Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 169 Upacara Di Bukit


__ADS_3

Eldrige tertegun memandang bentangan alam di depannya. Bukit gelap di hadapannya adalah bukit yang terletak di belakang istana Dewanata.


"Apakah Juwita kembali ke istana?" gumamnya.


"Coba kita cari ke sana," ujar Nona Sekar.


Mereka segera menuju ke istana. Saat memasuki pintu dengan bagian atas berbentuk lengkung, mereka bertemu Eshwar.


"Eshwar, apa kau melihat Juwita kemari?" tanya Eldrige.


"Tidak, Tuan."


Mendengar jawaban Eshwar, dahi Eldrige berkerut. "Aneh. Seharusnya jika Juwita masuk ke istana ini dia akan melewati pintu ini."


"Apakah Puteri Juwita telah kembali, Tuan?"


"Iya. Tadi dia sampai lebih dulu dari kami."


"Lewat mana, Tuan?" Eshwar sama sekali tidak bisa mencerna perkataan Eldrige karena setahunya satu-satunya akses masuk ke wilayah istana hanya dari depan, sedangkan di belakang istana hanya ada sungai.


"Ah, nanti saja kujelaskan. Yang terpenting sekarang kita harus segera menemukan Juwita."


"Tuan, sebenarnya ada hal yang ingin saya sampaikan namun mungkin saja hal ini tidak penting." Eshwar mendekati tuannya.


Eldrige berpaling pada Eshwar, menunggu penjelasan pemuda itu. "Katakan saja."


"Sebenarnya tadi, saya melihat beberapa dayang dari wisma ibunda raja diam-diam pergi ke arah bukit di belakang sana. Lalu baru saja, sekitar satu jam yang lalu, ibunda raja menyusul ke sana bersama beberapa pendeta."


"Apa kau yakin tidak salah lihat?"


"Saya yakin sekali, Tuan. Saya melaporkan hal ini pada Tuan karena saya merasa heran, hari ini bukan hari besar keagamaan. Kalaupun untuk melakukan upacara doa, biasanya itu dilakukan di kuil istana."


"Bagaimana menurutmu, Sekar?" tanya Eldrige.


"Sebaiknya kita biarkan saja mereka. Adat dan budaya mereka berbeda dengan kita, jangan sampai kita mengusik kegiatan mereka," jawab Nona Sekar.


"Begitukah?" Eldrige merasa kurang setuju dengan pendapat Nona Sekar.

__ADS_1


"Tapi Tuan, jika benar Puteri Juwita sudah kembali, bisa saja dia bergabung dengan ibunda raja. Bukankah keduanya selama ini sangat dekat?"


"Aku setuju pendapatmu, Eshwar."


Eldrige bergegas kembali ke arah bukit diikuti oleh Eshwar. Raut wajah Nona Sekar agak masam, namun begitu, dia tetap mengikuti langkah Eldrige tanpa berkomentar.


"Tuan, lihat!" Eshwar menunjuk ke lereng bukit. Di sana ada cahaya berwarna ungu.


Tanpa menunggu lagi, Eldrige menapaki jalan setapak yang semakin menanjak diikuti Eshwar. Di belakang mereka, Nona Sekar berjalan sambil melepas bola cahaya yang terbang rendah di atas mereka untuk menerangi jalan.


"Eldrige, apa kau yakin kita mencari ke sini? Apa tidak sebaiknya kita ke istana saja?"


"Tadi kau lihat sendiri kan cahaya ungu itu?" ujar Eldrige.


"Iya, tapi mungkin saja itu bukan Juwita. Mana mungkin dia kemari?"


"Sssstt!" Eldrige memberi kode agar Nona Sekar diam.


Di depan sana cahaya ungu itu menyibak pepohonan. Eldrige yakin sekali jika Puteri Juwita berada di sana. Bayangan mereka semakin memanjang seiring semakin dekatnya langkah mereka ke sumber cahaya. Bola cahaya milik Nona Sekar tampak redup dibanding cahaya ungu itu.


Nona Sekar menoleh ke samping dan melihat wajah Eldrige yang menegang. Sorot mata lelaki itu merah menyala menatap sosok ramping dengan rambut keperakan yang tengah berdiri dilingkupi cahaya ungu yang berasal dari lehernya.


Puteri Juwita berdiri sambil memejamkan mata. Gumam mantera terdengar bagai dengung lebah berasal dari mulut para pendeta yang komat kamit. Wajah Puteri Juwita tampak tenang seperti sedang tidur, terbuai lantunan mantera. Sementara di seberangnya, beberapa wanita sedang menaburkan kelopak-kelopak bunga marigold ke tubuh seorang wanita tua.


"Itu kan ibunda raja?" Eshwar berseru tertahan.


Eldrige mulai memikirkan alasan kenapa Nenek Divya melakukan upacara ini. Namun, belum juga jawaban itu dia dapatkan, pemandangan selanjutnya membuatnya terpana. Kalung mutiara di leher Puteri Juwita perlahan-lahan terlepas dan terbang di udara lalu mendekat ke arah Nenek Divya.


"Kalung itu?" gumamnya seolah baru menyadari sesuatu.


Kaĺau dia tidak salah duga, Nenek Divya pasti menginginkan kalung itu. Sebelum kepergiannya, Puteri Juwita tidak mengenakan kalung itu. Itu berarti tujuan kepergian Puteri Juwita adalah untuk mengambil kalung itu. Namun sikap gadis itu menjadi bengis sejak mengenakannya. Dan sekarang Nenek Divya mengadakan upacara untuk mengambil kalung itu? Jangan-jangan?


"Aku harus merebut kalung itu," ucap Eldrige sambil melangkah maju.


"Tunggu, Eldrige!" cegah Nona Sekar.


"Kau jangan mencegahku lagi. Aku harus segera menyelamatkan Juwita."

__ADS_1


Namun sebelum Eldrige melaksanakan ucapannya, mendadak mereka bertiga dikejutkan oleh bayangan yang tiba-tiba berkelebat menyambar kalung itu.


Alunan mantera langsung terhenti diikuti teriakan marah seorang wanita tua.


"Berani sekali kalian mengganggu upacara ini!" Nenek Divya memekik marah.


"Wanita tua. Hentikan saja keinginanmu untuk menguasai Mangal Arti ini. Benda pusaka ini menolakmu." Pemuda berparas rupawan yang tadi merebut Mangal Arti berkata dengan nada mencemooh.


"Kurang ajar! Kau tidak tahu siapa aku, hah? Puteraku adalah penguasa kerajaan ini, jadi aku berhak atas Mangal Arti."


"Ck ck ck, kau kira aku tidak tahu kalau di dalam darahmu tidak mengalir darah bangsawan Dewanata? Kau sama sekali bukan keturunan Uma, jadi mana mungkin kau berhak memiliki Mangal Arti ini?" ucap pemuda itu.


Wajah Nenek Divya terkesiap, begitu juga dengan semua dayang dan pendeta yang ada di sana. Nenek Divya terkejut bagaimana pemuda itu mengetahui rahasianya. Dia memang tumbuh besar bersama Widya, nenek kandung Puteri Juwita, namun mereka bukanlah saudara kandung. Kenyataan itu hanya dirinya dan ayah angkatnya, mendiang raja, yang tahu. Lalu dari mana pemuda itu mengetahuinya?


"Dukun licik, pasti kaulah orangnya yang sudah mengadukan ini pada bocah itu!" teriak Nenek Divya sambil mengacungkan telunjuk pada lelaki tua berpenampilan aneh.


"Hehehe, saya bahkan tidak mengetahui hal itu, Yang Mulia. Ah, baru sekarang saya menyadari mengapa mendiang Raja Bharata juga tidak bisa memperoleh Mangal Arti." Kekehan dari mulut lelaki tua yang tidak lain adalah Jadukari Daalal Nath menggema di udara.


"Lalu bagaimana dia tahu?" teriak Nenek Divya geram.


"Hehehe, karena dia adalah Tuan Mandala. Suami Uma, pemilik asli Mangal Arti."


"Maksudmu, dia?" Suara Nenek Divya tergagap mendengar penjelasan dari dukun itu.


"Benar. Dia adalah Tuan Mandala yang telah tewas ratusan tahun yang lalu. Dan aku, Jadukari Daalal Nath, yang telah membangkitkannya," jawab dukun itu bangga.


"Sudahlah. Aku bosan mengurusi manusia-manusia bodoh seperti mereka. Daalal Nath, bunuh mereka!" seru Mandala dengan nada malas.


"Baik, Tuan Mandala."


Jadukari Daalal Nath segera mengayunkan tongkatnya yang kini mengeluarkan gelombang energi yang kuat. Namun sebelum sebelum gelombang energi itu melesat ke arah mangsanya, mendadak sebuah sinar menyabet tongkat itu hingga terpental jatuh dan terbelah dua.


Jadukari Daalal Nath berseru kaget karena tidak mengira akan mendapat serangan tak terduga. Sinar yang menyerangnya tadi kini berbalik arah dan ditangkap oleh seorang lelaki dengan rambut keperakan yang dikepang.


"Kau?" seru dukun itu kaget setengah mati.


Di depannya kini Eldrige berdiri sambil menggenggam pedang peri miliknya. Kedua matanya yang merah bersinar marah.

__ADS_1


__ADS_2