
Raja Satria kembali bergabung dengan pasukan Liga Kerajaan tanpa Eldrige. Dia tidak merisaukan ketidakhadiran peri itu karena dalam pikirannya, Eldrige sedang bersama Puteri Juwita.
Malam itu ketika sedang beristirahat di tenda setelah bertempur seharian, Raja Gaurav mendatanginya bersama Dewi Hutama.
"Bangsa Daemonie telah menarik semua pasukannya dan berkumpul di Tegalombo." Kata Raja Gaurav yang baru mendapat kabar dari salah satu peri pengintai.
"Tegalombo berada di kaki gunung Zilzaal, berarti berdekatan dengan gunung Grand Solano? " Wajah Raja Satria tampak terkejut.
"Benar, selama ini Ratu Malea memang menuntun kita untuk mendesak pasukan Daemonie sampai ke perbatasan Kerajaan Luchshire." Puteri Devi, sang Dewi Hutama menjelaskan.
"Kuharap kali ini mereka benar-benar bisa kita taklukkan." Raja Gaurav berkata dengan sungguh-sungguh.
"Semoga begitu, namun harus diingat bahwa bangsa Daemonie akan mengerahkan seluruh kekuatan mereka. Jadi, itu akan menjadi pertempuran yang tidak mudah. " Kata Raja Satria.
"Benar, oleh karena itu aku agak khawatir karena kehilangan dukungan dari Kerajaan Alsatia. " Raja Gaurav menampilkan raut gundah.
"Apa mereka menarik pasukannya ? " Raja Satria kaget.
"Mereka beralasan bahwa situasi dalam negeri sedang kacau. Mereka akan segera mengangkat pemimpin baru untuk menggantikan Sagar. " Raja Gaurav merasa agak kecewa dengan keputusan itu.
"Alsatia memang kacau sepeninggal Sagar. Kuharap mereka akan mendapatkan pemimpin yang bijaksana dan memihak keadilan." Ucap Raja Satria.
"Bagaimana dengan Juwita? Apa Eldrige sudah memberi kabar? " Tanya Raja Gaurav.
"Aku kehilangan kontak dengan Eldrige sejak kejadian itu. Entah dia membawa putriku kemana. Tapi aku percaya bahwa dia akan melakukan yang terbaik untuk Juwita." Raja Satria memang bertanya-tanya dalam hati mengenai hal itu. Tidak biasanya Eldrige menghilang begitu saja.
"Ya, Eldrige sangat setia. Andai dia manusia, aku bersedia menjodohkannya dengan putriku." Raja Gaurav terkekeh.
"Ayah! " Puteri Devi merasa malu mendengar gurauan ayahnya. Pipinya yang agak tembam kini merona dengan semburat merah.
Banyak sekali perubahan yang terjadi pada gadis itu sejak dia diangkat menjadi Dewi Hutama. Seiring banyaknya pertempuran yang dia jalani, kedewasaannya meningkat. Keluguan dan kepolosannya sedikit demi sedikit terkikis. Seolah-olah darah yang membasahi tangannya perlahan-lahan menghanyutkannya.
Terkadang saat membantai musuhnya, perasaan takut dan rasa kemanusiaannya lenyap.
Dia akhirnya memahami alasan kenapa dirinya terpilih menjadi Dewi Hutama yang memimpin pasukan Liga Kerajaan. Kepolosan dan kemurniannya adalah satu-satunya pegangan agar dia tidak lepas kendali dan menjadi monster yang haus darah.
Di medan pertempuran bahkan drakon binatang mengerikan yang dikendarai para Daemonie dapat dibantainya dengan mudah. Prajurit-prajurit Daemonie yang masih muda dan rupawan sama sekali tidak menggetarkan hatinya dan membuatnya mengasihani nyawa mereka.
Puteri Devi memandang ayahnya. Melihat sinar bangga di matanya, membuat gadis itu takut mengecewakannya. Dia sebisanya menyembunyikan rahasia gelap ini darinya.
"Ehm, keponakanku masih terlalu muda untuk kau jodoh-jodohkan. " Raja Satria melihat wajah Puteri Devi yang tersipu malu.
"Apa putrimu saja yang dijodohkan dengan Eldrige? Hmm, lagipula kupikir Eldrige juga lebih dekat dengan Juwita. Kalau aku tidak mengenalnya, aku pasti akan berpikir bahwa Eldrige menyukai Juwita." Kelakar Raja Gaurav.
"Jangan ngawur, Eldrige sudah merawat Juwita sejak bayi." Raja Satria menggelengkan kepala melihat sepupu istrinya itu membuat gurauan semacam itu.
"Ya, kau benar. Karena itulah tak ada yang berpikir Eldrige dan Juwita akan memiliki perasaan romantis." Raja Gaurav tidak berhenti terkekeh.
"Tapi.. siapa tahu? " Raja Gaurav mengedikkan bahunya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Entah kenapa tiba-tiba terbersit suatu kecurigaan di hati Raja Satria mengenai Eldrige dan Puteri Juwita. Beberapa kali dia melihat ekspresi tak biasa pada Eldrige setiap mereka membicarakan putrinya. Seolah seperti rasa senang yang berusaha untuk tidak ditampakkan.
Sampai Raja Satria berbaring di tendanya, dia masih memikirkan hal itu. Dia tidak bisa menyingkirkan kecurigaan itu begitu saja.
*****
Eldrige duduk di dekat jendela dan menatap keluar. Dia melihat beberapa prajurit Alsatia menurunkan beberapa barang dari gerobak.
"Aku membawa teh." Nona Sekar masuk dan menaruh cangkir teh di meja.
__ADS_1
Eldrige memandangi cangkir teh yang menguarkan aroma melati.
"Aku baru saja menyeduhnya, rasanya sangat enak dan segar. " Wanita itu berdiri menatap Eldrige.
"Terima kasih. " Eldrige mengambil cangkir teh dan menyesapnya. Rasanya tidak terlalu manis, rupanya Nona Sekar mencampurnya dengan madu.
Nona Sekar tersenyum. Dia merasa senang karena beberapa hari ini Eldrige terlihat tenang dan menurut.
"Lukamu hampir sembuh, Eldrige. Tapi kuharap kau jangan banyak bergerak dulu agar kondisi tubuhmu cepat pulih. "
"Dimana kantungku, Sekar? " Tanya Eldrige tanpa menghiraukan perkataan wanita itu.
"Aku menyimpannya, jangan khawatir." Nona Sekar sengaja meyimpan kantung milik Eldrige yang berisi bermacam-macam barang termasuk obat-obatan.
"Aku membutuhkannya."
"Nanti akan kuberikan. "
"Aku memerlukannya sekarang."
"Sebenarnya.. Ehm, maafkan aku. Kantungmu hilang. Aku sudah berusaha mencarinya tapi tidak ketemu. "
"Apa? Aku tidak percaya ini! " Tiba-tiba kepala Eldrige terasa sakit. Pria itu memegangi pelipisnya.
"Jangan khawatir Eldrige, aku akan terus mencarinya. Kau istirahat saja. " Nona Sekar membimbing Eldrige naik ke kasurnya.
Eldrige merasa aneh. Pandangannya agak kabur dan suara-suara di sekitarnya menjadi sangat lantang. Jarinya memijat pelipis yang terasa berdenyut.
"Tidurlah, Eldrige." Samar-samar suara lembut Nona Sekar membelai telinga Eldrige. Itu adalah satu-satunya suara yang terdengar nyaman diantara semua suara bising yang tiba-tiba menyerangnya.
Eldrige memejamkan matanya, berusaha mengusir rasa sakit di kepala. Tanpa sadar dia memegangi tangan Nona Sekar.
Tepukan pelan di bahunya membuatnya merasa tenang. Saat dia membuka matanya, pening di kepalanya sirna. Cahaya matahari menyirami tubuhnya dan semerbak bunga-bunga menggelitik penciumannya.
Suasana terasa damai dan akrab. Seolah dia telah menghabiskan seluruh hidupnya di tempat ini.
Eldrige menghirup udara segar dan memenuhi paru-parunya. Dia menyukai tempat ini. Rasanya tidak ada yang perlu dicemaskannya.
Seekor kupu-kupu dengan sayap putih transparan terbang mendekat. Sayapnya berkilauan tertimpa sinar matahari. Kupu-kupu itu adalah satu-satunya makhluk bernyawa yang ada di sana selain dirinya.
"Aneh." Gumamnya heran.
Tiba-tiba dia merasa tempat ini sangat janggal dan... kosong.
Eldrige berlari menyeberangi ladang bunga-bunga bluebell. Tangkai bunga-bunga itu patah terinjak kakinya sehingga menimbulkan jejak garis panjang di belakangnya.
Namun seberapapun jauh dia berlari, dirinya tetap berada di tengah-tengah ladang bunga-bunga bluebell. Kupu-kupu putih transparan tadi juga berada di sana, seakan ikut terbang bersamanya.
Eldrige merasa lelah dan juga kesepian. Tempat itu tiba-tiba tidak lagi terasa indah. Tempat itu kini terasa kosong, sepi dan menyedihkan.
"Apa aku sudah mati? " Eldrige kembali bermonolog.
Eldrige akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Dia berbaring memandangi awan-awan yang bergerak perlahan di atas sana.
"Aku kesepian. " Suaranya terbang tertiup angin. Hatinya sangat sedih tapi tidak mengerti karena apa.
"Apa selama ini aku begitu kesepian seperti ini?" Tanyanya lagi.
Buliran air mata menggenang di pelupuk matanya. Semua keindahan di hadapannya terasa tidak berharga. Eldrige kemudian memejamkan mata.
__ADS_1
Tiba-tiba dia merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Perasaan hangat mengalir di dadanya. Dia tidak bisa menjelaskan perasaan yang dirasakannya sekarang.
Eldrige berusaha berbalik untuk melihat orang yang memeluknya, tapi orang itu tidak mengizinkannya. Dia hanya dapat merasakan detak jantung orang itu di punggungnya.
Pandangannya kemudian turun pada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya. Sepasang tangan yang cantik dan berukuran lebih kecil dari tangannya. Eldrige menggenggam tangan itu.
"Eldrige, aku mencintaimu." Sebuah suara lembut berbisik di telinganya. Suara itu seolah menyentaknya, mengembalikan kesadarannya.
"Juwita? " Panggil Eldrige.
Tidak ada sahutan. Eldrige kini tidak lagi merasakan pelukan di punggungnya.
"Juwita! " Eldrige terus memanggil. Rasa rindunya membuncah dibarengi rasa sedih yang mendalam.
"Juwita! "
Eldrige terduduk dan menatap ruangan yang temaram. Keringat mengucur deras dari tubuhnya. Jantungnya berpacu dengan cepat.
"Hanya mimpi." Suaranya menyiratkan kesedihan.
Perlahan-lahan dia bangkit dan berjalan menuju jendela. Disingkapnya tirai berbahan tebal yang menjuntai ke lantai dan dia melihat ke luar. Langit sudah gelap.
Sejak sakit dia merasa seolah-olah sering kehilangan waktu. Rasanya baru sebentar dia berbaring namun tahu-tahu waktu sudah berlalu.
Dia tidak boleh terus seperti ini. Ada yang salah pada tubuhnya. Dia harus mencari tahu penyebabnya. Namun pertama-tama dia harus menemukan kantungnya.
*****
Nona Sekar berdiri kaku di depan lemari. Tangannya menggenggam kantung putih berbahan sutra lembut. Kantung itu kecil dan ringan. Namun dia tahu betul jika benda itu berisi bermacam-macam barang berharga.
"Maaf, Eldrige. Kurasa aku tidak bisa menyerahkan kantung ini padamu." Wanita itu kemudian memasukkan kantung itu ke bawah lipatan pakaiannya di dasar lemari.
Nona Sekar kemudian keluar dari kamarnya dan berjalan ke kamar Eldrige untuk memeriksa.
"Juwita." Meskipun samar namun wanita itu masih bisa mendengar suara Eldrige memanggil nama gadis yang dibencinya.
Wanita itu berdiri tepat di depan pintu kamar Eldrige. Dia tidak jadi masuk.
"Rupanya kau masih terus mengingatnya." Kepalan tangan wanita itu menempel di kedua sisi tubuhnya.
"Daun Kanna yang kumasukkan ke dalam tehnya ternyata masih kurang. Haruskah kutambahkan dosisnya? " Senyuman wanita itu sangat dingin, hampir seperti seringaian.
*****
"Besok aku akan ke kota untuk menjual tanaman obat dan membeli beberapa barang." Bagas berkata kepada Puteri Juwita saat mereka berbincang setelah makan malam.
"Boleh aku ikut, Kak? " Tanya Puteri Juwita. Wajahnya terlihat manis meskipun memakai pakaian lelaki.
"Tentu saja boleh." Bagas tidak kuasa menolak permintaan gadis itu. Meskipun dia bukan adik kandungnya, tapi dia sudah menyayanginya. Gadis itu mengobati kerinduannya pada sosok keluarga.
"Kalau begitu aku akan tidur lebih awal agar bisa bangun lebih pagi." Kata gadis itu dengan bersemangat.
Bagas tersenyum senang. Sejak dia tinggal di hutan ini selama beberapa bulan, kehidupannya terasa sangat sepi.
"Tidurlah sekarang, besok pagi aku akan membangunkanmu." Suruhnya.
Gadis itu segera masuk ke kamar satu-satunya yang ada di pondok itu dan segera naik ke ranjang kayu sederhana tanpa kasur. Bagas nanti akan tidur di ruang tamu yang merangkap sebagai ruang makan dengan menggelar tikar anyaman daun pandan.
Puteri Juwita memejamkan mata, tidak lupa dia selalu mendoakan orang-orang yang dia kasihi. Dia bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup dan juga dipertemukan dengan orang baik yang bersedia menolongnya.
__ADS_1
Sebenarnya dia agak merasa bersalah karena tidak sepenuhnya jujur pada Bagas. Namun dia melakukannya untuk keselamatannya, juga Bagas.
Besok dia harus sedikit merubah penampilannya agar tidak mudah dikenali oleh orang-orang yang mungkin mencarinya.