
Eldrige mengoleskan salep ke pergelangan kaki Puteri Juwita. Sesekali bibirnya meniup-niup luka itu agar tidak terasa perih. Dan sepanjang waktu itu Puteri Juwita terus memalingkan wajahnya ke samping.
"Apa masih terasa sakit?"
"Sedikit."
Eldrige menghembuskan napas berat. Dia bukannya tidak menyadari perubahan sikap gadis itu, dia hanya tidak mengerti apa penyebabnya.
"Juwita, apa kau mau menjelaskan padaku kenapa sikapmu aneh akhir-akhir ini?"
"Aku tidak mengerti maksud ucapanmu."
"Kumohon Juwita, bicarakan saja jika ada sesuatu yang mengganjal hatimu. Apa kau marah padaku? Apakah ada tindakanku yang membuatmu kecewa? Kumohon jujurlah!"
Jujur? Yang benar saja!
Puteri Juwita semakin muak. Bukankah yang seharusnya berkata jujur adalah Eldrige?
"Kurasa sebaiknya kau pergi dulu, Eldrige. Aku..lelah."
"Yah, aku tidak bisa memaksamu untuk menjelaskannya." Eldrige berdiri, dia sedikit kesal dengan sikap Puteri Juwita yang selalu menghindarinya.
"Asal kau tahu aku akan tetap mencintaimu meskipun kau mulai bosan padaku. Aku akan terus mengikutimu meski kau muak padaku."
Air mata mengalir membasahi pipi Puteri Juwita ketika mendengar perkataan Eldrige. Sebagian hatinya ingin mempercayai perkataan pria itu, namun sebagian lagi menolaknya.
"Bisakah aku mengajukan pertanyaan yang sama padamu, Eldrige?"
"Apa maksudmu?"
"Adakah sesuatu yang kau tutupi dariku?"
Eldrige terdiam mendengar pertanyaan itu. Belum saatnya dia mengatakan yang sesungguhnya pada Puteri Juwita, dia harus memastikan sesuatu dulu.
"Tidak ada." Ucap Eldrige yang membuat Puteri Juwita benar-benar kecewa.
"Kalau begitu sudah tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan, Eldrige." Perkataan gadis itu benar-benar menutup perbincangan mereka.
******
Masa berkabung telah usai dan pernikahan Puteri Pertiwi akhirnya diselenggarakan. Para tamu undangan berdatangan dari berbagai . Salah satunya adalah pasangan dari Kerajaan Elfian, Raja Satria dan Ratu Gita.
"Akhirnya ibu bisa melihatmu lagi Juwita." Ratu Gita memeluk anak sulungnya itu. Wanita itu mengejutkan anaknya dengan tiba-tiba masuk ke kamar gadis itu.
Puteri Juwita membalas pelukan ibunya dengan erat. Betapa rindunya dia pada wanita yang telah melahirkannya itu. Tak terasa perpisahan mereka sudah lebih dari satu tahun lamanya.
"Kau sudah dewasa, anakku. Sekarang kau tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik."
"Ibu, aku ingin pulang." Suara Puteri Juwita terdengar lelah.
"Tentu saja sayang, kita akan pulang setelah pesta pernikahan ini selesai." Jari lentik Ratu Gita mengusap butiran air mata yang membasahi wajah putrinya.
"Maafkan ibu. Ibu menyesal karena tidak bisa mendampingimu melewati semua kesulitan itu." Ratu Gita ikut meneteskan air mata.
"Aku tidak apa-apa, Bu."
"Pamanmu menceritakan semuanya pada ibu. Ibu merasa sangat sedih sekaligus marah pada diri sendiri karena tidak bisa melindungimu."
"Itu bukan salah ibu. Semua ini sudah jalan hidupku."
"Hanya berselang satu tahun kau sudah begitu dewasa. Ibu terkadang merindukan rengekanmu dan sikap manjamu."
"Ngomong-ngomong, sudah sejauh mana hubunganmu dengan Eldrige?" Pertanyaan Ratu Gita sontak membuat gadis itu tersentak. "Ibu mendengarnya dari ayahmu."
"Entahlah, bu. Sepertinya aku harus memikirkan ulang semuanya. Aku tidak ingin terburu-buru. Lagipula aku masih muda, banyak hal yang masih harus kupelajari."
"Kalau itu keputusanmu, ibu hanya bisa mendukungmu. Ibu juga ingin kau menikmati masa mudamu dulu sebelum mengabdikan diri sebagai seorang istri."
"Kudengar aku mendapat seorang adik. Mana dia? Aku ingin bertemu dengannya."
"Cielo sedang bersama Esme. Ibu sengaja mencarimu karena sudah sangat rindu." Kata Ratu Gita sambil membelai rambut anaknya yang keperakan.
"Cielo? Aku menyukai nama itu. Oh ya, apa ibu sudah bertemu Nenek Divya?"
"Belum. Orang pertama yang ingin ibu temui adalah kau, Juwita."
Tak berapa lama pintu kamar itu kembali terbuka. Seorang wanita sepuh yang terlihat anggun masuk.
"Apa kau Gita?" Tanya Nenek Divya.
"Benar."
"Aku bibimu, sayang. Saudara ibumu."
"Bibi..Divya?" Ratu Gita sudah mendengar mengenai bibinya itu dari Raja Gaurav.
"Benar. Kemarilah, aku ingin memelukmu."
Ratu Gita menghampiri bibinya dan memeluknya dengan erat. Jika ibundanya masih hidup, pastilah akan menyerupai wanita itu.
"Kau lebih mirip aku daripada adikku, Widya." Nenek Divya mengamati wajah keponakannya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu bahwa ibuku memiliki kakak. Ibu agak tertutup mengenai masa lalunya."
Widya orangnya agak tertutup. Dia suka memendam masalahnya sendiri." Nenek Divya mengusap air matanya.
"Ibu jarang sekali membahas tentang asal-usulnya." Kata Ratu Gita.
Nenek Divya terdiam sejenak, kemudian berbicara dengan sedih.
"Widya tidak menyukai sesuatu yang melekat padanya. Dia sudah berhasil menjauhkan kalian dari mimpi buruknya."
"Mimpi buruk?" Kening Ratu Gita berkerut.
"Ah, jangan terlalu dipikirkan. Itu semua hanya masa lalu." Nenek Divya segera mengalihkan pembicaraan. "Sudah kusiapkan kamar untukmu, keponakanku sayang. Istirahatlah, upacara pernikahan besok akan sangat melelahkan."
Sepeninggal Nenek Divya, seorang pelayan datang untuk mengantarnya ke kamar. Puteri Juwita mengikuti ibunya, namun matanya tertumbuk pada sesosok wanita yang sedang berjalan di bawah sana.
"Apa ibu datang bersama Nona Sekar?"
"Ah, tidak. Dia sudah lama pergi mengikuti Eldrige untuk mencarimu. Aneh sekali kalau kau tidak tahu." Ratu Gita memandang putrinya agak bingung.
"Aku tidak tahu." Jawab Puteri Juwita dengan jujur.
"Mungkin dia enggan untuk masuk ke istana Dewanata. Tapi dia baik sekali mau menjemput kami di pelabuhan."
"Apakah Eldrige juga ikut?"
"Iya, mereka datang bersama."
Fakta yang diucapkan ibunya itu membuat Puteri Juwita semakin terguncang. Apakah sejak awal Eldrige telah membohonginya?
Kesedihan Puteri Juwita segera ditepis saat melihat bayi mungil yang tengah tertidur. Wajah bayi itu terlihat damai. Pelan-pelan dia menyentuhnya.
"Lembut sekali." Ucapnya sambil mengelus pipi adik lelakinya.
"Kaupun dulu semungil dia. Kau adalah bayi pertama yang membuat ibu jatuh hati." Ratu Gita mengelus pundak putri sulungnya.
"Berapa usianya?"
"Bulan ini dia masuk enam bulan."
"Aku tidak menyangka akan memiliki adik di usia 17, apakah kami bisa akrab nantinya?"
"Kalian adalah saudara. Meski usia kalian terpaut jauh, kalian pasti bisa akrab."
"Juwita!" Sebuah suara mengejutkan keduanya. Seorang pria dengan rambut dan bentuk telinga serupa dengan Puteri Juwita datang mendekat.
"Ayah?" Puteri Juwita segera melompat ke pelukan ayahnya.
"Aku baik-baik saja ayah."
"Apa tubuhmu bertambah tinggi?" Raja Satria mengamati putrinya dari atas ke bawah.
"Kurasa tinggiku sudah tidak bertambah lagi."
"Emm, kau salah. Terakhir kali tinggimu sama seperti ibumu. Tapi sekarang kau terlihat lebih tinggi darinya." Raja Satria menempelkan telapak tangannya di atas kepala putrinya.
"Benarkah?"
Mereka saling tertawa membicarakan hal-hal remeh yang selama ini mereka rindukan.
****
Jadukari Daalal Nath mengamati kemeriahan di istana Dewanata dari sebuah sudut tersembunyi. Meski ada gelegak kemarahan yang menggumpal di rongga dadanya namun dia berusaha menahannya.
Tahun ini usianya genap seratus tahun berkat kekuatan sihir yang didapatnya dari ilmu-ilmu hitam yang dipelajarinya. Namun cita-citanya untuk menjadi perwujudan dewa belumlah diraihnya, bahkan nyatanya seluruh kekuatannya kini telah musnah.
Semua itu karena selama ini dia selalu salah langkah. Dia selalu mendukung orang yang salah. Belasan tahun yang lalu dia mendukung Raja Bharata namun gagal karena Raja Bharata bukanlah orang yang ditunjuk dewa Murr.
Lelaki itu mundur lalu meninggalkan tempat itu. Dengan langkah tertatih-tatih melewati jalanan ibukota yang mulai gelap. Dia berhenti sejenak di sebuah tenda, dari dalam terdengar suara musik dan tepuk tangan. Di depan celah tenda yang tersibak, tertumpah cahaya sewarna madu keemasan yang hangat.
"Pada masanya, tidak akan ada lagi keriuhan pesta selain pemujaan yang absolut." Matanya menatap benci ke arah dua wanita penari yang meliukkan tubuh dengan kepala tertutup dupatta berwarna merah.
Ketika lelaki itu sudah hendak melangkah pergi, tiba-tiba sesuatu menarik perhatiannya. Seorang lelaki berpakaian buruk duduk bersandar pada tembok. Tubuh lelaki itu gemetar dan mengigau dalam tidurnya. Sebuah rantai melilit pergelangan kakinya dan terkunci pada tiang besi.
"Pangeran Awang?" Jadukari Daalal Nath berdiri sambil bertumpu pada tongkatnya.
Mata lelaki yang bersandar di tembok itu bergetar lalu membuka perlahan. Sepasang mata yang biasanya memancar tajam kini tampak redup dan takluk.
"Sedang apa anda di sini?"
"Kau...dukun itu," suara Pangeran Awang sangat lemah.
Pandangan Jadukari Daalal Nath menelisik lelaki di hadapannya itu. Sekilas tidak nampak kekurangan apapun padanya, hingga lelaki muda itu menyingkap kain yang menyelimuti tubuhnya.
"Ah!" Mata Jadukari Daalal Nath melebar melihat bahwa lengan kiri Pangeran Awang tidak ada.
"Reaksimu terlalu berlebihan. Apa kau tidak pernah melihat orang cacat?"
"Lalu...ini?" Telapak tangan dukun itu naik ke atas ke bawah menunjuk rantai yang membelenggu kakinya.
"Aku ditemukan seseorang setelah berhari-hari terluka akibat jatuh dari guamu. Kupikir dia tulus menolongku, ternyata dia malah menjualku pada seorang pedagang budak. Ketika aku berusaha melarikan diri, mereka memotong lenganku."
__ADS_1
"Budak yang cacat tidak ada nilainya." Gumam Jadukari Daalal Nath.
Perkataan dukun itu benar-benar melukai perasaan, namun itulah kenyataannya.
"Tapi jangan khawatir, aku akan membawamu untuk tujuan yang lebih mulia." Gumam Jadukari Daalal Nath sambil meraih sebongkah batu.
Tangan lelaki tua itu menghantamkan batu ke atas rantai yang membelenggu kaki Pangeran Awang beberapa kali. Setelah beberapa kali rantai itupun lepas.
"Sekarang aku tahu bahwa ini adalah upah dari pengabdianku selama bertahun-tahun." Jadukari Daalal Nath tersenyum senang.
*****
Pangeran Awang berjalan tertatih semalaman mengikuti Jadukari Daalal Nath. Di saat segalanya telah hilang dari hidupnya, tiba-tiba saja pikirannya menjadi jernih. Dia teringat akan dosa-dosa yang telah dilakukannya di masa lalu.
"Kau akan membawaku ke mana?" Tanya Pangeran Awang.
Jadukari Daalal Nath tidak menjawab dan terus berjalan. Mereka baru berhenti saat tiba di lereng bukit. Pangeran Awang menatap ke bawah, ke lembah yang terbentang luas sampai ke puncak gunung Taevas. Cahaya fajar membuat bangunan istana Dewanata dan rumah-rumah penduduk seolah bermunculan dari dalam kabut.
"Ada sebuah kuil tua di desa sana. Desa itu adalah cikal bakal kerajaan Dewanata yang sudah ditinggalkan."
Betul saja, tak lama kemudian terlihatlah bangunan gapura yang sangat tua dan sudah keropos dimakan usia yang berdiri seolah menyambut kedatangan mereka.
"Desa Dewanata?" Pangeran Awang membaca tulisan buram di bagian atas yang melengkung pada bangunan gapura.
Mereka melewati beberapa bangunan yang masih tampak berdiri meski terlihat rusak dan tak terawat, selebihnya hanya ada sisa-sisa reruntuhan bangunan yang teronggok ditumbuhi lumut dan tanaman liar.
"Sebenarnya kita mau apa?" Pangeran Awang sudah tidah sabar lagi.
"Sebentar lagi kita sampai, anda akan tahu sendiri nanti."
Jadukari Daalal Nath berbelok ke area yang ditumbuhi pepohonan yang mirip hutan. Tidak ada jalan yang terlihat karena semak belukar begitu lebat.
"Kita sudah sampai."
Pangeran Awang menatap bingung ke sekelilingnya yang hanya dipenuhi pepohonan. Hatinya mulai cemas karena tidak bisa meraba apa yang sedang dipikirkan dukun itu.
"Itu adalah pohon nagasari." Tunjuk Jadukari Daalal Nath ke arah sebuah pohon besar yang usianya sudah ratusan tahun. "Pohon keramat yang memendam energi yang sangat besar."
Sekilas tidak ada yang aneh dari pohon itu. Penampilannya seperti layaknya pohon-pohon tua lainnya, tinggi besar dan berakar banyak. Namun saat diperhatikan lebih seksama, ada sesuatu yang menggantung di pohon itu.
"Apakah itu mayat?"
Jadukari Daalal Nath langsung terkekeh panjang. Dengan tertatih-tatih dia berjalan menerobos semak mendekati pohon itu.
"Ini adalah tubuh Mandala," Jawab dukun tua itu. Matanya memandangi tulang kerangka manusia yang tergantung di pohon itu. Debu yang mengeras menempel pada tulang-tulang itu sehingga warnanya hampir menyerupai kulit pohon.
"Mandala?"
"Dia seorang manusia yang dicintai oleh Uma, nenek buyut bangsa Dewanata."
"Nenek buyut bangsa Dewanata? Berarti mayat itu sudah tergantung di sana selama ratusan tahun?"
Sungguh mustahil membayangkan sebuah kerangka utuh tergantung di pohon selama ratusan tahun.
"Hutan ini melindunginya. Hanya dagingnya yang musnah namun tulangnya-tulangnya masih lengkap." Dukun itu menyeringai seolah menyimpan rahasia yang mengerikan.
Wuushh..
Angin berhembus meniup tengkuk Pangeran Awang dan membuat lelaki yang sekarang cacat itu bergidik.
"Tunggulah nanti malam. Semuanya akan dipulihkan seperti sedia kala."
*****
Upacara pernikahan Puteri Pertiwi dan Bagas berlangsung hidmat. Kedua mempelai tampak sangat serasi seolah perjodohan mereka memang sudah ditetapkan oleh surga. Semua yang hadir merasakan kebahagiaan dan memberikan doa restu untuk keduanya.
"Dengan ini saya menganugerahkan gelar pangeran kepada menantu saya." Raja Badre berseru di hadapan semua orang.
Upacara penganugerahan gelar itu segera dilaksanakan tanpa membuang waktu. Sebuah mahkota emas disematkan di atas kepala Pangeran Bagas.
Pesta dan perjamuan diadakan hingga meluber ke halaman istana. Rakyat berbondong-bondong memadati depan istana hanya untuk menyaksikan kemeriahan itu. Koin-koin perak di sebar oleh beberapa prajurit dan segera menjadi rebutan.
Pesta terus berlanjut hingga malam hari. Semua merasa bahagia seolah tragedi dua bulan lalu hanyalah sekedar mimpi buruk yang lenyap saat mereka bangun.
Namun tidak halnya dengan Puteri Juwita. Malam itu perasaannya sangat gelisah. Dia seakan merasakan ada sesuatu yang akan terjadi malam ini. Beberapa kali gadis itu mengusap tengkuknya karena merinding.
"Ada apa?" Eldrige yang dari tadi memandanginya dari jauh kini sudah berada di hadapan gadis itu.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Puteri Juwita dengan cepat.
"Apa kau merasa tidak enak badan?" Eldrige tidak menghiraukan sikap dingin gadis itu.
"Sudah kubilang aku tidak apa-apa. Berhentilah mengurusi hidupku, Eldrige!" Sorot mata gadis itu seakan dipenuhi kebencian.
Eldrige membeku. Emosinya naik namun dia berusaha meredamnya. Dia berusaha mengerti dengan kondisi Puteri Juwita yang tidak stabil.
"Aku tidak akan menanggapi kemarahanmu."
"Kalau begitu ya sudah, pergilah kepada orang yang membuatmu nyaman." Gadis itu melangkah meninggalkan Eldrige dengan ekor matanya melirik ke arah seorang wanita yang sedang duduk dengan anggun memperhatikan mereka.
Puteri Juwita pergi ke luar, meninggalkan keriuhan di dalam. Udara malam terasa dingin membuat gadis itu kembali mengusap tengkuk.
__ADS_1
Di tempat lain, dengan jarak yang membentang puluhan kilometer dari istana. Sebuah api unggun menyala membakar semak belukar di depan pohon nagasari yang sakral. Sebuah ritual sedang berlangsung.