
Puteri Juwita membuka matanya karena mendengar suara burung-burung yang saling bersahut-sahutan dengan gaduh. Untuk sesaat gadis itu merasa bingung karena terbangun di tengah padang rumput yang asing.
Rasanya sungguh aneh. Dia seperti masih bermimpi. Seakan-akan semuanya ini tidak nyata. Dan hal itu membuatnya merasa gelisah.
Namun kesadarannya langsung kembali begitu dia melihat tiga orang yang tidur di sebelahnya.
"Rupanya itu bukan mimpi. " Keluhnya.
Dia menyisir rambutnya dengan tangan lalu berdiri dan berjalan menuju api unggun yang hampir padam.
"Ah, Juwita. Kau sudah bangun? " Ratu Akemi membuka matanya.
"Iya, Bibi. Aku akan pergi mencari makanan. Sebentar lagi Lintang dan Wulan bangun, mereka pasti lapar. " Puteri Juwita tersenyum kepada bibinya.
"Juwita! " Panggil Ratu Akemi ketika gadis itu mulai beranjak.
Puteri Juwita berhenti, lalu menoleh dan melihat Ratu Akemi duduk di tempatnya tadi berbaring. Wanita itu terlihat begitu cantik bagaikan malaikat, seolah ada sinar yang menerangi tubuhnya.
"Terima kasih. Aku harap kau mau menjaga Lintang dan Wulan jika aku tak ada." Kata Ratu Akemi dengan suara lembut.
Gadis itu tersenyum, "Pasti, Bibi. "
Ratu Akemi melihat tubuh gadis itu menjauh, ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyusup di hatinya. Seolah-olah dia tidak akan bertemu dengan gadis itu lagi.
"Ibu, Kak Juwita mana? " Lintang bangun sambil mengucek-ngucek matanya.
"Kak Juwita sedang mencari makanan. " Ratu Akemi mengelus kepala putranya dengan sayang.
"Aku mau ikut. " Kata bocah lelaki itu.
"Baiklah, kau boleh pergi. Ibu rasa dia belum jauh. " Ratu Akemi senang melihat anaknya dengan gembira segera berlari menyusul Puteri Juwita.
Kini perhatiannya beralih pada putrinya. Gadis kecil itu masih terlelap. Wajahnya begitu polos. Sebutir air mata jatuh membasahi pipi wanita itu. Dielusnya rambut gadis cilik itu dan dia mencium pipinya.
"Ibu berharap bisa melihatmu tumbuh dewasa, anakku. " Bisiknya.
Brak!
Tiba-tiba saja pintu lubang di belakangnya terbuka. Beberapa orang lelaki muncul dari dalam lubang. Mereka naik ke atas dan memandangnya dengan bengis.
Ratu Akemi merasa ragu kalau mereka datang untuk menolongnya. Naluri keibuannya langsung bekerja, dia segera menutupi tubuh anaknya dengan tubuhnya sendiri.
"Siapa kalian? " Teriaknya.
"Kami datang untuk menjemput nyawamu, Yang Mulia! " Seorang lelaki bertubuh tinggi besar menyeringai.
"Kalian.. kalian bukan bangsa Daemonie! " Jantung Ratu Akemi berdebar kencang.
"Hahaha.. benar sekali. Kami bukan bangsa Daemonie. Kami rakyatmu, Yang Mulia. " Lelaki tadi membungkuk secara berlebihan.
"Kenapa kalian melakukan hal ini? Kenapa kalian berkhianat? " Tubuh Ratu Akemi menggigil namun wanita itu berusaha mengendalikan dirinya.
"Karena ada orang yang akan menduduki singgasana menggantikan suamimu, Yang Mulia. "
"Apa maksudmu? Suamiku akan segera kembali!" Ratu Akemi menjadi gelisah.
"Raja Sagar telah tiada dalam peperangan, Yang Mulia. Dan sayang sekali, kami bahkan tak akan bisa melakukan pemakaman yang layak karena tubuhnya telah hancur diinjak-injak Elephas. "
"Tidak! " Teriak ratu, histeris.
Wanita itu terengah-engah karena dadanya terasa sesak. Air mata mengalir dari kedua matanya yang memerah.
"Ibu? " Suara Wulan mengagetkan Ratu Akemi. Gadis kecil itu terbangun mendengar suara-suara berisik.
"Anakku! " Tubuh Ratu Akemi bergetar, dipeluknya tubuh Puteri Wulan dengan sangat erat. Dia takut anaknya itu juga menjadi sasaran orang-orang biadab itu.
"Lari, Wulan! Kau harus berjanji untuk tetap hidup! " Dengan mata basah wanita itu menatap anaknya. Tangannya tanpa sadar mengguncang-guncang tubuh gadis itu.
"Ibu, siapa mereka? " Tanya gadis kecil itu lagi dengan polos.
"Mereka orang jahat. Lari anakku! " Dengan sekuat tenaga wanita itu mendorong tubuh anaknya.
Puteri Wulan terkejut karena ibunya tiba-tiba mendorongnya. Tubuhnya terhuyung sementara matanya beralih pada orang-orang yang berdiri di depan mereka.
"Lari! " Teriak Ratu Akemi dengan keras, memaksa gadis kecil itu berlari ketakutan.
"Hahaha.. percuma saja anakmu itu lari. Kekuatannya tak akan sanggup membawanya pergi terlalu jauh. Kalaupun dia lolos dari kejaran kami, dia pasti akan segera dimangsa para Rusalqa yang menghuni telaga sana! " Lelaki bertubuh besar tadi mengejek Ratu Akemi.
"Tidak bisakah kalian melepaskan anakku? Aku bersedia kalian bunuh, tapi lepaskan anakku! Aku mohon! " Ratu Akemi berlutut di hadapan orang-orang itu memohon untuk nyawa anaknya.
"Hahaha.. orang-orang pasti tidak akan percaya jika kuceritakan hal ini. Seorang Ratu berlutut di hadapanku? " Pria tadi tertawa.
__ADS_1
"Kita bereskan saja sekarang, jangan berlama-lama. " Kata teman lelaki itu.
Tanpa berlama-lama lelaki bertubuh besar tadi menghunus pedangnya dan memenggal kepala Ratu Akemi. Kepala wanita itu menggelinding dengan mata terpejam dan darahnya membasahi rerumputan.
"Aaaaa... " Suara teriakan memecah kesunyian pagi.
Puteri Juwita berdiri dengan kedua sepupunya menyaksikan pembantaian itu. Biji-biji zaitun berjatuhan dari genggamannya.
"Kejar mereka! " Perintah lelaki tadi.
Puteri Juwita segera berlari sambil menarik tangan kedua anak itu di kanan dan kirinya. Jantungnya berdebar sangat kencang. Langkah kakinya terasa berat namun dia memaksakan dirinya untuk terus bergerak.
Rumput-rumput tersibak saat mereka berlari menerobos. Suara langkah kaki para pembunuh itu terdengar semakin mendekat.
Namun langkah ketiganya mendadak terhenti, telaga membentang luas di hadapan mereka. Nampaknya mereka sudah tidak bisa pergi kemana-mana lagi.
"Terima saja nasib kalian. Bukankah beruntung bisa mati di tempat seindah ini? " Kata salah seorang dari pembunuh itu.
Puteri Juwita mundur perlahan. Kakinya kini mulai masuk ke dalam air.
"Hahaha.. masuklah ke air. Dengan begitu kami tidak perlu mengotori tangan dengan darah kalian. "
"Kak Juwita! " Puteri Wulan memandang Puteri Juwita dengan air mata berlinang. Genggaman mereka semakin erat.
"Percaya pada kakak, ya? Kita akan masuk ke dalam air, tahan napas kalian selama mungkin!" Ucapnya lirih.
Kedua bocah itu mengangguk. Perlahan-lahan mereka masuk ke dalam air. Lama-kelamaan air mulai menenggelamkan tubuh mereka.
Bleb.. bleb..
"Hahaha" Orang-orang itu tertawa menyaksikan ketiganya menenggelamkan diri.
Wuush..
Tiba-tiba serbuan angin membuat air telaga bergolak. Seekor Strix tiba-tiba datang dan kepalanya meluncur ke dalam air. Tak lama kemudian burung itu keluar lalu terbang melesat di atas kepala orang-orang jahat itu.
"Hei! "
Mereka berseru kaget karena melihat Puteri Juwita dan kedua bocah kembar dalam keadaan basah itu berada dalam cengkeraman burung itu. Air yang menetes dari atas membasahi para penjahat itu.
"Tangkap mereka! "
Mereka berlari dan berusaha mengejar, namun burung itu kini terbang semakin tinggi ke angkasa.
Bantuan datang terlambat saat pasukan Alsatia telah kocar-kacir. Pasukan Liga Kerajaan yang dipimpin Dewi Hutama bertempur melawan pasukan Daemonie bersama sisa-sisa pasukan Alsatia.
Semua pasukan Daemonie ditumpas habis oleh pasukan Liga Kerajaan. Bahkan semua elephas tak luput dari kematian.
Raja Sagar ditemukan meninggal dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Mayatnya remuk dan hampir tidak dikenali. Dengan sedih Raja Satria membawa mayat sepupunya itu kembali ke istana.
"Dimana Ratu Akemi? " Tanya Raja Satria.
"Ratu Akemi pergi bersama kedua anaknya. Puteri Juwita juga ikut. " Jawab seorang pria bertubuh tinggi dan berwajah garang.
"Mereka pergi ke mana? "
"Kami sudah mengutus beberapa orang untuk menjemput mereka, mungkin sebentar lagi tiba." Jawab pria tadi. Dia adalah Pangeran Awang, keponakan raja terdahulu.
"Baik, aku akan menunggu. " Jawab Raja Satria.
"Aku akan pulang untuk mengabari Elok tentang Sagar. Aku akan kembali kemari sebelum pemakaman. " Raja Gaurav berkata pada Raja Satria.
Istana Alsatia diselimuti duka cita. Lonceng dibunyikan beberapa kali sebagai tanda berkabung. Jenazah raja disemayamkan di aula istana. Ribuan pelayat datang untuk memberi penghormatan terakhir.
Sebelum tengah hari beberapa prajurit yang diutus untuk menjemput Ratu Akemi datang. Namun semua orang terkejut karena Ratu Akemi pulang tak bernyawa.
"Apa yang terjadi? " Raja Satria segera menghampiri. Pria itu terkejut melihat kondisi jenazah yang terpenggal.
"Siapa yang melakukanya? " Pangeran Ryota menjerit. Pemuda itu terlihat sangat terpukul.
"Siapa dia? " Raja Satria berbisik pada Eldrige.
"Dia Pangeran Ryota, keponakan Ratu Akemi." Jawab peri itu.
"Dimana kedua anaknya? Juwita.. di mana dia?" Raja Satria bertanya pada prajurit yang membawa jenazah ratu.
"Kami hanya menemukan ratu." Jawab prajurit itu.
"Bagaimana ini, Eldrige? " Raja Satria berteriak.
"Kita harus mencari mereka, Yang Mulia! " Jawab Eldrige dengan cepat. Dia tidak kalah cemasnya dengan Raja Satria.
__ADS_1
"Dimana kalian menemukan jenazah ratu? " Tanya Raja Satria.
"Di padang rumput Masserjarvi. " Jawab mereka.
"Apa kalian tidak bertemu siapa-siapa di sana? "
"Ada seorang pria yang mengantar kami ke lokasi tempat ditemukannya ratu. Dia adalah seorang pedagang yang kebetulan lewat di sana. "
"Dimana orang itu sekarang? "
"Dia sedang ditanyai oleh petugas. "
Raja Satria dan Eldrige segera mencari orang yang menemukan jenazah ratu.
"Apa kau orang yang menemukan jenazah Ratu Akemi? " Tanya Raja Satria ketika telah diizinkan menemuinya.
"Benar, Tuan. " Jawab seorang lelaki berperawakan tinggi besar.
"Apa kau menyaksikan pembunuhan itu? "
"Iya, Tuan. Saya menyaksikannya."
"Katakan, siapa yang membunuh ratu? "
"Saya sudah memberi penjelasan kepada petugas tadi, kenapa saya harus ditanya lagi?" Pria itu terlihat kesal.
"Jawab saja, jangan berbelit-belit! " Bentak Raja Satria.
"Seorang gadis muda bersama seekor burung jelmaan Daemonie telah membunuh sang ratu. Kemudian mereka menculik dua orang anak kecil. " Kata pria itu.
"Apa? Jangan bicara sembarangan! " Raja Satria langsung naik darah.
"Saya tidak bicara sembarangan, saya jujur mengatakan apa adanya! " Pria itu tetap bersikeras.
"Kurang ajar! Jangan-jangan kau bersekongkol dengan pembunuhnya untuk menutupi kejadian yang sesungguhnya? Atau kau sendiri pembunuhnya? " Raja Satria seakan habis kesabaran.
"Saya tidak berbohong! "
"Kau akan tahu akibatnya jika berani berkata bohong! " Ancam Raja Satria.
"Cukup! " Tiba-tiba Pangeran Awang masuk. "Kami sudah mendapatkan bukti bahwa pelaku yang membunuh Ratu Akemi adalah Puteri Juwita. "
"Apa? " Raja Satria seakan tak percaya.
"Raja Satria, anda sebaiknya tidak mencampuri penyelidikan kami. Kami bisa menuduh kalian bekerja sama untuk membunuh Ratu Akemi." Kata Pangeran Awang lagi.
"Kalian tidak bisa melakukan hal ini, anakku adalah gadis yang lembut. Dia tidak mungkin melakukan hal keji seperti ini! "
"Namun kami memiliki saksi yang menyatakan bahwa Puteri Juwita memiliki hubungan dengan seorang Daemonie. "
"Siapa? Apa yang kau maksud itu adalah laki-laki tadi? Penampilannya saja sudah terlihat seperti kriminal. "
"Bukan laki-laki tadi. Orang yang memberikan kesaksian mengenai Puteri Juwita yang berhubungan dengan seorang Daemonie adalah.. Nona Sekar! " Pangeran Awang menatap tajam pada Raja Satria.
"Apa? "
"Tidak mungkin, Sekar tidak mungkin mengatakan hal itu! "
"Anda bisa menanyakan sendiri padanya." Pangeran Awang menghembuskan napas berat. "Saat ini sketsa wajah Puteri Juwita telah disebar untuk mempercepat pencarian. Kami harus bisa menemukan Pangeran Lintang dan Puteri Wulan. "
Tanpa menghiraukan Pangeran Awang, Raja Satria segera keluar. Dia ingin menemui Sekar dan menanyakan hal itu secara langsung.
Ketika Raja Satria menemukan Nona Sekar, wanita itu sedang berdiri di pojok aula memperhatikan pelayat yang sedang melakukan upacara penghormatan terakhir kepada mendiang raja dan ratu yang dibaringkan bersebelahan.
"Sekar! "
Nona Sekar menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya.
"Raja Satria? " Nona Sekar segera membungkuk hormat.
"Apa benar kau mengatakan bahwa Juwita bekerja sama dengan seorang Daemonie? " Tanya Raja Satria.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Tapi saya benar-benar telah melihat sendiri Puteri Juwita berhubungan dengan seorang Daemonie. Daemonie itu bahkan pernah bermalam di kamar Tuan Puteri. " Jawab Nona Sekar.
Plak!
"Berani sekali kau berkata seperti itu, Sekar! " Eldrige tiba-tiba menampar pipi Nona Sekar.
"Aku tidak berbohong, Eldrige. Aku bersumpah telah melihat seorang Daemonie keluar dari kamar Puteri Juwita pagi-pagi sekali. " Wajah Nona Sekar merah karena menahan amarah.
"Kau tidak bisa mengatakan hal-hal buruk tentang seseorang saat orang itu tidak ada. Tunggu Puteri Juwita datang nanti dan kita tanyakan padanya. "
__ADS_1
"Satu hal yang ingin aku katakan padamu, Eldrige. Kau telah BUTA! " Desis Nona Sekar.