Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 176 Akhir Kisah Mandala dan Uma


__ADS_3

Jika harus melawan Mandala, Eldrige tidak keberatan. Namun saat ini yang berdiri menantang di depannya adalah Puteri Juwita. Meski dia tahu bahwa raga gadis itu dikendalikan oleh Uma, tapi tetap saja dia enggan berbuat kasar padanya.


"Juwita, kumohon sadarlah!" pinta Eldrige. Namun gadis di hadapannya itu telah dikuasai sepenuhnya oleh Uma sehingga kata-katanya seakan tak berarti.


"Kau telah melukai Mandala! Berani sekali kau!"


Aura kemarahan Uma menciptakan atmosfer dingin di sekelilingnya. Semacam kabut hitam seolah mengelilingi tubuh Puteri Juwita dan semakin lama semakin pekat.


"Uma sadarlah!" Kali ini Eldrige berbicara kepada Uma. "Gadis ini adalah keturunanmu sendiri. Dia tidak tahu apa-apa, dia tidak berdosa. Tolong lepaskan dia!"


"Justru karena dia keturunanku maka dengan tubuhnyalah aku bisa hidup lagi di dunia ini. Kenapa kau mengacaukan segalanya?"


"Aku tidak mengacaukan apa-apa, justru aku ingin mengembalikan semua seperti sedia kala."


"Seperti sedia kala? Maksudmu aku harus harus kembali menjadi roh pendendam dan Mandala kembali mati? Egois sekali pemikiranmu!"


"Apa tidak cukup hidupmu yang sangat lama itu, Uma? Apa tidak cukup kau menikmati tahun-tahun panjang sebagai manusia? Dan sekarang jatah hidup keturunanmu masih ingin kau rebut?"


"Aku tidak merebutnya. Lagi pula hidup gadis inipun tidak bahagia. Aku merasakan banyak kegetiran dalam jiwanya. Paling tidak jika aku memakai tubuhnya, dia akan ikut merasakan kebahagiaanku dengan Mandala."


"Sadarlah, Uma. Lihat sekelilingmu! Zaman sudah berubah. Kau dan Mandala tidak bisa hidup di zaman ini!"


"Lalu kenapa para dewa membangkitkan Mandala kembali?"


"Itu semua perbuatan dukun itu!" tunjuk Eldrige ke arah Jadukari Daalal Nath yang sedang menonton di pinggir.


Merasa namanya disebut, lelaki tua itu langsung membungkuk secara berlebihan di hadapan Uma. Dia berharap kalau Uma akan berterima kasih padanya karena telah membangkitkan Mandala.


"Jadi itu semua perbuatanmu?" tanya Uma.


"Benar, Yang Mulia," jawab dukun itu.


"Apa yang kau inginkan sebagai imbalannya?" Uma bertanya lagi.


Jadukari Daalal Nath tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya begitu mendengar pertanyaan Uma yang baginya sebagai tawaran hadiah.


"Hamba ... ingin kekuatan fisik dan sedikit ilmu sihir." Lelaki itu sungguh berharap Uma mau memberikan yang diinginkannya.


"Baik. Akan kuberikan apapun keinginanmu asal kau bisa membunuhnya!" seru Uma sambil menunjuk Eldrige.


"A-apa?" Dukun itu tergagap mendengar perintah Uma. Lututnya sudah gemetar hanya mengingat Mandala yang lebih digdaya darinya saja dibantai Eldrige. Lalu bagaimana nasibnya jika berani melawan peri itu?


"Bagaimana? Apa kau masih menginginkan kekuatan para dewa?" Senyuman tersungging di bibir Puteri Juwita.


"Tentu saja hamba menginginkannya."


Meski menginginkan semua itu namun Jadukari Daalal Nath masih takut menghadapi Eldrige. Dia berpikir cepat bagaimana caranya mendapatkan keinginannya tanpa mati konyol karena menghadapi lawan yang tidak seimbang.


"Kalau begitu cepat, bunuh dia!" desak Uma.


Jadukari Daalal Nath kemudian duduk bersila lalu memejamkan mata dan membaca mantera. Kali ini dia bermaksud untuk mengendalikan Uma. Dewa Murr yang pendendam harus bangkit kembali.


"Apa yang kau lakukan, dukun tua?" Uma mengerang marah begitu merasakan sakit yang amat sangat di denyut nadinya.

__ADS_1


Dukun itu tidak menghiraukan teriakan Uma dan terus membaca mantera sihir. Rasa cinta kasih antara Mandala dan Uma yang kembali bersemi sudah memusnahkan dewa murr sang roh pendendam jadi Jadukari Daalal Nath mencoba mengembalikan perasaan sedih, marah dan kecewa Uma. Jika Uma kembali menjadi dewa murr, maka akan lebih mudah baginya untuk mendapatkan kekuatan dari Mangal Arti.


"Aaakh! Hentikanlah wahai dukun k*p*rat!" teriak Uma dengan tubuh kelojotan.


Eldrige yang menyadari perbuatan busuk dukun itu segera mengibaskan tangannya dan mengirimkan pukulan jarak jauh.


Brak!


Seketika tubuh Jadukari Daalal Nath yang kurus kering terjengkang sejauh beberapa meter. Tubuhnya membentur tanah begitu keras sehingga meremukkan tulang dan organ dalamnya.


"Hoek!" Dukun itu segera muntah darah. Dia mengernyit kesakitan sambil memegangi dadanya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Eldrige akan menyerangnya demi menyelamatkan Puteri Juwita.


Sementara itu setelah berhasil memukul dukun itu, Eldrige segera menghampiri Puteri Juwita.


"Tuan Puteri, kau tidak apa-apa?"


Sepasang mata berwarna hitam itu memperhatikan Eldrige yang segera menolongnya. Entah mengapa dia merasa jika lelaki berhati dingin di depannya itu sebenarnya menyimpan perasaan cinta yang mendalam. Dan meski perasaan itu kini telah terkubur jauh di batas ingatannya, namun Uma masih bisa merasakannya.


Jantungnya sendiri selalu berdenyut setiap melihat Eldrige. Sekarang mengertilah dia jika gadis pemilik raga ini juga mencintai lelaki itu.


"Kenapa kau menolongku?" tanya Uma dengan napas tak teratur.


"Aku menolong pemilik tubuh ini," jawab Eldrige datar.


"Bagaimana kalau aku mati bersama gadis ini?"


"Aku tidak akan membiarkannya."


"Bawa aku kepada Mandala, tolong!" pinta Uma.


"Mandala!"


Tangan Puteri Juwita bergerak mengelus pipi Mandala yang semakin memucat seolah kehilangan daya hidupnya. Perlahan kelopak mata Mandala terbuka dan menatap ke arah gadis itu.


"U-ma." Mandala berusaha tersenyum, di sudut bibirnya masih mengalir darah yang kini tampak mulai menghitam.


"Uma kekasihku." Tangan lelaki itu menggenggam tangan Puteri Juwita yang masih berada di wajahnya.


Uma menangis, hatinya sakit melihat kematian yang kian mendekati kekasihnya.


"Jangan pergi, kumohon!" isaknya.


"Aku senang bertemu lagi denganmu di kehidupan ini. Berbaikan lagi denganmu dan kembali mendapatkan cintamu, aku tidak memiliki penyesalan lagi."


"Mandala, aku ... tidak ingin berpisah denganmu lagi."


Mandala menatap Uma sesaat lalu dia mengangguk. "Akupun tidak ingin kembali sendirian memasuki alam kematian."


"Aku akan ikut denganmu!" Uma segera menyahut. "Aku sudah lelah mengembara sebagai roh pendendam selama ratusan tahun."


"Kau akan ikut denganku menghadap maut?" tanya Mandala heran.


"Iya. Lagipula gadis yang kupinjam raganya ini harus diberi kesempatan untuk menjalani hidupnya sendiri."

__ADS_1


Mereka kemudian saling menggenggam. Uma menyaksikan nyawa Mandala meninggalkan raga. Dia kemudian berpaling pada Eldrige yang sejak tadi berdiri memperhatikan.


"Aku akan melepaskan gadis ini," ucap Uma. "Mangal Arti ini kuserahkan padanya. Tidak ada seorangpun yang bisa mengambil Mangal Arti darinya kecuali dia benar-benar merelakannya."


Setelah itu Uma memejamkan mata. Perlahan-lahan sejumput asap tipis keluar dari mulut Puteri Juwita seraya gadis itu mulai terjaga.


Eldrige segera menghampiri Puteri Juwita yang kini nampak sangat terkejut karena sedang menggenggam tangan Mandala. Dia segera melepas genggamannya. Tak lama kemudian tubuh Mandala yang sudah tidak bernyawa berangsur-angsur mengering dan berakhir menjadi abu yang langsung pudar tertiup angin.


Begitulah akhir kisah Mandala dan Uma yang bertemu kembali setelah dipisahkan kematian. Anehnya kini mereka malah disatukan kembali oleh kematian.


*****


Saat ini Eldrige dan Puteri Juwita sedang berada di hadapan Raja Badre. Mereka sedang berpamitan kepada penguasa Dewanata itu.


"Aku merasa malu padamu, Juwita. Tahta ini seharusnya adalah milikmu."


"Tidak, Paman. Aku tidak menginginkannya."


"Tapi kaulah pewaris asli kerajaan ini."


"Tapi Paman adalah raja yang baik dan bijaksana. Tetaplah seperti itu, Paman."


Setelah berpamitan dengan Raja Badre, mereka berpamitan pada Bagas, Puteri Pertiwi dan Ningrum.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu, Juwita," Puteri Pertiwi seakan enggan melepas pelukannya pada tubuh sepupunya itu.


"Aku juga akan merindukanmu, sepupuku sayang," jawab Puteri Juwita.


"Aku senang kau masih menganggapku sepupu padahal nenek ..."


"Sssht! Sudah jangan diungkit lagi. Nenek Divya sudah mendapatkan hukumannya, kau tak perlu merasa bersalah padaku."


Benar yang dikatakan Puteri Juwita, Nenek Divya yang masih penuh ambisi di masa tuanya itu sudah mendapat balasan yang setimpal. Saat Puteri Juwita lengah tadi, wanita itu berusaha menarik paksa Mangal Arti yang melingkari leher Puteri Juwita. Akibatnya sangat fatal, seluruh tubuh wanita tua itu seakan tersetrum ribuan volt listrik. Sekarang Nenek Divya hanya bisa terbaring lemah dengan kondisi tubuh lumpuh dan gosong.


"Aku akan mengunjungimu begitu ada kesempatan," ucap Ningrum dengan wajah dibasahi air mata.


"Akan aku tunggu," jawab Puteri Juwita sambil tersenyum.


"Hati-hatilah, Juwita!" Bagas melepas pelukannya dari gadis yang telah dianggapnya sebagai adik itu. Gadis itu mengangguk patuh.


"Tuan Eldrige, bolehkah saya terus mengikuti Tuan?" tanya Eshwar.


"Kau tinggallah di sini saja. Bagas pasti mau memberimu pekerjaan," jawab Eldrige.


"Benar, Eshwar." Bagas mengangguk membenarkan.


"Tapi saya ingin terus mengikuti Tuan!" bantah Eshwar.


"Aku tidak bisa menjadi tuanmu, Eshwar. Aku seorang peri, kami tidak terikat dengan manusia. Tugasku sebagai guardian kerajaan Elfian yang membuatku berinteraksi dengan bangsa manusia."


Perkataan Eldrige itu tentu saja membuat Eshwar bingung. Bukankah Puteri Juwita adalah calon istri Eldrige? Bukankah itu berarti Eldrige adalah manusia juga? Lalu kenapa tiba-tiba Eldrige tiba-tiba bicara seperti itu? Banyak sekali pertanyaan dalam benaknya.


"Kalau Ningrum datang berkunjung kau bisa ikut dengannya, Eshwar." Puteri Juwita segera memutus kebingungan Eshwar.

__ADS_1


Puteri Juwita diam-diam menatap Eldrige. Dia menyadari akhirnya Eldrige kembali menjadi peri.


__ADS_2