahu bagaimana Puteri Juwita bisa pergi bersama Ratu Akemi dan kedua anaknya." Pemuda itu terlihat bingung.
"Namun terdakwa mengatakan bahwa saat itu seorang Staf Kerajaan mengajak kalian untuk bersembunyi di sebuah lubang rahasia, namun anda menolak ikut."
"Saya tidak pernah mendengar hal itu. Saat itu setelah sarapan, saya pergi memeriksa keadaan karena jendela di luar ruang makan pecah. Saat itu saya mengira bahwa istana diserang, namun ternyata itu hanya disebabkan oleh seekor burung yang tidak sengaja menabrak kaca jendela. "
"Jadi anda tidak tahu sama sekali tentang tempat rahasia itu? "
"Tidak. Saya sendiri heran karena setelah sarapan, saya tidak melihat mereka lagi." Jawab Pangeran Ryota.
"Kenapa kau berbohong? " Puteri Juwita berteriak.
Pangeran Ryota hanya diam melihat Puteri Juwita, lalu dia memalingkan wajahnya.
"Terdakwa diharap tenang! " Perintah hakim dengan tegas.
Puteri Juwita merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sepertinya ada suatu konspirasi untuk menutupi kejadian yang sebenarnya. Hal itu semakin diyakininya ketika beberapa pelayan mulai bersaksi.
"Puteri Juwita pernah bersikap aneh. Saya pernah menemukan kain berlumuran darah di kamarnya. Di lantainya juga terdapat ceceran darah. " Kata salah seorang pelayan ketika bersaksi di depan hakim.
"Apakah kau tahu darah siapa itu? " Tanya seorang Penuntut Kerajaan.
"Puteri Juwita berkata bahwa itu adalah darah menstruasinya. Namun saya tahu itu bukan darah menstruasi. "
"Lalu darah siapakah itu? "
"Itu adalah darah seorang Daemonie yang kabur dari penjara dan bersembunyi di kamar Puteri Juwita."
"Bagaimana kau bisa tahu hal itu?"
"Karena ada yang melihat seorang Daemonie bermalam di kamar itu. Dan dia adalah orang yang dapat dipercaya. "
"Benar. Seharusnya seseorang yang bekerja di sekolah itu bisa dipercaya bukan? " Kata pelayan itu dengan penuh percaya diri.
Raja Satria merasa sangat geram menyaksikan jalannya persidangan. Pria itu mengepalkan kedua tangannya.
Eldrige mencegat Puteri Juwita sebelum dikembalikan ke dalam sel.
"Apakah itu benar? Seorang Daemonie di dalam kamarmu? " Tanya Eldrige.
"Sayangnya itu benar. Tapi.. "
"Apa dia Nicolae? " Cegat Eldrige.
Puteri Juwita memandang Eldrige dan mengangguk lemah. Seketika dilihatnya sinar kekecewaan di mata pria itu.
Eldrige tidak berkata apa-apa lagi dan hanya diam memandang Puteri Juwita diseret kembali ke dalam sel.
Di persidangan berikutnya, beberapa saksi lagi dipanggil termasuk Staf Kerajaan kepercayaan Raja Sagar yang menunjukkan tempat persembunyian itu.
"Saya sama sekali tidak tahu mengenai lubang rahasia yang dimaksud. Selama bertahun-tahun saya mengabdi di sini, saya hanya tahu ruangan di balik rak perpustakaan raja. Dan itu biasanya digunakan mendiang Raja Sagar untuk menyendiri ketika sedang merasa suntuk." Kata pria itu.
Persidangan berlangsung beberapa kali dan selalu memberatkan Puteri Juwita. Mereka bahkan bisa menunjukkan bahwa lubang di bawah ranjang itu tidak pernah ada. Beberapa penyelidik pergi ke sana untuk memeriksa dan sama sekali tidak ditemukan apapun.
"Hari ini saya akan mengumumkan hasil persidangan. Ada beberapa hal yang saya garis bawahi dalam kasus ini." Hakim membaca catatannya.
"Pertama, terdakwa terbukti menyembunyikan seorang Daemonie di kamarnya. Kedua, terdakwa berbohong mengenai lubang bawah tanah. Ketiga, terdakwa bekerja sama dengan seorang Daemonie untuk menculik Ratu Akemi dan kedua anaknya. Kemudian di padang rumput Masserjarvi, mereka membunuh Ratu Akemi dengan cara memenggal kepalanya."
Para pengunjung sidang saling berbisik sehingga menghasilkan dengungan yang memenuhi ruangan.
"Harap tenang! "
Seketika ruangan itu senyap mendengar suara hakim terdengar nyaring.
"Maka, tidak ada keputusan yang paling tepat kecuali menjatuhkan hukuman mati kepada terdakwa! " Ucap hakim dengan tegas.
Tubuh Puteri Juwita mendadak lemas di atas kursinya. Meskipun sudah dapat menduganya, namun mendengarkan keputusan hakim tentang hukuman mati terhadapnya membuatnya terpukul.
Dia melihat ke arah ayahnya yang terlihat tak kalah terpukul. Wajah Raja Satria merah padam.
__ADS_1
"Tidak! " Raja Satria berteriak di antara gemuruh suara orang-orang yang menyambut keputusan hakim.
Raja Satria berlari menuju hakim. "Anda tidak boleh melakukan hal ini! Persidangan ini dilakukan terlalu terburu-buru. Saya akan melakukan investigasi mandiri. Tolong tangguhkan hukuman ini! "
"Maaf. Meskipun anda adalah penguasa Elfian, namun di sini adalah Alsatia. Semua orang harus tunduk kepada hukum yang ada di negeri ini! " Kata hakim.
"Bagaimana jika anda salah? Bagaimana jika nanti terbukti bahwa putri saya tidak bersalah? Apakah anda tidak akan menyesal? " Raja Satria memandang tajam ke arah hakim.
"Jika sampai hal itu terjadi, yang sepertinya tidak akan pernah terjadi, saya hanya akan memohon ampun kepada Tuhan dan mendoakan arwah terdakwa tenang di atas sana! " Hakim berkata dengan tenang dan penuh percaya diri.
"Kurang ajar! Kau.. bukan manusia! " Maki Raja Satria. Wajah pria itu merah padam dan dadanya dipenuhi kemarahan.
"Saat saya diangkat menjadi hakim, saya telah menanggalkan semua perasaan yang akan membebani pekerjaan saya." Hakim itu tersenyum lalu pergi meninggalkan ruang sidang bersama beberapa pengawal pribadi.
Raja Satria pergi menghampiri Puteri Juwita yang dibawa oleh para prajurit.
"Ayah." Puteri Juwita melihat raut kesedihan dan putus asa pada wajah ayahnya.
"Jangan khawatir, Sayang. Ayah akan melakukan segala cara untuk membebaskanmu." Bisik Raja Satria ketika memeluk putrinya
"Ayah, maafkan aku. Sampaikan pada ibu betapa aku sangat menyayanginya. Dan jika.. jika tidak ada kesempatan lagi untuk berjumpa.." Suara gadis itu serak dan dadanya rasanya sakit karena memendam begitu banyak emosi.
"Jangan bicara seperti itu! Ibumu dan ayah sangat menyayangimu, kami percaya padamu. Ayah yakin kau akan bebas dan kembali pulang. Oh ya, Ayah lupa memberitahumu, ibumu sekarang sedang hamil. Jika kau pulang nanti, kau tidak akan sendirian lagi. Akan ada adikmu yang menemanimu. "
"Ayah, aku senang sekali mendengarnya. " Puteri Juwita tersenyum lebar berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Setidaknya kalian tak akan terlalu kesepian sepeninggalku nanti..
*****
Eldrige memandang dengan garang sosok pemuda di hadapannya. Pemuda itu hanya diam dibawah sorot mata Eldrige.
"Katakan, apa yang kau lakukan kepada Puteri Juwita? " Suara Eldrige datar dan tegas.
"Rupanya kau masih mencurigaiku. Aku jadi bertanya-tanya ada hubungan apa diantara kalian? "
"Tidak usaha banyak bertanya. Sekarang katakan, apa kau yang membunuh Ratu Akemi?" Desak Eldrige.
"Hei, Peri! Aku akui bahwa aku seorang Daemonie yang biadap. Tapi aku tidak membunuh secara sembarangan! "
"Tidak sembarangan? Bagaimana dengan kejadian pembantaian di stadion itu? " Eldrige merasa perlu mengingatkan Nicolae tentang perbuatan kejinya.
"Aku melakukannya karena perintah dari pimpinanku. Lagipula, tidak kah kau pikir bagaimana kami bisa dengan mudah menyusup ke sana? Haha.. Mereka sendiri yang memintanya." Pemuda itu menertawakan Eldrige.
"Apa maksudmu? "
"Apa otak perimu itu tidak bisa menyimpulkan hal yang sudah begitu gamblang? Bangsa kami sengaja diundang untuk melakukan teror dan menebar ketakutan. Kukira kami sudah kejam, tapi ternyata manusia bahkan lebih licik daripada bangsa Daemonie. Setidaknya kami tidak saling menghianati. "?
"Maksudmu, ada seseorang yang sengaja merencanakan hal ini? Siapa? Dan kau, kenapa kau harus mengekori Puteri Juwita? "
"Karena dia gadis yang lembut. Aku selalu membenci manusia, tapi Juwita berbeda. Kurasa aku jatuh hati padanya. "
"Jangan bicara sembarangan! Berani-beraninya kau bilang soal cinta! Kau telah menjerumuskan Puteri Juwita sehingga harus menanggung beban seberat ini."
"Aku tidak bermaksud membuatnya dalam masalah. Aku akui malam itu aku datang ke kamarnya setelah tahu dia tinggal di sana. Aku hanya ingin melihatnya untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pergi. Tapi lukaku sangat parah, dan Juwita mengobatiku meski tahu aku seorang Daemonie. "
"Tapi kau membalas kebaikannya dengan membuatnya menjadi terpidana mati? "
"Hei! Kalau waktu itu aku tidak kebetulan terbang di atas tempat itu, Juwita pasti sudah mati tenggelam bersama dua bocah yang bersamanya. "
"Jadi apa kau melihat kejadian pembunuhan itu? "
"Tidak. Tapi aku melihat beberapa orang yang sedang asik menonton Juwita dan dua bocah itu tenggelam dalam telaga. "
"Maksudmu, kau melihat para pembunuh itu?" Alis Eldrige saling bertaut.
"Iya."
"Kalau begitu kau harus ikut denganku untuk bersaksi. "
"Aku tidak mau. Dan meskipun aku mau, apa kau yakin mereka akan mempercayaiku? "
"Bagaimanapun juga kau harus ikut denganku! " Tiba-tiba Eldrige menggerakkan tangannya dan sinar kuning melesat dengan cepat memerangkap tubuh Nicolae. Pemuda itu tersungkur ke tanah dalam posisi terikat.
"Lepaskan aku! " Teriak Nicolae.
"Kau, ikut aku! " Ucap Eldrige sambil menyeret tubuh Nicolae.
__ADS_1