Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 79 Berakhirnya Sebuah Penantian


__ADS_3

Saat Raja Pelvis melihat Raja Satria yang terbaring lemah di ranjangnya, pria itu langsung mengetahui bahwa sistem kekebalan tubuh yang dimiliki oleh Raja Satria semakin lemah.


Darahnya sudah dicemari oleh bisa yang sangat beracun dan sedikit lagi akan menghabisi nyawanya. Mengingat betapa sopannya perlakuan Ratu Gita, dia memutuskan untuk menunjukkan belas kasihan.


"Izinkan saya memeriksa lukanya. " Pinta Raja Pelvis.


Ratu Gita mendekati suaminya, kemudian menyingkap pakaiannya. Ada beberapa bekas luka lama di tubuh Raja Satria yang menunjukkan betapa seringnya pria itu terlibat dalam pertarungan.


Kemudian Raja Pelvis melihat luka bekas gigitan Rusalqa di area bahu yang kini terlihat menghitam. Disentuhnya luka itu, terlihat dahi Raja Satria mengernyit dan keringat dingin membanjiri tubuhnya yang panas.


"Saya akan mengeluarkan bisanya. "


Raja Pelvis mendekatkan wajahnya ke bahu Raja Satria kemudian menancapkan giginya yang tajam ke area luka.


"Aaargh! " Raja Satria mengerang kesakitan namun matanya masih terpejam.


Sedikit demi sedikit bisa di dalam tubuh Raja Satria dihisap oleh Raja Pelvis. Urat-urat yang bertonjolan di sekitar lukanya perlahan-lahan mengempis dan lama kelamaan memudar.


Setelah semua bisa itu keluar dari tubuh Raja Satria, kini yang tersisa hanyalah luka bekas gigitan yang menyelamatkan hidupnya.


"Sudah selesai. " Raja Pelvis menyeka mulutnya.


Tabib Albus buru-buru mendekati Raja Satria dan dengan serius memeriksa kondisi tubuhnya.


"Kondisi Yang Mulia kini telah stabil. Saya benar-benar sangat bersyukur! " Tabib Albus tersenyum haru setelah melakukan pemeriksaan, bibirnya yang keriput tampak bergetar.


"Syukurlah. Terima kasih Raja Pelvis. " Ucap Ratu Gita. Ada setitik air di sudut matanya.


Raja Pelvis tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia menatap Raja Satria yang masih terbaring tidak sadar. Namun kini raut wajahnya mulai menampakkan tanda kehidupan.


Ratu Gita segera memerintahkan Staf Kerajaan untuk menyiapkan kamar khusus untuk Raja Pelvis. Sebuah ruangan mewah dengan bak mandi berukuran besar.


Ketika Raja Pelvis melihat kamarnya, suasana hatinya langsung membaik. Dia belum pernah disambut oleh manusia manapun. Pria itu berkeliling ruangan yang luas itu. Memperhatikan ranjang berkasur empuk yang mengingatkannya dengan milik Puteri Elok.


Ah, jika mengingat hal itu hatinya menjadi sakit. Namun dia tidak menyesali keputusannya untuk melepaskan wanita itu. Dia lebih tidak rela jika wanita itu menderita atau yang terburuk, mati.


Kakinya melangkah ke jendela, mengamati halaman luas di bawah sana. Dan dikejauhan terlihat tembok yang mengelilingi Istana Elfian.


Setelah puas mengamati keadaan luar lewat jendela, Raja Pelvis mulai menjelajahi kamarnya lagi. Kali ini dia penasaran dengan sebuah pintu di sebelah lemari kayu bercat putih yang sangat besar.


Ketika pria itu membuka pintu, dia melihat sebuah bak mandi yang sangat luas berisi air yang jernih. Pria itu mencelupkan tangannya dan menyadari suhu air itu sangat sesuai dengannya, dingin.


Di pinggir bak mandi ada deretan botol kaca berukuran mini berisi minyak essential dengan beragam jenis wewangian.


Pria itu mencoba berendam di dalam bak mandi dan menikmati sensasi wangi dari minyak essential. Mungkin dia nanti akan menginginkan bak mandi seperti ini di dalam guanya.

__ADS_1


Mata pria itu terpejam dan berusaha berkonsentrasi untuk memulihkan diri. Luka-luka bekas sayatan pedang Pangeran Gaurav pada tubuhnya berangsur-angsur menutup dan sembuh tanpa bekas.


Saat Raja Pelvis hampir terlelap, tiba-tiba saja ada sesuatu yang melintas di pikirannya. Sebuah pesan tertangkap di indera pendengarannya. Sebuah pesan yang berisi perintah jahat!


*****


Puteri Elok masih terbaring di ranjangnya. Matanya masih terpejam dan wajahnya terlihat agak pucat.


Wanita itu pingsan karena kaget melihat seorang Rusalqa yang melompat ingin menyerangnya tiba-tiba tersungkur karena di lehernya tertancap trisula milik Raja Pelvis.


Dia tidak tahan melihat ada yang terbunuh lagi di depan matanya. Apalagi hal itu lagi-lagi disebabkan olehnya. Dan lagi-lagi pelakunya adalah Raja Pelvis.


Di dalam tidurnya Puteri Elok mengigau karena bermimpi buruk. Berbagai adegan mengerikan meneror alam bawah sadarnya.


"Haaah! "


Puteri Elok terbangun dan mendapati dirinya berada di kamarnya sendiri. Dia tidak yakin apakah kejadian mengerikan yang dialaminya adalah kenyataan atau sekedar mimpi buruk.


Saat wanita itu ingin menyibak selimutnya, dia baru menyadari bahwa tangannya sedang digenggam oleh seseorang.


"Pangeran Gaurav? " Puteri Elok terperanjat ketika menyadari bahwa yang memegang tangannya adalah Pangeran Gaurav. Puteri Elok berusaha menarik tangannya, namun genggaman pria itu sangat erat.


"Kau sudah bangun? " Pangeran Gaurav bertanya dengan mata yang masih mengantuk.


Puteri Elok mengangguk pelan. "Kenapa kau ada di sini? "


"Ya, aku sudah tidak apa-apa. Kau bisa kembali ke kamarmu! "


"Tolong, berhentilah bersikap dingin padaku. Hatiku rasanya sakit sekali! "


"Maafkan aku. Aku tak akan merepotkanmu lagi."


"Maksudku bukan begitu! Aku tidak merasa direpotkan, sungguh! "


Puteri Elok menundukkan kepalanya. Merasa bingung harus bersikap bagaimana pada Pangeran Gaurav.


"Oh, ya. Ini kalungmu, kutemukan di tempat manusia ikan itu." Pangeran Gaurav menenteng kalung milik Puteri Elok.


"Iya, terima kasih." Puteri Elok mengulurkan tangannya untuk mengambil kalungnya.


"Boleh kupakaikan? "


"Ehm, tidak usah. Sepertinya akan kukembalikan saja pada pamanmu." Puteri Elok menolak tawaran Pangeran Gaurav.


"Kenapa harus dikembalikan? " Pangeran Gaurav merasa agak tersinggung.

__ADS_1


"Karena.. Setelah kupikir-pikir, tidak seharusnya aku menerimanya."


"Pamanku pasti akan tersinggung jika kau mengembalikannya. "


"Nanti aku akan meminta maaf padanya secara langsung. Nanti aku juga sekaligus akan membatalkan pertunangan kita." Puteri Elok mengambil kalung yang masih tergantung di tangan Pangeran Gaurav.


"Kenapa kau jadi seperti ini? Bukankah kau sendiri yang bilang ingin melanjutkan perjodohan ini? " Pria itu bertanya dengan panik.


"Aku berubah pikiran." Jawab wanita itu enteng.


"Kau tidak bisa seenaknya memutuskan hal ini sendiri. Aku tidak setuju! " Pangeran Gaurav merasa kesal dengan keputusan sepihak dari Puteri Elok.


"Bukankah kau sendiri yang sejak awal menentang perjodohan kita? Jangan membuatku bingung! "


"Aku tidak ingin mengakhirinya! " Ucapan Pangeran Gaurav terdengar sangat egois.


"Kenapa tiba-tiba sikapmu seperti ini? Jika kau mencemaskan Raja Pelvis, maka itu tidak perlu. Eldrige pasti akan membantuku. "


"Kau sadar tidak sih, kalau kata-katamu itu sangat menyakitkan? "


"Kenapa kau merasa sakit hati? " Puteri Elok mencela.


"Apa kau masih mengira kalau aku main-main dengan ucapanku? " Pangeran Gaurav kini benar-benar geram.


"Ucapan yang mana? Aku tidak mengerti." Puteri Elok tidak pernah menganggap serius pernyataan cinta Pangeran Gaurav waktu itu.


"Kau benar-benar telah menguji kesabaranku, Tuan Puteri! "


"Ak.. "


Belum sempat Puteri Elok mengucapkan kalimatnya, tiba-tiba bibirnya telah disergap oleh Pangeran Gaurav. Pria itu terus menekannya tanpa memberi kesempatan wanita itu untuk bernapas.


Puteri Elok merasa sangat kaget karena mendapat perlakuan seperti ini.Terlebih yang melakukannya adalah Pangeran Gaurav, pria yang berkali-kali menolaknya.


Napas Puteri Elok tersengal-sengal setelah Pangeran Gaurav melepaskan tautan bibirnya.


"Maafkan aku, karena menciummu tanpa izin. "


"Kenapa kau melakukannya? " Wajah gadis itu terlihat sangat merah karena malu.


"Aku tidak bisa menahannya. Aku sungguh-sungguh menyukaimu, kau tahu? "


"Tapi kau bilang tak tertarik padaku? "


"Saat itu aku pasti sudah gila. Aku mohon maafkan perlakuanku dulu! " Pangeran Gaurav mengeratkan genggamannya.

__ADS_1


Puteri Elok merasa wajahnya sangat panas dan dadanya berdebar hebat. Perasaannya saat ini sangat sulit untuk digambarkan.


Beginikah rasanya cinta yang bersambut?


__ADS_2