Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 84 Awal Baru


__ADS_3

Raja Satria bertemu dengan Raja Pelvis untuk membicarakan perihal Mayang.


"Saya tidak akan menerima wanita itu ke dalam Kerajaan Masserjarvi. Namun jika Yang Mulia mengizinkan, saya akan membawanya ke Yaselda. "


"Itu terserah Raja Pelvis saja, saya merasa senang Yang Mulia bersedia membantu kami." Raja Satria berkata dengan tulus.


"Saya bersedia membantu semampu saya, kalian Bangsa Elfian sudah menunjukkan keramahan dan persahabatan kepada saya. Saya tak akan pernah melupakannya. "


Raja Satria menjabat tangan Raja Pelvis. "Semoga persahabatan kedua Kerajaan kita akan terus berlanjut! "


"Saya juga berharap demikian. " Raja Pelvis tersenyum senang.


Kemudian Eldrige datang bersama Mayang yang terus menggelepar-gelepar marah.


"Saya akan membantu Yang Mulia membawa wanita ini. " Eldrige berbicara pada Raja Pelvis.


"Terima kasih. " Raja Pelvis kemudian berbalik pada Raja Satria. "Saya ingin berpamitan pada Ratu Gita, bolehkah? "


Raja Satria mengangguk, "Tentu saja. "


Kemudian Ratu Gita dipanggil. Wanita itu datang bersama teman-teman perinya.


"Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Raja Pelvis selama ini. " Ratu Gita menunjukkan rasa terima kasihnya.


"Jangan sungkan. "


Ratu Gita baru menyadari ada seorang Rusalqa berada di dekat Eldrige. Rusalqa itu menatap tajam ke arah Ratu Gita.


"Kau pasti senang melihatku seperti ini? "


"Apa aku mengenalmu?" Wanita itu heran karena Rusalqa itu berkata tajam padanya.


"Dia adalah Mayang." Raja Satria meraih tangan istrinya.


Ratu Gita terlihat sangat terkejut. Dia tidak pernah menyangka bahwa makhluk itu adalah Mayang.


"Aku menyesal melihat keadaanmu seperti ini, Mayang. Aku tidak pernah menginginkan hal buruk terjadi padamu! "


"Dasar Munafik! Tidak mungkin kau senaif itu. Selama ini kau menikmati hal-hal yang seharusnya menjadi milikku!


"Tadinya aku merasa kasihan padamu, Mayang. Tapi kurasa kau memang pantas mendapatkannya! " Kata-kata Ratu Gita membuat Mayang menggelepar marah.


"Kalau begitu saya akan pergi sekarang Yang Mulia. Terima kasih atas semuanya, semoga lain kita bisa berjumpa lagi! " Raja Pelvis berpamitan, kemudian pria itu melihat gadis cilik yang berdiri gemetar di belakang Ratu Gita.


"Maafkan aku karena sudah menakutimu waktu itu! " Pria itu membungkuk sambil mengusap kepala gadis kecil itu dengan lembut.


"Baik, kumaafkan. Tapi kau harus berjanji untuk memperlakukanku dengan baik lain waktu!" Gadis itu berbicara dengan berani.


"Aku berjanji! " Raja Pelvis kemudian mengikuti Eldrige memasuki lubang dimensi.


"Ingatlah, namaku Sekar! " Gadis itu berteriak sebelum lubang itu menutup dan menghilang di udara.


Perjalanan Raja Pelvis dan Eldrige ke desa Yaselda hanya sekejap mata. Mereka kini sudah berada di rawa-rawa tempat para Rusalqa berada.


"Kurasa cukup sampai di sini kau mengantarku, Eldrige. Terima kasih atas segalanya! "


"Suatu kehormatan dapat melayani Yang Mulia. Kalau begitu saya permisi." Eldrige segera menghilang melalui lubang dimensi.


"Dan kau, mulai sekarang tempatmu adalah di sini! " Raja Pelvis menunjuk Mayang.


"Tidak! Aku tidak mau tinggal di tempat busuk seperti ini! " Mayang menjerit-jerit.

__ADS_1


Beberapa Rusalqa mulai berdatangan, mereka muncul dari dalam rawa-rawa di sekitar pepohonan birch.


"Bawa wanita ini, jangan biarkan dia berkeliaran! " Perintah Raja Pelvis.


"Baik Yang Mulia! " Jawab mereka dengan patuh.


Beberapa makhluk itu segera menyeret tubuh Mayang melewati semak-semak yang basah, kemudian membawanya masuk ke dalam rawa. Jeritan wanita itu menghilang saat tubuhnya sudah tenggelam sepenuhnya di dalam air rawa yang gelap.


"Satu hal lagi, jangan pernah mengganggu manusia di wilayah Kerajaan Elfian. Aku sudah membuat perjanjian damai dengan Raja Satria." Raja Pelvis kembali memberikan perintah.


"Baik Yang Mulia! " Merekapun kembali menjawab dengan patuh.


Kemudian Raja Pelvis melompat ke dalam rawa dan terus menyelam di dalam air yang keruh. Dia akan melewati terusan rahasia yang menghubungkan rawa-rawa desa Yaselda dengan telaga di Masserjarvi.


*****


Ratu Gita berjalan sambil memeluk lengan suaminya. Hatinya bertanya-tanya apakah Raja Satria mencemaskan Mayang. Ada perasaan cemburu mengingat masa lalu mereka.


"Kenapa dari tadi kau diam, sayang? " Raja Satria merasa ada yang aneh dengan istrinya.


"Tidak ada apa-apa." Jawab wanita itu dengan lesu.


"Ayolah katakan ada apa? " Raja Satria mengecup pucuk kepala Ratu Gita.


"Aku penasaran apakah kau memikirkan Mayang? " Akhirnya Ratu Gita mengatakannya dengan jujur.


"Apa? Yang benar saja. Untuk apa aku memikirkan wanita itu? "


"Apa kau sama sekali sudah tidak punya perasaan padanya? Setelah sekian lama tidak berjumpa apakah kau tidak merindukannya? "


"Apa ini? Kau cemburu? Istriku Gita bisa cemburu? " Raja Satria terkekeh pelan. Dia senang melihat wanita itu cemburu.


"Tidak, untuk apa aku cemburu? " Ratu Gita melepaskan pegangannya pada lengan Raja Satria dengan wajah cemberut. Wanita itu berjalan cepat-cepat meninggalkan suaminya di belakang.


Raja Satria memeluk pinggang istrinya dari belakang. Pria itu meletakkan kepalanya pada bahu wanita itu.


"Aku hanya mencintaimu saja. Tidak ada wanita lain di hatiku selain dirimu! " Raja Satria mencoba menenangkan pasangan hidupnya itu.


Perlakuan manis Raja Satria membuat hati Ratu Gita meleleh. Pria itu selalu saja bisa melunakkan hatinya hanya dengan perlakuan sederhana.


Tangan Ratu Gita mengelus tangan suaminya dan menyandarkan kepalanya pada tubuh suaminya yang masih memeluknya dari belakang.


"Aku percaya padamu." Ucap Ratu Gita.


Raja Satria kembali mengecup kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Hatinya kini terasa lebih ringan. Kasus pembunuhan yang meneror kerajaannya telah terungkap.


Dia berharap kedepannya kehidupannya akan lebih tenang. Dia ingin menikmati hidup bersama istri dan anaknya dengan bahagia.


*****


Tak terasa waktu terus berlalu. Hari berubah menjadi bulan dan bulan berganti tahun. Tak terasa kini sudah waktunya Puteri Juwita yang telah menginjak remaja, menjalani pendidikannya di sekolah khusus Puteri Kerajaan dan bangsawan di Griya Pitutur. Sebuah sekolah yang sudah berdiri sejak seratus tahun yang lalu di Kerajaan Alsatia.


"Ibu, aku tidak mau ayah mengantarku. Aku bisa kesana sendiri! " Gadis cantik yang mewarisi sifat keras kepala ayahnya itu menyilangkan tangannya.


"Kau tahu sendiri kalau ayahmu sangat mencemaskanmu. Semalaman ayahmu bahkan tidak bisa tidur karena takut kau tidak bisa menyesuaikan diri di sana." Ratu Gita mencoba menenangkan anaknya.


Wanita berusia 39 tahun itu mengelus rambut keperakan putrinya dan merapikannya dengan sisir perak yang dihiasi permata kecil-kecil


"Tapi aku malu bu, aku yakin ayah pasti akan membuat keributan di sekolah! " Gadis itu terlihat masih kesal.


Dia masih mengingat dengan jelas saat ayahnya mengamuk pada guru privatnya karena memberinya tugas mengumpulkan serangga untuk mempelajari siklus kehidupan binatang itu.

__ADS_1


Atau ketika ayahnya lagi-lagi membuat guru berkudanya ketakutan setengah mati gara-gara dirinya yang memaksa untuk menaiki kuda yang masih liar dan membuatnya terjatuh.


"Pokoknya aku tidak mau diantar ayah! " Gadis cantik itu berteriak dengan keras.


Bersamaan dengan itu ayahnya, Raja Satria, masuk ke dalam. Pria itu melihat putri kesayangannya yang sedang marah-marah.


"Kenapa kau marah-marah begitu? Kau seorang Puteri Kerajaan Elfian, seharusnya sikapmu bisa lebih lembut! " Raja Satria menegur putrinya itu.


"Ayah, bisakah ayah tidak mengantarku ke sekolah? Aku sudah dewasa ayah, umurku sekarang 16 tahun! " Pinta gadis itu.


"Itu artinya kau belum cukup umur, bahkan untuk sekedar berkeliaran di luar istana! Ayah akan memastikan kau sampai ke sekolah barumu dengan selamat! "


"Ibu.. tolong bujuk Ayah! " Gadis itu merengek pada ibunya.


Ratu Gita menahan senyumnya melihat pertengkaran ayah dan anak itu. Dia sangat bahagia melihat betapa besarnya rasa sayang suaminya itu kepada putri mereka.


"Sayang, kurasa sudah saatnya kau beri Juwita sedikit kebebasan. Dia sudah remaja, sudah saatnya dia memiliki privasi sendiri." Ratu Gita memeluk lengan suaminya dengan mesra. Dia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan keributan ini.


"Maksudmu aku harus membiarkan Juwita pergi hanya ditemani prajurit? " Wajah Raja Satria yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah melewati 40 tahun itu terlihat kesal.


"Aku akan menyuruh Eldrige mengantarnya. Dia tidak akan membiarkan seorangpun mengganggu Juwita." Ratu Gita bersandar di pundak suaminya.


Raja Satria tampak berpikir sejenak. Dia tidak akan meragukan kesetiaan Eldrige. Peri itu sangat menyayangi Puteri Juwita, dia sudah mengasuhnya sejak bayi.


"Baiklah, panggil Eldrige dan suruh dia mengantar Juwita. Aku tidak mau gadis manja itu terus-terusan merajuk." Raja Satria kemudian melangkah pergi.


"Juwita, cepat ucapkan terima kasih pada ayahmu! " Ratu Gita memerintahkan putrinya.


Puteri Juwita segera berlari menyusul ayahnya. Langkahnya agak terganggu oleh gaunnya yang panjang dan bertumpuk-tumpuk.


"Ayah! " Panggilnya.


Raja Satria menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang melihat putrinya berlari ke arahnya. Ada rasa haru menyusup di hatinya menyadari putrinya kini telah tumbuh menjadi remaja.


"Terima kasih, Ayah. Aku berjanji tidak akan mengecewakan ayah dan ibu. Aku akan menjadi putri yang bisa kalian banggakan. Aku sangat menyayangi Ayah! " Puteri Juwita menghambur ke dalam pelukan ayahnya. Air matanya menetes membasahi dada ayahnya.


"Sudah jangan menangis. Kau tahu ayah sangat menyayangimu! " Raja Satria pun tak kuasa menahan air matanya.


"Eldrige akan segera mengantarmu, bersiap-siaplah! " Raja Satria mengelus kepala putrinya dan mengecupnya dengan sayang.


"Ayah tidak mengantarku ke depan? " Gadis itu menggoyang-goyangkan tangan ayahnya.


"Maaf sayang, Ayah masih ada pekerjaan yang harus dilakukan. " Raja Satria mengecup kening anaknya.


"Pergilah, jangan sampai terlambat! " Raja Satria melepaskan anaknya dengan senyuman meskipun hatinya sangat sedih.


"Baik Ayah, aku berangkat dulu! " Gadis itu mengecup pipi ayahnya, kemudian kembali berlari sepanjang koridor menuju kamarnya.


Ketika Puteri Juwita melangkah menuju kereta kuda sambil digandeng ibunya, dua orang pelayan setia yang mengasuhnya sejak kecil menangis sesenggukan.


"Berhati-hatilah di jalan, Tuan Puteri! " Esme memeluknya dengan sayang.


"Belajar yang giat, Tuan Puteri. Saya membawakan banyak manisan dan kue-kue untuk menemanimu belajar. "


"Terima kasih Esme dan Talitha. Aku akan merindukan kalian! " Gadis itu memeluk kedua pengasuhnya itu dengan erat.


"Masuklah ke dalam kereta, sayang. Eldrige sudah datang! " Ratu Gita mengelus pundak anaknya.


"Ibu, aku berangkat dulu. Aku menyayangimu! " Gadis itu mengecup pipi ibunya.


"Sudah siap, Tuan Puteri? " Eldrige yang penampilannya tetap sama dan tidak berubah seperti bertahun-tahun yang lalu, segera meraih tangan Puteri Juwita dan membantunya naik ke dalam kereta.

__ADS_1


"Terima kasih, Eldrige! " Gadis itu tersenyum pada pria tampan itu.


Ratu Gita terus memperhatikan kereta kuda yang membawa putrinya itu hingga menghilang di balik gerbang istana. Tanpa sadar matanya menangkap bayangan suaminya di balik jendela di lantai 2. Pria itu diam-diam memperhatikan kepergian Puteri Juwita.


__ADS_2