
Puteri Juwita memandang pemuda di depannya dengan jantung berdebar kencang karena kaget. Pemuda itu tersenyum nakal. Kedua matanya agak menyipit ketika tersenyum.
"Apa aku tak boleh mengunjungimu? " Pemuda itu berjalan mendekat.
"Tentu saja tidak boleh. Ini bukan jam berkunjung, lagipula kau harus minta izin dulu kalau mau menemuiku! " Puteri Juwita secara reflek melangkah mundur sampai tubuhnya membentur jendela.
"Aku tidak suka dipusingkan dengan hal-hal semacam itu! " Pemuda itu tiba-tiba berhenti. Kemudian secara tak terduga dia berbalik dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang Puteri Juwita.
"Tapi itu sudah peraturannya, Nicolae! " Puteri Juwita agak kesal pada pemuda itu yang suka seenaknya saja memasuki kamarnya.
"Semua peraturan di dunia ini tidak berlaku untukku! " Dengan santai Nicolae berbicara sambil memejamkan matanya. Kulitnya yang putih pucat nampak bersinar di bawah cahaya lampu minyak.
"Pergilah Nicolae! Sebentar lagi teman sekamarku akan kembali. " Usir Putri Juwita. Gadis itu tetap menempelkan punggungnya di jendela tanpa berani bergerak.
"Aku tidak takut! " Ucap Nicolae masih dengan mata terpejam.
"Aku bisa dihukum jika sampai ibu asrama tahu ada seorang lelaki di kamarku. "
"Kenapa? "
"Karena ini asrama wanita. Tidakkah kau sadari semua pegawai dan guru-guru di sini semuanya wanita, kecuali para penjaga? "
"Lalu kenapa laki-laki itu diizinkan tinggal di sini? Dia bahkan menemanimu tidur tadi malam? "
Puteri Juwita tahu siapa laki-laki yang dimaksud oleh Nicolae. Tapi bagaimana pemuda itu tahu semua ?
"Darimana kau tahu? "
"Aku tahu segalanya! " Nada bicara Nicolae semakin arogan.
Tiba-tiba handle pintu diputar dari luar dan seorang gadis dengan tubuh berisi masuk ke dalam. Wajah Puteri Juwita langsung pucat karena tertangkap basah sedang berduaan dengan seorang pemuda di kamar itu.
"Ningrum, aku bisa jelaskan semua! Dia tiba-tiba datang kemari.. hah? " Puteri Juwita melongo saat menoleh ke arah ranjangnya yang kosong.
"Kau sedang bicara apa, Juwita? " Ningrum merasa heran dengan tingkah temannya yang aneh.
"Tidak.. tidak ada apa-apa. " Ucap Puteri Juwita dengan lemah.
Puteri Juwita bergerak mencari keberadaan Nicolae di setiap sudut kamarnya, namun tidak ketemu. Pemuda itu tidak mungkin bisa menghilang begitu saja kecuali dia adalah hantu. Atau mungkin saja Nicolae adalah peri?
Gadis itu benar-benar merasa bingung sekarang. Haruskah dia melaporkan hal ini pada Eldrige ? Tapi peri itu telah membuatnya kesal seharian ini, jadi Puteri Juwita tidak berniat untuk menemuinya.
Biarlah akan kuceritakan lain waktu saja pada Eldrige, siapa yang tahu apa yang sedang dilakukan peri itu sekarang? Mungkin saja dia sedang asik berduaan dengan Nona Sekar.
Pikiran mengenai kedekatan Eldrige dan Nona Sekar membuat Puteri Juwita mengabaikan peringatan Eldrige. Gadis belia itu sedang kesulitan mengendalikan emosinya yang naik turun akibat hormon yang mulai muncul di masa remajanya.
*****
Eldrige sedang duduk di kamarnya yang berada di lantai satu sambil menatap ke luar jendela. Pria itu sedang merasakan adanya energi gelap. Paru-parunya terasa sesak seakan menghirup asap rokok yang pekat.
Dia segera menajamkan semua inderanya. Akhirnya, setelah beberapa waktu dia mulai menemukan selarik jejak sihir yang tercecer di udara.
Peri itu segera keluar dari kamarnya dan melewati lorong asrama yang panjang dan agak gelap. Suara-suara para gadis asrama yang dari tadi berisik kini hampir tidak terdengar.
Saat Eldrige sampai di dasar tangga yang menuju lantai dua, dia dapat merasakan energi gelap itu semakin pekat. Dengan langkah tenang Eldrige mulai menapaki anak tangga yang berwarna coklat mengkilap.
Semakin lama semakin jelas dan Eldrige terus melangkah di sepanjang lorong sempit di deretan kamar-kamar para gadis. Hingga langkah kaki Eldrige berhenti di depan kamar Puteri Juwita, letak energi itu menguar kuat.
Tok.. tok.. tok..!
Eldrige mengetuk pintu sedikit pelan agar tidak membangunkan gadis-gadis di kamar lain. Agak lama Eldrige menunggu di depan ketika Puteri Juwita akhirnya membuka pintu.
"Ada apa Eldrige? " Tanya gadis itu yang suaranya segera terbenam oleh suara lonceng jam malam.
"Saya ingin memeriksa kamar ini. "
Puteri Juwita yang berdiri di tengah-tengah pintu segera bergeser ke samping dan membiarkan Eldrige masuk.
__ADS_1
Di dalam kamar, Eldrige melihat teman sekamar Puteri Juwita sudah terlelap. Pria itu langsung tahu bahwa tadi ada seorang yang memiliki energi gelap berada di kamar itu. Namun dia juga tahu bahwa orang itu sekarang sudah pergi.
Eldrige bahkan masih mencium aroma orang itu di atas ranjang Puteri Juwita. Tiba-tiba pria itu merasa sangat marah karena telah kecolongan, dia segera menarik lepas seprei yang menutupi kasur dan mencampakkannya ke lantai.
"Eldrige, apa yang kau lakukan? "
"Bau tubuh orang itu melekat di tempat tidurmu, Tuan Puteri! " Eldrige melemparkan tatapan sedingin es pada Puteri Juwita sehingga membuat gadis itu salah tingkah.
"Maaf Eldrige, tadi Nicolae kemari lagi." Puteri Juwita tampak gugup dan merasa bersalah.
"Tidak perlu minta maaf, kau kan tidak mengundangnya ke kamarmu? " Kata-kata Eldrige dimaknai lain oleh Puteri Juwita. Di telinganya, seolah-olah Eldrige sedang menuduhnya sengaja mengundang Nicolae untuk masuk ke kamarnya.
"Aku tidak melakukannya! " Gadis itu merasa tersinggung.
"Saya tidak menuduh." Jawab Eldrige menjadi lebih lembut ketika menyadari sikap defensif yang ditunjukkan Puteri Juwita.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya Nicolae datang dan menghilang dari kamar ini." Kata Puteri Juwita hampir kepada dirinya sendiri.
Eldrige segera mendekati Puteri Juwita dan memegang kedua bahunya.
"Jangan cemas, ya? " Suara Eldrige membuat Puteri Juwita merasa tenang, gadis itu mengangguk pelan.
Puteri Juwita tiba-tiba memeluk Eldrige. Gadis itu tidak mengerti tentang permasalahan yang sebenarnya terjadi, namun dia merasa ada yang salah tentang Nicolae. Nalurinya selalu melarangnya untuk mempercayai Nicolae.
"Aku takut dia datang lagi, Eldrige. " Puteri Juwita benar-benar merasa rapuh.
Dada Eldrige bergetar melihat kelemahan yang ditunjukkan gadis itu. Tangannya menepuk-nepuk punggung gadis itu.
"Sebaiknya kau tidur, akan kurapikan tempat tidurmu. " Eldrige melepas pelukan gadis itu. Kemudian dia membuka lemari dan mengambil seprei bersih. Tanpa canggung Eldrige memasangkan seprei itu di kasur Puteri Juwita.
"Naiklah ke kasurmu, Juwita! " Perintah Eldrige.
Puteri Juwita segera naik ke kasurnya. Eldrige menarik selimut ke atas, menutupi seluruh tubuh Puteri Juwita.
"Jangan pergi, Eldrige! " Tangan Puteri Juwita mencengkeram baju Eldrige ketika pria itu hampir melangkah pergi.
Tok.. tok.. tok..!
Eldrige segera berpaling ke arah pintu dengan waspada. Namun Puteri Juwita menahan tangan Eldrige supaya dia tetap duduk di kursinya.
"Aku yang akan melihatnya. "
"Tapi.. "
"Dia pasti temanku, Eldrige. Tunggu di sini! "
Puteri Juwita berjalan dengan pelan menuju pintu dan membukanya separuh.
"Kubawakan kue untukmu." Sapna menyerahkan sepiring kue ulang tahun dan bungkusan yang berisi kue-kue kering.
"Terima kasih Sapna, maaf aku tidak bisa ikut. " Kata Puteri Juwita dengan menyesal.
"Tidak apa-apa. Aku kembali ke kamar dulu ya?" Gadis cantik itu segera berjalan pelan-pelan kembali ke kamarnya.
"Apa itu? " Tanya Eldrige begitu melihat Puteri Juwita membawa berbagai barang di tangannya.
"Temanku berulang tahun, dia membawakanku kue. " Puteri Juwita menaruh kue-kue itu di meja.
"Kau tak memakannya? "
"Tidak, aku sudah kenyang. "
"Kenyang bagaimana? Makanmu hanya sedikit tadi. " Eldrige masih ingat kalau Puteri Juwita tidak menghabiskan makan malamnya.
"Bagaimana kau tahu? Apa kau memata-mataiku? " Gadis itu pura-pura cemberut padahal hatinya senang karena Eldrige masih peduli padanya.
"Aku di sini untuk menjagamu, Tuan Puteri. Tentu saja aku selalu mengawasimu." Eldrige berusaha menahan dirinya untuk tidak mencubit pipi Puteri Juwita yang menggembung saat sedang cemberut.
__ADS_1
Eldrige kemudian mengambil piring berisi kue dan memotongnya dengan garpu, lalu mendekatkan potongan kue itu pada mulut Puteri Juwita.
"Aaa..! " Ucap Eldrige seperti sedang menyuapi anak kecil.
Gadis itu awalnya enggan membuka mulutnya, namun akhirnya dia mau juga membuka mulut dan mengunyah kue ulang tahun itu setelah Eldrige membujuknya.
"Anak baik! " Eldrige mengacak rambut Puteri Juwita dengan gemas, membuat gadis itu tersipu.
Eldrige menyuapi Puteri Juwita dengan telaten sampai kue itu habis hampir separuh.
"Aku sudah kenyang Eldrige! " Gadis itu menahan tangan Eldrige yang sudah siap menyuapinya lagi.
"Baiklah." Eldrige menaruh piring itu ke atas meja.
Puteri Juwita kembali naik ke kasur dan menarik selimutnya. Eldrige merapikan ujung-ujung selimut untuk memastikannya menutupi seluruh tubuh gadis itu.
"Tidurlah, aku akan menjagamu! " Eldrige mengamati Puteri Juwita yang kini mulai memejamkan mata. Dada gadis itu naik turun dengan teratur seiring tarikan napasnya.
Gadis itu tampak seperti malaikat. Sangat cantik dan polos. Seolah semua hal-hal buruk tak ada padanya. Eldrige kemudian memalingkan pandangannya karena detak jantungnya semakin menggila saat menatap gadis itu.
Eldrige kemudian teringat pada Strix yang berulang kali mendatangi Puteri Juwita. Dia tidak habis pikir, kenapa diantara ratusan penghuni asrama ini makhluk itu hanya menargetkan pada Puteri Juwita saja. Apa alasannya?
*****
Sementara itu di lantai bawah, Nona Sekar terbangun karena merasakan hawa dingin yang mencekam. Telinganya juga menangkap suara langkah-langkah kaki yang halus.
Dengan segera wanita cantik itu bergegas turun dari ranjangnya tanpa suara. Dia membuka pintu dengan pelan untuk mencegah pintu itu berderit. Ruangan di luar sana gelap dan sunyi, namun nalurinya merasakan ada seseorang yang memiliki energi gelap berada di sana.
Aku akan menemui Eldrige, siapa tahu dia mengetahui apa yang terjadi.
Tanpa suara Nona Sekar berjalan menuju kamar Eldrige yang hanya berjarak beberapa meter darinya.
Tok.. tok.. tok..!
Wanita itu mengetuk pelan namun tidak ada sahutan. Karena tak kunjung ada jawaban, Nona Sekar memberanikan membuka pintu.
Ceklek
Pintu itu langsung terbuka, rupanya tidak dikunci. Nona Sekar melongokkan kepalanya ke dalam kamar yang gelap itu. Dia langsung tahu bahwa tak ada siapa-siapa di sana.
Meski begitu, wanita itu memutuskan masuk untuk memeriksa. Dia menoleh pada ranjang, kasurnya masih tampak rapi tak tersentuh yang menandakan bahwa Eldrige sama sekali belum tidur.
Dimana dia? Apa dia sudah menyadari akan situasi ini?
Nona Sekar kemudian mencoba memusatkan pikiran. Wanita itu memejamkan mata dan berusaha berkomunikasi dengan Eldrige.
"Eldrige, kau ada di mana ? " Panggilnya melalui telepati.
"Sekar? " Terdengar jawaban Eldrige.
"Aku merasakan energi gelap yang sangat kuat di sini. Sekarang kau dimana? " Tanya Nona Sekar.
"Aku di kamar Juwita. Tadi Strix itu kembali menemuinya ! " Suara Eldrige terdengar geram.
"Lalu aku sekarang harus bagaimana?"
"Segeralah periksa semua kamar dan pastikan semua orang aman. Kemudian segel seluruh kamar di lantai satu. Lantai dua dan tiga biar aku yang tangani. "
"Baik, Eldrige ! "
Nona Sekar segera menjalankan perintah Eldrige. Wanita itu memeriksa kamar-kamar para staf di lantai satu kemudian menyegelnya.
Namun saat Nona Sekar baru saja menyegel kamar terakhir, tiba-tiba saja dia merasakan ada energi yang menghantam punggungnya.
Bugh! Brak!
Hantaman itu membuat Nona Sekar menubruk pintu. Darah mengalir dari lubang hidungnya. Punggungnya terasa sakit luar biasa. Dengan gerakan tertatih wanita itu berbalik dan melihat sosok berpakaian serba hitam.
__ADS_1