Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 47 Kencan


__ADS_3

Malam harinya, Ratu Gita pergi bersama Raja Satria mengenakan pakaian rakyat biasa. Mereka tidak ingin acara kencan ini gagal karena orang-orang mengenali mereka sebagai penguasa kerajaan ini.


"Apa kau pernah menonton sirkus?" Tanya Raja Satria sambil memeluk pinggang istrinya.


"Belum." Ratu Gita menggeleng.


"Kalau begitu tunggu di sini dulu, aku akan membeli tiket."


Ratu Gita menunggu di depan penjual permen kapas. Dia melihat suaminya menghilang di antara kerumunan orang.


Tanpa sengaja Ratu Gita melihat ada penjual pernak-pernik aksesoris. Wanita itu kemudian ke sana untuk melihat-lihat. Ada sebuah jepit rambut yang sangat cantik terbuat dari perak.


Ratu Gita kemudian mengulurkan tangannya untuk mengambil jepit itu namun di saat yang bersamaan ada sebuah tangan lain yang terulur untuk mengambil jepit yang sama. Alhasil tangan itu mendarat di atas tangan Ratu Gita.


Ratu Gita menoleh untuk mengetahui siapa yang telah menyentuh tangannya. Ternyata dia berhadapan dengan seraut wajah oriental yang sangat tampan. Rambutnya yang lurus dan panjang diikat ke atas separuh. Pemuda itu tersenyum padanya.


"Maaf."


Ucap pemuda itu ketika Ratu Gita menarik tangannya kembali. Dengan canggung Ratu menganggukkan kepalanya dan segera pergi. Dia sudah tidak berminat untuk membeli jepit rambut itu.


"Tunggu sebentar!" Panggil pemuda itu.


"Ada apa?"


"Kau bisa memiliki jepit itu, aku akan membeli yang lain."


"Tidak usah, aku hanya ingin melihatnya saja."


Ratu Gita melangkah pergi, tapi pemuda itu masih mengikutinya.


"Boleh aku tahu namamu? Aku tidak bermaksud tidak sopan, tapi kulihat kau bukan berasal dari bangsa Elfian. Kebetulan aku juga pendatang. Jadi, sebagai sesama orang perantauan bisakah kita berteman?"


Ratu Gita sejenak merasa ragu. Namun wanita itu memahami perasaan seseorang yang berada di negeri asing. Akhirnya Ratu Gita mengangguk.


"Namaku Gita." Ratu Gita mengulurkan tangannya.


"Aku Chen, senang berkenalan denganmu."


Chen menyambut uluran tangan Ratu Gita dan menggenggamnya. Sebuah senyuman menghiasi bibirnya yang berwarna merah muda.


"Apa kau sendirian, Gita?" Tanya Chen, matanya yang sipit memandangnya tak berkedip.


"Tidak, aku bersama seseorang." Jawab Ratu Gita.


"Temanmu?"


"Eh, iya. Dia sedang membeli tiket sirkus."


"Kalau kau mau aku bisa mengajakmu masuk secara gratis."


"Tidak usah." Tolak Ratu Gita. Wanita itu merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Oh iya, temanmu kok lama sekali. Apa jangan-jangan dia kehabisan tiket?"


Ratu Gita memandangi kerumunan di depan penjualan tiket dengan agak khawatir. Dia tidak melihat keberadaan suaminya.


"Apa temanmu ada di sana?"


"Aku tidak melihatnya. Maaf aku tinggal dulu."


Ratu Gita segera menuju kerumunan untuk mencari Raja Satria. Wanita itu kebingungan karena tidak bisa menemukannya.


Tiba-tiba ada tangan yang memegang pergelangannya. Dengan segera dia berbalik. Matanya langsung terpaku pada sorot mata ungu yang hangat.


"Aku mencarimu." Ratu Gita segera memeluk lengan suaminya.


"Tadi aku aku harus berdesak-desakan untuk mengantri tiket. Setelah itu aku mencarimu tapi kau tidak ada." Raja Satria mengelus rambut Ratu Gita.


"Sudahlah, ayo kita masuk." Raja Satria menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya masuk ke dalam tenda sirkus. Dia menyerahkan dua lembar tiket kepada penjaga pintu.


Di dalam tenda yang sangat besar itu ada tempat duduk yang melingkar dan bertingkat-tingkat mengelilingi arena yang luas. Langit-langit tenda sangat tinggi dan dihiasai lampu-lampu yang menyorot terang.


Raja Satria mengajak Ratu Gita untuk duduk di barisan ke dua dari depan. Mereka duduk sambil menikmati kacang panggang yang dijajakan penjual yang berkeliling di dalam tenda.


Acara dibuka dengan atraksi dua orang penunggang kuda. Ada lima ekor kuda berwarna coklat tua masuk ke dalam arena. Para penunggang kuda itu dengan lincah mengendarai kuda dan berputar-putar mengelilingi arena.


Kemudian pada saat kuda-kuda itu berpacu dalam kecepatan tinggi, perlahan-lahan mereka berdiri di atas punggung kuda. Mereka terus bertahan di atas punggung kuda yang terus berpacu, menunggu saat yang tepat.


Lalu tiba-tiba secara mendadak mereka melompat ke punggung kuda yang lain, membuat para penonton menahan napas. Kemudian para penonton bersorak dan bertepuk tangan meriah. Atraksi hebat itu berlangsung sekitar 15 menit.


Atraksi selanjutnya adalah pertunjukan tali trapeze. Para pemain akrobat melompat menggunakan trampolin untuk mencapai tali yang terpancang tinggi.


Mereka berjalan meniti tali dan melakukan atraksi yang mendebarkan. Mereka berputar dan berayun-ayun pada tali dengan sangat lincah.


Bahkan mereka melompat dari satu tali dan meraih tali di seberangnya seolah-olah sedang terbang. Kostum mereka yang sangat indah membuat penonton seolah-olah menyaksikan peri-peri yang beterbangan.


Ratu Gita dapat mengenali Chen berada di antara mereka. Beberapa kali pria itu melemparkan senyum ke arah Ratu Gita saat sedang berayun melintas di atas kepalanya. Rambut hitam Chen yang panjang berkibar-kibar di udara. Pemuda itu terlihat sangat mengagumkan.


"Aku tidak suka pada pemain akrobat itu." Bisik Raja Satria di telinga istrinya.


"Kenapa?" Tanya Ratu Gita namun matanya tak lepas dari pertunjukan spektakuler di udara itu.


"Aku merasa laki-laki itu dari tadi berusaha menggodamu."


"Apa iya?"


Pada saat itu Chen melintas lagi di atas mereka, pria itu kembali menatap Ratu Gita dan tersenyum padanya. Bahkan pada ayunan berikutnya, dia melemparkan ciuman jauh pada Ratu Gita dan membuat wanita itu terbelalak kaget.


Secara refleks Ratu Gita menoleh pada suaminya yang sedang memelototi pemain akrobat itu. Wajah pria itu merah sampai ke telinga. Urat lehernya terlihat menonjol karena menahan marah.


"Sayang..." Ratu Gita segera menggenggam tangan suaminya untuk meredam amarahnya.


Wajah Raja Satria yang dari tadi terlihat tegang, berangsur-angsur kembali normal. Pria itu ingat telah menjanjikan kencan yang berkesan untuk istrinya. Dia tidak ingin merusaknya begitu saja.

__ADS_1


"Aku mencintaimu." Ucapnya sambil menatap Ratu Gita dengan mesra.


Ratu Gita menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. Mereka menonton sisa pertunjukan dengan saling berpelukan.


*****


Setelah pertunjukan selesai, Raja Satria mengajak Ratu Gita berjalan-jalan. Mereka mampir di kedai makan dan mencoba mencicipi makanan yang tidak pernah mereka makan di istana.


"Rasanya lumayan enak meskipun bentuknya agak menjijikan." Raja Satria menyendok makanan bertekstur lembek berwarna coklat kehitaman.


Ratu Gita tertawa melihat suaminya makan dengan wajah mengernyit. Ratu Gita juga sebenarnya agak jijik melihat makanan itu. Padahal nama makanan itu terdengar unik, puding awan kelabu.


Setelah makan,tiba-tiba seorang pengawal pribadi Raja Satria yang dari tadi mengawasi mereka dari jauh datang. Pengawal itu membisikkan sesuatu di telinga Raja.


"Sayang, maukah kau menungguku sebentar? Aku harus pergi sekarang, tapi aku janji akan segera kembali!" Raja Satria menatap istrinya dengan perasaan menyesal.


"Pergilah, aku tidak apa-apa. Aku akan menunggumu." Ratu Gita tersenyum.


Raja Satria mengecup istrinya sekilas, lalu pergi bersama pengawal tadi. Sebelum berbelok, Raja Satria menoleh pada istrinya yang sedang duduk memandangi kepergiannya.


Raja Satria mendatangi sebuah pos keamanan yang berada di dekat alun-alun kota. Di sana sudah berkumpul beberapa pengawal kepercayaan Raja.


"Ada beberapa aktivitas mencurigakan yang terjadi sepanjang sore ini. Ada beberapa kereta kuda yang dikendarai oleh orang asing. Mereka menurunkan beberapa penumpang di beberapa titik. Dan anehnya orang-orang itu langsung membaur dan menghilang tak terlacak."


"Perketat penjagaan, tambahkan jumlah prajurit untuk berpatroli." Perintah Raja.


Para pengawal mendengarkan perintah Raja Satria dengan seksama. Beberapa kali Raja Satria menanyakan hal-hal yang ingin diketahuinya.


"Duarrr!"


Semua orang terperanjat mendengar suara ledakan. Raja Satria segera keluar untuk melihat asal ledakan. Terlihat kobaran api menyala menerangi malam dan asap tebal membumbung di angkasa.


Mendadak ada perasaan nyeri yang tak terkira di dalam hatinya. Ketika menyadari lokasi ledakan berada di dekat kedai tempat Ratu Gita berada.


Secepat mungkin Raja Satria berlari ke arah sumber ledakan. Jantungnya berdebar sangat kencang. Rasa cemas menyelimuti jiwanya.


Para pengawal berlarian di belakangnya. Suasana menjadi sangat mencekam. Orang-orang berlarian tak tentu arah.


Raja Satria sampai di lokasi ledakan yang meratakan seluruh area sejauh radius 100 meter, termasuk kedai tadi. Sekarang yang ada hanya tersisa puing-puing yang masih dilalap api.


Terlihat beberapa mayat bergelimpangan di sekitar lokasi. Raja Satria berteriak histeris sambil memanggil-manggil nama istrinya. Pria itu berlari kesana-kemari di antara puing-puing kebakaran untuk mencari Ratu Gita.


Beberapa pengawal segera membawa Raja Satria menjauh dari lokasi itu karena khawatir akan adanya ledakan susulan.


"Duarrr!"


Benar saja, tak lama kemudian ledakan kembali terjadi di dekat sana. Kali ini cakupannya lebih luas, hampir separuh area depan alun-alun luluh lantak.


"Aaaaaaaa!"


Raja Satria berteriak sejadi-jadinya, air mata sudah membasahi seluruh wajahnya. Tubuhnya merosot dan tersungkur di tanah. Rasanya seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga.

__ADS_1


__ADS_2