
Rombongan itu berkuda hanya kurang dari satu jam untuk sampai di padang rumput Masserjarvi. Langit malam ini cerah. Bulan bersinar terang dan bintang-bintang bertaburan menghiasinya.
Cuaca yang sangat bersahabat ini seolah tidak mencerminkan hujan badai beberapa jam yang lalu. Hanya jalanan becek dan berlumpur yang menjadi bukti amukan alam beberapa saat yang lalu.
"Aku tidak yakin dimana tepatnya telaga itu. " Ucap Pangeran Gaurav setelah berputar-putar mengelilingi tempat itu.
"Kita istirahat dulu dan menunggu sampai pagi." Usul Eldrige.
"Tapi bagaimana dengan kakakku? " Suara Pangeran Sagar terdengar cemas.
"Jangan cemas, makhluk itu tak akan membunuh Puteri Elok. Dia akan menunggu sampai bulan purnama penuh untuk menjadikannya pengantin." Eldrige berusaha menenangkan Pangeran muda itu.
Mendengar perkataan Eldrige, mereka semua secara reflek menatap ke arah bulan di atas sana.
"Kita harus bisa menyelamatkan Puteri Elok sebelum besok malam." Sambungnya.
"Sekarang sudah hampir tengah malam, tidurlah." Pangeran Gaurav memerintahkan adik Puteri Elok itu untuk tidur.
Remaja bangsawan itu agak bingung untuk membaringkan tubuhnya di atas rumput yang basah. Dia belum pernah bermalam di alam liar sebelumnya.
Melihat kebingungan di mata Pangeran Sagar, Pangeran Gaurav segera mengambil selimutnya yang selalu tersimpan di kantung pelana kudanya.
"Tidurlah di sini! " Pangeran Gaurav membentangkan selimutnya untuk Pangeran Sagar.
"Terima kasih Kak! " Pangeran Sagar segera membaringkan tubuhnya di atas selimut.
"Jangan cemas, kami akan berjaga-jaga sepanjang malam."
Para prajurit bergantian berjaga. Sedangkan Pangeran Gaurav duduk bersandar di batang pohon, dia masih belum mengantuk. Di dalam hatinya dia merasa bersalah dan kecewa pada dirinya sendiri karena telah gagal melindungi Puteri Elok.
Pangeran Gaurav tidak habis pikir, kenapa wanita itu malah memutuskan untuk mengikuti makhluk itu. Apakah di dalam hatinya, Puteri Elok sungguh-sungguh tidak mempercayainya?
"Kenapa tidak istirahat? " Eldrige tiba-tiba duduk di sebelahnya.
"Aku sedang berpikir." Jawab Pangeran Gaurav.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Ini semua akibatnya karena terlalu banyak berpikir."
"Apa maksudmu? "
"Aku baru tahu kalau ternyata kalian dijodohkan. "
"Apa hubungannya? "
"Wanita tidak suka terlalu lama menunggu. Jangan buat dia bingung. Jangan tunggu sampai dia memutuskan untuk melepasmu! "
"Apa yang harus aku lakukan? "
"Tanyakan pada hatimu. Seberapa penting wanita ini bagimu? "
Pangeran Gaurav mengarahkan pandangannya ke atas, ke arah bulan yang bersinar terang. Jika dia gagal menyelamatkan Puteri Elok, maka besok malam wanita itu akan menjadi pasangan makhluk penunggu telaga.
Tapi dia masih tidak tahu, seberapa pentingkah wanita itu baginya. Apakah ada perasaan khusus yang dia rasakan pada wanita itu?
Yang dia tahu, Puteri Elok tidaklah menyebalkan seperti yang dia duga selama ini. Wanita itu cukup manis meskipun agak keras kepala. Dan dia benar-benar tidak rela, jika wanita itu harus menghabiskan seumur hidupnya menjadi pasangan makhluk aneh itu.
__ADS_1
Pangeran Gaurav merasa sangat mengantuk. Beberapa kali dia menguap. Dia belum tidur sejak kemarin malam. Tubuhnya betul-betul membutuhkan istirahat.
Saat Pangeran Gaurav memutuskan untuk memejamkan mata, tiba-tiba telinganya mendengar sesuatu.
"Tolong..! "
Pangeran Gaurav segera menegakkan punggungnya dan menajamkan pendengarannya.
"Tolong..! "
Itu seperti suara Puteri Elok. Pangeran Gaurav menoleh ke samping dan melihat Eldrige tertidur. Dia tidak ingin membangunkan peri itu, jadi dia terus berjalan melewati prajurit-prajurit yang sedang tidur untuk mencari dimana Puteri Elok berada.
"Tolong..! "
Pangeran Gaurav terus berjalan melewati padang rumput yang gelap dan basah. Di langit, bulan menghilang tertutup awan.
Pangeran Gaurav melihat di kejauhan sana ada seorang wanita yang berjalan memunggunginya, rambutnya yang gelap berkibar-kibar tertiup angin.
"Puteri Elok? "
Pangeran Gaurav mempercepat langkahnya untuk menyusul wanita itu. Namun lama-kelamaan, tubuh wanita itu semakin terbenam.
"Jangan masuk ke sana! " Pangeran Gaurav baru menyadari kalau wanita itu masuk ke dalam telaga.
Pangeran Gaurav segera berlari mengejar kedalam telaga. Air yang dingin berkecipak setiap kali kakinya melangkah.
Pangeran Gaurav melihat wanita itu semakin dalam masuk ke dalam telaga, lebih dari separuh tubuhnya sudah terendam air. Rambutnya yang panjang mengambang di permukaan air.
Cipak.. cipak..
"Tolong..! "
Wanita itu memandang Pangeran Gaurav dengan matanya yang bersinar seperti dua buah obor kecil. Wajahnya dipenuhi sisik-sisik kecil seperti ikan.
Pangeran Gaurav kaget ketika melihat wajah wanita itu dan segera melepaskan pegangannya. Namun tangan wanita itu kini gantian menariknya semakin jauh ke tengah telaga.
Tubuh Pangeran Gaurav semakin tenggelam dan napasnya semakin habis. Permukaan air kini hampir mencapai hidungnya.
Saat kepalanya semakin masuk ke dalam air, Pangeran Gaurav tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang bersinar melilit pinggangnya dan menariknya keluar dari air.
Namun cengkeraman di tangannya tidak lepas, makhluk itu ikut tertarik ke daratan. Tubuh Pangeran Gaurav terhempas diatas tanah yang berumput.
"Siapa dia? Apa kau mengenalnya? " Eldrige berdiri di hadapan Pangeran Gaurav. Peri itu tersenyum mengejek sambil menarik cambuknya.
Pangeran Gaurav segera menarik tangannya yang dipegangi makhluk itu, namun makhluk itu enggan melepasnya.
"Dia menyukaimu." Eldrige tertawa kecil.
"Tolong aku, Eldrige! " Pangeran Gaurav sudah tidak tahan dengan cengkeraman tangan yang sedingin ikan beku.
Eldrige kemudian melemparkan cambuknya. Ujung cambuknya membelit leher makhluk itu. Kemudian Eldrige menariknya kuat-kuat dan melemparnya jauh ke tengah telaga.
Byuur!
Suara ceburan membahana, memecah kesunyian malam. Riak-riak air yang membentuk lingkaran, terlihat melebar dari tempat jatuhnya makhluk itu.
__ADS_1
Pangeran Gaurav menggigil kedinginan dan terlihat menyedihkan. Dengan menggerakkan jarinya, Eldrige mengeluarkan sinar kekuningan yang terasa hangat dan menyinari tubuh Pangeran Gaurav. Seketika tubuh Pangeran Gaurav kering dan tidak kedinginan lagi.
"Ayo, kita istirahat lagi. Akan kubuat pagar agar makhluk itu tidak datang lagi." Ucap Eldrige.
*****
Hari sudah malam ketika Raja Satria dan Ratu Gita keluar dari rumah si pria tua yang bernama Suteja. Mereka diajak berkeliling di desa itu sebentar dan diajak ke rumah Danang. Rumah itu kosong, istri dan anak dari Danang sudah pergi meninggalkan desa itu.
Tidak banyak yang bisa mereka temukan lagi, kemudian setelah basa-basi yang singkat akhirnya mereka berpamitan pada Suteja.
"Berhati-hatilah di jalan! " Pria tua itu melambaikan tangannya.
Ketika melewati hutan birch, suasana tampak gelap. Keadaan yang temaram membuat tempat itu terlihat menyeramkan. Penerangan terakhir adalah lampu jalan di batas pemukiman yang tadi dinyalakan oleh Suteja.
Batang-batang pohon birch yang pada siang hari tegak, kini agak terkulai pertanda tanaman itu mulai beristirahat.
"Berhenti sebentar! " Ratu Gita tiba-tiba menarik tali kekang. Wanita itu terlihat agak panik.
"Ada apa? " Raja Satria bingung melihat sikap istrinya.
"Lihatlah di sana! " Ratu Gita menunjuk ke arah pepohonan birch di pinggir jalan. Terlihat seseorang sedang duduk di dahan salah satu pohon. Dia sedang menyisir rambutnya yang panjang. Kakinya yang menjuntai berayun-ayun di udara.
"Siapa dia? " Suara Ratu Gita bergetar, jantungnya berdegup dengan kencang.
"Kita lewati saja pelan-pelan dan tetaplah waspada! " Ucap Raja Satria.
Raja Satria menunggangi kudanya dengan perlahan sambil mengawasi orang itu. Dalam jarak yang lebih dekat, tampak jelas jika itu adalah seorang wanita. Namun rasanya sangat janggal ada seseorang yang menyisir rambutnya di atas dahan pohon, di tempat yang menyeramkan ini.
"Siapa di sana? " Raja Satria agak berteriak untuk memanggilnya.
Gerakan tangan wanita itu berhenti, perlahan dia menyibakkan rambutnya ke samping. Kemudian kepalanya mulai bergerak dan menoleh pada Raja Satria.
"Apakah aku cantik? " Wajah wanita itu sangat pucat, bibir tipisnya melengkungkan senyum yang aneh.
"Tidak!" Raja Satria menjawabnya dengan jujur.
"Aaargh.. " Wanita itu menjerit dengan suara yang melengking tajam hingga seolah menusuk gendang telinga.
Srek.. srek.. srek..
Tiba-tiba, beberapa sosok bergerak di cabang-cabang pepohonan birch di kanan kiri jalan. Sosok-sosok itu semuanya adalah wanita berambut panjang.
Raja Satria dan Ratu Gita semakin waspada. Mereka menyadari bahwa wanita-wanita itu adalah para Rusalqa yang meneror Desa Yaselda selama ini.
Wanita-wanita itu kemudian menolehkan kepala ke arah Raja Satria dan Ratu Gita secara serempak. Mata mereka yang bersinar menyorot tajam.
"Hihihihi! " Suara tawa wanita-wanita itu terdengar mengerikan.
Mereka mulai merayap turun dengan gerakan ganjil. Jumlah mereka yang sangat banyak mulai mengepung Raja Satria dan Ratu Gita.
Ratu Gita memandang suaminya untuk mendapatkan kekuatan. Raja Satria memegang tangan istrinya untuk menenangkannya.
"Jangan takut."
Suara Raja Satria menentramkan hati Ratu Gita. Wanita itu mengangguk dan mulai mengambil busurnya dan bersiap-siap menghadapi makhluk-makhluk itu.
__ADS_1