Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 143 Buntu


__ADS_3

Jumlah orang-orang yang bertarung dengan prajurit-prajurit Raja Gaurav tak kurang dari 15 orang. Mereka menyerang dengan kekuatan penuh seolah-olah memang ingin menghabisi mereka.


Raja Gaurav keluar dari tendanya dan menggabungkan diri dalam pertempuran. Pedangnya mengayun lincah menahan serbuan yang bertubi-tubi dari arah kanan dan kirinya.


Beberapa penyerangnya terluka terkena sabetan pedangnya namun tak mengundurkan semangat mereka. Orang-orang berpakaian hitam itu terus mendesak Raja Gaurav dan prajurit-prajurit nya.


Namun, tentu saja, ada alasan kenapa Raja Gaurav memilih keempat prajurit itu untuk mendampinginya. Itu karena mereka adalah para prajurit terpilih. Mereka tangguh dan mereka adalah prajurit-prajurit terbaik.


Maka tak lama kemudian pertempuran itu tak lagi berat sebelah. Bahkan sebaliknya, Raja Gaurav dan keempat prajuritnya kini seakan berada di atas angin. Penyerang-penyerang mereka berjatuhan dan tumbang.


"Siapa kalian? " Tanya Raja Gaurav kepada salah satu dari penyerangnya yang telah dia taklukkan.


"Aku tidak akan menjawabnya. " Kata orang itu dengan keras hati.


"Itu terserah padamu. Paling tidak jika kau memberitahu, kami bisa mengirim kabar kepada teman-teman kalian letak kuburan kalian. " Raja Gaurav berkata dengan dingin.


"Maaf." Salah seorang dari mereka rupanya merasa gentar. "Kami hanya berusaha mempertahankan desa kami. "


Raja Gaurav terkejut mendengar perkataan orang itu. "Kalian warga desa ini? "


"Benar, Tuan. " Jawab orang itu.


Kini kelima belas orang itu duduk terkulai di hadapan penguasa Kerajaan Watu Ijo. Sedangkan Raja Gaurav menatap iba pada mereka ketika telah selesai mendengar penuturan mereka mengenai alasan sebenarnya mereka menyerang.


"Begitulah, Tuan. Kami hidup dalam ketakutan sejak para prajurit kerajaan datang menyerang desa kami."


"Apa kalian tahu kenapa mereka menyerang desa kalian? "


"Mereka mencari seseorang bernama Darya."


"Darya? Siapa dia? "


"Kami sungguh-sungguh tidak tahu, Tuan. "


"Baiklah. Aku tidak bisa menyalahkan kalian jika benar seperti itu keadaannya." Raja Gaurav mengangguk maklum. Kemudian dia meminta mereka supaya tidak usah takut dan keluar dari persembunyian.


Setelah orang-orang itu pergi, tak lama kemudian pelita-pelita terlihat menerangi rumah-rumah warga desa. Mereka tadinya bersembunyi di lumbung-lumbung tempat menyimpan hasil panen.


Meski keadaan telah aman, namun Raja Gaurav tidak kembali tidur. Kantuknya telah menguap setelah bertempur dengan warga desa tadi.


Pagi-pagi ketika matahari muncul di balik lereng gunung, Raja Gaurav sudah bersiap-siap. Tenda-tenda telah digulung dan api unggun telah padam. Mereka siap berangkat kembali.


"Tuan! " Beberapa warga desa datang, laki-laki dan perempuan. Beberapa diantaranya ada lansia dan anak kecil. Mereka membawa buntalan di pelukan.


"Kami minta maaf atas kekasaran semalam. Kami ingin mengajak sarapan bersama tapi kami tahu Tuan pasti tidak mau. " Seorang pria tua berbicara mewakili mereka.


"Oleh karena itu kami ingin memberikan sedikit makanan untuk bekal perjalanan. " Setelah pria itu selesai berbicara, warga desa yang lain segera menumpuk buntalan-buntalan tadi di depan Raja Gaurav.


"Aku menghargai pemberian kalian. Sungguh, aku sangat berterima kasih. Tapi aku terpaksa harus menolaknya. "


"Kenapa Tuan? Kami tidak menaruh racun dalam makanan itu. "


"Bukan itu maksudku. Tempat yang kami tuju sudah tidak jauh. Makanan-makanan ini, kalian pasti lebih membutuhkannya." Jawab Raja Gaurav.


"Tuan, kami akan merasa terhormat jika pemberian kami bisa diterima. "


Raja Gaurav memandang wajah-wajah lugu para penduduk desa itu. Mata mereka menyorotkan ketulusan.


"Baiklah. Kalau begitu kita akan memakannya sama-sama. " Raja Gaurav akhirnya tidak tega menolak lagi.

__ADS_1


Mereka semua tersenyum. Warga desa membuka buntalan-buntalan berisi makanan itu dan menatanya di atas selembar tikar yang dibentangkan. Semua orang duduk bersama dan menyantap makanan dengan sukacita.


"Kenapa Tuan pergi ke Matha Nima?"


"Saya mengunjungi keponakan yang bersekolah di sana. "


"Bersekolah? Bukankah tempat itu biara? " Dahi lelaki itu berkerut. "Lagipula, beberapa waktu yang lalu tempat itu sempat ditutup untuk umum. "


"Ditutup? "


"Kami terkadang mengirim hasil panen ke biara itu, tapi beberapa waktu lalu mereka sama sekali tidak mau membuka gerbang. Beberapa kali kami mencoba ke sana lagi tapi keadaannya tetap sama. "


Punggung Raja Gaurav menegang. Seakan-akan ada sesuatu yang telah menyengatnya. Secepat kilat pria itu berlari ke arah kudanya dan melompat ke atas punggung binatang itu. Tanpa menunggu lama, dia segera menyerap kudanya menuju ke lereng gunung.


Keempat prajuritnya segera mengikuti. Mereka berusaha memperpendek jarak tanpa menanyakan alasan kepergian raja mereka.


*****


Wajah Puteri Pertiwi terlihat cerah setelah menginap satu malam di rumah Tabib Bagio. Senyumnya terus mengembang setiap berpapasan dengan Bagas.Pemuda itupun sama saja, sejak pagi dia terus saja mencari-cari kesibukan agar bisa dekat-dekat dengan gadis itu.


"Kata Juwita ada tempat yang menarik di sekitar sini? " Tanya Puteri Pertiwi ketika mereka sedang berbincang di teras belakang.


"Benar. Ada hutan yang biasa kudatangi untuk mencari tanaman obat. Di sana indah sekali." Jawab Bagas dengan antusias.


"Apa kau mau mengajakku ke sana? " Puteri Pertiwi bertanya dengan malu-malu.


"Ah, tentu saja. Tapi tempat itu agak susah dicapai. Dan juga banyak binatang liar. " Ucap Bagas meski agak ragu untuk mengajak Puteri Pertiwi ke sana.


"Tenang saja, aku bisa menjaga diri. Aku pernah ikut ayahku berburu." Kata Puteri Pertiwi dengan percaya diri.


"Benarkah? " Bagas memperhatikan penampilan feminim gadis itu. Dia tidak bisa membayangkan gadis itu berburu.


"Aku cukup mahir menggunakan senjata. " Puteri Pertiwi tersenyum dengan dagu setengah terangkat.


Pemuda itu berjalan mendekati Puteri Pertiwi. Sesaat dia melupakan status kebangsawanan gadis yang terlihat malu-malu itu. Tanpa ragu Bagas menatap tepat ke arah kedua mata lebar yang kini juga sedang berusaha menatapnya.


"Aku sudah minta izin ayahku untuk pergi mencari tanaman obat hari ini. Ehm.. kalau kau mau, kau bisa.. " Bagas merasa gugup untuk mengutarakan maksudnya.


"Aku mau! " Jawab gadis itu dengan cepat.


"Kalau begitu, nanti siang aku akan menunggumu di dekat paviliun belakang. "


"Baik." Gadis itu mengangguk.


"Aku.. "


Percakapan mereka terhenti ketika Puteri Juwita dan Ningrum datang sehingga membuat kedua gadis itu merasa telah mengganggu percakapan mereka.


"Apa kedatangan kami mengganggu? " Tanya Puteri Juwita.


"Tidak. Kami tidak sedang bicara hal yang serius. " Jawab Puteri Pertiwi berpura-pura.


Bagas pergi diam-diam meninggalkan ketiga gadis itu karena takut Puteri Juwita dan Ningrum menggodanya.


*****


Raja Gaurav dan prajurit-prajuritnya sampai di depan sebuah gedung biara yang berada tepat di lereng gunung. Bangunan itu tertutup, hanya ada beberapa jendela yang terlihat. Sebuah pintu gerbang mengapit dua buah menara setinggi 15 meter.


"Ini tempatnya. " Kata Raja Gaurav ketika dia berhenti di depan pintu gerbang.

__ADS_1


Tempat itu terlihat muram, sangat tidak sesuai untuk tempat tinggal anak-anak. Raja Gaurav menyuruh salah satu prajurit untuk mengetuk gerbang.


Deng..deng..


Suara pintu besi itu menggema sampai ke lembah di belakang biara.


Deng..deng..


Raja Gaurav agak gusar karena setelah mengetuk beberapa kalipun, pintu gerbang tidak juga dibuka.


"Kita coba ke belakang. " Raja Gaurav segera menderap kudanya mengelilingi tembok batu gedung biara itu untuk mencari pintu lain.


Tepat di belakang, jalanan menghilang. Tembok belakang biara menancap tepat di bibir jurang.


"Tidak ada pintu lain. " Kata salah satu prajurit.


Raja Gaurav menatap ke atas tembok itu sambil berpikir keras. Tidak ada jalan lain kecuali menerobos masuk. Tapi bagaimana caranya?


"Kita akan naik ke atas. " Kata Raja Gaurav. "Siapkan tali! "


Tembok bagian samping gedung biara lebih rendah daripada kedua menara di depan. Seorang prajurit melempar sebuah tali yang sudah diberi pemberat.


Swing!


Tali melambung melampaui tembok. Prajurit itu menarik-narik tali beberapa kali untuk memastikan bahwa tali tersangkut sempurna.


"Aku yang naik lebih dulu! " Raja Gaurav segera berpegangan pada tali. Kemudian pria itu melompat. Kakinya bertumpu pada tembok batu. Perlahan-lahan Raja Gaurav melangkahkan kakinya ke atas sambil berpegangan pada tali.


Tidak butuh waktu lama, Raja Gaurav sudah sampai di atas. Dia sekarang berdiri di atas genteng yang disemen. Dengan gerakan lincah pria itu berjalan melewati genteng yang miring.


Ketika sampai di ujung, tanpa ragu-ragu dia melompat turun.


Bruk!


Raja Gaurav mendarat dengan sempurna. Kini pria itu berjalan melewati halaman terbuka dengan sebuah pohon ara tumbuh di tengahnya.


Tempat itu sepi. Mungkinkah tempat ini sudah ditinggalkan penghuninya?


Saat Raja Gaurav berjalan masuk ke dalam ruangan yang terlihat seperti aula, seseorang terlihat sedang duduk membelakangi seorang diri di sana.


"Halo? " Sapa Raja Gaurav.


Orang itu masih diam tak bergerak seolah tidak ada mendengar panggilannya. Karena penasaran Raja Gaurav berjalan mendekatinya. Suara ketukan sepatunya terdengar nyaring di ruangan itu.


Grep.


Tangan Raja Gaurav menyentuh pundak orang itu.


Bruk!


Namun tiba-tiba orang itu ambruk. Raja Gaurav sangat terkejut sehingga untuk sesaat dia hanya berdiri memandanginya. Namun saat kesadarannya pulih, Raja Gaurav segera memeriksa orang itu.


"Sudah meninggal? " Raja Gaurav merasa heran begitu memeriksa denyut nadi orang itu.


Menilik penampilannya, mayat itu dulunya seorang biarawan. Tapi kenapa tidak ada yang mengetahui dia meninggal? Di mana penghuni biara yang lain?


Raja Gaurav kemudian berdiri. Dia segera keluar dari ruangan itu. Di halaman, keempat prajuritnya sudah masuk.


"Periksa tempat ini! " Perintahnya.

__ADS_1


Mereka kemudian menyebar. Raja Gaurav memasuki ruangan-ruangan kosong. Kamar-kamar tidur dan ruang meditasi semua kosong.


"Kemana penghuni biara ini? " Teriaknya dengan rasa frustrasi.


__ADS_2