
"Jadi dia adalah cucu Bibi Widya? " Seorang pria tampan dengan janggut dan jambang tebal menatap Puteri Juwita dengan seksama.
Gadis itu merasa gelisah dibawah tatapan tajam pria itu. Hal itu bukan disebabkan oleh wajahnya yang garang, melainkan karena gadis itu tahu bahwa pria itu adalah penguasa tertinggi negeri ini, Raja Badre.
"Namanya Juwita, kau jangan menakutinya seperti itu! Mulai sekarang dia akan tinggal bersama ibu. " Nenek Divya memarahi Raja Badre seolah dia anak kecil.
"Ibu, apakah Ibu yakin dia adalah keturunan Bibi Widya? Bisa saja dia hanya sekedar mirip. Atau..jangan-jangan dia penipu? " Suara Raja Badre menggelegar saat dia mengucapkan kalimatnya yang terakhir.
"Saya bukan penipu! " Suara Puteri Juwita rendah namun tegas. Ada wibawa yang hanya dimiliki kaum ningrat di pembawaannya.
"Lalu bukti apa yang kau bawa, gadis kecil? " Tanya Raja Badre.
"Saya tidak membawa apapun dan saya tidak berusaha membuktikan apa-apa." Jawab Puteri Juwita.
"Hmm, lalu apa yang membuatmu kemari dan mengaku-ngaku sebagai cucu Puteri Widya? " Tatapan mata Raja Badre seakan ingin menelan gadis itu.
Puteri Juwita kemudian mengangkat dagunya dan menatap mata Raja Badre. Untuk sesaat, pemimpin Kerajaan Dewanata itu terkejut dengan keberanian gadis itu. Selama ini belum pernah ada orang yang berani menatap matanya kecuali keluarga dan orang-orang yang dekat dengannya.
"Saya dibawa kemari tanpa tahu untuk tujuan apa. Saya sama sekali tidak tahu bahwa ada darah bangsa Dewanata yang mengalir dalam tubuh saya. " Tatapan gadis itu polos dan menampakkan kejujuran.
Raja Badre membuka mulutnya beberapa saat sebelum berbicara. " Kuakui kau gadis pemberani. Keluarga bangsawan Dewanata dikenal memiliki jiwa pemberani. Tapi kau butuh lebih dari sekedar kemiripan wajah dan sikap berani untuk meyakinkan kami bahwa kau benar-benar keturunan Puteri Widya. "
"Saya tidak tahu lagi. Saya tidak punya apa-apa. Saya pergi ke Kerajaan Dewanata tanpa membawa apapun. " Jawab Puteri Juwita pasrah.
"Ayolah, Badre! Sudah ibu bilang jangan terlalu keras pada gadis itu. " Nenek Divya bangkit dari kursinya dan mendekati Puteri Juwita.
"Aku mengenali darah dagingku sendiri. Dia persis seperti adikku." Tangan keriput wanita tua itu memegang dagu Puteri Juwita.
Tiba-tiba matanya tertuju pada leher gadis itu. Seuntai kalung yang melingkar di leher gadis itu terlihat familiar. Wanita itu menyentuhnya dan menariknya keluar.
"Ini buktinya! " Teriak wanita tua itu.
Raja Badre berdiri, ingin tahu benda apa yang dipegang oleh ibunya.
"Kalung ini. Lihat, bukankah kalung ini sama persis dengan kalung yang selalu ibu pakai? " Nenek Divya menunjukkan salah satu kalung yang melingkar di lehernya.
Dua buah kalung emas yang identik. Keduanya memiliki liontin berbentuk tetesan air yang tampak sama persis.
"Coba kau lihat ukiran di belakang pengait liontin itu! " Nenek Divya menyerahkan kedua kalung itu pada seorang pelayan yang segera membawanya pada Raja Badre.
"Keduanya berukir tulisan dengan huruf Dewanata kuno. Yang satu tertulis Divya dan satunya lagi Widya. " Kata Raja Badre. Kali ini pria itu mau tak mau harus percaya bahwa gadis yang berdiri di hadapannya itu memiliki darah yang sama dengannya.
"Kalung itu sengaja dipesan ayah kami saat kami berulang tahun. Meskipun usiaku lebih tua dua tahun darinya, tapi tanggal lahir kami sama. Juwita, kau benar-benar cucu adikku Widya." Nenek Divya memeluk tubuh Puteri Juwita.
"Baiklah, sekarang aku yakin bahwa kau adalah cucu Puteri Widya, bibiku. " Kata Raja Badre.
Kemudian Puteri Juwita diantar ke sebuah kamar yang sangat indah. Beberapa pelayan datang dan mulai mendandaninya seperti puteri Kerajaan Dewanata.
"Aku ingin tahu dimana kakakku? " Tanya Puteri Juwita pada seorang pelayan.
"Kakak anda sudah pergi diantar beberapa prajurit. Tampaknya Ibu Suri menginginkan kakak anda untuk membawa keluarganya ke istana." Jawab pelayan itu.
"Ah, semoga mereka tidak merasa keberatan." Ucap gadis itu sambil menatap bayangannya di cermin.
__ADS_1
"Anda cantik sekali, Tuan Puteri. Persis seperti mendiang Puteri Widya. " Puji pelayan itu sambil memasang beberapa gelang di tangan Puteri Juwita.
"Maaf, tapi aku tidak terbiasa memakai perhiasan sebanyak ini. " Kata Puteri Juwita yang merasa tidak nyaman dengan berbagai perhiasan yang kini menghiasi tubuhnya.
"Ini adalah kebiasaan bangsa Dewanata, sepupuku. " Tiba-tiba seorang gadis cantik muncul di belakang mereka.
"Puteri Pertiwi! " Puteri Juwita segera membungkuk hormat.
"Jangan seperti itu, Juwita. Kita ini berkerabat, kau tidak perlu bersikap sungkan seperti itu. " Tangan Puteri Pertiwi mengusap-usap pakaian yang dikenakan Puteri Juwita, memastikannya tidak kusut.
"Ehm, Pertiwi.. aku ingin tahu bagaimana dengan kakakku? " Puteri Juwita kembali menanyakan soal Bagas.
"Nenek menyuruhnya menjemput ayah dan adiknya. Dia telah menceritakan semuanya pada nenek." Jawab Puteri Pertiwi dengan ceria.
"Aku merasa tidak enak jika membuat mereka terpaksa pindah ke istana ini. Mereka sangat menyukai rumah baru kami di desa Kulm." Kata Puteri Juwita dengan resah.
"Nenek tidak akan memaksa mereka jika mereka tidak mau. Nenek adalah wanita yang sangat bijaksana, kau jangan cemas. " Ucapan Puteri Pertiwi terdengar melegakan.
"Ayo, akan kuajak kau berkeliling di istana ini!" Puteri Pertiwi menarik tangan Puteri Juwita seperti kebiasaan Ningrum. Gadis bangsawan itu menunjukkan setiap sudut istana pada sepupunya itu.
*****
Rombongan Raja Satria memasuki gerbang istana Elfian. Sorak-sorai yang menyambut mereka di sepanjang jalan masih berlanjut di istana.
"Selamat datang, Yang Mulia! " Sambut semua orang.
Raja Satria mengangguk dan turun dari kudanya. Pria itu melangkah ke dalam istana dan langsung ke wismanya.
Di dalam kamar dilihatnya istrinya sedang tidur bersama bayi mereka. Wanita itu tampak letih.
Seulas senyum mengembang di bibir Ratu Gita saat menatap wajah suaminya. Dia bahkan tidak tahu apakah ini kenyataan ataukah hanya mimpi karena dia terlalu sering memimpikan kepulangan suaminya itu.
"Ah, mimpi ini terlalu tampak nyata. " Keluh wanita itu dengan sedih.
"Ini bukan mimpi, sayangku. Aku benar-benar sudah pulang. " Pria itu merendahkan wajahnya dan mengecup kening istrinya.
Perasaan hangat menjalar di dada Ratu Gita. Matanya berkaca-kaca karena perasaan rindunya sudah sangat membuncah.
"Akhirnya kau pulang. Lihatlah putra kita telah lahir. Aku belum memberinya nama." Suara wanita itu bergetar menahan haru.
"Akhirnya Juwita memiliki adik. Dia pasti akan senang jika mengetahuinya." Raja Satria meraih bayi merah yang terlelap itu dan memeluknya.
"Juwita. Aku tidak bisa merasa bahagia jika dia belum kembali. Aku.. aku merasa bersalah jika bisa bahagia dengan bayi ini. " Pertahanan yang sejak tadi ditahannya kini jebol. Air mata kini membasahi kedua pipi wanita itu.
"Jangan merasa begitu. Kita harus bahagia memiliki bayi ini! "
"Tapi Juwita.. ini tidak adil untuknya. "
"Jangan cemas. Eldrige akan membawanya pulang. " Raja Satria memandang istrinya dengan sungguh-sungguh sambil digenggamnya tangan wanita itu.
"Eldrige sudah lama tidak memberi kabar. " Keluh Ratu Gita.
"Dia mengalami kendala. Tapi jangan khawatir, Eldrige pasti menemukan Juwita. "
__ADS_1
"Jadi, Juwita belum juga ditemukan? " Raut wajah wanita itu semakin cemas.
"Dengar, sayangku. Apapun yang terjadi, Eldrige akan membawa pulang putri kita. Dia sudah berjanji. " Raja Satria mengecup tangan istrinya. "Lagipula, Juwita adalah gadis yang cerdas. Dia pasti bisa menjaga dirinya. "
Kemudian Raja Satria duduk di sebelah istrinya sambil memandangi bayi dalam gendongannya.
"Bagaimana kalau kita memberinya nama, Cielo." Kata Raja Satria.
"Kenapa kau memberinya nama itu? " Ratu Gita tersenyum menatap suaminya.
"Selama masa peperangan aku sering memandangi langit dan membayangkan wajah-wajah orang-orang yang kusayangi. Aku ingin bayi ini kelak akan selalu mengingat orang-orang yang menyayanginya dimanapun dia berada. " Raja Satria mencium pipi bayinya.
"Cielo. Juwita pasti juga akan menyukai nama itu. " Ucap Ratu Gita. Kegundahan hatinya agak berkurang.
*****
Eldrige memacu kudanya menuju Alsatia melewati hutan. Dia menghindari keramaian karena khawatir jika prajurit-prajurit Alsatia masih mengejarnya. Tujuannya adalah jurang tempat dia terjatuh waktu itu. Dia akan mencari ke sana sekali lagi.
Eldrige mencari lereng yang agak pandai dan dengan hati-hati menuntun kudanya menuruni lereng jurang. Dia baru menyadari betapa curamnya jurang itu. Pasti Puteri Juwita kesulitan untuk naik ke atas.
Eldrige menaiki kudanya kembali begitu sampai di dasar jurang. Ada bekas-bekas lumpur di sana. Eldrige merasa yakin jika tempat itu telah dilewati aliran air beberapa waktu lalu.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Puteri Juwita bisa menyelamatkan diri dari aliran deras yang diperkirakannya mencapai ketinggian hampir dua meter jika melihat bekas-bekas lumpur di dinding jurang.
"Kau dimana, Juwita? " Desah pria itu.
Eldrige memacu kudanya semakin kencang sampai dia melihat puncak-puncak tebing yang semakin rendah.
"Apa kau naik ke atas sana, Juwita? " Tanya pria itu pada kehampaan.
Eldrige kembali turun. Dia menuntun kudanya kembali menaiki tebing. Ketika sampai di atas Eldrige segera melihat jalan setapak.
Dengan mengikuti jalan setapak itu dia sampai di sebuah pondok. Pria itu turun dari kudanya dan memeriksanya. Pondok itu tidak berpenghuni.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan Puteri Juwita. Hanya ada bermacam-macam tanaman obat yang dikeringkan. Selebihnya kosong.
Dengan kecewa pria itu berjalan kembali menuju kudanya, namun tiba-tiba dia melihat sesuatu.
"Ini baju Puteri Juwita. " Baju tahanan yang dikenakan Puteri Juwita tersampir di samping pondok.
"Dia pernah kemari. Tapi sekarang dia ada di mana? " Eldrige merasa bingung. Akhirnya Eldrige memutuskan untuk mengikuti terus jalan setapak itu.
Jalan setapak yang dilaluinya menuntunnya keluar dari hutan. Di bawah sana hamparan ladang pertanian tampak hijau. Domba-domba yang merumput di lereng gunung terlihat bergerombol dengan tenang diawasi oleh anak-anak gembala.
Eldrige terus memacu kudanya. Beberapa desa dilewatinya dengan beberapa kali menanyakan tentang Puteri Juwita. Namun tidak seorang pun mengetahuinya.
"Kemana jika ada yang ingin menjual tanaman obat? " Tanya Eldrige ketika untuk kesekian kalinya dia bertanya pada orang yang berpapasan dengannya.
"Ke pasar Kevad. Di sana segala macam barang ada. " Kata orang itu.
"Di mana letak pasar itu? "
"Di kota Otep. Ikuti saja jalan ini. "
__ADS_1
Eldrige mengucapkan terima kasih dan kembali melanjutkan perjalanannya.