Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 80 Babak Baru


__ADS_3

Raja Satria bangun di pagi hari disambut oleh pelukan hangat sang istri. Bayi mereka pun berceloteh riang menambah hangat suasana pagi itu.


Wajahnya yang tampan masih terlihat pucat, namun sinar kehidupan kini terpancar di mata ungunya.


"Aku sangat takut kehilanganmu, Sayang! " Bisik Ratu Gita dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan aku karena membuatmu cemas."


Raja Satria memeluk tubuh istrinya dan menaruh kepalanya di pangkuan wanita itu, sementara bayinya duduk dengan tenang di tengah ranjang memainkan selimut ayahnya.


"Tidak apa-apa, lagipula semuanya sudah berlalu. Oh ya, ada seseorang yang telah menyelamatkanmu. Tanpa dirinya, entah apa yang akan terjadi padamu." Tangan Ratu Gita mengelus-elus rambut perak suaminya yang sangat halus dan harum. Sampai sekarangpun diam-diam dia masih terkagum-kagum dengan visual suaminya itu.


"Siapa? Apakah Eldrige? " Raja Satria memejamkan matanya menikmati sentuhan istrinya.


"Emm, bukan. Kalau kau tak keberatan, aku akan memanggilnya."


"Aku tidak keberatan." Ucap Raja Satria masih dengan mata terpejam. Namun tanpa diduga, tangannya menarik tengkuk istrinya ke bawah dan mengecup bibirnya dengan mesra selama beberapa saat.


Ratu Gita merasa kaget mendapat serangan mendadak dari suaminya. Namun dia tetap menikmatinya. Bagaimanapun juga dia hampir saja kehilangan pria itu.


Dengan wajah merona Ratu Gita menggeser tubuhnya perlahan dan membantu suaminya duduk bersandar di kepala ranjang.


"Kalau begitu, tunggulah di sini! " Ratu Gita segera keluar sambil menggendong bayinya.


Tak lama kemudian, masuklah seorang pria tampan berpakaian aneh. Pria itu menghampiri Raja Satria yang berbaring di ranjangnya.


"Salam, Yang Mulia. Perkenalkan saya Pelvis, Raja bangsa Rusalqa dari Masserjarvi. " Pria itu menunduk hormat.


Kening Raja Satria berkerut. Dia tidak menyangka bahwa orang yang menyelamatkannya adalah bangsa Rusalqa. Namun Raja Satria berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


"Saya Satria. Apakah Yang Mulia adalah orang yang telah menyelamatkan nyawaku? "


"Saya hanya sekedar membantu. " Jawab Raja Pelvis bersahaja.


"Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Yang Mulia. Saya telah berhutang nyawa. "


"Itu bukan apa-apa, jangan dipikirkan. "


"Ternyata Raja Pelvis sangat rendah hati. Tinggallah di istana ini untuk beberapa waktu dan izinkan saya menjamu Yang Mulia." Raja Satria berkata dengan tulus.


"Terima kasih, saya senang menerima tawaran itu. Lagipula saya juga ingin melupakan kesedihan saya. "


"Kenapa Yang Mulia bersedih? "


"Saya baru saja gagal menikah."


"Kenapa? Ehm, maaf jika pertanyaan saya tidak sopan."


"Tidak apa-apa. Saya telah ditolak oleh seorang wanita. Dia sudah mencintai orang lain."


"Jangan bersedih, saya yakin Yang Mulia akan segera mendapatkan penggantinya. "


"Terima kasih, saya harap juga begitu."

__ADS_1


*****


Puteri Elok berjalan perlahan menuju ruang makan dengan jantung berdebar. Dia bisa mendengar suara candaan Pangeran Gaurav dan adiknya, Pangeran Sagar.


Sejak Pangeran Gaurav menciumnya, Puteri Elok belum bertemu pria itu. Bahkan saat sarapan tadi pagi, wanita cantik itu memilih makan di kamarnya sendiri.


Namun karena ayahandanya mengirim pesan dan memintanya untuk bergabung saat makan siang, akhirnya Puteri Elok memaksakan dirinya untuk datang.


"Wah, kakak datang! Apakah sudah tidak apa-apa? " Pangeran Sagar terlonjak begitu melihat kakaknya masuk ke ruang makan.


Pangeran Sagar sudah mau mendekati kakaknya namun segera dicegah oleh ayahnya. Raja Narend menyentuh punggung tangannya dan mengisyaratkan agar tetap duduk.


Pangeran Gaurav langsung menoleh ketika Puteri Elok datang lalu segera bergegas menyambutnya. Dengan segera pria itu menarik kursi di sebelahnya untuk calon istrinya itu.


"Duduklah! "


Dengan canggung Puteri Elok duduk di kursi yang disediakan oleh Pangeran Gaurav. Dia tidak menyangka bahwa pria itu bisa bersikap begitu manis.


"Terima kasih." Puteri Elok tersenyum pada Pangeran Gaurav yang wajahnya terlihat merah.


"Akhirnya kita bisa menikmati makan siang bersama lagi." Ucap Raja Narend sambil menyendok asparagus di mangkuk supnya.


"Iya, Ayah. Itu semua berkat Kak Gaurav dan Eldrige." Jawab Pangeran Sagar.


"Ngomong-ngomong, dimana Eldrige? "


"Tadi Eldrige berpesan untuk menyampaikan permintaan maafnya karena tidak sempat berpamitan. Dia harus segera pulang ke Elfian karena ada hal yang mendesak." Pangeran Gaurav menyampaikan perkataan Eldrige tadi pagi.


"Oh, tidak apa-apa. Aku maklum." Raja Narend mengangguk-angguk.


"Apa ada hal yang mengganggu pikiranmu Elok? " Suara Raja Narend mengejutkan Puteri Elok. Mata ungu wanita itu berkedip-kedip gelisah, seolah baru ketahuan melakukan sesuatu yang memalukan.


"Emm, tidak ayah. Aku tidak apa-apa." Kepala wanita muda itu menunduk, tangannya masih memegang garpunya di atas meja.


"Bagaimana rencana kalian selanjutnya? "


"Rencana? "


"Pernikahan kalian. Kapan kalian siap menikah?"


Pangeran Gaurav terlihat kaget dan tidak siap mendapatkan pertanyaan semacam itu. Meskipun pria itu akhirnya bisa bersikap tenang, namun reaksi pertamanya telah terlanjur tertangkap oleh Puteri Elok.


"Oh, saya tidak masalah dengan hal itu, namun saya akan menghargai pendapat Puteri Elok." Pangeran Gaurav menatap Puteri Elok dengan gugup. Pria itu sudah jatuh cinta padanya dan sekarang dia takut Puteri Elok berhenti menyukainya.


Namun lagi-lagi wanita muda itu salah menafsirkan sikapnya. Dia merasa bahwa laki-laki itu ragu untuk menikahinya.


Puteri Elok memandang ayahnya sambil berkata, "Ayah, jangan memaksa kami. Lagi pula jika kami benar-benar berjodoh maka tanpa dipaksapun tetap akan menikah. Begitupun sebaliknya jika.. "


"Saya bersedia. Bahkan sekarangpun saya siap menikahinya!" Tiba-tiba Pangeran Gaurav memotong perkataan Puteri Elok.


"Kenapa? " Puteri Elok merasa sangat heran.


"Karena aku sangat mencintaimu. Alasan apa lagi? "

__ADS_1


"Ehem.. Anakku Gaurav, kau memang pria terbaik untuk mendampingi anakku. Namun tetap saja kita harus mengabari Raja Pramana, pamanmu." Raja Narend tersenyum senang.


"Terserah ayah saja, saya akan menurut." Ucap Pangeran Gaurav.


"Baiklah, karena kau sudah setuju maka aku akan segera memikirkan kapan pernikahan kalian akan dilaksanakan. Tentu saja dengan berdiskusi dulu dengan Raja Pramana. Kalau begitu, orang tua ini permisi dulu. Aku harus melanjutkan tugasku." Raja Narend berjalan keluar sambil diikuti oleh Pangeran Sagar.


Kini di ruangan itu hanya ada Pangeran Gaurav dan Puteri Elok. Mereka duduk bersebelahan dari tadi, namun tidak ada perbincangan di antara mereka.


"Apa kau ingin berjalan-jalan? "Akhirnya Pangeran Gaurav memecah kesunyian.


" Ah, apa itu tidak merepotkan? "


"Tentu saja tidak! " Pangeran Gaurav segera berdiri dan mengulurkan tangannya.


Dengan ragu-ragu Puteri Elok menyambut uluran tangannya. Kemudian Pangeran Gaurav mengajak Puteri Elok ke taman istana yang dipenuhi pepohonan yang rindang.


Beberapa pelayan yang kebetulan berpapasan dengan mereka berdecak kagum melihat pasangan dari surga itu. Mereka terlihat sangat serasi.


"Pangeran Gaurav, aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. "


"Ucapan yang mana? "


"Jangan memaksakan diri dalam pernikahan ini! Aku tidak ingin kau menyesal di kemudian hari gara-gara keputusan yang kau ambil secara asal. "


"Kenapa kau bicara seperti itu? Apakah kau tidak ingin menikah denganku?"


"Entahlah."


"Jangan mempermainkanku Elok! "


"Aku tidak mempermainkanmu."


"Apa kau berencana melakukan permainan tarik ulur padaku? "


"Permainan macam apa itu? " Puteri Elok pura-pura tidak mengerti.


"Kau tidak perlu melakukan hal itu. Aku sudah sangat terikat padamu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu! " Tiba-tiba ada aura dingin dalam suara Pangeran Gaurav, hal itu membuat Puteri Elok bergidik ngeri.


Secara naluriah Puteri Elok segera berjalan menjauh untuk menghindari Pangeran Gaurav. Seolah-olah dia adalah mangsa dari predator yang mengerikan.


Namun belum jauh dia berjalan, sebuah cengkeraman di tangannya menariknya ke belakang. Wajahnya tiba-tiba terbentur pada bidang yang liat dan kekar.


"Sepertinya aku harus mengajarimu untuk patuh padaku! "


Suara Pangeran Gaurav yang tegas dan dalam membuat Puteri Elok seakan tak mampu berkutik. Bahkan saat dia merasakan jari-jari Pangeran Gaurav mencengkram wajahnya dan mulut pria itu meraup bibirnya.


Sesaat wanita itu seakan terhipnotis dan mengikuti permainan Pangeran Gaurav yang terus mengeksplorasi mulutnya. Namun saat kesadarannya datang, Puteri Elok segera mendorong tubuh pria itu kuat-kuat.


Namun Pangeran Gaurav bukanlah lawan yang sebanding dengannya. Pria itu telah ditempa dalam berbagai pertempuran, jelas dia tidak akan kalah melawan wanita lemah seperti Puteri Elok.


"Aku akan terus melakukan hal ini jika kau terus-terusan mempermainkanku! " Ucap Pangeran Gaurav ketika melepaskan tautannya.


Wajah Puteri Elok sudah semerah kaca yang dipanaskan pada suhu tinggi. Namun kali ini dia sudah tidak melawan. Dia sudah ditaklukkan. Tubuhnya yang tadi tegang, kini sudah melemas dalam pelukan Pangeran Gaurav.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, jangan meragukanku lagi. " Bisikan bernada ancaman menyusup di telinga Puteri Elok. Wanita itu mengangguk pelan dengan menahan rasa malu yang menjalari hatinya.


__ADS_2