Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 130 Pergi


__ADS_3

Ningrum meninggalkan kakaknya Bagas dan Puteri Juwita setelah sepakat akan datang seminggu lagi. Gadis itu menjulurkan lehernya untuk melihat kedua orang itu melambai padanya.


Sepanjang jalan yang berkelok di lereng pegunungan, dia memandang lautan yang biru di kejauhan sana. Itu adalah teluk Sozo, batas wilayah Kerajaan Alsatia. Teluk itu berbatasan wilayah laut dengan Kerajaan Dewanata.


Hubungan diplomatik kedua negara sempat terputus selama beberapa tahun sejak Raja Bharata menyerang wilayah Liga Kerajaan. Namun sejak tiga tahun lalu, kedua kerajaan kembali membuka jalur diplomatik.


Kini mereka kembali bekerja sama di berbagai bidang dan mengizinkan masing-masing warganya untuk saling berkunjung.


Ningrum memasuki wilayah ibukota Alsatia keesokan harinya. Malam sebelumnya dia sempat menginap di sebuah penginapan dan melanjutkan perjalanan setelah sarapan.


"Ayah." Bisik Ningrum ketika dia sudah berada di samping tempat tidur ayahnya.


"Ningrum? " Tabib Bagio mengerjapkan matanya. Penampilannya terlihat jauh lebih tua dari saat pertemuannya dengan Puteri Juwita di Istana Alsatia.


"Ayah, aku sudah menemukannya. Aku menemukan Kak Bagas. " Ningrum tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Benarkah? Jadi.. dia masih hidup? " Air mata berlinang membasahi pipi yang mulai keriput itu.


"Iya, Ayah. Dia masih hidup. " Ningrum tertawa pelan. Dia melihat raut bahagia di wajah ayahnya.


"Lalu di mana dia? Apa dia tidak ikut pulang?" Tanya pria itu.


"Itu.. ada sesuatu yang terjadi. " Ningrum mendekat dan menceritakan segala hal yang terjadi pada kakaknya dan juga Puteri Juwita.


Setelah selesai bercerita, gadis itu terdiam memandang ayahnya. Dia ingin tahu keputusan yang akan diambil ayahnya.


"Sebaiknya kita segera menyusul kakakmu." Kata Tabib Bagio kemudian.


"Apa maksud Ayah? Apa kita akan meninggalkan rumah ini? "


"Jika yang terjadi adalah seperti perkataan kakakmu, maka hidup kita tidak akan aman. Ayah sebenarnya agak curiga ketika ayah tidak diizinkan untuk memeriksa jenazah Raja Sagar. " Tabib Bagio berkata dengan curiga.


"Lalu, kapan kita akan pergi? " Tanya Ningrum.


"Sesuai perjanjian kalian, minggu depan kita temui mereka. Sebelum itu kau akan serahi tugas untuk membereskan semua urusan kita. "


"Baik Ayah. "


Dalam beberapa hari Ningrum mengemasi barang dan dokumen penting. Dia juga menyerahkan toko obat yang dimiliki ayahnya kepada asistennya. Sedangkan rumah yang mereka tempati segera dia jual pada sebuah agen perumahan dengan harga sedikit di bawah harga pasar.


Setelah semua beres, mereka segera berangkat ke kota Otep. Wajah keduanya tampak tegang karena penjagaan yang ketat di ibukota akibat situasi istana yang belum stabil.


Ketika mereka sampai di kedai tempat terakhir kali Ningrum bertemu Bagas dan Puteri Juwita, suasana tampak lengang. Hanya ada beberapa orang pengunjung di kedai itu.


"Kenapa mereka belum datang? " Tanya Tabib Bagio dengan gelisah. Beberapa kali lelaki itu mengamati pintu siapa tahu putranya akan melangkah masuk.


"Tenang, Ayah. Ini masih pagi. Mereka butuh waktu berjam-jam untuk berjalan kemari." Ningrum berusaha menenangkan ayahnya.


Tabib Bagio mengangguk. Dia meneguk teh yang tersaji di cangkir keramik berwarna putih polos.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu kedai terbuka. Seorang pemuda melangkah masuk diikuti seorang gadis yang menggunakan penutup kepala.


"Ayah." Seru pemuda itu membuat Tabib Bagio meletakkan kembali cangkirnya di atas meja.


Tubuh Tabib Bagio bergetar hebat. Rasanya dia seperti sedang bermimpi melihat putranya berdiri tepat di hadapannya. Putra yang sempat dikiranya telah tiada.


"Bagas! " Dengan susah payah pria itu berusaha berdiri. Namun sebelum dia sempat melangkah, pemuda di hadapannya sudah menubruknya.


"Ayah. Maaf. " Ucap Bagas. Dia tidak mampu berbicara. Bibirnya seakan kelu. Rasa rindu yang dipendamnya selama berbulan-bulan telah membuncah.


Tabib Bagio menepuk-nepuk punggung putranya. Dia lega bisa melihat Bagas lagi. Bisa memeluknya lagi. Beberapa bulan ini adalah siksaan baginya. Menemukan mayat dengan kalung anaknya adalah mimpi buruk yang terus terulang sehingga membuatnya jatuh sakit.


"Ayah lega sudah melihatmu." Air mata membasahi wajah Tabib Bagio begitu juga dengan Bagas. Pemuda itu menangis.


Puteri Juwita yang melihatnya juga diam-diam menyeka air mata. Dia tidak tahu kapan bisa berkumpul kembali dengan keluarganya. Kelebatan wajah orang-orang yang dikasihinya memenuhi pikirannya.


*****


Nona Sekar sangat terkejut ketika pagi itu tidak menemukan Eldrige di kamarnya. Wanita itu mencari ke setiap sudut rumah namun tidak menemukan pria itu. Dia menanyai semua pelayan namun tidak ada satupun yang melihat Eldrige.


"Kau di mana, Eldrige? " Nona Sekar sangat mencemaskan Eldrige karena prajurit-prajurit Alsatia pasti akan mengejarnya. Namun tidak hanya itu yang merisaukannya, dia takut jika Eldrige menemukan Puteri Juwita.


"Seharusnya aku menyingkirkan gadis itu dan memastikannya berada sangat jauh dari sini."


Nona Sekar kemudian mengambil kudanya dan memacu binatang itu dengan sangat kencang. Dia pergi ke hutan tempat Eldrige dan Puteri Juwita jatuh di jurang.


Ketika sampai di tepi jurang, seekor kuda hitam tertambat di ranting pohon. Nona Sekar mengenali kuda itu sebagai salah satu penghuni istalnya. Namun wanita itu tidak melihat si pengendara kuda.


"Jangan-jangan kau melompat turun, Eldrige?" Nona Sekar menjadi sangat cemas. Dia segera melompat dari punggung kudanya.


Ketika dia melongok ke bawah, jurang sedalam ratusan meter itu tampak curam. Namun dia tidak melihat seorangpun di sana.


"Aneh. Kau ke mana Eldrige? "


*****


Kereta kuda yang dinaiki empat orang kini berhenti di pelabuhan. Tabib Bagio membayar sejumlah uang kepada kusir dan menyuruhnya berjanji tidak akan mengatakan tentang kepergian mereka kepada siapapun. Kusir itu mengangguk patuh. Lagipula tidak ada untung baginya untuk membicarakan hal ini pada orang lain.


Seorang petugas datang menanyakan dokumen dan hal-hal klise seputar tujuan kepergian mereka. Setelah melewati birokrasi yang rumit, akhirnya mereka diizinkan untuk menaiki kapal yang akan menyeberang ke pelabuhan Samandar di wilayah Kerajaan Dewanata.


Tidak banyak barang yang dibawa oleh keempat orang itu. Hanya beberapa potong pakaian, uang dan peralatan medis.


Di atas kapal mereka menatap sekali lagi ke arah daratan yang semakin lama semakin jauh mereka tinggalkan. Mereka kini akan mencoba hidup baru di tempat yang sama sekali belum pernah mereka ketahui. Namun mereka merasa optimis bisa menggantungkan masa depan mereka di sana.


Kapal berlayar selama dua hari. Mereka sangat beruntung cuaca dalam keadaan baik. Ombak juga stabil sehingga kapal berlayar dengan tenang.


Dari kejauhan daratan Kerajaan Dewanata terlihat elok. Pohon-pohon kelapa meliuk-liuk ditiup angin di sepanjang pantai.


Ketika mereka menuruni tangga kapal dan menjejakkan kaki di atas tanah berpasir yang berwarna agak kekuningan, Puteri Juwita melihat pemandangan yang sangat jauh berbeda dari tempat asalnya.

__ADS_1


Di sana terlihat beberapa lelaki berkulit kecoklatan dengan mata berbentuk daun salam yang khas sedang sibuk mengangkut barang. Rambut mereka yang hitam bergelombang bertengger di atas dahi yang dihiasi lukisan berwarna putih. Tubuh bagian atas mereka kebanyakan tidak berpakaian, hanya celana kain yang menutupi bawah pusar sampai mata kaki.


Bagaimanapun mereka terlihat sangat mengagumkan, sangat jantan. Pria-pria di Elfian akan terlihat feminim jika disandingkan dengan mereka. Puteri Juwita tersenyum malu ketika menyadari dirinya sedang memandangi mereka. Gadis itu cepat-cepat menundukkan pandangannya.


Seorang pemuda bertubuh kekar menghampiri rombongan itu dan menawarkan kereta kuda. Tabib Bagio menawar harga yang disebutkan pemuda itu. Mereka saling tawar menawar selama beberapa waktu. Kemudian setelah mendapat harga yang disepakati mereka segera naik ke atas kereta kuda yang ditarik dua ekor kuda.


Kusir itu membawa mereka ke sebuah penginapan yang sangat indah. Bangunan penginapan itu dari batu yang diukir dan dihiasi ornamen berwarna emas.


"Indah sekali. " Ningrum tersenyum senang saat mereka memasuki penginapan.


Beberapa pelayan wanita berambut panjang dikepang menyambut mereka. Pelayan-pelayan itu mengenakan kain sutra panjang dihiasi sulaman benang emas yang dililit untuk menutupi tubuh mereka yang eksotis.


Dengan cekatan pelayan-pelayan itu menyuguhkan hidangan lezat yang membuat tamu-tamu dari negeri seberang itu merasa senang.


Puteri Juwita dan Ningrum mendapat kamar di lantai dua dengan pemandangan laut dari arah balkon. Sedangkan Bagas dan ayahnya menempati kamar tepat di sebelah kamar mereka namun pemandangan dari kamar mereka adalah pepohonan yang rimbun karena balkon mereka menghadap kebun.


"Kurasa aku menyukai tempat ini. " Kata Puteri Juwita sambil menatap lautan.


"Aku juga. Tempat ini benar-benar menakjubkan. " Ningrum merasa sangat bahagia sekarang. Seluruh keluarganya berkumpul dan sekarang berada di tempat yang sangat indah.


Tok.. tok..


Ketukan di pintu membuat kedua gadis itu menoleh. Ningrum segera membuka pintu dan melihat kakaknya berdiri di sana.


"Kalian tetaplah di kamar. Aku dan ayah akan pergi sebentar untuk melihat-lihat rumah yang dijual. Semoga kita bisa segera mendapatkan rumah yang nyaman. "


"Iya kak." Jawab kedua gadis itu serempak. Mereka sudah tidak sabar untuk segera menjelajahi tempat baru ini.


*****


Sampai malam Nona Sekar masih belum menemukan Eldrige. Dengan kesal dia terpaksa kembali ke rumahnya. Hatinya sangat gundah.


Dia kembali memeriksa kamar Eldrige namun pria itu tidak ada di sana. Dengan lunglai wanita itu masuk ke kamarnya. Dia duduk termangu di atas ranjang.


"Kau di mana, Eldrige? " Wanita itu mengerang kesal.


Tiba-tiba dia melihat lemarinya terbuka. Bergegas wanita itu memeriksanya. Tumpukan pakaiannya masih rapi. Namun matanya terbelalak ketika membuka bagian bawah dan tidak menemukan kantung milik Eldrige. Cambuk yang dia sembunyikan di sana juga tidak ada.


"Kurang ajar! " Umpatnya.


Wanita itu segera berlari keluar. Seperti orang kerasukan dia menanyai pelayan-pelayannya. Dia tidak terima ada orang yang berani masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sesuatu dari lemarinya.


"Maafkan kami, Nona. Kami sungguh-sungguh tidak tahu." Pelayan-pelayan itu mulai menangis.


"Aku tidak bisa mempekerjakan para pembohong. Pergi kalian dari rumahku!" Usirnya.


Para pelayan yang ketakutan berlari keluar. Mereka tidak memikirkan gaji yang belum dibayar. Mereka tahu bahwa Nona Sekar bekerja pada istana. Dan istana sekarang diatur oleh orang-orang yang bengis.


"Eldrige! " Para pelayan itu masih mendengar teriakan mantan majikan mereka ketika mereka melangkah keluar gerbang.

__ADS_1


__ADS_2