Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 51 Petunjuk


__ADS_3

Tabib Albus baru saja menjahit luka-luka di tubuh Raja Satria. Mata tuanya memandang haru pada bekas-bekas luka yang menjadi bukti kesetiaan Sang Raja kepada rakyatnya.


"Yang Mulia harus beristirahat di tempat tidur paling tidak sampai dua hari ke depan agar cepat pulih!"


"Sudahlah Albus, aku tidak apa-apa. Kau tahu sendiri 'kan, luka ini belum seberapa. Kau pernah melihatku lebih parah dari ini. "


"Tapi keadaan Yang Mulia sekarang berbeda. Ada seorang bayi yang butuh perhatian dan kasih sayang dari seorang ayah." Dan seorang ibu yang telah tiada, lanjut Albus dalam hati.


Untuk sesaat terlihat gurat kesedihan di wajah Raja Satria. Dia menyadari, sejak istrinya hilang dia jarang menjenguk anaknya. Dia merasa tidak sanggup melihat wajah bayinya yang sangat mirip dengan Ratu Gita.


"Terima kasih atas perhatianmu, Albus. Kau sudah kuanggap sebagai ayahku sendiri, meskipun kau ini sangat cerewet! " Raja Satria tersenyum kepada Tabib tua itu.


Ada setitik air menggenang di sudut mata Tabib Albus. Baginya adalah suatu kehormatan jika penguasa Elfian itu menganggapnya sebagai ayah.


Setelah Tabib itu pergi, Raja Satria turun dari ranjangnya. Dia berjalan keluar dari kamarnya untuk melihat bayinya.


Bayi perempuan berusia empat bulan itu sedang tengkurap di boksnya dengan kepala terangkat tegak. Matanya yang hitam memandangi ayahnya, kemudian dia tertawa memperlihatkan gusinya.


Esme dan Talitha segera menyingkir agar Raja Satria bisa leluasa menengok bayi mungil itu. Tangan Raja Satria terulur untuk mengambil Puteri Juwita, kemudian mengangkatnya.


"Kau cantik sekali, Sayangku." Raja Satria mencium pipi anaknya dengan gemas.


Bayi itu tergelak ketika ayahnya mengayun-ayunkannya dalam dekapan. Berkali-kali Raja Satria mengelus kepala bayinya yang ditumbuhi rambut tipis berwarna perak. Kepala gundul bayi itu masih terlihat karena rambutnya masih jarang.


"Da.. da.. da.. " Celoteh bayi itu sambil tangannya bergerak-gerak seolah ingin menggapai wajah ayahnya.


Esme dan Talitha menatap mereka dengan mata berkaca-kaca. Mereka merasa terharu melihat bayi sekecil itu harus kehilangan ibunya.


Sebenarnya semua rakyat Elfian tidak yakin bahwa Ratu mereka bisa selamat dari ledakan itu. Namun karena Raja Satria berkeras bahwa istrinya masih hidup dan masih terus melakukan pencarian, maka tak ada satupun yang berani mengatakan sebaliknya.


"Tok.. tok.. tok.. "


Seorang Staf Kerajaan datang menghadap. Raja Satria memberikan bayinya kepada Esme lalu mengajak Staf Kerajaan itu ke luar.


"Ada apa, Jaka?" Tanya Raja Satria sambil berjalan.


"Ada Pangeran Gaurav ingin menemui Yang Mulia."


Raja Satria kemudian mengikuti Jaka ke ruang tamu. Di sana dia melihat Pangeran Gaurav sedang duduk di kursi dengan punggung tegak dan memancarkan aura kebangsawanan.


"Apa kabarmu, Pangeran Gaurav?"


"Aku sehat, terima kasih."


"Apa yang membawamu ke sini, kakak ipar? "

__ADS_1


"Lihat ini! "


Raja Satria kaget melihat benda di tangan Pangeran Gaurav. Dengan tangan agak gemetar, Raja Satria mengambil benda itu.


"Ini kalung milik Ratu Gita!"


Pangeran Gaurav mengangguk, wajah tampannya terlihat geram.


"Seseorang menjual kalung itu di pasar gelap. Salah satu pengawal pribadiku mengenali kalung itu dan sudah menangkap penjualnya. Dia bilang mendapatkannya dari orang asing bermata sipit saat kapal mereka transit di pelabuhan kami."


"Orang asing bermata sipit?"


Raja Satria tiba-tiba merasa geram. Dia mengingat rombongan pedagang yang kapalnya berlabuh sekitar empat bulan yang lalu. Mereka bahkan mengadakan pertunjukan sirkus di alun-alun ibu kota tepat di depan lokasi ledakan.


"Apa Yang Mulia mengenalnya?"


"Semalam kami baru menangkap orang-orang asing pelaku peledakan. Mereka mungkin berhubungan dengan para pedagang yang berlabuh empat bulan yang lalu."


"Apakah para pedagang itu masih di sini? "


"Mereka pergi dua bulan yang lalu, tepatnya satu minggu setelah peristiwa ledakan itu. Jumlah mereka berkurang lumayan banyak dengan alasan menjadi korban ledakan."


"Berarti mereka sudah merencanakan semuanya dari awal. Ada kemungkinan Ratu Gita telah mereka bawa." Pangeran Gaurav berargumen.


"Tapi bagaimana caranya? Para penjaga telah memeriksa dokumen dan dipastikan semuanya sesuai dengan anggota mereka? "


Raja Satria memandang sepupu istrinya itu dengan perasaan galau. Bagaimanapun juga, dia menyadari bahwa pria ini menaruh hati pada istrinya. Namun saat ini dia harus mau mengambil resiko apapun demi menemukan istrinya kembali.


"Baiklah, apa kau siap pergi denganku hari ini? " Tanya Raja Satria.


"Aku siap! "


*****


Fen menjalani sesi terapi bersama seorang tabib wanita. Tabib bernama Nyuk Giu itu sedang memeriksa sistem meridian tubuh Fen. Tapi tabib itu merasa bahwa kesehatan Fen sangat baik. Hanya saja ada hal yang mengganjal pikirannya.


"Apa anda belum lama ini baru melahirkan?" Tanya tabib itu.


"Melahirkan?" Fen sangat terkejut dengan pertanyaan Tabib Nyuk Giu.


"Saya melihat tanda-tanda habis melahirkan pada tubuh Nona. Benarkah Nona Fen tidak tahu?"


"Aku tidak tahu. Nanti akan aku tanyakan pada Chen." Fen merasa bingung.


"Jangan Nona!" Tabib itu tiba-tiba melarangnya. Wajahnya terlihat ketakutan.

__ADS_1


"Kenapa? " Dahi Fen berkerut, sikap tabib itu agak mencurigakan.


"Saya tidak ingin mendapat masalah dengan Tuan Chen. Tugas saya hanya memeriksa kesehatan Nona." Tabib itu berusaha menjelaskan alasannya kepada Fen yang terlihat curiga.


Kemudian tabib itu buru-buru memasukkan peralatannya. Namun saat melihat botol kecil yang tadi diberikan Chen, dia akhirnya kembali membuka kotak peralatan akupunturnya.


Diambilnya sebuah jarum kemudian segera mensterilkannya. Setelah itu dia memasukkan jarum itu ke dalam botol. Cairan di dalam botol itu segera memenuhi rongga di dalam jarum.


"Saya akan melakukan akupuntur pada tengkuk Nona." Tabib itu berkata dengan sopan.


Fen segera menarik rambutnya ke samping dan membiarkan tabib itu menusukkan jarum itu ke belakang lehernya. Ada rasa nyeri yang mengalir dari tengkuk sampai kepalanya. Namun wanita itu menahannya.


"Semoga Nona Fen selalu sehat." Suara Tabib Nyuk Giu bergetar.


Tabib itu kemudian undur diri. Ada perasaan takut sekaligus curiga. Namun semua itu hanya disimpannya dalam hati.


Setelah kepergian tabib itu, Fen berbaring di ranjangnya. Kepalanya tiba-tiba pening. Entah kenapa pikirannya rasanya kosong dan hatinya terasa hampa.


Chen membuka kamar Fen dan melihat wanita itu sedang berbaring. Dengan langkah pelan dia menghampirinya.


"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" Tanya Chen lembut.


"Chen?" Wanita itu terlihat terkejut.


"Kau melamun?" Tanya Chen.


"Aku merasa aneh Chen, seakan aku tidak mengenali diriku sendiri. Aku merasa bingung." Keluh wanita itu.


"Tidak apa-apa, kau bisa mengandalkan aku. Hanya aku satu-satunya orang yang bisa kau percaya." Jawab Chen sambil duduk di pinggir ranjang.


"Chen, apa aku pernah melahirkan? " Tanya Fen tiba-tiba, membuat wajah tampan Chen tiba-tiba berubah tegang.


"Siapa yang mengatakannya padamu? Apakah tabib itu?" Ada emosi tertahan di dalam suara Chen, dan wanita itu menyadarinya.


"Tidak Chen, aku hanya merasa seperti pernah menimang seorang bayi." Fen berbohong agar Chen tidak marah.


"Oh, begitu? Kau memang pernah menggendong bayinya Ming, salah satu pelayan yang sekarang sudah berhenti." Ucap Chen sambil tersenyum.


Dia akan melakukan apa saja agar wanita di hadapannya itu tidak mengingat masa lalunya, termasuk berbohong.


"Aku pasti akan bahagia jika memiliki bayi." Ucapan Fen kali ini betul-betul keluar dari lubuk hatinya.


"Apa kau betul-betul siap menjadi seorang ibu?" Tiba-tiba mata Chen berbinar.


"Iya." Jawab Fen dengan jujur.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita segera menikah? Aku ingin kau melahirkan anak-anakku."


Ucapan Chen yang tiba-tiba itu membuat tubuh Fen membeku.


__ADS_2